Tampilkan postingan dengan label peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peternakan. Tampilkan semua postingan

29 Mei, 2013

DAGING SAPI ... RIWAYATMU KINI

Daging Sapi …. Riwayatmu Kini

Ternak sapi, seperti ternak ruminansia lainnya merupakan supporting bagi kehidupan manusia melalui sumbangsihnya untuk memenuhi kebutuhan daging, susu dan ikutannya.  Sebagai salah satu sumber protein hewani masyarakat, daging sapi diperlukan untuk membentuk jaringan fikir generasi muda, meremajakan sel tubuh dan menjadikan diri sebagai sosok yang tangguh.  Keberadaan ternak sapi tentunya tidak dapat dipisahkan dari budaya masyarakat Indonesia yang hidup dari pertanian (masyarakat agraris).

Ternak sapi awalnya dipelihara oleh masyarakat sebagai peternakan belakang rumah (backyard farming) yang merupakan usaha sampingan, sebatas tabungan dan juga sebagai tolok ukur tingkat perekonomian penduduk.  Pertambahan penduduk, tidak ayal membuat peningkatan kebutuhan akan daging sapi terus bertambah.  Peternakan belakang rumah akhirnya mulai bergeser karena adanya perubahan paradigma ekonomi sehingga sisi kapitalis peternakan mulai terbentuk.  Ternak sapi mulai menjadi sebuah usaha ekonomi dengan melakukan penggemukan ternak.  Kegiatan pembibitan juga mulai bermunculan, meski masih dalam skala tradisional (dilepas dan digembalakan tanpa dijadikan sebagai usaha intensif).
Kandang ternak sapi berkapasitas menengah – besar mulai bermunculan dan mulailah terjadi kepastian supply and demand.  Permintaan daging sapi tidak mampu dipenuhi peternakan sapi dalam negeri sehingga mulailah terjadi hubungan dagang dengan negara luar untuk dapat mensupply ternak atau daging sapi ke Indonesia.  Australia merupakan salah satu negara yang mampu memasok ternak dan daging sapi di Indonesia.

Australia sebagai salah satu negara produsen ternak sapi sudah mampu melakukan kegiatan budidaya ternak secara integral dan komprehensif, selain dukungan topografi dan iklim wilayah yang mampu menumbuhkan tanaman legum (kacang-kacangan) seperti alfalfa (Medicago sativa) untuk supply pakan ternak.  Kondisi sub tropis Australia membuat alfalfa dapat tumbuh dengan baik dan tidak berebut dengan rumput liar serta gangguan rayap.  Jumlah ternak yang lebih banyak dari jumlah penduduk inilah yang menjadikan Australia mampu membuat ternak sebagai salah satu sumber devisa besar bagi negara.

Kita kembali ke Indonesia yang sampai saat ini masih memasang hastag#SwasembadaDagingSapi2014 yang sudah dipastikan tidak dapat direalisasikan oleh Kementerian Pertanian RI, termasuk hastag-hastag lainnya, seperti#GoOrganik2010 (dan semua program-program itu tidak ada yang mengevaluasi, sehingga hanya berhenti sampai di batas waktu antar rejim).

Program Swasembada Daging Sapi yang didengungkan Kementerian Pertanian Republik Indonesia sangat-sangat prematur dan seharusnya mampu dilakukan asalkan benar-benar dikembangkan penuh komitmen, misalnya :

1. Kemandirian Pembibitan Ternak Sapi
Permasalahan pengembangan ternak adalah penyediaan bibit sebagai sumber bakalan yang mampu secara berkelanjutan.  Sampai saat ini pembibitan masih dilakukan seperempat hati oleh pemerintah.  Proses ‘akal-akalan’ yang dilakukan oknum pengusaha yang bekerjasama dengan oknum birokrasi menjadikan program pembibitan hanya sebatas pelaksanaan tanpa hasil dan berakhir nihil (ingat dengan program pemasukan betina sapi potong seharga sapi potong dan program Sarjana Membangun Desa yang gagal total??).  Village Breeding Centre milik Dinas Peternakan patut dikembangkan sebagai slaah satu sumber bakalan dan juga daerah lain yang mampu menyediakan pakan yang  berkualitas, kontinyu dan ekonomis

2. Kemandirian Pakan Ternak Sapi
Pemeliharaan ternak tentunya memerlukan pakan sebagai salah satu bahan baku untuk menghasilkan produk peternakan sapi (daging, susu).  Proses integrasi pakan yang tidak dilakukan secara serius membuat ketersediaan pakan menjadi satu masalah yang terus dan terus berlanjut.  Badan Usaha Milik Negara mulai melakukan tindakan penyelamatan dengan melakukan usaha penggemukan ternak dan ini merupakan satu langkah bagus, tetapi proses integrasi dengan hasil samping usaha kegiatan BUMN tidak dilakukan secara optimal.  Misalnya, integrasi sawit – sapi sebenarnya mampu memberikan sumber pakan yang sangat cukup bagi ternak sapi atau integrasi tebu – sapi

3. Manajemen Usaha Ternak Sapi
Sebagai salah satu bagian Segitiga Produksi, manajemen usaha ternak kadang hanya dapat ditemui pada kandang-kandang besar, sementara peningkatan kapasitas peternakan rakyat diabaikan.  Atau memang inilah sebuah model konspirasi untuk mengkapitalisasi usaha ternak sapi sehingga nantinya ternak sapi hanya menjadi usaha pemodal besar atau memang inilah salah satu cara untuk mengubah Indonesia sebagai negara pengimpor ternak dan daging sapi?
Manajemen usaha ini sangat penting dilakukan, termasuk kesehatan dan reproduksi ternak

4. Tataniaga
Selalu dan selalu permasalahan tataniaga produk pertanian menjadi momok bagi pengembangan usaha pertanian/peternakan.  Ketidakmapuan pemerintah dalam mengatur tataniaga produk pertanian, membuat harga produk selalu ditentukan oleh satu atau beberapa stake holder tertentu dan hal ini pastinya akan membuat harga produk melambung tidak terkendali.  Kebijakan penyelesaian masalah tataniaga oleh pemerintah, kebanyakan berada dibawah kendali stake holder tertentu.  Itikad baik pemerintah untuk mengatasi dan mengatur tataniaga produk pertanian/peternakan/perkebunan merupakan satu langkah penting.
Daging sapi akan turun menjelang Ramadhan dan akan meningkat di awal - pertengahan Ramadhan lalu turun menjelang Idul Fitri dan akan meningkat kembali harganya bukan karena produksi ternak dalam negeri, tetapi kembali karena kran impor dibuka dan jumlahnya tidak pernah turun secara signifikan, hanya memindah kuota dari jadualnya dan menambah kuota dengan alasan kekurangan stok (lagu lama yang selalu dirilis ulang)

5. Kelembagaan
Di Indonesia, kelembagaan petani atau peternak atau pekebun hanya akan menjadi sebuah legitimasi atas pengangkangan Kapitalisme Kerakyatan.  Hal ini terjadi karena lembaga yang terbentuk hanya menjadikan pengurusnya sebagai raja kecil yang menjadikan anggotanya selalu tertindas dan tidak dapat berbuat apa-apa.  Tengoklah koperasi susu di Indonesia yang kebanyakan oknum pengurusnya menjadi salah satu dari mafia susu, yang memeras peternakan rakyat.

6. Komitmen dan Berkelanjutan
Tentunya komitmen dan sebuah program berkelanjutan menjadi hal penting dalam menjadikan ternak sapi sebagai salah satu sumber protein hewani yang secara ekonomis mampu menguntungkan peternak pembibit, peternak penggemukan, pemotong, penjual daging dan produsen.
Berkelanjutan berarti pelaksanaan secara terus menerus dan tidak terkendala masalah rejim atau urusan lain, seperti urusan politik.
Ternak sapi adalah Rojo Koyo, siapa yang memiliki ternak lebih banyak, maka dia adalah negara yang kaya dan siap bersaing sebagai negara yang berkedaulatan pangan.  Jangan pernah terbuai dengan jargon ketahanan pangan, tetapi berkomitmen dan berketetapan untuk berkedaulatan pangan.

