berbicara tentang persusuan nasional, ada beberapa stake holder yang terkait dan saling berhubungan satu sama lain.
Peternak,
sebenarnya merupakan pelaku utama yang ada dibagian teknis dan bagian ujung tombak produksi air susu. mereka adalah pelaksana pemeliharaan ternak, penjaga kesehatan dan reproduksi ternak, pemberi pakan dan menjamin kelangsungan produksi ternak. kehidupan mereka selalu tergantung pada tiap tetes air susu yang berhasil mereka kumpulkan dan mereka jual
Jaring Tataniaga,
seharusnya merupakan satu tatanan jalur distribusi air susu dari peternak menuju konsumen, di jalur inilah biasanya air susu mengalami pembolakbalikan fakta, ada yang secara jujur disalurkan ke Industri Pengolahan Susu atau konsumen, ada juga yang 'menggoreng' air susu sehingga menjadi tidak HAUS (Halal, Asli, Utuh dan Segar) demi menambah nilai jual air susu
Birokrat Persusuan,
merupakan kumpulan pembuat kebijakan tentang air susu yang menentukan arah kebijakan pengembangan persusuan tanah air. ditangan beliau-beliau (yang kebanyakan tidak punya sapi perah) justru persusuan nasional ditentukan, sehingga kadang ada kebijakan yang terbolak balik sehingga bukannya mendukung perkembangan persusuan nasional, malah mamtikan persusuan nasional
konsumsi air susu perkapita masyarakat Indonesia saat ini mencapai 11,7 liter (masih lebih rendah dari Malaysia, 30 liter dan Vietnam 12 liter), artinya kebutuhan air susu masih sangat banyak dan harusnya perkembangan persusuan nasional masih dapat dikembangkan secara maksimal
cacatan kecil tentang pembangunan persusuan nasional adalah :
Peternak adalah Subjek
jadikan peternak sebagai subjek yang akan mengembangkan persusuan nasional. berilah ruang bagi para peternak untuk berkreasi dan selalu dapat meningkatkan produktifitas dan pupulasi ternak dengan baik. hal-hal yang dapat dilakukan : penambahan populasi, pendampingan dan pembinaan, jaminan ketersediaan bahan pakan, pendampingan dalam peningkatan kualitas reproduksi ternak, jaminan tataniaga yang sehat dan menguntungkan serta kemudahan-kemudahan berusaha sesuai dengan tingkatan profesionalisme
Perbaikan Tataniaga
sudah menjadi rahasia umum bahwa urusan tataniaga adalah sumber bencana bagi pembangunan pertanian Indonesia. perbaikan tataniaga adalah perbaikan yang sangat fundamental dan paling penting, tataniagalah yang akan membuat peternak meningkatkan produktifitasnya dan berkreasi semaksimal mungkin. saat ini harga susu ditentukan oleh para "tengkulak" baik yang berdasi, maupun yang menggunakan sarung. peternak hanya 'melongo' dan tidak bisa berbuat banyak. perbaiki tata niaga, pangkas pembuat 'ekonomi biaya tinggi' dan pastikan bahwa peternak mendapatkan porsi harga terbanyak, karena selama ini penyalurnya adalah bagian terbesarnya
Kelembagaan
selalu yang namanya pelembaga persusuan Indonesia hanya bisa berbicara diatas kertas, implementasi dilapangan selalu berhenti dengan permainan kepentingan sesaat dan itu kembali membuat peternak hanya bisa terkapar. bila ingin kualitas air susu peternak meningkat, lakukanlah pembinaan dan pendampingan, beri peternak sebuah kelembagaan yang mampu menjamin ketersediaan bahan baku pakan yang berkualitas dan terjangkau serta kontinyu; beri peternak pelatihan untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas air susu; beri peternak stimulus-stimulus untuk semakin mengembangkan diri. maaf, jangan tunggangi peternak untuk kepentingan sendiri dan menambah kocek pribadi. pihak akademisipun kebanyakan hanya berhenti sampai di dataran laboratorium, jarang pihak akademisi mampu memberikan masukan dan statemen tentang pembangunan persusuan nasional. kasus bakteri E. sakazaki pada beberapa susu formula di tanah air, adalah bentuk belenggu yang mencengkeram independensi akademisi dan betapa pihak akademisi dapat 'dibeli'
Persusuan Nasional ini milik siapa?
peternak sapi perah? para tengkulak? pengusaha industri air susu? pejabat pemerintah? kaum akademisi?
Hari Susu Nasional 1 Juni 2011 yang puncak acaranya dilakukan tanggal 4 Juni 2011 di Tarubudaya Ungaran - Jawa Tengah, kembali hanya menyampaikan sisi seremonial belaka, tanpa roh, tanpa jiwa, tanpa keinginan menggebu untuk mengedepankan sisi-sisi kemajuan persusuan nasional
Banyak kegiatan lain yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Susu Nusantara (HSN). Di antaranya adalah workshop/seminar sistem jaminan mutu keamanan pangan produk susu (tanggal 26-28 Mei 2011), workshop pengembangan jaringan pemasaran susu (tanggal 2-3 Juni 2011), dan seminar upaya peningkatan produksi dan pemasaran susu segar untuk membangun SDM yang berkualitas (tanggal 2-3 Juni 2011).
semoga ada media yang memberi kabar tentang kegiatan itu semua, atau ... semuanya bermuara pada kapitalisme ... dan itu bukan untuk peternak
kasihan deh peternak sapi perah nasional
Tampilkan postingan dengan label sapi perah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sapi perah. Tampilkan semua postingan
04 Juni, 2011
03 Januari, 2011
GANGGUAN METABOLISME PADA SAPI LAKTASI AWAL
GANGGUAN METABOLISME PADA SAPI LAKTASI AWAL
Retensio Placenta (Retensio Secundinae)
• Placenta umumnya keluar setelah 12 hari post partus
• Perlunya pemberian vitamin A, D dan Selenium disamping mineral yang cukup untuk ternak post partus
• Perbaikan dan konsistensi manajemen pemberian pakan sangat penting untuk menjaga kondisi pedet dan kinerja produksi yang baik serta gangguan pada alat reproduksi
• Retensi plasenta adalah kejadian patologi dimana selaput fetus tidak keluar dari alat kelamin induknya dalam waktu 1–12 jam setelah kelahiran anaknya (Hardjopranjoto,1995
Etiologi
Pada dasarnya retensi sekundinae atau retensi plasenta adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon foetal dari kripta karankula maternal. Pada sapi, retensi plasenta dapat disebabkan beberapa faktor yaitu:
1. Gangguan mekanis (hanya 0,3% kasusnya), yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus, tetapi tidak dapat terlepas dan keluar dari alat kelamin karena masuk dalam kornu uteri yang tidak bunting, atau kanalis servikalis yang terlalu cepat menutup, sehingga selaput fetus terjepit (Hardjopranjoto,1995).
2. Induk kekurangan kekuatan untuk mengeluarkan sekundinae setelah melahirkan. Ini disebabkan adanya atoni uteri pasca melahirkan (kasusnya 1–2%). Mungkin juga karena defisiensi hormon yang menstimulir kontraksi uterus pada waktu melahirkan, seperti oksitosin atau estrogen. Atoni uteri pasca melahirkan juga bisa disebabkan oleh berbagai penyakit seperti penimbunan cairan dalam selaput fetus, torsio uteri, kembar, distokia dan kondisi patologik lainnya (Toilehere, 1985)
3. gangguan pelepasan sekundinae yang berasal dari karankula induk. Ini adalah kasus yang paling sering terjadi dan dapat mencapai 98%, (4) Avitaminosa–A menyebabkan retensi plasenta, karena kemungkinan besar vitamin A perlu untuk mempertahankan kesehatan dan resistensi epitel uterus dan plasenta. Retensi plasenta terjadi pada 69% sapi dari suatu kelompok ternak yang diberikan makanan dengan kadar karoten yang rendah (Toilehere,1985)
Gejala
Gejala pertama yang tampak adalah adanya selaput fetus yang menggantung diluar alat kelamin (Hardjopranjoto,1995). Kadang–kadang selaput fetus tidak keluar melewati vulva tapi tetap menetap dalam uterus dan vagina. Pemeriksaan terhadap selaput fetus sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk mengetahui apakah terjadi retensi atau tidak. Pemeriksaan melalui uterus dapat dilakukan dalam waktu 24–36 jam post partus. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak mungkin memasukkan tangan ke dalam uterus atau selaput fetus dalam servik. Adanya selaput fetus di dalam cervik cenderung menghambat kontraksi servik (Toelihere,1985).
Sekitar 75–80% sapi dengan retensi sekundinae tidak menunjukkan tanda–tanda sakit. Sekitar 20-25% memperlihatkan gejala–gejala metritis seperti anorexia, depresi, suhu badan tinggi, pulsus meningkat dan berat badan turun (Toelihere,1985).
Prognosa
Pada kasus tanpa komplikasi, angka kematian sangat sedikit dan tidak melebihi 1-2%. Apabila ditangani dengan baik dan cepat, maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak terganggu. Pada kasus retensi ini kerugian peternak bersifat ekonomis karena produksi susu yang menurun, kelambatan involusi dan konsepsi (Toelihere,1985).
Diagnosa
Diagnosa dilakukan berdasarkan adanya sekundinae yang keluar dari alat kelamin. Bila sekundinae hanya tinggal sedikit dalam alat kelamin, diagnosa dapat dilakukan dengan eksplorasi vaginal memakai tangan dan dengan terabanya sisa sekundinae atau kotiledon yang masih teraba licin karena masih terbungkus oleh selaput fetus. Karunkula yang sudah terbebas dari lapisan sekundinae, akan teraba seperti beludru. Kalau tidak ada sekundinae yang menggantung diluar kelamin, jangan dikatakan tidak ada retensi sekundinarium. Mungkin sekundinae masih tersisa dan tersembunyi didalam rongga uterus (Hardjopranjoto,1995).
