Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
30 Januari, 2013
Husein
Aku masih siapkan buku sekolah saat kudengar bunyi bel sepeda, "kring kring" dan bergegas aku menuju kemuka rumah, kutemui Pak Jio, pedagang roti keliling langganan yang pagi itu seperti biasa mengantarkan roti cokelat dan roti tawar pesanan Ibu. Kuterima pesanan itu dan kuberikan uang pembayaran. "Pak Jio, gimana kabar Husein? Sudah bisa masuk sekolan hari ini?", sambil kuserahkan uang pembayaran. Kulihat mata Pak Jio berkaca-kaca, "belum nak, bapak belum kumpulkan uang untuk membayar uang sekolah Husein, tapi saat ini Husein ada dirumah sedang membuat kapal kertas untuk dijual, do'akan ya nak, supaya laku nanti dagangannya Husein", curcol Pak Jio. "baik Pak, salam buat Husein ya, sepulang sekolan saya kerumah nanti, terimakasih sudah mengantar roti Pak Jio, lancar hari ini ya Pak", ujarku sambil meraih tangan renta Pak Jio. "baik nak Rio, terimakasih", jawab Pak Jio sambil kembali mengayuh sepeda President tuanya "kring kring" saup kudengar bel itu menjauh
Aku dan Husein adalah sahabat kental bersama dengan Tony, Subhan dan Ario. Kami selalu bersama dan menjadi salah satu kelompok belajar yang solid, kami selalu menjadi lima besar di kelas dan Husein adalah yang terbaik. Sudah satu minggu ini Husein tidak masuk karena malu belum membayar SPP, padahal pihak sekolah tetap mengharapkan Husein masuk sekolah, tetapi Husein masih malu dan memutuskan tidak masuk sekolah.
***
Siang itu aku menuju rumah Husein bersama dengan Tony, Subhan dan Ario. Sengaja istirahat ini kami tidak jajan, kami kumpulkan semua uang saku dan kami membawakan batagor, makanan kesukaan Husein. "Husein, Husein", bagaikan koor kami memanggil Husein. "iya kawan-kawan, mari masuk", jawab Husein agak malu-malu. Kami kemudian menuju belakang rumah setengah permanen yang menjadi tempat tinggal Husein dan keluarga, rumah dengan ruang tamu beralas karpet, dua kamar tidur untuk Pak dan Bu Jio serta kamar lainya untuk Husein dan Maulana, adik Husein.
Selepas kami makan batagor, kami duduk dibelakang rumah yang penuh dengan kapal kertas berwarna warni hasil karya Husein, beberapa potongan kertas dan kertas-kertas yang belum selesai dibuat kapal kertas.
"maaf ya kawan, aku belum bisa kesekolah, aku masih malu dengan keadaanku saat ini", curhat Husein. "tenang kawan, kamimakan berusaha membuat kamu kesekolah segera", sahut Subhan. "kamu tenang, kalau kamu boleh, kami akan bawa kapal-kapal kertas ini, kami akan lakukan yang kami bisa", sambung Ario. Berkaca-kaca mata Husein dan dengan terbata-bata dia berkata, "terimakasih kawan, aku gak tahu harus bilang apa, tapi kalian baik sekali".
***
Hari Senin itu sangat cerah, kami semua berdiri di lapangan upacara, personel kami lengkap. Ya lengkap sudah, Husein terlihat ditengah-tengah kami dengan wajah sedikit bingung. Upacara dimulai dan tibalah saatnya amanat Pembina Upacara, Pak Hartono selaku Kepala Sekolah, memberikam amanat tentang kedisiplinan dan kerjasama. Diakhir amanatnya, Pak Kepala Sekolah berkata, "baiklah bapak dan ibu guru yang saya hormati dan anak-anak yang saya banggakan, saya akan panggilkan seorang anak yang brilian dan sekelompok anak yang luar biasa. Mari maju Husein, kedepan nak". Husein yang dari tadi bingung semakin bingung dan diiringi tepukan peserta upacara, Husein maju ke podium dengan sedikkt ragu-ragu. Pak Kepala Sekolah sambil merangkul Husein yang masih bingung berkata, "anak-anak, inilah teman kita yang brilian, pintar dan selalu menjadi bintang kelas, Husein" disambut tepukan membahana seluruh peserta upacara, ada beberapa yang bersiul. Dengan lembut Pak Kepala Sekolah berkata, "Husein, kamu boleh bersekolah kembali sampai lulus tanpa perlu membayar uang SPP dan ada uang saku yang akan kamu terima setiap bulan", Husein hanha bisa terbelalak dan terdiam tanpa bisa berkata apa-apa.