Salam moooo

16 Agustus, 2010

Acetonaemia (Ketosis) Pada Ternak Laktasi


Nicky Stone, Ballarat
Updated: July 2007 AG0210 ISSN 1329-8062 © State of Victoria, Department of Primary Industries


A very distinct problem for dairy cows is the disease of ketosis (or acetonaemia). The occurrence of this disease in dairy cows is related to an increased demand for glucose by the animal. Ketosis also occurs in other animals and the problem is known by various names, eg, regnancy toxaemia in ewes.


Kejadian ketosis terjadi pada ternak sapi laktasi atau sapi dengan kondisi nutrisi buruk. Tanda-tanda penyakit dapat dilihat sebelum melahirkan anak sapi, tetapi paling sering terjadi di bulan pertama setelah melahirkan anak sapi dan kadang-kadang di bulan kedua. Dalam ternak berkelompok, ketosis terjadi secara sporadis hanya pada ternak yang terjangkit, atau endemik dengan banyak sapi yang terjangkit.

Penyebab Ketosis
Penyakit ini merupakan perpanjangan dari proses metabolisme normal yang terjadi pada ternak sapi laktasi. Ketosis adalah masalah kekurangan glukosa (atau gula) dalam darah dan jaringan tubuh. Glukosa dihasilkan oleh sapi dari karbohidrat yang merupakan komponen utama padang gembala dan tambahan lain yang terdapat pada pakan. Pada masa bunting tua, glukosa digunakan untuk fungsi ideal tubuh dan perkembangan pedet. Saat masa laktasi, glukosa berperan dalam pembentukan lactose (gula susu) dan lemak susu. Penggunaan glukosa yang tinggi akan menyebabkan kondisi gula dalam darah akan menurun. Lima puluh gram glukosa diperlukan untuk pembentukan setiap liter susu dengan 4,8% laktosa dan 30 gram untuk setiap liter susu dengan 4% kandungan lemak. Ternak sapi (ruminants dan lainnya) tidak dapat diberi pakan glukosa, dalam bentuk karbohidrat yang akan diurai dalam rumen menjadi glukosa. Jika jumlah karbohidrat dalam pakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam susu sapi, maka akan hati akan membentuk glukosa dari bahan lain - lemak cadangan. Sayangnya peningkatan produksi oleh hati akan menimbulkan hasil lain yang disebut dengan badan Ketone. Kemudian bersama dengan kurangnya level gula darah, menyebabkan tanda-tanda penyakit.
Ketosis utama, seperti yang dijelaskan, terjadi ketika produksi tinggi
sapi tidak hanya dapat makan karbohidrat cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, atau di mana pakan yang dberikan memiliki kandungan karbohidrat yang kurang. Ketosis sekunder dapat juga terjadi jika penyebab penyakit yang membuncah di pencernaan atau
metabolisme dari karbohidrat oleh sapi. Hal ini dapat terjadi meskipun jumlah karbohidrat dimakan terlihat cukup untuk fungsi tubuh normal. Penyakit utama yang terjadi selain ketosis adalah kelainan dari keempat perut, radang selaput, radang kelenjar dada, metritis, milk fever dan kurangnya nafsu makan sapi dalam waktu yang cukup panjang.

Tanda-tanda
1.kurang nafsu makan
2.produksi susu turun
3.sering menggoyangkan kaki/kepala
4.nafas ternak berbau
5.pemulihan akan sangat lama dan bila kembali sehat, tidak akan seperti sedia kala

Akibat yang ditimbulkan
1.kebutaan
2.tulang keropos
3.gerakan aneh pada lidah
4.perubahan pada kulit
5.melakukan hentakan-hentakan untuk sesuatu yang tidak jelas

Diagnosa penyakit
•tanda terserang ketosis baru dapat diketahui pada saat ternak akan mendekati puncak produksi
•tetapi pengamatan pada gangguan sekunder dapat digunakan, seperti : radang kelenjar dada

Perawatan
•tujuan awal perawatan adalah pengembalian kekurangan glukosa dalam tubuh.
•Pemberian suplemen glukosa melalui intra vena
•Pemberian Propylene glycol atau gliserin per oral selama dua empat hari.
•therapy hormonal dengan corticosteroids yang diimbangi dengan pemberian pakan berkarbohidrat tinggi
•pencegahan ketosis adalah hal yang sangat penting, melalui perbaikan pakan dan manajemen yang memadai
•pemberian makanan tambahan dengan kandungan karbohidrat tinggi sangat penting dengan pemberian bahan pakan berkualitas tinggi, seperti : silage, biji-bijian atau gandum.
•Kondisi tubuh sapi adalah saat melahirkan pedet harus mendapat asupan nutrisi yang baik. Begitu pula setelah melahirkan, sapi yang memiliki potensi untuk mencapai produksi maksimum, harus mendapat asupan pakan dengan kandungan energy yang tinggi. Melalui pemberian suplemen energi yang diperlukan
•Pemberian pakan kualitas baik setidaknya terus menerus diberikan sampai
puncak laktasi tercapai. Program pencegahan yang terbaik adlah pemberian Propylene glycol per oral segera setelah melahirkan anak sapi

Penulis asli ini adalah Dr George Miller, dan versi sebelumnya dimuat di September 1998.

17 Desember, 2008

REPOSISI MAHASISWA PETERNAKAN INDONESIA



Tempat nongkrong, depan Majalah Dinding

“Zul ... kamu setelah lulus mau kerja dimana ?” kata Rony yang saat itu mengenakan baju Opspek putih dipadu celana jeans.
“Aku juga bingung Ron”. “yah ... gimana nasib aku aja nanti ... kalo IP pas-pasan mungkin aku ngelanjutin peternakan ayam buras punya Bapak aja di kampung, tapi kalo IP-ku agak bagusan aku mau ngelamar jadi Farm Manager atau TS. Kalau kamu mau kerja dimana ?” timpal Izul sambil membetulkan kemeja flanelnya.
“kalo aku sih kayaknya pengen jadi dosen aja deh. Gampang koq, asal bisa tulis bahan kuliah di transparansi, cuap-cuap, kursus bahasa Inggris terus sekolah lagi deh S-2 ato S-3. keluar negeri lagi”, sambar Rony enteng. “eh ... itu Agus, dari ngadep dosen kayaknya”.

“Hoi Gus !!” teriak Izul.

“halo frento ! lagi ngapain aja belom pulang”, Agus menghampiri mereka berdua sambil nenteng map berisi tugas akhirnya.

“biasa Gus ... ngomongin masa depan”, kata Rony sambil nyamber map yang ditenteng Agus dan mbaca isinya.

“masa depan kayak gimana yang kalian maksud ? jelas masa depan kita ya dunia peternakan ini”, kata Agus sambil nyruput es teh milik Izul yang tinggal separo.

“dunia peternakan ini masih luas dan masih sangat prospek untuk bisa kita geluti sekaligus kita kembangkan”, cerocos Agus yang sudah agak basah tenggorokannya.

“ah ... kamu gaya banget, abis diceramahin dosen pasti !!”, timpal Rony yang memasukkan lagi bendel milik Agus kedalam mapnya kembali.

“betul teman, aku baru aja diceramahin abis-abisan tentang dunia peternakan Indonesia. Meskipun badai besar melanda tapi peternakan kita tetep oke. Coba sadari, kita udah bebas anthrax, PMK dan sapi gila”, lanjut Agus.