Terapi
Pengobatan terhadap retensi sekundinae sangat tergantung kepada sebab–sebabnya dan ada tidaknya gejala peradangan. Pertolongan terhadap retensi sekundinarium ditujukan pada pengeluaran sekundinae dari alat kelamin secepat-cepatnya dan diupayakan agar kesuburan induk penderita tetap baik (Hardjopranjoto,1995).
Displaced Abomasum
• Displaced Abomasum juga merupaka kendala yang harus dicegah, akibat timbunan gas dalam alat cerna
• Tindakan pencegahan adalah dengan memberikan keseimbangan nutrisi seama periode 45 – 60 hari masa kering, exercise, kebersihan dan kondisi kering – nyaman serta sanitasi kondisi kandang
• Kurangnya asupan serat kasar → pengurangan kegiatan penguyahan → aliran air liur ke dalam rumen berkurang → penurunan buffer rumen akibat kurangnya cairan rumen → menurunnya motalitas dinding rumen → berkurangnya palpasi otot dinding rumen → DISPLACED ABOMASUM
• Tanda-tandanya hamper sama dengan gangguan akibat ketosis :
a. keinginan makan naik turun
b. suhu tubuh normal
c. produksi susu turun
d. kelesuan dan ketidaknyamanan
Retensio Placenta (Retensio Secundinae)
• Placenta umumnya keluar setelah 12 hari post partus
• Perlunya pemberian vitamin A, D dan Selenium disamping mineral yang cukup untuk ternak post partus
• Perbaikan dan konsistensi manajemen pemberian pakan sangat penting untuk menjaga kondisi pedet dan kinerja produksi yang baik serta gangguan pada alat reproduksi
• Retensi plasenta adalah kejadian patologi dimana selaput fetus tidak keluar dari alat kelamin induknya dalam waktu 1–12 jam setelah kelahiran anaknya (Hardjopranjoto,1995
Etiologi
Pada dasarnya retensi sekundinae atau retensi plasenta adalah kegagalan pelepasan villi kotiledon foetal dari kripta karankula maternal. Pada sapi, retensi plasenta dapat disebabkan beberapa faktor yaitu:
1. Gangguan mekanis (hanya 0,3% kasusnya), yaitu selaput fetus yang sudah terlepas dari dinding uterus, tetapi tidak dapat terlepas dan keluar dari alat kelamin karena masuk dalam kornu uteri yang tidak bunting, atau kanalis servikalis yang terlalu cepat menutup, sehingga selaput fetus terjepit (Hardjopranjoto,1995).
2. Induk kekurangan kekuatan untuk mengeluarkan sekundinae setelah melahirkan. Ini disebabkan adanya atoni uteri pasca melahirkan (kasusnya 1–2%). Mungkin juga karena defisiensi hormon yang menstimulir kontraksi uterus pada waktu melahirkan, seperti oksitosin atau estrogen. Atoni uteri pasca melahirkan juga bisa disebabkan oleh berbagai penyakit seperti penimbunan cairan dalam selaput fetus, torsio uteri, kembar, distokia dan kondisi patologik lainnya (Toilehere, 1985)
3. gangguan pelepasan sekundinae yang berasal dari karankula induk. Ini adalah kasus yang paling sering terjadi dan dapat mencapai 98%, (4) Avitaminosa–A menyebabkan retensi plasenta, karena kemungkinan besar vitamin A perlu untuk mempertahankan kesehatan dan resistensi epitel uterus dan plasenta. Retensi plasenta terjadi pada 69% sapi dari suatu kelompok ternak yang diberikan makanan dengan kadar karoten yang rendah (Toilehere,1985)
Gejala
Gejala pertama yang tampak adalah adanya selaput fetus yang menggantung diluar alat kelamin (Hardjopranjoto,1995). Kadang–kadang selaput fetus tidak keluar melewati vulva tapi tetap menetap dalam uterus dan vagina. Pemeriksaan terhadap selaput fetus sebaiknya dilakukan sesudah partus untuk mengetahui apakah terjadi retensi atau tidak. Pemeriksaan melalui uterus dapat dilakukan dalam waktu 24–36 jam post partus. Sesudah 48 jam biasanya sulit atau tidak mungkin memasukkan tangan ke dalam uterus atau selaput fetus dalam servik. Adanya selaput fetus di dalam cervik cenderung menghambat kontraksi servik (Toelihere,1985).
Sekitar 75–80% sapi dengan retensi sekundinae tidak menunjukkan tanda–tanda sakit. Sekitar 20-25% memperlihatkan gejala–gejala metritis seperti anorexia, depresi, suhu badan tinggi, pulsus meningkat dan berat badan turun (Toelihere,1985).
Prognosa
Pada kasus tanpa komplikasi, angka kematian sangat sedikit dan tidak melebihi 1-2%. Apabila ditangani dengan baik dan cepat, maka kesuburan sapi yang bersangkutan tidak terganggu. Pada kasus retensi ini kerugian peternak bersifat ekonomis karena produksi susu yang menurun, kelambatan involusi dan konsepsi (Toelihere,1985).
Diagnosa
Diagnosa dilakukan berdasarkan adanya sekundinae yang keluar dari alat kelamin. Bila sekundinae hanya tinggal sedikit dalam alat kelamin, diagnosa dapat dilakukan dengan eksplorasi vaginal memakai tangan dan dengan terabanya sisa sekundinae atau kotiledon yang masih teraba licin karena masih terbungkus oleh selaput fetus. Karunkula yang sudah terbebas dari lapisan sekundinae, akan teraba seperti beludru. Kalau tidak ada sekundinae yang menggantung diluar kelamin, jangan dikatakan tidak ada retensi sekundinarium. Mungkin sekundinae masih tersisa dan tersembunyi didalam rongga uterus (Hardjopranjoto,1995).
Terapi
Pengobatan terhadap retensi sekundinae sangat tergantung kepada sebab–sebabnya dan ada tidaknya gejala peradangan. Pertolongan terhadap retensi sekundinarium ditujukan pada pengeluaran sekundinae dari alat kelamin secepat-cepatnya dan diupayakan agar kesuburan induk penderita tetap baik (Hardjopranjoto,1995).
Displaced Abomasum
• Displaced Abomasum juga merupaka kendala yang harus dicegah, akibat timbunan gas dalam alat cerna
• Tindakan pencegahan adalah dengan memberikan keseimbangan nutrisi seama periode 45 – 60 hari masa kering, exercise, kebersihan dan kondisi kering – nyaman serta sanitasi kondisi kandang
• Kurangnya asupan serat kasar → pengurangan kegiatan penguyahan → aliran air liur ke dalam rumen berkurang → penurunan buffer rumen akibat kurangnya cairan rumen → menurunnya motalitas dinding rumen → berkurangnya palpasi otot dinding rumen → DISPLACED ABOMASUM
• Tanda-tandanya hamper sama dengan gangguan akibat ketosis :
a. keinginan makan naik turun
b. suhu tubuh normal
c. produksi susu turun
d. kelesuan dan ketidaknyamanan
22 Oktober, 2010
EMAS PUTIH RAKYAT, HARUSNYA BERKILAU INDAH
EMAS PUTIH RAKYAT, HARUSNYA BERKILAU INDAH
“Kasihan ya Pak”, kata induk merpati betina. “Coba lihat, Pak Ahmad dini hari sudah bangun, mengurus sapi laktasinya yang delapan ekor, empat sapi kering kandang dan empat pedet”, lanjut sang betina. “kenapa kasihan Bu?”, jawab Sang Jantan. “buktinya Pak Ahmad mampu menyekolahkan anak-anaknya, si sulung hampir masuk Perguruan Tinggi. Berarti usaha Pak Ahmad masih layak dilakukan”, lanjutnya. “Toh, Pak Ahmad tidak sendirian, Bu Ahmad dan ketiga anaknya selalu membantu, masih ditambah Tono yang khusus membantu di kandang”, imbuh Sang Jantan. “benar juga Pak, dengan duabelas induk dan empat pedet, Pak Ahmad dapat hidup cukup. Ditambah ketelatenan Pak Ahmad merawat semua sapi perahnya”, sambung Sang Induk.
Percakapan sepasang merpati yang tinggal di kotak kayu dekat kandang sapi perah Pak Ahmad memberi sepenggal cerita kehidupan peternak sapi perah rakyat Indonesia. Perkembangan sapi perah rakyat di Indonesia saat ini masih tertinggal bila dibandingkan dengan perkembangan sapi perah dunia yang semakin berkembang baik sisi teknis budidaya, reproduksi, manajemen, penanganan kesehatan sampai pengolahan air susu pasca panen.
Data jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai 220juta jiwa dan angka yang menyebutkan bahwa produksi susu Indonesia baru menyediakan 33% total kebutuhan pasar domestik, berarti ada 67% pasar potensial yang masih menganga.
Persusuan nasional seharusnya sudah memasuki usia dewasa, baik dari segi produksi maupun teknologi. Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) sebagai Induk Koperasi Primer Susu di Indonesia seyogyanya sudah dapat memberi sumbangsih nyata bagi kemajukan peternakan sapi perah Indonesia.
Permasalahan dan pengalaman yang ada membuat beberapa insan sapi perah Indonesia berinisiatif sendiri-sendiri agar tidak tertinggal dan dapat terus eksis dalam usaha sapi perah, seperti mengolah air susu menjadi produk olahan, misalnya susu pasteurisasi, tahu susu, krupuk susu, dodol susu, yoghurt, permen, karamel, keju dan produk olahan lainnya.