Tiba-tiba empat anak bergerak maju dari kerumunan peserta upacara sambil membagikan kapal-kapal kertas berwarna warni, ya mereka adalah Subhan, Tony dan Ario." anak-anak inilah yang tadi Bapak sampaikan tentang kerjasama, keempat teman kalian ini telah membantu Husein mendapatkan beasiswa, Husein yang pintar dan teman-temannya yang kompak ini menyampaikan ide beasisws pada sekolah dan sekolah kemudian mengajukan Husein untuk mendapatkan beasiswa. Departemen Pendidikam Nasional membebaskan SPP dan semua biaya sekolah Husein dan Husein diberikan uang saku sebesar Rp 250.000 setiap bulan" kembali tepukan membahana. Husein berkaca-kaca dan meneteskan air mata sambil berlari menuju seseorang yang bersamaku menuju ke podium, Pak Jio. Bapak beranak itu berpelukan ditengah lapangan, diiringu tepuk tangan seluruh peserta upacara dan kapal-kapal kertas berwarna warni, sementara di sebelah Timur cahaya mentari mengabarkan senyum dunia
Belek Rainbow
Siang itu hujan begitu derasnya sampai-sampai banjir mulai menyentuh ambang batas normal, sampai bibir jembatan. Beberapa anak sedang bermain kapal-kapal kertas sambil tetawa-tawa dengan baju yang basah seakan lupa bahwa masuk angin bisa menyerang kapan saja. Aku teringat masa lalu saat seusia mereka, bermain hujan sampai dijewer Mama he..he..he.
Aku yang sudah dandan rapi akhirnya terduduk diteras sambil ber Whatapps ria dengan kekasih-kekasihku #ups ..he..he... Sepuluh menit kemudian hjan berhenti dan tiba-tiba matahari bersinar cukup terik. Aku memandang keluar rumah, air perlahan mulai surut dan kapal-kapal kertas itu mulai kandas diujung tong sampah kompleks dan anak-anak basah itu mukai bubar diteriaki orang tua mereka, aku kembali berendesvouz.
Saat aku ingin bersiap menuju Mall, ekor mataku memandang satu fenomena diujung Barat, sebuah garis lengkung dengan tujuh warna,mejikuhibiniyu, merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila dan ungu. Kembali aku teringat masa kecil saat nenek bercerita tentang legenda Jaka Tarub dengan Dewi Nawangmulan yang bidadari dari kahyangan. Pelangi konon, erupakan jalan bidadari menuju persada untuk mandi. Hmm, mandi ... Pemandangan indag tentunya, husssss piktor
***
Sore di mall itu mataku masih terobsesi pada pelangi. Saat masuk mall, aku sudah disajikan dengan pameran perumahan dengan backdrop pelangi, sambil aku lihat-lihat rumah itu aku lihat developernya "Pelangi Bangun Ceria", wah pelangi lagi.
Selesai melihat pameran rumah yang SPG-nya mengenakan blazer pelangi aku menuju sebuah cafe. Blackberry-ku bergetar, ada BBM dari Roy : "John, kita ketemuan di Cafe Pelangi, lantai 2", lho koq pelangi lagi.
Sampai di Cafe Pelangi aku bertemu Roy, "pesen apa John?". Sambil duduk di kursi bermotif pelangi, aku bertanya pada Roy, "kamu pesen apa?"
"aku pesen es teler pelangi, enak lho seger John". Jiaaaaaahhhh pelangi egen, pikirku."ya udah deh, samain aja dan kue yang khas disini ya John". Kemudian kami berbincang tentang konsep panggung Classmate SMA kami dan lagi-lagi Roy mengajukan konsep panggung dengan backdrop .... Pelangi
***
Selesai pertemuan yang hidangan khasnya bolu pelangi itu akj segera pulang dan langsung mandi, sholat dan tidur. Lelah sekali hari ini, aku tidur lelaaaaaaap sekali dan bermimpi menjadi Jaka Tarub.
Paginya aku dibangunkan Mama diajak jama'ah oleh Papa dan Angel, adikku.
Aku melewati ruang tengah untuk mencapai kamar mandi untuk berwudhu, sambil Mama berkata, "Minum dulu tehnya John". Saat aku menuju meja makan, mendadak Angel tetawa terbahak-bahak, Kak John ... Lucu sekali, lihat deh Ma, Pa dan berderailah tawa mereka bertiga. "coba kamu ngaca dulu John", kata Papa sambil menutup mulutnya.
Lalu aku menuju cermin di atas wastafel dekat ruang makan itu, yaaaaaaa ammmmpuuuunnnn ... Aku lihat mata, ada Belek Rainbow
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- ekabees
- keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...
COWMANIA