“tapi kamu inget, kita masih kelimpungan lho dengan wabah AI yang jelas meluluhlantakkan perunggasan Indonesia yang baru saja bangkit dari keterpurukan ekonomi”, celetuk Izul bagai pujangga kehabisan inspirasi.

“nha ... itu kekurangan kita, kita selalu berfikir bahwa kalau kita ketemu masalah, kita selalu berfikir bahwa ‘Dunia ini sudah Berakhir’, padahal itu merupakan suatu koreksi terhadap jiwa inisiatif dan korektif kita tentang kelangsungan hidup perunggasan ini”, potong Rony yang sedari tadi diam saja memperhatikan kedua temannya berdebat.

Tiba-tiba pembicaraan terhenti, karena mendadak Lukman, dosen Unggas mereka melintas dihadapan mereka.

“siang Mas”, sahut mereka bertiga menyapa dosen mereka yang memang masih muda.

“siang, wah kayaknya seru sekali diskusinya”, sahut Lukman, sang dosen yang ternyata kakak angkatan mereka. “apa nih tema-nya ?”, sambil ikut-ikutan duduk disebelah Izul.

“ini Mas, tentang masa depan kami bertiga”, jawab Agus.

“kalau Mas Lukman sih udah enak jadi dosen, Pegawai Negeri lagi trus kalau pensiun nanti masih ada tunjangannya. Kalau kami nanti, bagaimana ? masih ‘gelap’ Mas”, sahut Rony.

“jangan pesimis gitu dong, dunia kita ini masih sangat luas dan memberi peluang yang sangat cerah”, kata Lukman sambil tersenyum. “yuk kita lanjutin ngobrol-ngobrol kita diruangan saya, sambil makan gorengan dan es susu segar, pasti lebih nyaman”, ajak Lukman sambil berdiri dan mengajak mereka menuju ruangannya.

Akhirnya berjalanlah empat insan itu menuju ke Lantai II, menuju Laboratorium Unggas, tempat Lukman ngepos.

Sebelum memasuki ruang kerjanya, Lukman masih sempat memberi arahan pada beberapa mahasiswa yang sedang melakukan penelitian tentang kualitas karkas ayam broiler, seraya menyuruh Jono, pegawai Lab untuk memesan gorengan seperti yang dijanjikan Sang Dosen sekaligus menyalakan AC ruangan. Lalu mereka berempat duduk di ruang tamu.

“wah, nyaman banget ya ruangan dosen”, kata Rony sambil menghenyakkan pantatnya ke sofa.

“jelas Ron, dingin gak kena polusi. Terus bisa ngeliatin mahasiswi yang cakep-cakep, itung-itung cuci mata”, cekikik Agus.

“huss, kalian itu bisa aja. Makanya belajar yang rajin biar kalian semua bisa merasakan nikmatnya ruangan yang nyaman, ruangan ini masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ruangan Direktur atau Manajer Farm yang sukses”, timpal Lukman sambil membawa majalah Unggas kiriman World Poultry dan menyurungkan empat cup es susu segar dari lemari es yang ada di sudut ruangan.

Lanjutnya, “begini adik-adik, kalian harus optimis akan masa depan kalian. Saya harus menempuh jalan yang berliku untuk bisa mendapatkan apa yang saya rasakan sekarang”.

Lukman memang termasuk mahasiswa brilian dikelasnya dahulu, dia menempuh pendidikan S-1 hanya dalam waktu 3,5 tahun dengan predikat Cum Laude. Lalu ia diterima sebagai dosen untuk mengampu mata kuliah Perunggasan, saat ini dia telah merampungkan pendidikan S-2 dalam waktu 1,5 tahun dengan predikat Suma Cum Laude di Belanda dan baru tiga bulan diangkat menjadi Kepala Laboratorium Unggas.

Pak Jono, pegawai Lab memotong diskusi mereka. Sambil membawa dua piring tempe-tahu dan pisang goreng, dia berkata “silahkan Pak”. “Makasih Pak Jono”, kata Lukman. Ternyata Pak Jono tidak sendiri. Adi, sang aktivis kampus berada dibelakang pak Jono. “siang Mas”, kata Adi. “saya mau konsultasi Skripsi”, lanjut Adi sambil menyerahkan map. Dia agak kaget melihat tiga temannya ada diruangan Dosen Pembimbingnya. “he ... kalian, aku kira tadi siapa. Hampir aku gak jadi masuk, untung aku tadi tanya Pak Jono kalau gak ..... “.

“sudahlah Di, ayo duduk. Kita ngobrol-ngobrol dulu, urusan Skripsi nanti malam saya baca, besok pagi kamu menghadap saya untuk ambil koreksinya”, potong Lukman

“Lagi ada apa Mas ? koq semuanya kumpul disini ?”, tanya Adi tanpa mampu menyembunyikan keheranannya seraya duduk di sebelah Lukman.

“begini Di, kita semua lagi mbicarain tentang masa depan kita, Sarjana Peternakan. Mau kerja apa saat kita lulus dan apa yang bisa kita lakukan besok”, sahut Agus.

Adi sambil manggut-manggut berguman agak keras, “iya juga ya, besok apa yang bisa dilakukan seorang Sarjana Peternakan ?”.

“lho kenapa kamu jadi ikutan bingung Di ?”, kata Lukman sambil menepuk-nepuk pundak Adi. “Bukankah kamu sudah punya modal sebagai seorang aktivis kampus !”.

“kalau Adi bisa menghayati serta mengambil manfaat dari aktivitasnya di kampus, maka dia telah memiliki satu modal lebih dibandingkan mahasiswa biasa. Juga kalau ada mahasiswa pintar, memiliki kemampuan intelektual baik maka dia telah memiliki satu langkah lebih maju dibandingkan mahasiswa biasa. Apalagi kalau dia memiliki keduanya, pintar dan menjadi aktivis kampus yang baik .... wah kalau itu berlangkah-langkah”, urai Lukman panjang lebar.

“menarik nih Mas”, timpal Izul. “bisa lebih jelas lagi Mas ?”

“baiklah, saya akan uraikan lebih dalam”, sambil menarik nafas dalam Lukman meneruskan kalimatnya. “seorang mahasiswa yang memiliki kepintaran, bukan hanya pintar menghapal teori kuliah atau praktikum. Dia juga harus dapat mendalami dasar ilmiah tentang teori atau nilai praktis suatu mata kuliah. Kalian sama-sama paham bahwa, masing-masing mata kuliah yang kalian terima setiap semesternya memiliki benang merah yang sangat jelas, masing-masing saling berhubungan dan saling mendukung. Sehingga bila kalian tidak dapat memahami secara dalam dan menghayati secara jernih, kalian hanya akan menjadi ‘Sarjana Text Book’ - otak kalian kosong melompong. Kalian tidak mampu menghasilkan kreativitas dan inisiatif yang jitu dan praktis untuk diterapkan oleh masyarakat peternakan Indonesia, akhirnya masyarakat awam hanya tahu bahwa sapi makan rumput, kambing makan ramban dan ayam makan jagung. Tidak pernah kalian fikirkan akan fermentasi pakan berserat dan bekatul sebagai sumber pakan ternak, lama penyinaran terhadap produksi telur atau mungkin pengaruh musik terhadap produksi air susu. Nah, itu semua kalian dapat hasilkan kalau kalian mendalami dan menghayati teori dan praktikum setiap mata kuliah”, luncuran kata-kata Lukman membuai keempat mahasiswa itu.

“lho koq jadi bengong sih ? ayo sambil dimakan gorengannya. Di kamu ambil susu segar dingin di kulkas”, kaget Lukman yang membuat keempat mahasiswa itu tergelak. “kita semua terpesona Mas, saya pikir kalau jadi Dosen cukup dengan bisa bikin transparansi, cuap-cuap, bisa bahasa Inggris terus S-2 atau S-3 keluar negeri”, ujar Rony sambil tersipu-sipu menyadari kesalahannya tapi tangannya mencomot pisang goreng dan menjejalkannya ke mulut.