Bermuara pada upaya peningkatkan konsumsi protein perkapita dan pendapatan peternak rakyat, saatnya dilakukan upaya nyata, terarah dan terprogram oleh semua pihak untuk meningkatkan produktivitas ternak serta evaluasi menyeluruh sehingga monitoring produktivitas dapat terukur, kuantitatif maupun kualitatif.
SUMBER DAYA MANUSIA
Sumber daya manusia (bukan hanya peternak semata, tetapi juga pada pembuat sistem dan konsep persusuan yaitu Pemerintah, akademisi, perusahaan peternakan dan Koperasi Susu) berperan dalam pelaksanaan manajemen usaha ternak yang menentukan keberhasilan usaha.
Dimulai dari pelaku langsung dilapangan, peternak sebagai ujung tombak usaha yang harus diberi pelatihan, transfer teknologi dan informasi. Pembiayaan kegiatan ini dapat diambil dari Pos Dana APBN/APBD, Pemerintah Daerah, Koperasi atau peternak itu sendiri. Pembiayaan tersebut menjadi sangat murah bila muatan-muatan yang diterima dapat diserap, dicerna dan diterapkan oleh peternak, dibarengi pendampingan dan arahan secara simultan yang berimbas pada peningkatan produktivitas ternak.
Pengurus Koperasi Susu seyogyanya memiliki kemampuan dan keterampilan mumpuni untuk disampaikan kepada anggota melalui pendidikan dan latihan langsung dilapangan sehingga budidaya ternak dapat efektif dan efisien. Pelatihan dan pendidikan bagi Staf Teknis Koperasi mutlak dilakukan selain studi komparasi dan transfer informasi.
Direktorat Jenderal Peternakan/Dinas Peternakan berperan lewat penyuluhan, pembinaan dan pendampingan kepada peternak. Petugas Penyuluh Lapangan diberi pendidikan dan latihan teknis peternakan maupun informasi kebijakan pemerintah.
Perguruan Tinggi dan Sekolah Menegah Kejuruan yang berhubungan dengan dunia peternakan, akan terus mencetak Sarjana, Ahli Madya atau tenaga terlatih untuk mengaplikasikan dan mengembangkan teori yang mereka terima di bangku pendidikan. Kurikulum yang sempurna, pola pengajaran yang baik dan informasi terbaru dunia peternakan tidak diragukan lagi akan menghasilkan tenaga-tenaga intelektual terdidik dan terlatih dalam mengembangkan persusuan Indonesia, baik sebagai wirausahawan atau tenaga karir.
MANAJERIAL, TEKNIS dan KEBIJAKAN PEMERINTAH
Bukan rahasia lagi bila perkembangan yang lamban peternakan rakyat salah satunya berasal dari aspek manajerial, teknis dan kebijakan pemerintah. Kegiatan budidaya yang baik dibarengi kebijakan Pemerintah yang kondusif tentunya akan memberi angin segar perkembangan peternakan sapi perah rakyat. Kebijakan pemerintah tidak boleh tumpang tindih untuk menghindari terjadinya perbedaan persepsi yang mengganggu perkembangan persusuan Indonesia.
Dinas Peternakan dan Balai-balai Penelitian (Balai Penelitian Ternak, Balai Veteriner, BPT-HMT) bertugas melakukan pembinaan, pengarahan serta transfer manajemen dan teknologi kepada peternak. Tengoklah kasus Brucellosis dan Anthrax yang mewabah di peternakan sapi perah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seandainya sebelum wabah terjadi dilakukan tindakan pencegahan yang cepat dan tepat, bukan tidak mungkin ratusan peternak akan terselamatkan ‘asap dapurnya’. Ribuan hasil penelitian para ahli dalam dan luar negeri tentang teknis budidaya sapi perah, harus dapat disosialisasi dan diaplikasi oleh peternak. Sangat sayang bila pengorbanan waktu, tenaga dan tentunya biaya penelitian dan penyusunan program itu hanya menjadi tumpukan kertas belaka, tidak teraplikasi dan tersosialisasi kepada peternak rakyat. Pendampingan secara sinergis akan mempercepat bertumbuhnya jiwa profesionalisme peternak.
Profesionalisme peternak akan memberi dampak nyata bagi kesinambungan segitiga produksi (Bibit–Pakan-Manajemen). Peternak akan mendapatkan bibit ternak berproduktivitas tinggi, mampu memberi pakan berkualitas dan memiliki manajemen usaha yang baik.
Pihak Akademisi bidang Peternakan yang terus menetaskan para konseptor dan pelaksana teknis di lapangan merupakan asset berharga yang berpotensi membantu perkembangan persusuan Indonesia dengan cara memberi masukan berlandaskan teori-teori ilmiah yang aplikatif.
VISI DAN MISI
Pihak-pihak yang terkait dan berkompeten terhadap perkembangan dunia persusuan Indonesia harus segera berkumpul, menyatukan misi dan visi, mengesampingkan kepentingan masing-masing untuk melahirkan SATU KONSEP PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH RAKYAT.
Koleksi dan pemecahan permasalahan merupakan hal yang masih dilakukan secara parsial oleh masing-masing pihak. Permasalahan-permasalahan dilapangan melalui pemilahan objektif dan ilmiah akan melahirkan akar permasalahan yang dapat diselesaikan secara tuntas. Solusi-solusi jitu yang lahir melalui pemikiran banyak pihak dibarengi penyatuan persepsi, dikumpulkan sebagai bank data pemecahan masalah, sehingga saat timbul permasalahan sejenis dapat diambil tindakan yang cepat dan tepat.
Sistem baku yang luwes dalam mencari jati diri hakiki peternakan sapi perah Indonesia akan dapat dihasilkan dan akan terus bergulir semakin besar dalam menghasilkan Persusuan Indonesia yang mandiri dan berhasil. Evaluasi program akan menghasilkan masukan dan referensi penyempurnaan konsep yang mengkerucut pada satu keluaran pola baku persusuan Indonesia.
Sambil menerawang kelangit pagi seakan melihat lukisan digumpalan awan putih yang bergerak ditimpa matahari pagi dan merapatkan tubuhnya ke sang jantan, betina berkata, “alangkah indahnya ya pak, kalau peternakan sapi perah kita bisa berkembang dan memberi sumbangsih nyata bagi bangsa yang besar ini”. “Memang seharusnya begitu Bu, Emas Putih rakyat harusnya berkilau indah ...” sambut Sang Jantan memeluk belahan hatinya. Sepasang sejoli ini saling memandang dan bertatap mesra sambil menengok telur-telur mereka yang akan menetaskan generasi baru untuk melihat perubahan nyata persusuan Indonesia.
“Kasihan ya Pak”, kata induk merpati betina. “Coba lihat, Pak Ahmad dini hari sudah bangun, mengurus sapi laktasinya yang delapan ekor, empat sapi kering kandang dan empat pedet”, lanjut sang betina. “kenapa kasihan Bu?”, jawab Sang Jantan. “buktinya Pak Ahmad mampu menyekolahkan anak-anaknya, si sulung hampir masuk Perguruan Tinggi. Berarti usaha Pak Ahmad masih layak dilakukan”, lanjutnya. “Toh, Pak Ahmad tidak sendirian, Bu Ahmad dan ketiga anaknya selalu membantu, masih ditambah Tono yang khusus membantu di kandang”, imbuh Sang Jantan. “benar juga Pak, dengan duabelas induk dan empat pedet, Pak Ahmad dapat hidup cukup. Ditambah ketelatenan Pak Ahmad merawat semua sapi perahnya”, sambung Sang Induk.
Percakapan sepasang merpati yang tinggal di kotak kayu dekat kandang sapi perah Pak Ahmad memberi sepenggal cerita kehidupan peternak sapi perah rakyat Indonesia. Perkembangan sapi perah rakyat di Indonesia saat ini masih tertinggal bila dibandingkan dengan perkembangan sapi perah dunia yang semakin berkembang baik sisi teknis budidaya, reproduksi, manajemen, penanganan kesehatan sampai pengolahan air susu pasca panen.
Data jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai 220juta jiwa dan angka yang menyebutkan bahwa produksi susu Indonesia baru menyediakan 33% total kebutuhan pasar domestik, berarti ada 67% pasar potensial yang masih menganga.
Persusuan nasional seharusnya sudah memasuki usia dewasa, baik dari segi produksi maupun teknologi. Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) sebagai Induk Koperasi Primer Susu di Indonesia seyogyanya sudah dapat memberi sumbangsih nyata bagi kemajukan peternakan sapi perah Indonesia.
Permasalahan dan pengalaman yang ada membuat beberapa insan sapi perah Indonesia berinisiatif sendiri-sendiri agar tidak tertinggal dan dapat terus eksis dalam usaha sapi perah, seperti mengolah air susu menjadi produk olahan, misalnya susu pasteurisasi, tahu susu, krupuk susu, dodol susu, yoghurt, permen, karamel, keju dan produk olahan lainnya.
Bermuara pada upaya peningkatkan konsumsi protein perkapita dan pendapatan peternak rakyat, saatnya dilakukan upaya nyata, terarah dan terprogram oleh semua pihak untuk meningkatkan produktivitas ternak serta evaluasi menyeluruh sehingga monitoring produktivitas dapat terukur, kuantitatif maupun kualitatif.
