Tampilkan postingan dengan label hari kebangkitan nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hari kebangkitan nasional. Tampilkan semua postingan

05 Juni, 2011

Ir Soekarno




Mengenang Sang Proklamator 6 Juni 1901 - 21 Juni 1970

Nama Lahir : Koesno Sosrodihardjo
Tempat Lahir : Surabaya
Tanggal Lahir : 6 Juni 1901

merupakan sang Proklamator bersama dengan Drs. Mohammad Hatta, dikenal sebagai Dwi Tunggal, dengan memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945

Ir. Soekarno merupakan penggali Dasar Negara, Pancasila yang dicetuskan pada tanggal 1 Juni 1945 di sidang Dokuritsu Junbi Cosakai

Ketika dilahirkan, Soekarno diberikan nama Koesno Sosrodihardjo oleh orangtuanya. Namun karena ia sering sakit maka ketika berumur lima tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya. Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna. Nama "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik".

Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda). Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah. Sebutan akrab untuk Soekarno adalah Bung Karno.

Soekarno dilahirkan dengan seorang ayah yang bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam. Mereka telah memiliki seorang putri yang bernama Sukarmini sebelum Soekarno lahir. Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya, Raden Hardjokromo di Tulung Agung, Jawa Timur.

Bung Karno merupakan alumni Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung dengan mengambil jurusan teknik sipil dan tamat pada tahun 1925.

Keluarga Besar Bung Karno

Ayah : Raden Soekemi Sosrodihardjo
Ibu : Ida Ayu Nyoman Rai

Istri

Oetari (menikah 1921 - berpisah 1923)
Inggit Garnasih (menikah 1923)
Fatmawati (menikah 1943)
Putra-putri :
Guntur Soekarnoputra (lahir 1944)
Megawati Soekarnoputri (lahir 1947)
Rachmawati Soekarnoputri (lahir 1950)
Sukmawati Soekarnoputri (lahir 1952)
Guruh Soekarnoputra (lahir 1953)
Hartini (menikah 1952)
Putra-putri :
Taufan Soekarnoputra (lahir 1951 - 1981)
Bayu Soekarnoputra (lahir 1958)
Ratna (menikah 1962)
Putra-putri :
Kartika Soekarnoputri (lahir 1967)
Haryati (menikah 1963)
Putra-putri :
Ayu Soekarnoputri
Yurike Sanger (menikah 1964)
Kartini Manoppo
Putra-putri :
Totok Soekarnoputra (lahir 1967)
Heldy Djafar (menikah 1966)



Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo.[4] Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927.[9] Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929 dan dipenjara di Penjara Banceuy, pada tahun 1930 dipindahkan ke Sukamiskin dan memunculkan pledoinya yang fenomenal Indonesia Menggugat (pledoi), hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.

Pada tahun 1938 hingga tahun 1942 Soekarno diasingkan ke Provinsi Bengkulu.

Soekarno baru kembali bebas pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1942.

Semasa hidupnya, Soekarno mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari 26 universitas di dalam dan luar negeri. Perguruan tinggi dalam negeri yang memberikan gelar kehormatan kepada Soekarno antara lain adalah Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran, Universitas Hasanuddin dan Institut Agama Islam Negeri Jakarta. Sementara itu, Columbia University (Amerika Serikat), Berlin University (Jerman), Lomonosov University (Rusia) dan Al-Azhar University (Mesir) merupakan beberapa universitas luar negeri yang menganugerahi Soekarno dengan gelar Doktor Honoris Causa.

Pada bulan April 2005, Soekarno yang sudah meninggal selama 104 tahun mendapatkan penghargaan dari Presiden Afrika Selatan Thabo Mbeki. Penghargaan tersebut adalah penghargaan bintang kelas satu The Order of the Supreme Companions of OR Tambo yang diberikan dalam bentuk medali, pin, tongkat, dan lencana yang semuanya dilapisi emas.[8] Soekarno mendapatkan penghargaan tersebut karena dinilai telah mengembangkan solidaritas internasional demi melawan penindasan oleh negara maju serta telah menjadi inspirasi bagi rakyat Afrika Selatan dalam melawan penjajahan dan membebaskan diri dari apartheid. Acara penyerahan penghargaan tersebut dilaksanakan di Kantor Kepresidenan Union Buildings di Pretoria dan dihadiri oleh Megawati Soekarnoputri yang mewakili ayahnya dalam menerima penghargaan.

Kumpulan Kata Mutiara dan Amanat Bung Karno

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” . (Bung Karno)

“Tidak seorang pun yang menghitung-hitung: berapa untung yang kudapat nanti dari Republik ini, jikalau aku berjuang dan berkorban untuk mempertahankannya”. (Pidato HUT Proklamasi 1956 Bung Karno)

“Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.” (Soekarno)

“Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”. (Bung Karno)

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 Nop.1961)

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno

“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)

“……….Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan……” (Bung Karno)

“Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat elang rajawali “. (Pidato HUT Proklamasi, 1949 Soekarno)

“Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan segi tiga warna. Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk pekerjaan kita selesai ! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyak keringat.” (Pidato HUT Proklamasi, 1950 Bung Karno)

“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak merobah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merobah nasibnya” (Pidato HUT Proklamasi, 1964 Bung Karno)

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.” (Pidato HUT Proklamasi 1966, Soekarno)

“Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno)

“Aku Lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” (Pidato HUT Proklamasi 1964 Bung Karno)