“bukan masalah, yang penting kamu sadari kekeliruan kamu karena menjadi Dosen itu tidak hanya mampu menyampaikan bahan kuliah tok tapi juga harus bisa menyampaikan tentang kemajuan dunia peternakan yang dapat diaplikasikan ke masyarakat”, kata Lukman bijak. “sekarang saya akan sampaikan tentang hubungan kualitas Sarjana Peternakan dengan aktivitas mahasiswa ekstra kurikuler”, lanjut Lukman setelah meneguk air susu segar yang dingin dan menyehatkan. “Adi saat menjadi aktivis kampus harus menyediakan waktu agar kegiatan perkuliahan dan aktivitasnya tidak terganggu, manajemen waktu. Kemudian saat melakukan kegiatan ekstra kurikuler, Adi akan berhubungan dengan kolega, entah sesama aktivis atau sesama mahasiswa yang berangkat dari perbedaan sifat, tingkah laku, sosial ekonomi, ras dan seabreg perbedaan lain yang bermuara pada satu visi dan misi kegiatan, komunikasi dan pemahaman akan perbedaan. Dari dua keunggulan, yaitu Manajemen Waktu dan Kemampuan Berkomunikasi untuk Mengatasi Perbedaan Pendapat, seorang aktivis akan memiliki kelebihan saat dia menjadi Sarjana nanti. Mengapa tidak, didunia kerja atau dunia bisnis kita akan bertemu, berhubungan dan berkomunikasi dengan banyak pelaku bisnis lainnya. Bila kita mampu melakukan komunikasi dan mampu mengatasi permasalahan ditambah manajemen waktu yang sempurna, maka orang itu akan berhasil dan sukses dalam meniti dan membangun karir”, cerita Lukman gamblang.

“tapi Mas”, kata Adi. “saya pernah mendengar kalau banyak Sarjana Peternakan setelah diterima di suatu perusahaan, ternyata harus menjalani banyak pendidikan-pendidikan, kalau tidak salah istilahnya ‘Training’ gitu ?”, sambung Adi.

“benar Di, hal itu disebabkan karena kurangnya komunikasi antara dunia pendidikan, dunia bisnis dan dunia birokrasi”, jawab Lukman. Lanjutnya lagi, “bila dunia bisnis, misalnya GPMT (yang terdiri dari pabrik pakan ternak unggas), PPUI (Perhimpunan Peternak Unggas Indonesia), ASOHI (pengusaha-pengusaha obat-obatan hewan kumpul disini), AFPINDO (kumpulannya pengusaha penggemukan sapi potong), PPSKI (peternak sapi lokal dan kerbau se-Indonesia sama-sama gabung diorganisasi ini), GKSI (wadahnya koperasi yang menangani perkembangan sapi perah di Indonesia) dan perkumpulan peternakan lain yang pada intinya merupakan para praktisi bisnis peternakan, menyampaikan parameter keahlian Sarjana Peternakan yang mereka butuhkan ditambah dengan gencarnya sosialisasi tentang kebijakan-kebijakan dunia peternakan oleh pihak Birokrat seperti, Balai Penelitian Ternak (ribuan hasil penelitian yang makan waktu dan biaya ada disini, tinggal dilakoni oleh peternak), Balivet (penyakit-penyakit ternak diuji dan dicari obatnya disini, tak perlu kuatir dengan wabah penyakit) atau Ditjennak (peran mereka dalam pembinaan untuk kemajuan dan perkembangan ternak sangat berarti), diiringi dengan keterbukaan dan keinginan kaum akademisi untuk tidak hanya membuat kurikulum, mengajar, cari kum dan naik pangkat belaka tetapi mampu membuka komunikasi dengan pelaku bisnis dan birokrasi serta menyerap temuan-temuan dan teknologi-teknologi baru sehingga dapat dipastikan akan tercetak Sarjana-sarjana Peternakan yang Sujana. Sarjana-sarjana peternakan yang mampu berkiprah banyak dalam percaturan bisnis peternakan, entah dia sebagai pelaku bisnis, akademisi atau birokrat”.

“benar Mas, saya juga ikut dalam struktur kepengurusan Ismapeti (Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia). Berarti kalau Ismapeti dapat berperan untuk tidak hanya sekedar menjadi tempat berkumpulnya pengurus Senat (sekarang BEM) tok, tetapi juga disadari bersama bahwa Ismapeti adalah milik seluruh mahasiswa peternakan Indonesia, maka kita bisa lebih memiliki peran sebagai ‘Agent of Change’ ya Mas “, celetuk Adi.

“sip Di, kamu bisa berinisiatif mengajak para Pengurus Ismapeti yang lain untuk menjadikan organisasi nasional Mahasiswa Peternakan Indonesia yang memiliki peran strategis dalam kemajuan Peternakan Indonesia, saya dukung Di. Karena saya juga dulu pernah jadi pengurus Ismapeti. TIMPI (Temu Ilmiah Mahasiswa Peternakan Indonesia), KKMPI (Kemah Kerja Mahasiswa Peternakan Indonesia), Lomba Tilik Ternak, Seminar Nasional dan Pelatihan-pelatihan sudah pernah kami laksanakan. Alangkah lebih baik bila Ismapeti juga memilki akses besar ke jalur bisnis, birokrasi dan akademisi”, sambar Lukman berapi-api. “so, kalian semua harus mulai mengasah dan menambah improvisasi keahlian kamu, misalnya bahasa asing (bahasa Inggris, misalnya), ikut kursus-kursus, pelatihan, diskusi dan seminar-seminar serta sering role play demi peningkatan kualitas pribadi. Bukan tidak mungkin, kalian beempat yang saat ini kompak akan menjadi saingan berat di dunia kerja. Tapi bukan tidak mungkin kalian akan jadi team yang tangguh dan bisa bekerjasama di bidang kalian masing-masing. Siapa tahu, Rony bisa jadi dosen atau peneliti yang handal, terus Izul jadi peternak yang sukses ditambah Adi yang jadi pejabat di Dinas Peternakan yang bersih dan lurus atau Agus yang sukses mengambangkan karir di Perusahaan Peternakan”, saran Lukman memberi semangat.

“teman-teman !”, kata Izul dengan gaya pujangganya sambil berdiri. “kita harus meningkatkan kualitas kita sebagai calon Sarjana Peternakan, agar kita dapat menjadi Sarjana Peternakan yang tidak gagap teknologi, mengerti kebutuhan pasar, tahu perkembangan kebijakan pemerintah tentang peternakan serta mampu berkomunikasi dengan orang lain”

“betul, jangan sampe kita hanya siap untuk dilatih, tapi kita juga siap untuk diterjunkan dibidang manapun”, sambut Rony.

Agus menyela, “semuanya hanya untuk satu visi dan misi : MEMBANGUN DUNIA PETERNAKAN INDONESIA”.

“mahasiswa peternakan Indonesia memang harus sadar bahwa mereka bukan hanya untuk mereka dan orang-orang terdekat mereka, mereka adalah asset bangsa dan negara”, kepal Adi meninju keatas disambut genggaman Lukman diikuti ketiga yang lain.

Sementara dimeja praktikum, sepasang ayam broiler yang sebentar lagi menjadi bahan penelitian mahasiswa merasa bangga menyaksikan momen bersejarah. Meski rela mengorbankan dirinya sebagai bahan penelitian, ia bangga bahwa penerusnya kelak akan merasakan perubahan kearah yang menggembirakan, nanti.