SUMBER DAYA MANUSIA
Sumber daya manusia (bukan hanya peternak semata, tetapi juga pada pembuat sistem dan konsep persusuan yaitu Pemerintah, akademisi, perusahaan peternakan dan Koperasi Susu) berperan dalam pelaksanaan manajemen usaha ternak yang menentukan keberhasilan usaha.
Dimulai dari pelaku langsung dilapangan, peternak sebagai ujung tombak usaha yang harus diberi pelatihan, transfer teknologi dan informasi. Pembiayaan kegiatan ini dapat diambil dari Pos Dana APBN/APBD, Pemerintah Daerah, Koperasi atau peternak itu sendiri. Pembiayaan tersebut menjadi sangat murah bila muatan-muatan yang diterima dapat diserap, dicerna dan diterapkan oleh peternak, dibarengi pendampingan dan arahan secara simultan yang berimbas pada peningkatan produktivitas ternak.
Pengurus Koperasi Susu seyogyanya memiliki kemampuan dan keterampilan mumpuni untuk disampaikan kepada anggota melalui pendidikan dan latihan langsung dilapangan sehingga budidaya ternak dapat efektif dan efisien. Pelatihan dan pendidikan bagi Staf Teknis Koperasi mutlak dilakukan selain studi komparasi dan transfer informasi.
Direktorat Jenderal Peternakan/Dinas Peternakan berperan lewat penyuluhan, pembinaan dan pendampingan kepada peternak. Petugas Penyuluh Lapangan diberi pendidikan dan latihan teknis peternakan maupun informasi kebijakan pemerintah.
Perguruan Tinggi dan Sekolah Menegah Kejuruan yang berhubungan dengan dunia peternakan, akan terus mencetak Sarjana, Ahli Madya atau tenaga terlatih untuk mengaplikasikan dan mengembangkan teori yang mereka terima di bangku pendidikan. Kurikulum yang sempurna, pola pengajaran yang baik dan informasi terbaru dunia peternakan tidak diragukan lagi akan menghasilkan tenaga-tenaga intelektual terdidik dan terlatih dalam mengembangkan persusuan Indonesia, baik sebagai wirausahawan atau tenaga karir.
MANAJERIAL, TEKNIS dan KEBIJAKAN PEMERINTAH
Bukan rahasia lagi bila perkembangan yang lamban peternakan rakyat salah satunya berasal dari aspek manajerial, teknis dan kebijakan pemerintah. Kegiatan budidaya yang baik dibarengi kebijakan Pemerintah yang kondusif tentunya akan memberi angin segar perkembangan peternakan sapi perah rakyat. Kebijakan pemerintah tidak boleh tumpang tindih untuk menghindari terjadinya perbedaan persepsi yang mengganggu perkembangan persusuan Indonesia.
Dinas Peternakan dan Balai-balai Penelitian (Balai Penelitian Ternak, Balai Veteriner, BPT-HMT) bertugas melakukan pembinaan, pengarahan serta transfer manajemen dan teknologi kepada peternak. Tengoklah kasus Brucellosis dan Anthrax yang mewabah di peternakan sapi perah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seandainya sebelum wabah terjadi dilakukan tindakan pencegahan yang cepat dan tepat, bukan tidak mungkin ratusan peternak akan terselamatkan ‘asap dapurnya’. Ribuan hasil penelitian para ahli dalam dan luar negeri tentang teknis budidaya sapi perah, harus dapat disosialisasi dan diaplikasi oleh peternak. Sangat sayang bila pengorbanan waktu, tenaga dan tentunya biaya penelitian dan penyusunan program itu hanya menjadi tumpukan kertas belaka, tidak teraplikasi dan tersosialisasi kepada peternak rakyat. Pendampingan secara sinergis akan mempercepat bertumbuhnya jiwa profesionalisme peternak.
Profesionalisme peternak akan memberi dampak nyata bagi kesinambungan segitiga produksi (Bibit–Pakan-Manajemen). Peternak akan mendapatkan bibit ternak berproduktivitas tinggi, mampu memberi pakan berkualitas dan memiliki manajemen usaha yang baik.
Pihak Akademisi bidang Peternakan yang terus menetaskan para konseptor dan pelaksana teknis di lapangan merupakan asset berharga yang berpotensi membantu perkembangan persusuan Indonesia dengan cara memberi masukan berlandaskan teori-teori ilmiah yang aplikatif.
VISI DAN MISI
Pihak-pihak yang terkait dan berkompeten terhadap perkembangan dunia persusuan Indonesia harus segera berkumpul, menyatukan misi dan visi, mengesampingkan kepentingan masing-masing untuk melahirkan SATU KONSEP PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH RAKYAT.
Koleksi dan pemecahan permasalahan merupakan hal yang masih dilakukan secara parsial oleh masing-masing pihak. Permasalahan-permasalahan dilapangan melalui pemilahan objektif dan ilmiah akan melahirkan akar permasalahan yang dapat diselesaikan secara tuntas. Solusi-solusi jitu yang lahir melalui pemikiran banyak pihak dibarengi penyatuan persepsi, dikumpulkan sebagai bank data pemecahan masalah, sehingga saat timbul permasalahan sejenis dapat diambil tindakan yang cepat dan tepat.
Sistem baku yang luwes dalam mencari jati diri hakiki peternakan sapi perah Indonesia akan dapat dihasilkan dan akan terus bergulir semakin besar dalam menghasilkan Persusuan Indonesia yang mandiri dan berhasil. Evaluasi program akan menghasilkan masukan dan referensi penyempurnaan konsep yang mengkerucut pada satu keluaran pola baku persusuan Indonesia.
Sambil menerawang kelangit pagi seakan melihat lukisan digumpalan awan putih yang bergerak ditimpa matahari pagi dan merapatkan tubuhnya ke sang jantan, betina berkata, “alangkah indahnya ya pak, kalau peternakan sapi perah kita bisa berkembang dan memberi sumbangsih nyata bagi bangsa yang besar ini”. “Memang seharusnya begitu Bu, Emas Putih rakyat harusnya berkilau indah ...” sambut Sang Jantan memeluk belahan hatinya. Sepasang sejoli ini saling memandang dan bertatap mesra sambil menengok telur-telur mereka yang akan menetaskan generasi baru untuk melihat perubahan nyata persusuan Indonesia.
Label:
air susu,
akademisi,
emas putih,
sapi perah,
strategis,
visi misi
16 Agustus, 2010
Acetonaemia (Ketosis) Pada Ternak Laktasi
Nicky Stone, Ballarat
Updated: July 2007 AG0210 ISSN 1329-8062 © State of Victoria, Department of Primary Industries
A very distinct problem for dairy cows is the disease of ketosis (or acetonaemia). The occurrence of this disease in dairy cows is related to an increased demand for glucose by the animal. Ketosis also occurs in other animals and the problem is known by various names, eg, regnancy toxaemia in ewes.
Kejadian ketosis terjadi pada ternak sapi laktasi atau sapi dengan kondisi nutrisi buruk. Tanda-tanda penyakit dapat dilihat sebelum melahirkan anak sapi, tetapi paling sering terjadi di bulan pertama setelah melahirkan anak sapi dan kadang-kadang di bulan kedua. Dalam ternak berkelompok, ketosis terjadi secara sporadis hanya pada ternak yang terjangkit, atau endemik dengan banyak sapi yang terjangkit.
Penyebab Ketosis
Penyakit ini merupakan perpanjangan dari proses metabolisme normal yang terjadi pada ternak sapi laktasi. Ketosis adalah masalah kekurangan glukosa (atau gula) dalam darah dan jaringan tubuh. Glukosa dihasilkan oleh sapi dari karbohidrat yang merupakan komponen utama padang gembala dan tambahan lain yang terdapat pada pakan. Pada masa bunting tua, glukosa digunakan untuk fungsi ideal tubuh dan perkembangan pedet. Saat masa laktasi, glukosa berperan dalam pembentukan lactose (gula susu) dan lemak susu. Penggunaan glukosa yang tinggi akan menyebabkan kondisi gula dalam darah akan menurun. Lima puluh gram glukosa diperlukan untuk pembentukan setiap liter susu dengan 4,8% laktosa dan 30 gram untuk setiap liter susu dengan 4% kandungan lemak. Ternak sapi (ruminants dan lainnya) tidak dapat diberi pakan glukosa, dalam bentuk karbohidrat yang akan diurai dalam rumen menjadi glukosa. Jika jumlah karbohidrat dalam pakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam susu sapi, maka akan hati akan membentuk glukosa dari bahan lain - lemak cadangan. Sayangnya peningkatan produksi oleh hati akan menimbulkan hasil lain yang disebut dengan badan Ketone. Kemudian bersama dengan kurangnya level gula darah, menyebabkan tanda-tanda penyakit.
Ketosis utama, seperti yang dijelaskan, terjadi ketika produksi tinggi
sapi tidak hanya dapat makan karbohidrat cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, atau di mana pakan yang dberikan memiliki kandungan karbohidrat yang kurang. Ketosis sekunder dapat juga terjadi jika penyebab penyakit yang membuncah di pencernaan atau
metabolisme dari karbohidrat oleh sapi. Hal ini dapat terjadi meskipun jumlah karbohidrat dimakan terlihat cukup untuk fungsi tubuh normal. Penyakit utama yang terjadi selain ketosis adalah kelainan dari keempat perut, radang selaput, radang kelenjar dada, metritis, milk fever dan kurangnya nafsu makan sapi dalam waktu yang cukup panjang.