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)





sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno

13 Desember, 2010

Jimpitan Nasional



Jimpitan Nasional


Gambaran kita tentang “mengungsi” adalah sebuah keadaan terpaksa yang membuat kita harus melakukan sebuah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari sebuah keadaan yang dapat menganggu keselamatan kehidupan. “pengungsi” adalah pelakunya dan “pengungsian” adalah tempat mengungsi.
Mengungsi boleh juga diartikan sebagai satu hal yang membuat para pengungsi adalah manusia-manusia tidak berdaya, manusia-manusia yang memerlukan bantuan dari manusia lain, manusia-manusia yang ‘konon’ perlu dikasihani.
Apabila kita mampu membuat sebuah model yang baik bagi penanganan suatu keadaan yang bernama ‘force major’, tentunya kemandirian sebuah kelompok akan mempercepat penanganan sebuah kondisi yang memaksa (bencana, misalnya) dan tentunya biaya yang dikeluarkan akan lebih efektif.
Dalam kultur masyarakat, ada yang kita kenal dengan nama “jimpitan”, sebuah kebiasaan memberikan ’sesuatu’ secara berkala oleh sebuah kelompok demi kepentingan kelompok. Saya masih ingat, saat saya tingal di sebuah kampung di Solo, setiap malam saya meletakkan uang minimal Rp. 200 dalam sebuah tempat yang bisa berasal dari bambu, gelas plastik, botol plastik yang penting tidak kehujanan dan saya gantung dimuka pintu depan. Jimpitan itu diletakkan lepas petang dan sebelum malam ada petugas yang secara bergilir mengkoleksi jimpitan tersebut dan dikumpulkan di ketua kampung. Bila ada tetangga yang bepergian agak lama (menginap), jimpitan dapat dirapel dengan pembayaran dimuka dan perhitungan kemudian setelah kembali ke rumah.
Setiap bulan dilakukan rekapitulasi hasil jimpitan dan dilaporkan penggunaannya secara transparan sehingga kegiatan jimpitan menjadi sebuah agenda sosial yang tulus dilaksanakan. Penggunaan jimpitan, selain untuk kegiatan kelompok (ronda kampung), dana jimpitan dapat juga digunakan untuk kegiatan sosial lainnya dan terbuk ti sangat efektif dalam penyediaan dana mendadak dalam jumlah tertentu dan waktu yang singkat.
Tidak salah tentunya bila negara ini atau sebuah badan nasional melakukan satu usaha yang bertajuk JIMPITAN NASIONAL, tujuannya untuk mengatasi permasalahan-permasalah sosial dengan cepat sehingga beberapa hal yang terselip, perlu penangaan cepat dapat diselesaikan dengan manstaf. Selama ini kita mengenal Pajak Penghasilan, Pajak Rumah Makan – Hotel – Hiburan dan berbagai jenis pajak lainnya. Biarkan hasil pajak itu untuk pembangunan negara (bukan dikorupsi untuk pembangunan diri pribadi) dan dana Jimpitan Nasional dilakukan untuk tanggap bencana dan penyelesaian kondisi sosial. Kita dapat saksikan, betapa spontanitas warga negara dalam penanganan sebuah kondisi sangat spektakuler, bermilyar-milyar rupiah terkumpul dan teraplikasi bagi penangaan kondisi darurat. Bila ditambah dengan dana jimpitan nasional, bukan tidak mungkin penyediaan dana akan lebih terpusat dan lebih efektif
Jimpitan dimulai dari kelompok masyarakat terkecil dan terus dikumpulkan sampai terkumpul di Badan Nasional. Jimpitan Nasional ini, dananya dapat juga digunakan untuk pelatihan penanggulangan bencana sehingga pada kelompok-kelompok yang disinyalir berdekatan dengan daerah rawan bencana. Pelatihan SAR, dapur umum, PPPK, teknik pembangunan sederhana dan kegiatan-kegiatan lain yang strategis.

Mari kita mulai berjimpitan ... yuks

20 Mei, 2010

Hari Kebangkitan Nasional

Hari ini ... Nusantara meracau dengan gagah
Hari ini ... Zamrud Khatulistiwa gegap gempita
Hari ini ... Ibu Pertiwi beranjak dari peraduannya
Hari ini ... Upacara bendera serentak di seluruh penjuru tanah air

Hari ini ... Seperti hari lain
Hari ini ... Sama seperti hari kedepan
Hari ini ... Tak ada apapun
Hari ini ... Ada apa ya?

Hari ini ... Lebih seabad yang lalu
Lebih seabad yang lalu ... Para pendahulu sangat menyadari potensi negeri
Lebih seabad yang lalu ... Tanah air terkesiap atas kemampuannya melakukan sebuah fenomena
Lebih seabad yang lalu ... Ibu Pertiwi membangunkan anak"nya untuk berlari
Lebih seabad yang lalu ... Nusantara melagukan laju

Sudahkah kita bangkit?
Sudahlan kita merasakan semangat menyala?
Sudahkan kita memberi dunia teriakan membahan?
Sudahkan kita menyarakan hati nurani?

Saatnya kita berjaya
Saatnya kita merasa
Saatnya kita berbuat
Saatnya kita mengharmonilkan dunia

Sawah ladang kita menanti kita
Ternak sapi kita menunggu kita
Ayam kita berhenti berkokok menatap kita
Kebun kita merindukan kita

Mereka menanti nurani bersih kita
Mereka menunggu aksi kita
Mereka menatap binar mata kita
Mereka merindukan kita melakukan sesuatu yang luar biasa

SWASEMBADA ... Beras, Daginghg - Susu, Karet, Minyak Kelapa, Telur ...

Ah, betapa indahnya

Kragilan, 20052010

Mengenai Saya

Foto saya
keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...

COWMANIA

COWMANIA