15 November, 2008

MANFAAT SUSU




Gatotkaca pahlawan kubu Pandawa dalam kisah Mahabharata dikenal sebagai tokoh berotot kawat, bertulang besi, dan berkulit tembaga. Keistimewaannya itu membuatnya disegani baik oleh kawan maupun lawan. Dalam perang Bharatayudha, hanya Kunta senjata ampuh milik Adipati Karna yang berhasil mengalahkannya. Sosok Gatotkaca mungkin sekadar cerita fiksi belaka. Namun bukan berarti Anda tak bisa menjiplak kehebatan putra Bimasena itu, terutama keunikannya memiliki tulang sekuat besi.
Dan untuk mendapatkannya, Anda tak perlu bersusah payah bertapa atau mendapatkan anugerah dari dewa. Cukup konsumsi 2-3 gelas (500-750 mililiter) susu tiap hari. Jika rutin melakukannya, dijamin tulang Anda bakal sekokoh kerangka tubuh Gatotkaca. Segampang itu? “Ya, susu memang membantu Anda membentuk tulang yang sehat dan kuat. Kandungan nutrisinya memberikan kemampuan bagi tubuh untuk menangkal osteoporosis (kerapuhan tulang),” kata Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS, pakar nutrisi dari Departemen Teknologi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor.
Banyak kelebihan
Salah satu nutrisi menonjol yang terdapat pada susu adalah kalsium. Bahan ini dikenal luas karena manfaatnya untuk memelihara kekuatan dan kepadatan tulang. Dalam proses yang dikenal sebagai penumpukan massa tulang, kalsium dan fosfor beraliansi membentuk kalsium fosfat. Elemen ini merupakan komponen utama yang berperan dalam pembentukan struktur dan kekuatan tulang. Segelas susu menyuplai 29,7 persen kebutuhan harian kalsium dan 23,2 persen kebutuhan harian fosfor. Nutrisi penting lainnya adalah vitamin D. Vitamin larut lemak ini menjaga kadar kalsium yang memadai dalam darah.

Segelas susu menyodorkan 24,4 persen kebutuhan harian vitamin ini. Di samping kalsium dan vitamin D, vitamin K yang terkandung dalam susu juga memiliki peran vital untuk mengamankan kekuatan tulang. Vitamin K1 mengaktifkan osteocalcin protein nonkolagen utama dalam tulang. Elemen ini mengikat molekul kalsium di dalam tulang. Tanpa vitamin K1 yang cukup, keberadaan kadar osteocalcin tak akan memadai. Ujungnya, proses penumpukan massa tulang akan terganggu. Anda bisa membayangkan sendiri akibatnya.

Ada hal lain yang Anda perlu ketahui : Susu tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan tulang saja. Asupan ini juga mencegah hipertensi (tekanan darah tinggi), menangkal kanker usus serta menghindarkan Anda dari kekurangan energi dan protein. Kandungan nutrisi yang ada di dalamnya turut meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga Anda tak mudah terkena berbagai penyakit. Satu berita bagus lagi, susu bermanfaat pula untuk membantu program Anda menurunkan berat badan. Pada sebuah studi yang dipublikasikan April 2004 di Obesity Research, para peneliti menekankan, mengonsumsi makanan kaya kalsium, khususnya produk susu rendah lemak seperti susu sapi, yogurt, dan kefr, akan membantu Anda mengurangi berat badan.

Dalam studi yang mengikutsertakan 42 subyek penelitian (32 orang menuntaskannya) ini, para peserta dibagi dalam tiga kelompok. Mereka diberi rancangan pola makan yang didesain untuk mengurangi berat badan satu pon (sekitar setengah kg) tiap minggunya selama 24 minggu. Rancangan pola makan untuk ketiga grup itu memiliki kandungan kalori yang sama. Grup pertama menerima pola makan rendah kalsium (430 miligram/hari). Grup kedua menerima rancangan yang sama dengan tambahan suplemen kalsium hingga total pasokan kalsium ke dalam tubuh mencapai lebih dari 1.200 miligram. Grup ketiga menghadapi menu makan yang dipenuhi produk susu sehingga pasokan kalsiumnya mencapai 1.100 miligram setiap harinya.

Hasil akhir studi tersebut, grup pertama rata-rata berkurang berat badannya 15 pon, grup kedua 19 pon, dan grup ketiga 24 pon. Dari total berat badan yang berkurang tersebut, grup pertama kehilangan lemak 19 persen, grup kedua 50 persen, dan grup ketiga 66 persen. Hasil ini menunjukkan, kalsium yang dibawa produk susu terbukti lebih efektif menurunkan berat badan dan melenyapkan lemak para pengonsumsinya.
Asupan praktis
Di luar kandungan nutrisi dan manfaatnya bagi kesehatan, kelebihan lain susu dan produk susu adalah ketersediaannya secara luas. Anda bisa mendapatkannya di toko sebelah rumah, pasar tradisional, swalayan, hingga hipermarket. Har-ganya pun cukup terjangkau tergantung jenis produk kemasan kepraktisan daya tahan penyimpanan, dan faktor-faktor lainnya. Tapi setidaknya dengan uang Rp 10-40 ribu Anda sudah bisa membawa satu liter susu cair atau satu kilogram susu bubuk ke rumah. Keuntungan lainnya, susu dapat dengan mudah dan cepat diolah menjadi hidangan siap santap.
Sedikit peringatan
Bagi mayoritas orang sehat, susu memang memberikan banyak manfaat. Namun bagi pengidap lactose intolerance, susu bisa menjadi bencana. Lactose intolerance terjadi karena enzim laktase di dalam tubuh menurun sehingga tidak mampu menguraikan laktosa (gula susu) menjadi glukosa dan galaktosa. Kondisi ini mengakibatkan laktosa tidak terserap di usus kecil, lalu masuk ke usus besar dalam keadaan utuh sehingga menyebabkan diare. Oleh karena itu, aktivitas enzim laktase harus terus dipelihara dengan cara membiasakan minum susu sejak bayi, balita (bawah lima tahun), remaja, dewasa hingga lansia (lanjut usia).

Jika Anda berhenti mengonsumsi susu, enzim laktase akan mati atau berkurang. Suatu saat bila minum susu lagi, enzim laktase tidak siap sehingga terjadilah diare. Untuk orang semacam ini, silakan susu berkadar laktosa rendah (low lactose milk) atau produk olahan susu rendah laktosa seperti yogurt, yakult dan kefir. “Susu juga harus dibatasi bagi penderita alergi protein susu. Untuk orang semacam ini, protein susu harus diuraikan terlebih dahulu menjadi hidrolisat. Bisa juga diatasi dengan susu nabati, contohnya susu kedelai,” tambah Made Astawan. Tapi bagi Anda yang memiliki kesehatan normal, jangan abaikan kehadiran susu sebagai penyempurna menu makanan sehat Anda.

19 September, 2008

Nutritional Disorders




sumber gambar : http://www.wcds.afns.ualberta.ca

ACIDOSIS

Acidosis is the most common nutritional disorder in the feedlot. A large amount of highly fermentable feeds, such as cereal grains, consumed in a short amount of time can result in the production of more lactic acid than can buffered by the rumen. This results in water from the circulatory system being drawn into the rumen (body becomes dehydrated) and pronounced changes in the blood Ph. Signs will usually be acute or sub-acute. Survivors of acute acidosis may have chronic problems such as fungal rumenitis, liver abscesses, bloat, and founder or laminitis.