Tanda-tanda
1.kurang nafsu makan
2.produksi susu turun
3.sering menggoyangkan kaki/kepala
4.nafas ternak berbau
5.pemulihan akan sangat lama dan bila kembali sehat, tidak akan seperti sedia kala
Akibat yang ditimbulkan
1.kebutaan
2.tulang keropos
3.gerakan aneh pada lidah
4.perubahan pada kulit
5.melakukan hentakan-hentakan untuk sesuatu yang tidak jelas
Diagnosa penyakit
•tanda terserang ketosis baru dapat diketahui pada saat ternak akan mendekati puncak produksi
•tetapi pengamatan pada gangguan sekunder dapat digunakan, seperti : radang kelenjar dada
Perawatan
•tujuan awal perawatan adalah pengembalian kekurangan glukosa dalam tubuh.
•Pemberian suplemen glukosa melalui intra vena
•Pemberian Propylene glycol atau gliserin per oral selama dua empat hari.
•therapy hormonal dengan corticosteroids yang diimbangi dengan pemberian pakan berkarbohidrat tinggi
•pencegahan ketosis adalah hal yang sangat penting, melalui perbaikan pakan dan manajemen yang memadai
•pemberian makanan tambahan dengan kandungan karbohidrat tinggi sangat penting dengan pemberian bahan pakan berkualitas tinggi, seperti : silage, biji-bijian atau gandum.
•Kondisi tubuh sapi adalah saat melahirkan pedet harus mendapat asupan nutrisi yang baik. Begitu pula setelah melahirkan, sapi yang memiliki potensi untuk mencapai produksi maksimum, harus mendapat asupan pakan dengan kandungan energy yang tinggi. Melalui pemberian suplemen energi yang diperlukan
•Pemberian pakan kualitas baik setidaknya terus menerus diberikan sampai
puncak laktasi tercapai. Program pencegahan yang terbaik adlah pemberian Propylene glycol per oral segera setelah melahirkan anak sapi
Penulis asli ini adalah Dr George Miller, dan versi sebelumnya dimuat di September 1998.
Label:
ketosis,
manajemen,
pakan,
peternakan,
sapi,
sapi perah,
sapi potong
01 Juni, 2010
PERSUSUAN INDONESIA
Persusuan Indonesia
Persusuan nasional seharusnya sudah memasuki usia dewasa, baik dari segi produksi maupun teknologi. Peternak rakyat saat ini harus dipaksa pasrah dengan penerimaan harga jual susu dalam negeri yang semakin murah, sementara biaya pokok produksi usaha ternak semakin meningkat, biaya pakan ternak semakin melambung diiringi biaya obat-obatan untuk mendukung kesehatan dan metabolisme ternak serta ditambah serbuan susu impor yang jauh lebih murah dengan memajukan sebuah fenomena bernama Pasar Bebas.
Peremajaan ternak sudah sangat berat dilakukan, harga beli ternak sapi perah dibandingkan akhir tahun 2007 meningkat lebih dari 100% diawal tahun 2008, lalu bertahan sepanjang tahun untuk kemudian menuju masa suram ditahun 2009 ini. Di Boyolali – Jawa Tengah saat ini untuk mendapatkan Sapi Dara kualitas baik, cukup dengan merogoh dana Rp. 7.250.000, terpaut lumayan dibandingkan harga tahun lalu yang mencapai Rp. 9.000.000. Harga ini dipicu semakin melemahnya nilai tawar peternak terhadap pengumpul susu atau KUD. Harga air susu kualitas baik yang pada tahun 2008 sempat menyentuh angka Rp. 3.100/liter dibeli oleh pengumpul susu atau KUD dari peternak, saat ini menukik menuju angka Rp. 2.800/liter dan ada kemungkinan harga akan turun kembali mendekati angka Rp. 2.500/liter. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut sampai akhir bulan Juli 2009 karena PEMILU dan masuknya tahun ajaran baru, kecuali bila ada stimulus yang nyata dari Pemerintah yang bekerjasama dengan swasta/lembaga koperasi.
Kondisi ini akhirnya membuat peternak masuk kedalam kotak dan kubu masing-masing dan mencoba untuk dapat ‘survive’ ditengah ancaman era pasar bebas. Kondisi kebebasan pasar juga menggurita di dalam negeri. Industry Pengolahan Susu dengan pongahnya mulai merambah ke akar rumput, unit-unit penampungan air susu (cooling unit) disebar diseantero wilayah untuk menjaring air susu dari peternak rakyat tanpa ada koordinasi dengan pihak lembaga yang memayungi peternak rakyat. Akhirnya, peternak dengan sukacita karena iming-iming harga lebih tinggi berduyun-duyun masuk kedalam genggaman sebuah usaha yang menyalahi etika perdangan/bisnis persusuan. Tentunya kondisi mental oknum-oknum yang terlibat didalamnya cukup besar sehingga kondisi persusuan Indonesia menjadi semakin parah. Saat harga susu impor memiliki harga lebih rendah, maka IPS perlahan-lahan mulai mengurangi pemasukan air susu dari peternak lokal, dengan dalih kualitas dan kuota air susu. Akibatnya, peternak lokal kembali mengalami masa sulit dengan mendung yang semakin pekat memayungi, gairah beternak sapi perah yang sempat timbul pada dua warsa lalu kembali menurun drastis.
Bermuara pada upaya peningkatkan konsumsi protein perkapita dan pendapatan peternak rakyat, saatnya dilakukan upaya nyata, terarah dan terprogram oleh semua pihak untuk meningkatkan produktivitas ternak serta evaluasi menyeluruh sehingga monitoring produktivitas dapat terukur, kuantitatif maupun kualitatif.
SUMBER DAYA MANUSIA
Sumber daya manusia (peternak, Pemerintah, akademisi, perusahaan peternakan dan Koperasi Susu) berperan dalam pelaksanaan manajemen usaha ternak yang menentukan keberhasilan usaha.
1. Peningkatan kualitas peternak sebagai ujung tombak usaha melalui pelatihan, transfer teknologi dan informasi. Pembiayaan kegiatan ini dapat diambil dari Pos Dana APBN/APBD, Pemerintah Daerah, Koperasi, Industri Pengolah Susu atau peternak itu sendiri. Pembiayaan tersebut menjadi sangat murah bila muatan-muatan yang diterima dapat diserap, dicerna dan diterapkan oleh peternak, dibarengi pendampingan dan arahan secara simultan yang berimbas pada peningkatan produktivitas ternak.
2. Pengurus Koperasi Susu seyogyanya memiliki kemampuan dan keterampilan mumpuni untuk disampaikan kepada anggota melalui pendidikan dan latihan langsung dilapangan sehingga budidaya ternak dapat efektif dan efisien. Pelatihan dan pendidikan bagi Staf Teknis Koperasi mutlak dilakukan selain studi komparasi dan transfer informasi.
3. Direktorat Jenderal Peternakan/Dinas Peternakan berperan lewat penyuluhan, pembinaan dan pendampingan kepada peternak. Petugas Penyuluh Lapangan diberi pendidikan dan latihan teknis peternakan maupun informasi kebijakan pemerintah. Pihak pemerintah juga harus bertanggungjawab atas perjalanan tata niaga air susu yang stabil dan ideal sehingga keberpihakan harga air susu segar kepada peternak menjadi lebih besar dan peternak dapat mengembangkan dan meningkatkan kualitas usaha ternak.
4. Perguruan Tinggi dan Sekolah Menegah Kejuruan yang berhubungan dengan dunia peternakan, akan terus mencetak Sarjana, Ahli Madya atau tenaga terlatih untuk mengaplikasikan dan mengembangkan teori yang mereka terima di bangku pendidikan. Kurikulum yang sempurna, pola pengajaran yang baik dan informasi terbaru dunia peternakan tidak diragukan lagi akan menghasilkan tenaga-tenaga intelektual terdidik dan terlatih dalam mengembangkan persusuan Indonesia, baik sebagai wirausahawan atau tenaga karir.
MANAJERIAL, TEKNIS OPERASIONAL dan KEBIJAKAN PEMERINTAH
Bukan rahasia lagi bila perkembangan yang lamban peternakan rakyat salah satunya berasal dari aspek manajerial, teknis operasional dan kebijakan pemerintah. Kegiatan budidaya yang baik dibarengi kebijakan Pemerintah yang kondusif tentunya akan memberi angin segar perkembangan peternakan sapi perah rakyat. Kebijakan pemerintah tidak boleh tumpang tindih untuk menghindari terjadinya perbedaan persepsi yang mengganggu perkembangan persusuan Indonesia.
Dinas Peternakan dan Balai-balai Penelitian (Balai Penelitian Ternak, Balai Veteriner, BPT-HMT) bertugas melakukan pembinaan, pengarahan serta transfer manajemen dan teknologi kepada peternak. Tengoklah kasus Brucellosis dan Anthrax yang mewabah di peternakan sapi perah beberapa warsa silam. Seandainya sebelum wabah terjadi dilakukan tindakan pencegahan yang cepat dan tepat, bukan tidak mungkin ratusan peternak akan terselamatkan ‘asap dapurnya’. Ribuan hasil penelitian para ahli dalam dan luar negeri tentang teknis budidaya sapi perah, harus dapat disosialisasi dan diaplikasi oleh peternak. Sangat sayang bila pengorbanan waktu, tenaga dan tentunya biaya penelitian dan penyusunan program itu hanya menjadi tumpukan kertas belaka, tidak teraplikasi dan tersosialisasi kepada peternak rakyat. Pendampingan secara sinergis akan mempercepat bertumbuhnya jiwa profesionalisme peternak.
Profesionalisme peternak akan memberi dampak nyata bagi kesinambungan segitiga produksi (Bibit–Pakan-Manajemen). Peternak akan mendapatkan bibit ternak berproduktivitas tinggi, mampu memberi pakan berkualitas dan memiliki manajemen usaha yang baik. Pihak Akademisi bidang Peternakan yang terus menetaskan para konseptor dan pelaksana teknis di lapangan merupakan asset berharga yang berpotensi membantu perkembangan persusuan Indonesia dengan cara memberi masukan berlandaskan teori-teori ilmiah yang aplikatif.