Acute acidosis:
Animals that are not adapted to readily fermentable feeds are more susceptible to acidosis (sometimes called grain overload) than animals that have been carefully adjusted. However, even animals conditioned to full feed can be susceptible under some conditions such as feed changes and temporary restrictions in feed availability. Acutely affected animals will usually develop signs within 12-24 hours of overeating. They will be completely off feed, depressed and unwilling to move, weak, and dehydrated. They may appear blind, grind their teeth, grunt, and occasionally kick at their belly. Fullness and distension of the abdomen (rumen) may be observed. A foul smelling diarrhea may be observed unless the condition is so acute that the animal dies before it can develop
In severe cases animals will lie down, unable to rise. They generally lie quietly with their head tucked to the side. Body temperature may be subnormal and the pulse is weak. Death usually occurs within a few hours after the animals go down.
Animals that survive may suffer from damaged ruminal lining and destruction of rumen microflora leading to a fungal overgrowth of the rumen and death. Some deaths may occur as long as 3 weeks after a herd episode of overeating and acidosis. Less severe rumen lining damage may lead to liver abscesses and growth impairment. Laminitis, or founder, may follow acute acidosis, and evidence of subacute laminitis in the form of overgrown and deformed hooves may be present 30-60 days later.

Subacute acidosis:
Animals with less acute and severe signs may still eat but may not consume as much as normal or be off feed for only a short time. The only overt signs of subacute acidosis may be reduced gains and the presence of diarrhea in the form of flat gray stools. Because rumen lining damage may still occur in the absence of severe signs, these animals may develop chronic rumen damage and liver abscesses.
Weather conditions can cause fluctuations of intake of an otherwise acceptable ration. Storm conditions can cause cattle to consume a greater amount of feed before and after the storm. Muddy conditions which can alter feed intake. A drop in barometric pressure can indicate oncoming storm conditions. Conditions that promote intake of the regular ration in a shorter amount of time can cause acidosis. Hot, humid weather will cause cattle to eat a greater proportion of their feed at night, rather than during the day.
Improper mixing of feed can cause acidosis. As previously discussed improper bunk management can be a cause of acidosis. Only occasional cleaning of water troughs will also affect intake. Inclusion of an ionophore may help reduce intake fluctuations.

Treatment-Acute Acidosis:
If cattle are noticed soon after consuming large amounts of grain and before they drink water, problems may be avoided by keeping them away from water for up to 24 hours (Baker et al., 1983). Some common treatments are oral administration of mineral oil and/or sodium bicarbonate along with activated charcoal, anti-endotoxin therapy, and surgical emptying of the rumen in some cases.

Bloat






BLOAT

Bloat occur when rumen gas production exceeds the rate of gas elimination. Gas then accumulates causing distention of the rumen. The skin on the left side of the animal behind the last rib may appear distended.
Although bloat is often classified as being either pasture or feedlot bloat, it is probably more accurate to identify it as being either free-gas bloat or frothy bloat. Frothy bloat is1234 more common in cattle eating legumes or lush grass than in feedlot cattle. Free-gas bloat is more common in feedlot cattle.

Frothy Bloat:
In situations of foamy or frothy bloat, gas production is not greatly increased but the gases are trapped in the foam. Frothy bloat in feedlots usually develops slowly over several weeks and often become chronic. Poloxalene is an effective "deformer" for frothy bloat.

Free-Gas Bloat:
Many of the same factors causing acidosis are associated with free-gas bloat. Therefore proper bunk management and other preventative measures should be practiced for prevention of bloat.

Treatment:
Free-gas bloat can usually be relieved by inserting a 3/4" rubber hose into the rumen via the esophagus. If "hosing" does not give immediate relief, a defoaming agent (poloxalene) should be administered through the hose to break the surface tension of the ingesta. A pint of mineral oil is also a defoamer. Drenching should be avoided because of the danger of inhalation by the bloated animal which can cause immediate death or lead to pneumonia. A trocar should be used as a last resort. Chronic bloaters should be shipped for slaughter.

30 Juni, 2008

Mahasiswa Berkarakter

Mahasiswa dianggap sebagai ‘agent of change’ … pelaksana perubahan dan pembaharuan setiap sisi kehidupan dan setelah menyelesaikan tahapan pendidikan menjadi sosok yang luar biasa dalam membawa kehidupannya mengiring perubahan kondusif dunia.

Proses pengkayaan diri yang dialami setiap mahasiswa dalam menjalani kehidupan di ‘Menara Gading’ … kadang tanpa terasa membawa para mahasiswa dalam banyak fenomena. Pewarnaan mahasiswa dengan seluruh kegiatan kuliah – kegiatan intra dan extra kampus memberi corak yang sangat berwarna dan beragam … dan tanpa disadari pengkayaan ini akan membawa mahasiswa menjadi sosok dengan jati diri yang beragam

Pola pengkayaan mahasiswa di kampus sebenarnya menjadi tanggungjawab civitas academika .. tetapi terkadang system yang berlaku di kampus ‘hanya’ mengurusi mahasiswa pada dataran keilmuan semata … kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan diluar perkuliahan seakan terkesampingkan … seakan hanya menjadi pewarnaan yang tidak penting … tidak perlu … tidak boleh ada, ironis sekali dengan pelaksanaan konsep sebenarnya yang seharusnya ada di kampus …

Pelaksanaan dalam pola pengasuhan mahasiswa dikampus saat ini hanya bertumpu pada kegiatan perkuliahan semata … mahasiswa hanya dicekoki dengan kegiatan perkuliahan … absensi … praktikum … laporan … lalu ujian … akhirnya kerja praktek .. KKN .. seminar .. penelitian .. pendadaran … THAT’S ALL !!

Tergetnya …. Lulus cepat … IPK tinggi … hanya itu??? … ya, ternyata hanya itu saja …

Ukuran ini yang hanya dijadikan parameter kualitas sebuah kampus … kacian ya??

Padahal kampus juga harus bertanggungjawab dalam membangun sebuah nilai yang diperlukan mahasiswa dalam masuk ke dunia kehidupan nyata … KARAKTER

Pembangunan karakter .. nilai inilah yang sebenarnya harus diterapkan kepada mahasiswa Indonesia … karena dengan menjadi manusia berkarakter maka ia dapat menciptakan suatu suasana yang kondusif … nilai-nilai yang mumpuni serta menjadi sosok panutan lingkungan dan mampu menciptakan suasana dan atmosfer kehidupan yang menyenangkan …

Salah satu yang dapat dijadikan sebagai sarana pembangunan karakter selain nilai-nilai ilmiah adalah kegiatan intra dan extra kampus … hal inilah yang terkadang terkesampingkan, dianggap bahwa mahasiswa yang mengikuti kegiatan kampus dianggap macam-macam .. neko-neko … tidak memikirkan nilai perkuliahan … tidak memikirkan nilai keilmiahan … menganggap bahwa hidup di kampus hanya untuk kuliah

Mahasiswa yang ikut dalam kegiatan intra atau extra kampus terkadang terjebak pada suatu atmosfer yang mereka anggap membawa mereka dalam suasana kebebasan yang benar-benar bebas … sebagian mahasiswa tersebut memanfaatkan bahwa keaktifan mereka dalam organisasi intra dan ekstra kampus boleh besikap bebas – urakan – tidak terkontrol – merasa sebagai ‘penguasa’ … kebablasan tanpa arah

Kadang terjadi pertentangan yang sangat nyata antara pihak pengelola akademik dengan pembimbing aktfitas kemahasiswaaan …

Bila kita mampu berfikir jernih, adanya kolaburasi yang seimbang antara aktifitas kuliah dengan aktifitas kegiatan kemahasiswaan akan menghasilkan dan memberi muatan yang sangat positif bagi mahasiswa dan akan mampu memberi karakter yang seharusnya menjadi ciri khas seorang sarjana yang sujana

Pihak Akademik seakan tidak perduli dengan aktifitas mahasiswa … demikian pula kegiatan mahasiswa yang kadang tidak mengindahkan dunia perkualiahan yang semestinya menjadi dasar kehidupan mahasiswa

Jebakan-jebakan yang ‘menaifkan’ mahasiswa tidak disikapi dengan bijak … alhasil, mahasiswa DO – waktu penyesaian kuliah yang lama – frustasi akan kehidupan mahasiswa menjadi pemandangan yang semakin wajar dan dianggap tidak penting … ironis

Sudah saatnya dilakukan sebuah penyeimbangan kehidupan mahasiswa antara dunia perkuliahan dan pengkayaan diri mahasiswa melalui kegiatan intra dan extra kampus untuk memantapkan mahasiswa dalam menghadapi dunia nyata kelak … pembentukan karakter bukan hanya milik dan tugas mahasiswa semata dan ia harus mencari sendiri … tetapi juga menjadi suatu tantangan bagi civitas academika

Pencarian jati diri mahasiswa, akan menghasilkan penemuan jati diri … lanjutannya adalah mempertahankan jati diri untuk terus dikembangkan dan dikembangkan menjadi sebuah karakter kuat yang akan memberi sosok terbaik

23 April, 2008

PERSUSUAN INDONESIA BANGKIT

PERSUSUAN INDONESIA BANGKIT
(selama ini …. Kemana saja ???)