VISI DAN MISI
Pihak-pihak yang terkait dan berkompeten terhadap perkembangan dunia persusuan Indonesia harus segera berkumpul, menyatukan misi dan visi, mengesampingkan kepentingan masing-masing untuk melahirkan SATU KONSEP PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH INDONESIA.
Koleksi dan pemecahan permasalahan merupakan hal yang masih dilakukan secara parsial oleh masing-masing pihak. Permasalahan-permasalahan dilapangan melalui pemilahan objektif dan ilmiah akan melahirkan akar permasalahan yang dapat diselesaikan secara tuntas. Solusi-solusi jitu yang lahir melalui pemikiran banyak pihak dibarengi penyatuan persepsi, dikumpulkan sebagai bank data pemecahan masalah, sehingga saat timbul permasalahan sejenis dapat diambil tindakan yang cepat dan tepat.
Sistem baku yang luwes dalam mencari jati diri hakiki peternakan sapi perah Indonesia akan dapat dihasilkan dan akan terus bergulir semakin besar dalam menghasilkan Persusuan Indonesia yang mandiri dan berhasil. Evaluasi program akan menghasilkan masukan dan referensi penyempurnaan konsep yang mengkerucut pada satu keluaran pola baku persusuan Indonesia.
Badai pasti berlalu, kegelisahan dan kebuntuan usaha akan berganti dengan kecemerlangan dan kegembiraan
Persusuan nasional seharusnya sudah memasuki usia dewasa, baik dari segi produksi maupun teknologi. Peternak rakyat saat ini harus dipaksa pasrah dengan penerimaan harga jual susu dalam negeri yang semakin murah, sementara biaya pokok produksi usaha ternak semakin meningkat, biaya pakan ternak semakin melambung diiringi biaya obat-obatan untuk mendukung kesehatan dan metabolisme ternak serta ditambah serbuan susu impor yang jauh lebih murah dengan memajukan sebuah fenomena bernama Pasar Bebas.
Peremajaan ternak sudah sangat berat dilakukan, harga beli ternak sapi perah dibandingkan akhir tahun 2007 meningkat lebih dari 100% diawal tahun 2008, lalu bertahan sepanjang tahun untuk kemudian menuju masa suram ditahun 2009 ini. Di Boyolali – Jawa Tengah saat ini untuk mendapatkan Sapi Dara kualitas baik, cukup dengan merogoh dana Rp. 7.250.000, terpaut lumayan dibandingkan harga tahun lalu yang mencapai Rp. 9.000.000. Harga ini dipicu semakin melemahnya nilai tawar peternak terhadap pengumpul susu atau KUD. Harga air susu kualitas baik yang pada tahun 2008 sempat menyentuh angka Rp. 3.100/liter dibeli oleh pengumpul susu atau KUD dari peternak, saat ini menukik menuju angka Rp. 2.800/liter dan ada kemungkinan harga akan turun kembali mendekati angka Rp. 2.500/liter. Kondisi ini diperkirakan akan terus berlanjut sampai akhir bulan Juli 2009 karena PEMILU dan masuknya tahun ajaran baru, kecuali bila ada stimulus yang nyata dari Pemerintah yang bekerjasama dengan swasta/lembaga koperasi.
Kondisi ini akhirnya membuat peternak masuk kedalam kotak dan kubu masing-masing dan mencoba untuk dapat ‘survive’ ditengah ancaman era pasar bebas. Kondisi kebebasan pasar juga menggurita di dalam negeri. Industry Pengolahan Susu dengan pongahnya mulai merambah ke akar rumput, unit-unit penampungan air susu (cooling unit) disebar diseantero wilayah untuk menjaring air susu dari peternak rakyat tanpa ada koordinasi dengan pihak lembaga yang memayungi peternak rakyat. Akhirnya, peternak dengan sukacita karena iming-iming harga lebih tinggi berduyun-duyun masuk kedalam genggaman sebuah usaha yang menyalahi etika perdangan/bisnis persusuan. Tentunya kondisi mental oknum-oknum yang terlibat didalamnya cukup besar sehingga kondisi persusuan Indonesia menjadi semakin parah. Saat harga susu impor memiliki harga lebih rendah, maka IPS perlahan-lahan mulai mengurangi pemasukan air susu dari peternak lokal, dengan dalih kualitas dan kuota air susu. Akibatnya, peternak lokal kembali mengalami masa sulit dengan mendung yang semakin pekat memayungi, gairah beternak sapi perah yang sempat timbul pada dua warsa lalu kembali menurun drastis.
Bermuara pada upaya peningkatkan konsumsi protein perkapita dan pendapatan peternak rakyat, saatnya dilakukan upaya nyata, terarah dan terprogram oleh semua pihak untuk meningkatkan produktivitas ternak serta evaluasi menyeluruh sehingga monitoring produktivitas dapat terukur, kuantitatif maupun kualitatif.
SUMBER DAYA MANUSIA
Sumber daya manusia (peternak, Pemerintah, akademisi, perusahaan peternakan dan Koperasi Susu) berperan dalam pelaksanaan manajemen usaha ternak yang menentukan keberhasilan usaha.
1. Peningkatan kualitas peternak sebagai ujung tombak usaha melalui pelatihan, transfer teknologi dan informasi. Pembiayaan kegiatan ini dapat diambil dari Pos Dana APBN/APBD, Pemerintah Daerah, Koperasi, Industri Pengolah Susu atau peternak itu sendiri. Pembiayaan tersebut menjadi sangat murah bila muatan-muatan yang diterima dapat diserap, dicerna dan diterapkan oleh peternak, dibarengi pendampingan dan arahan secara simultan yang berimbas pada peningkatan produktivitas ternak.
2. Pengurus Koperasi Susu seyogyanya memiliki kemampuan dan keterampilan mumpuni untuk disampaikan kepada anggota melalui pendidikan dan latihan langsung dilapangan sehingga budidaya ternak dapat efektif dan efisien. Pelatihan dan pendidikan bagi Staf Teknis Koperasi mutlak dilakukan selain studi komparasi dan transfer informasi.
3. Direktorat Jenderal Peternakan/Dinas Peternakan berperan lewat penyuluhan, pembinaan dan pendampingan kepada peternak. Petugas Penyuluh Lapangan diberi pendidikan dan latihan teknis peternakan maupun informasi kebijakan pemerintah. Pihak pemerintah juga harus bertanggungjawab atas perjalanan tata niaga air susu yang stabil dan ideal sehingga keberpihakan harga air susu segar kepada peternak menjadi lebih besar dan peternak dapat mengembangkan dan meningkatkan kualitas usaha ternak.
4. Perguruan Tinggi dan Sekolah Menegah Kejuruan yang berhubungan dengan dunia peternakan, akan terus mencetak Sarjana, Ahli Madya atau tenaga terlatih untuk mengaplikasikan dan mengembangkan teori yang mereka terima di bangku pendidikan. Kurikulum yang sempurna, pola pengajaran yang baik dan informasi terbaru dunia peternakan tidak diragukan lagi akan menghasilkan tenaga-tenaga intelektual terdidik dan terlatih dalam mengembangkan persusuan Indonesia, baik sebagai wirausahawan atau tenaga karir.
MANAJERIAL, TEKNIS OPERASIONAL dan KEBIJAKAN PEMERINTAH
Bukan rahasia lagi bila perkembangan yang lamban peternakan rakyat salah satunya berasal dari aspek manajerial, teknis operasional dan kebijakan pemerintah. Kegiatan budidaya yang baik dibarengi kebijakan Pemerintah yang kondusif tentunya akan memberi angin segar perkembangan peternakan sapi perah rakyat. Kebijakan pemerintah tidak boleh tumpang tindih untuk menghindari terjadinya perbedaan persepsi yang mengganggu perkembangan persusuan Indonesia.
Dinas Peternakan dan Balai-balai Penelitian (Balai Penelitian Ternak, Balai Veteriner, BPT-HMT) bertugas melakukan pembinaan, pengarahan serta transfer manajemen dan teknologi kepada peternak. Tengoklah kasus Brucellosis dan Anthrax yang mewabah di peternakan sapi perah beberapa warsa silam. Seandainya sebelum wabah terjadi dilakukan tindakan pencegahan yang cepat dan tepat, bukan tidak mungkin ratusan peternak akan terselamatkan ‘asap dapurnya’. Ribuan hasil penelitian para ahli dalam dan luar negeri tentang teknis budidaya sapi perah, harus dapat disosialisasi dan diaplikasi oleh peternak. Sangat sayang bila pengorbanan waktu, tenaga dan tentunya biaya penelitian dan penyusunan program itu hanya menjadi tumpukan kertas belaka, tidak teraplikasi dan tersosialisasi kepada peternak rakyat. Pendampingan secara sinergis akan mempercepat bertumbuhnya jiwa profesionalisme peternak.
Profesionalisme peternak akan memberi dampak nyata bagi kesinambungan segitiga produksi (Bibit–Pakan-Manajemen). Peternak akan mendapatkan bibit ternak berproduktivitas tinggi, mampu memberi pakan berkualitas dan memiliki manajemen usaha yang baik. Pihak Akademisi bidang Peternakan yang terus menetaskan para konseptor dan pelaksana teknis di lapangan merupakan asset berharga yang berpotensi membantu perkembangan persusuan Indonesia dengan cara memberi masukan berlandaskan teori-teori ilmiah yang aplikatif.