Triwulan I tahun 2008 telah terlewati, warsa keempat ditahun ini sudah memasuki minggu terakhirnya … tak terasa empat bulan sudah geliat peternakan sapi perah Indonesia terasa hebat. Harga susu yang meningkat … dibarengi dengan keinginan besar para peternak sapi perah yang kembali menekuni ternak perahnya, menghemat pedet betina (yang selama ini disia-siakan) … sebagian ada yang menukar asetnya dengan sapi perah … yang sebelumnya, sama sekali bukan sumber income yang menarik …

Harga susu impor yang menjulang tinggi, mengiringi supply yang tidak mencukupi permintaan … menjadi salah satu detonator ledakan persusuan Indonesia.

Salah satu fenomena yang muncul adalah dengan begitu cepat dan liatnya Industri Pengolahan Susu .. Koperasi Unit Desa … pengumpul susu mengumpulkan air susu diseluruh pelosok negeri … RUARRR BIASA

Ada salah satu contoh yang cukup ekstrim saya kira, Boyolali … sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang dulu, konon … menjadi salah satu sumber air susu Indonesia. Saat ini pasokan air susu diwilayah itu sangat minim … KUD berebut dengan loper susu ke Solo, sebuah kotamadya 15 km arah Timur Boyolali … akibatnya KUD minim supply … dapat dikatakan sebagian besar KUD di Boyolali ‘hampir’ musnah … harga beli susu dari peternak meningkat drastis … awal tahun2007, harga air susu disana ‘hanya’ Rp. 1.250-an/liter … saat ini, KUD berani membeli sampai di angka Rp. 2.800/liter … gilanya lagi, loper berani beli antara Rp. 3.000 – 3.300/liter …

Harga pedet betina … dulu terpaut 25% dibawah harga pedet jantan … saat ini, harganya menyamai bahkan ada yang melebihi harga pedet jantan … apalagi kalau kita berbicara sapi perah dara bunting … ck..ck..ck … harganya selangit, antara Rp. 10.500.000 – 15.000.000/ekor, padahal pada triwulan III tahun 2007, hanya antara Rp. 7.500.000 – 9.000.000/ekor … sebuah kenaikan yang sangat fantastis

Kasus ini tentunya akan sangat menarik dicermati, EMAS PUTIH kita masih menjanjikan … fenomena yang akan sangat mendorong peternak kita untuk kembali bergairah dan mengembangkan ternak sapi perah

Tetapi, bila dikaji lebih jauh … mungkin hanya sedikit sekali yang berfikiran taktis saat itu … seakan fenomena ini terjadi bagai air bah … menenggelamkan yang tidak siap … menggelontorkan bahtera yang telah dipersiapkan …

Kemana saja pemerintah ini mempersiapkan peternak sapi perah Indonesia untuk dapat maju … harusnya informasi tentang meningkat pesatnya pesanan sapi perah dara bunting dari Australia oleh negara lain dapat menjadi patokan, sumber data tersahih, penuh muatan strategis, mampu terbaca oleh para analis … kita bisanya hanya terbengong, mencoba meraih apa yang ada dihadapan … berlomba buat program … berjibaku mengembangkan persusuan Indonesia

Jangankan dunia persusuan … harga minyak mentah yang sudah menembus USD 117/barrel dan jelas-jelas kita adalah negara penghasil minyak bumi terbesar didunia, sudah membuat kita panik … tak lama lagi, harga akan bergerak naik, mengiringi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak … banyak SPBU dan agen minyak tanah yang tidak menerima pasokan, rakyat dibiarkan antri minyak tanah … (tapi … mungkin gak ya ada yang memang meng-arrange ini ???? … semoga fenomema ini murni karena pengaruh pasar

Sebagai pengekor, negara ini juga tidak jelai … harusnya informan yang menerima informasi macam ini segera menarik dan disebarkan kepada salah satu media massa …

Kita memang ‘malas’ dan ‘menjadi blo’on’ untuk menerima sebuah kejadian mendadak …

07 April, 2008

PETERNAK …. Harusnya menjadi Subjek

Semilir angin pagi menerpa rerumputan dan dedaunan disekitar kandang Pak Dullah. Dua ekor burung pipit ikut menikmati kuasa Illahi disebuah ranting pohon dadap tepat disamping kandang. Keduanya nampak merapatkan tubuh, saling menggosokkan bulu sayap dengan mesra dan berpanggutan rapat. Tampak paruh mereka bergerak-gerak sambil bercicit seakan terlibat pada suatu percakapan yang sangat serius.
Sang jantan tampak berkata pada betinanya, “lihat Bu, pak Dullah baru saja mengantarkan air susu ke Tempat Pengumpulan Susu (TPS) dan sekarang sedang memberi pakan untuk sapi-sapi perahnya yang dengan lahap memakan hijaunya rumput gajah”
“benar sayang … lihat semangat beliau yang berapi-api merawat ternaknya” timpal betina. Lanjut betina lagi, “lihat yang, beliau merawat ternaknya yang baru saja beranak .. duh, sehat dan montok pedetnya. Lihat yang, bulunya sama persis dengan induknya, belang hitam putih. Tampaknya betina yang, wah, senangnya pak Dullah, bertambah lagi calon penerus induk”.
“lihat yang”, kata sang jantan. “bu Dullah juga membantu mempersiapkan jerami untuk alas sang pedet dikandang khusus pedet, kompak sekali yang … seperti kita ..he..he”, sang jantan berkata sambil mengerling pada betinanya, jayus ya.
“pak Dullah memerah kolostrum untuk pedet dan memberikannya, wah .. lahap sekali pedet itu minum ASI ekslusif itu”, betina pipit itu menyahut.
Sang jantan menatap langit pagi yang biru sambil berguman, “peternak macam pak Dullah itu selalu melakukan kegiatan dengan semangat, pagi-pagi bangun .. mempersiapkan pemerahan, menakar air susu lalu mengantar ke TPS, demikian pula siangnya. Setiap hari memberi konsentrat dan pakan berserat, memberi minum pedet, mengajak ternaknya berjalan-jalan dan merawat ternak dengan penuh ketulusan”.
“benar yang”, timpal betina. “Bu Dullah juga selalu membantu .. coba tengok Maman, putra tertuanya yang sudah mahir melakukan Inseminasi Buatan sehingga pak Dullah dapat menjamin kelangsungan generasi ternaknya”, tidak mau kalah sang betina ikut merenung.
“Maman juga ikut menginseminasi ternak tetangga mereka, ahh… sungguh kompak komunitas peternak didesa itu yang”, sang jantan menambahkan.
Sang betina mencoba melakukan analisa, “andaikan komunitas peternak seperti pak Dullah dan kelompoknya dapat dibina dan dibimbing dengan baik, tentunya peternakan sapi perah akan semakin maju ya yang, juga bila mereka diberi pelatihan diberi informasi terbaru tentang usaha peternakan, tentunya kualitas air susu juga akan semakin meningkat”. Lanjutnya, “dengan ketersediaan air susu segar yang sangat sedikit ini, peluang meningkatkan peforma peternakan sapi perah merupakan tantangan dan kesempatan yang luar biasa. Kehidupan para peternak juga akan semakin meningkat dan taraf kehidupan mereka juga akan semakin baik yang”.
“benar yang”, kata sang jantan sambil merapatkan tubuhnya kebetinanya. “andaikan keberadaan peternakan rakyat dapat dibina dan diarahkan serta bimbingan yang tiada putus kepada mereka, akan semakin maju peternakan di negara ini”. “pemuda macam Maman akan semakin bersemangat menjadi generasi penerus para peternak dan generasi di desa ini tentunya akan semakin sehat karena air susu”
Tidak terasa matahari semakin tinggi, sebuah ajakan kecil dari sang jantan mengakhiri perbincangan pagi itu, “peternak harus menjadi subjek yang”.
“ayo yang, kita menikmati hari ini – anak-anak kita menunggu jewawut dari kita”, ajak sang jantan. Keduanya lalu terbang berdampingan menembus awan tipis menapak asa dan membangun harapan, setinggi harapan peternak sapi perah yang terus membangun hari depan yang lebih baik.