VISI DAN MISI
Pihak-pihak yang terkait dan berkompeten terhadap perkembangan dunia persusuan Indonesia harus segera berkumpul, menyatukan misi dan visi, mengesampingkan kepentingan masing-masing untuk melahirkan SATU KONSEP PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH INDONESIA.
Koleksi dan pemecahan permasalahan merupakan hal yang masih dilakukan secara parsial oleh masing-masing pihak. Permasalahan-permasalahan dilapangan melalui pemilahan objektif dan ilmiah akan melahirkan akar permasalahan yang dapat diselesaikan secara tuntas. Solusi-solusi jitu yang lahir melalui pemikiran banyak pihak dibarengi penyatuan persepsi, dikumpulkan sebagai bank data pemecahan masalah, sehingga saat timbul permasalahan sejenis dapat diambil tindakan yang cepat dan tepat.
Sistem baku yang luwes dalam mencari jati diri hakiki peternakan sapi perah Indonesia akan dapat dihasilkan dan akan terus bergulir semakin besar dalam menghasilkan Persusuan Indonesia yang mandiri dan berhasil. Evaluasi program akan menghasilkan masukan dan referensi penyempurnaan konsep yang mengkerucut pada satu keluaran pola baku persusuan Indonesia.
Badai pasti berlalu, kegelisahan dan kebuntuan usaha akan berganti dengan kecemerlangan dan kegembiraan
1 Juni - Hari Susu Sedunia - Hari Susu Nasional
Putih memuncrat
Putih menetes
Putih mengalir
Putih menggelegak
Kitab suci menyatakannya sebagai salah satu makanan terunik dan terbaik, karena ada diantara kotoran dan darah
Literatur mencapnya sebagai sumber gizi terhebat
Petani menganggapnya sebagai Emas Putih
Dia keluar dari puting
Dia diproduksi di dalam ambing
Dia disarikan dari darah
Dia dibuat dari bahan makanan yang dicerna
Dia dinamakan air susu
Dia menjadi bahan pembuat keju
Dia menjadi bahan utama pembuat ice cream
Dia menjadi mayonnaise dipasta Italiano
Dia menjadi whipped cream di tart pernikahan dan ulang tahun
Dia adalah penyempurna makanan masyarakat Indonesia
Persusuan Indonesia,
Masih memerlukan keluhuran budi stake holder
Masih memerlukan cambuk semangat untuk maju
Masih memerlukan bimbingan untuk menjadi berkualitas
Masih bisa diandalkan
Masih bisa dikembangkan
Dan .... Masih bisa Bangkit dan Mencapai Kejayaan
Gasing-Landak, 01062010
Putih menetes
Putih mengalir
Putih menggelegak
Kitab suci menyatakannya sebagai salah satu makanan terunik dan terbaik, karena ada diantara kotoran dan darah
Literatur mencapnya sebagai sumber gizi terhebat
Petani menganggapnya sebagai Emas Putih
Dia keluar dari puting
Dia diproduksi di dalam ambing
Dia disarikan dari darah
Dia dibuat dari bahan makanan yang dicerna
Dia dinamakan air susu
Dia menjadi bahan pembuat keju
Dia menjadi bahan utama pembuat ice cream
Dia menjadi mayonnaise dipasta Italiano
Dia menjadi whipped cream di tart pernikahan dan ulang tahun
Dia adalah penyempurna makanan masyarakat Indonesia
Persusuan Indonesia,
Masih memerlukan keluhuran budi stake holder
Masih memerlukan cambuk semangat untuk maju
Masih memerlukan bimbingan untuk menjadi berkualitas
Masih bisa diandalkan
Masih bisa dikembangkan
Dan .... Masih bisa Bangkit dan Mencapai Kejayaan
Gasing-Landak, 01062010
Label:
bangkit,
hari susu nasional,
hari susu sedunia,
keju,
peternak,
sapi perah,
susu,
tataniaga
20 Maret, 2010
PATOGENESIS MASTITIS SUBKLINIS PADA SAPI PERAH YANG DISEBABKAN OLEH Staphylococcus aureus
PATOGENESIS MASTITIS SUBKLINIS PADA SAPI PERAH YANG DISEBABKAN OLEH Staphylococcus aureus
Oleh
Sayu Putu Yuni Paryati
B161020061
E-mail : yunisayu@yahoo.com
PENDAHULUAN
Mastitis atau peradangan pada jaringan internal ambing umum terjadi pada peternakan sapi perah di seluruh dunia (Duval 1997). Secara ekonomi, mastitis banyak menimbulkan kerugian karena adanya penurunan produksi susu yang mencapai 70% dari seluruh kerugian akibat mastitis. Kerugian lain timbul akibat adanya residu antibiotika pada susu, biaya pengobatan dan tenaga kerja, pengafkiran, meningkatnya biaya penggantian sapi perah, susu terbuang, dan kematian pada sapi serta adanya penurunan kualitas susu (Kirk et al. 1994; Hurley dan Morin 2000). Tingkat keparahan dan intensitas mastitis sangat dipengaruhi oleh organisme penyebabnya (Duval 1997).
Mastitis dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, di antaranya adalah bakteri. Salah satu bakteri penyebab mastitis subklinis yang sering terisolasi adalah Staphylococcus aureus. Dengan terapi antibiotika, S. aureus dapat dimusnahkan dari permukaan kulit ambing, namun akan tetap tumbuh pada jaringan ikat yang lebih dalam dan ini menyebabkan S. aureus cenderung menjadi resisten terhadap antibiotika (Hoblet dan Eastridge 1992 ; Arpin et al. 1996). Sifat resistensi ini juga ditentukan oleh gen resisten yang terbawa oleh plasmid (Woodford et al. 1998). Kegagalan pengobatan juga disebabkan karena kegagalan antibiotika mencapai jaringan yang terinfeksi atau bakteri penyebabnya (Godkin 1998). Bakteri umumnya bertahan pada jaringan dalam beberapa minggu atau bulan sebagai penyebab mastitis subklinis (Bramley 1991).
Penelitian mengenai patogenesis mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. agalactiae telah dilakukan menggunakan mencit sebagai hewan model (Estuningsih 2001). Demikian juga patogenesis mastitis nekrotik akut (Shibahara dan Nakamura 1998) serta mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus telah diteliti secara in vitro menggunakan biakan jaringan (Purnami 1999), namun belum banyak diketahui mengenai patogenesis penyakit yang disebabkan oleh S. aureus pada kasus mastitis subklinis secara in vivo. Berbagai kendala mungkin dihadapi untuk mempelajari patogenesis mastitis subklinis pada jaringan kelenjar ambing sapi, sehingga perlu dilakukan penelitian pada hewan lain yang mungkin dapat dijadikan model untuk sapi. Dalam penelitian ini akan digunakan mencit sebagai hewan model.
Hipotesis
1. Ada perubahan struktur dan sekresi susu pada jaringan ambing penderita mastitis subklinis akibat infeksi bakteri S. aureus.
2. Terjadi variasi kerusakan jaringan ambing penderita mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus sesuai dengan lamanya waktu infeksi.
3. Mencit dapat digunakan sebagai hewan model untuk menjelaskan patogenesis mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus pada sapi.
TINJAUAN ONTOLOGI MASTITIS PADA SAPI PERAH
Pengertian Mastitis
Mastitis didefinisikan sebagai peradangan pada jaringan internal kelenjar ambing. Penyakit ini umum terjadi pada peternakan sapi perah di seluruh dunia (Duval 1997). Peradangan dapat terjadi pada satu kelenjar atau lebih dan mudah dikenali apabila pada kelenjar susu menampakkan gejala peradangan yang jelas. Kelenjar ambing membengkak, edematus berisi cairan eksudat disertai tanda-tanda peradangan lainnya, seperti ; suhu meningkat, kemerahan, rasa sakit dan penurunan fungsi. Akan tetapi seringkali sulit untuk mengetahui kapan terjadinya suatu peradangan, sehingga diagnosis terhadap mastitis sering dilakukan melalui pengujian pada produksi susunya, misalnya dengan melakukan penghitungan jumlah sel somatik (JSS) dalam susu (Bramley 1991).
Berdasarkan respon radang yang terjadi, mastitis dapat dibedakan menjadi : mastitis perakut, akut, sub akut, subklinis dan kronis (Hurley dan Morin 2000 ; Nelson dan Nickerson 1991). Mastitis subklinis merupakan mastitis yang paling umum terjadi, yaitu kira-kira 15 – 40 kali lebih banyak dibandingkan dengan mastitis klinis (Hurley dan Morin 2000). Sebagian besar kejadian mastitis di Indonesia merupakan mastitis subklinis (Wibawan et al. 1995). Pada mastitis subklinis terjadi peningkatan jumlah sel radang, adanya mikroorganisme patogen dan terjadi perubahan kimia susu (Sudarwanto 1993). Diagnosis mastitis subklinis dapat dilakukan dengan melakukan penghitungan jumlah sel somatik (JSS) dalam susu (Bramley 1991), tapi jumlah sel somatik pada susu dapat meningkat seiring dengan bertambahnya umur sapi (Duirs and Macmillan 1979).
Penyebab Mastitis Subklinis Staphylococcus aureus
S. aureus tersebar luas di dunia dan banyak menyebabkan kelainan-kelainan pada kulit dan membran mukosa hewan maupun manusia. Bakteri ini bersifat gram positif, fakultatif anaerob, katalase positif, koagulase positif dan menghasilkan asam laktat. Pada biakan agar padat membentuk koloni kuning keemasan (Todar 1998). S. aureus tidak membentuk spora, tidak ada flagela, tumbuh baik pada suhu 37° C dan mati apabila dipanaskan pada suhu 80° C selama setengah jam.