29 Maret, 2008




Sapi … ingatan yang melambungkan kita pada hewan berkaki empat, bertanduk, memiliki ekor untuk mengibas serangga yang menghinggapi tubuhnya, pemakan rumput dan pakan sumber serat lainnya, penghasil susu dan daging terfavorit di dunia … juga feses untuk pupuk organik.
Kekuatan Yang Kuasa akan pencernaannya sangat mengangumkan, empat perut yang saling bersinergi melumat seluruh pakan menjadi daging yang lezat bergizi dan air susu yang bermanfat kaya nutrisi.
Jangan pernah berada di samping belakang ternak ini, pertahanannya dengan sepakan kaki ke samping memberi kemudahan bagi manusia untuk melakukan Inseminasi Buatan melalui bagian belakang ternak ini.
Dia makan secukupnya, lalu … empat jam kemudian, gelar dia sebagai golongan ruminansia bekerja. Bolus-bolus makanan keluar lagi dari rumen menuju mulut untuk dihancurkan dan disalurkan ke perut kedua – ketiga – keempat untuk pencernaan, sambil bersantai.
Air susunya sangat exclusive, tujuh hari adalah hari-hari terbaik untuk anaknya. Siapapun yang berani mengkonsumsi air susu selama tujuh hari bernama kolostrum tanpa memberi perlakuan apapun akan kualat akibat kedahsyatan kandungan kolostrum yang memang khusus untuk anakknya.
Saat anaknya lahir, jiwa keibuannya muncul … dijilati anaknya sesaat setelah bersalin dengan penuh kasih sayang untuk membersihkan tubuh sianak, menyalurkan ikatan batin untuk melindungi dari mikroorganisme pengganggu melalui ludahnya, memperlancar peredaran darah sianak sehingga anak dalam tempo seperempat jam kemudian segera berdiri, menapak kaki mungilnya, mencari sumber makanan bergizi dari induknya …
Sebuah nuansa yang menginspirasi … sehingga Al-qur’an pun menjadikan dirinya sebagai surat kedua dalam kitab suci sarat makna itu

28 Maret, 2008

Sang Tamu


menapak keempat kaki berjinjit
tubuh meregang .. melemas .. mengatur nafas
menyapu sekeliling mencari tempat
mempersiapkan si tamu kecil

detik mengisi ruang udara yang berhembus dari lubang hidung
udara dari paru-paru terpompa mengiringi organ kebidanan dalam perut yang terus konstraksi
jalur-jalur hormon menyapu dari hipothalamus menuju seluruh jaringan organ tubuh yang berisi seonggok nafas baru yang akan hadir
dalam tubuhku terus menggeliat ... sang tamu menata diri menuju pintu alam bebas

pelahan sang tamu menembus jaring penutup
jaring itupun robek, dan sang kaki - mulut mulai menembus perlahan
deras jalur hormon memacu tulang pelvis membuka
memberi jalan bagi sang tamu agar bebas melewati halangan

perlahan seluruh bagian tubuh tamu melewati jaringnya
perlahan selang alami dari perut bawahnya menegang
menegang
mencapai batas kekuatan
putus

lepas jalur batin

sang tamu berada diluar tubuhku
bentuk mirip dengan diriku
lebih kecil
lemah
basah
dan hanya mampu menangis kecil

tubuh sang tamu aku dekati, aku rasakan uap hangat dari tubuhnya
lidahku tak kuasa menahan
untuk menjilati
cairan basah itu aku jilati
bulu-bulu halus yang semakin mengering mulai tampak
aliran darahnya mulai mengisi lancar seluruh jaringannya
kepalanya mulai terdongak
mulutnya mulai membuka
dan suara itu ...
mengisi alam yang perkasa

generasiku telah ada
sang tamu itu membawa pesan keterusan sebuah hikmah
aku menatapnya bangga
aku merasakan keletihan yang tiada sebanding dengan kepasrahan atas berkah-Nya

selamat datang sang tamu

22 Maret, 2008

Emas Putih Indonesia

Emas Putih ... istilah untuk susu Indonesia

suatu ungkapan tentang sebuah potensi yang menjadi warisan berharga jaman penjajahan Belanda dahulu ...

sebuah sumber galian yang sangat berharga ... tiada makanan yang dapat mengalahkan air susu ... mulai dari kandungan nutrisi, kecepatan penyerapan, kemurnian .... ruar biasa

saat ini persusuan kita sedang menapak menuju kemajuan yang berarti ... kemajuan yang menggembirakan ... kemajuan yang benar" terejawantah mensemangatkan ...

Pengembangan dunia persusuan Indonesia tidak boleh berhenti hanya karena kekurangpiawaian kita dalam mengembangkan dan membawa dunia persusuan pada suatu nilai yang sempit, kita harus dapat menjadikan air susu ternak perah Indonesia pada suatu nilai yang berarti

stake holders dunia peternakan perah Indonesia harus bersatu padu

Peternak
subjek peternakan yang benar" dijadikan sebagai pelaku utama dalam pengembangan peternakan Undonesia
peningkatan kemampuan manajemen, peningkatan kualitas penjagaan kesehatan dan reproduksi dan transfer informasi tentang dunia peternakan merupakan beberapa hal yang harus menjadi tulan punggung para peternak Indonesia

Pemerintah
pelaku utama di bidang kebijakan dan pengambil keputusan terbaik bagi pengembangan peternakan perah Indonesia
tidak hanya sekedar membuat kebijakan, lalu ditinggalkan ... tetapi lebih pada pengembangan dunia persusuan yang mengarahkan - mendampingi dan membimbing peternak
regulasi yang mempermudah peternakan Indonesia dan perkembangan iklim usaha peternakan perah adalah kuncinya

Swasta
kaum industrialisasi dan pemasar produk air susu Indonesia. keberadaan mereka tentunya harus mau berdampingan dengan peternak rakyat yang terus meningkatkan produktifitas dan kualitas ... harus mengupayakan produk olahan air susu yang bermutu dengan iklim kondusif yang diregulasikan oleh pemerintah

penyatuan ide - misi - visi seluruh stake holders adalah penciptaan harmonisasi dengan dinamika yang saling melengkapi akan memperindah dunia peternakan Indonesia

mari menyatukan tangan - bahu membahu
mari mempersenyawakan kimia otak
mari menyelesaikan permasalahan persusuan Indonesia

best regards

Mengenai Saya

Foto saya
keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...

COWMANIA

COWMANIA