Berbagai komponen S. aureus yang berperan dalam mekanisme infeksi adalah : (1) Polisakarida dan protein yang merupakan substansi penting di dalam dinding sel, seperti protein adhesin hemaglutinin (Wahyuni 1998) dan glikoprotein fibronectin (Nelson et al. 1991). Protein permukaan ini berperan dalam proses kolonisasi bakteri pada jaringan inang; (2). Invasin yang berperan dalam penyebaran bakteri di dalam jaringan, misalnya leukocidin, kinase, hyaluronidase; (3). Kapsul dan protein A yang dapat menghambat fagositosis oleh leukosit polimorfonuklear ; (4). Substansi biokimia, seperti : carotenoid dan produk katalase, dapat membuat bakteri bertahan hidup dalam fagosit ; (5). Protein A, coagulase dan clumping factor untuk menghindarkan diri dari respon imun inang. S. aureus dengan coagulase negatif terbukti kurang virulen dibandingkan dengan yang mempunyai faktor coagulase (Haraldsson dan Jonsson 1984) ; dan (6). Toksin yang dapat melisis membran sel dan jaringan inang (Todar 1998).
S. aureus mempunyai arti penting sebagai penyebab mastitis subklinis karena bakteri ini dapat menyebar ke mana-mana dan dapat membentuk koloni dengan baik pada kulit dan puting ambing. Keberadaannya pada kulit merupakan suatu keuntungan bagi bakteri ini untuk terhindar dari sel fagosit, sehingga bakteri menjadi persisten (Todar 1997). S. aureus dapat dimusnahkan dari permukaan kulit ambing dengan terapi antibiotika, namun bakteri akan tetap tumbuh pada jaringan ikat yang lebih dalam, menyebabkan S. aureus cenderung menjadi resisten terhadap antibiotika (Hoblet dan Eastridge 1992 ; Arpin et al. 1996). Sifat resistensi ini juga ditentukan oleh gen resisten yang terbawa oleh plasmid (Woodford et al. 1998). Kegagalan pengobatan juga disebabkan karena kegagalan antibiotika mencapai jaringan yang terinfeksi atau bakteri penyebabnya (Godkin 1998). Bakteri umumnya bertahan pada jaringan dalam beberapa minggu atau bulan sebagai penyebab mastitis subklinis (Bramley 1991).
Selain sebagai penyebab mastitis klinis maupun subklinis, S. aureus dikenal pula sebagai bakteri komensal, yang dapat diisolasi dari sebagian besar permukaan tubuh. Bakteri ini bersifat “strain-host specific”, artinya ada kaitan antara biotipe dengan spesies inang (Hajek dan Marsalek 1971). S. aureus merupakan flora normal pada manusia, terutama ditemukan pada saluran pernapasan bagian atas, kulit dan mukosa. Pada babi sehat, S. aureus banyak ditemukan pada cairan bronchoalveolar (Hensel et al. 1994).
Kemampuan S. aureus menginvasi dan hidup dalam sel-sel endotel diyakini dapat menyebabkan infeksi endovascular yang bersifat persisten dengan menimbulkan kerusakan pada sel-sel endotel. Kerusakan sel-sel endotel ini diduga sebagai bagian dari proses apoptosis yang disebabkan oleh infeksi S. aureus (Menzies dan Kourteva 1998).
Histopatologi Mastitis
Secara histopatologi, pada mastitis subklinis dapat ditemukan adanya peradangan dan degenerasi pada parenkim (epitel) saluran-saluran air susu. Selain itu juga ditemukan adanya reruntuhan sel-sel somatik yang meningkat (Ressang 1984; Duval 1997), deskuamasi dan regresi epitel. Sel-sel radang (leukosit-leukosit berinti polimorf) banyak ditemukan di dalam lumen saluran air susu (Ressang 1984).
Penelitian pada mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. agalactiae menunjukkan bahwa patogenesis penyakit dimulai dengan menempelnya bakteri pada permukaan sel epitel, kemudian masuk ke dalam sel epitel alveol kelenjar susu menyebabkan degenerasi dan nekrosa. Nekrosa berlanjut dan menyebabkan atrofi alveol kelenjar susu disertai respon peradangan yang menyebabkan terjadi involusi kelenjar susu. Selanjutnya terjadi proses persembuhan berupa pembentukan jaringan ikat. Pada hari keempat setelah diinfeksi, sebagian jaringan ikat digantikan oleh jaringan lemak dan bakteri terperangkap di dalam kelenjar ambing (Estuningsih 2001).
TINJAUAN EPISTEMOLOGI MASTITIS SUBKLINIS
Tinjauan epistemologi mastitis subklinis pada sapi perah akan menjelaskan mengenai mekanisme kejadian penyakit serta patogenesis bakteri S. aureus sebagai penyebab mastitis subklinis yang umum dijumpai pada sapi perah. Patogenesis penyakit dijelaskan berdasarkan gambaran histopatologi dari kelenjar ambing mencit sebagai hewan model dalam penelitian ini.
Histologi Kelenjar Ambing
Struktur kelenjar ambing tersusun dari jaringan parenkim dan stroma (connective tissue). Parenkim merupakan jaringan sekretori berbentuk kelenjar tubulo-alveolar yang mensekresikan susu ke dalam lumen alveol. Lumen alveol dibatasi oleh selapis sel epitel kuboid. Lapisan sel epitel ini dikelilingi oleh sel-sel myoepitel yang bersifat kontraktil sebagai responnya terhadap hormon oxytocin dan selanjutnya dikelilingi oleh stroma berupa jaringan ikat membrana basalis. Pembuluh darah dan kapiler terdapat pada jaringan ikat di antara alveol-alveol ini. Beberapa alveol bersatu membentuk suatu struktur lobulus dan beberapa lubulus bergabung dalam suatu lobus yang lebih besar. Penyaluran susu dari alveol sampai ke glandula sisterna melalui suatu sistem duktus yang disebut ductus lactiferus (Hurley 2000).
Sel yang melapisi alveol bervariasi penampilannya, tergantung aktivitas fungsionalnya. Pada keadaan kelenjar tidak laktasi, sel berbentuk kuboid. Bila aktif menghasilkan sekret (susu), selnya berbentuk silindris. Dan bila susu dicurahkan ke dalam lumen, meregang, sel-sel kembali berbentuk kuboid dengan ukuran yang jauh lebih besar dan sel-sel penuh berisi sekret (Singh 1991). Sel-sel sekretoris alveol kaya akan ribosom, kompleks golgi dan droplet lemak serta banyak memiliki vakuol sekretoris (Russo dan Russo 1996).
Pada mencit, masa laktasi berlangsung selama 3 – 4 minggu tergantung strain mencit dan sekresi susu maksimal terjadi antara 12-13 hari post partus. Setelah masa sapih, sel-sel epitel mulai berdegenerasi dan alveol mulai menurun aktifitasnya untuk memproduksi susu dan berubah bentuk menjadi kumpulan struktur massa sel tanpa lumen. Pada saat ini lobulus alveolar mulai diisi dengan jaringan lemak (fat pad).
Patogenesis Mastitis
Duval (1997) menjelaskan bahwa proses infeksi pada mastitis terjadi melalui beberapa tahap, yaitu adanya kontak dengan mikroorganisme dimana sejumlah mikroorganisme mengalami multiplikasi di sekitar lubang puting (sphincter), kemudian dilanjutkan dengan masuknya mikroorganisme akibat lubang puting yang terbuka ataupun karena adanya luka (Gambar 1). Tahap berikutnya, terjadi respon imun pada induk semang. Respon pertahanan pertama ditandai dengan berkumpulnya leukosit-leukosit untuk mengeliminasi mikroorganisme yang telah menempel pada sel-sel ambing. Apabila respon ini gagal, maka mikroorganisme akan mengalami multiplikasi dan sapi dapat memperlihatkan respon yang lain, misalnya demam.
Penelitian pada mencit yang diinfeksi dengan S. aureus, memperlihatkan bahwa tahap kritis patogenesis mastitis terjadi ketika terjadi interaksi antara neutrofil dan S. aureus pada 12 sampai 18 jam setelah diinokulasi S. aureus melalui kelenjar ambing. Fagositosis bakteri oleh neutrofil mulai terlihat pada 6 jam setelah infeksi. Setelah 12 jam pasca infeksi, neutrofil mengalami perubahan-perubahan yang bersifat degeneratif, mengakibatkan S. aureus dapat mencapai lumen alveol dan terjadi peningkatan jumlah bakteri ekstraseluler pada 18 jam setelah infeksi (Anderson dan Chandler 1975).
Hurley dan Morin (2000), menjelaskan bahwa peradangan pada ambing diawali dengan masuknya bakteri ke dalam ambing yang dilanjutkan dengan multiplikasi. Sebagai respon pertama, pembuluh darah ambing mengalami vasodilatasi dan terjadi peningkatan aliran darah pada ambing. Permeabilitas pembuluh darah meningkat disertai dengan pembentukan produk-produk inflamasi, seperti prostaglandin, leukotrine, protease dan metabolit oksigen toksik yang dapat meningkatkan permeabilitas kapiler ambing. Adanya filtrasi cairan ke jaringan menyebabkan kebengkakan pada ambing. Pada saat ini terjadi diapedesis, sel-sel fagosit (PMN dan makrofag) keluar dari pembuluh darah menuju jaringan yang terinfeksi dilanjutkan dengan fagositosis dan penghancuran bakteri. Tahap berikutnya, terjadi proses persembuhan jaringan.
Paryati (2002) menyatakan bahwa infeksi bakteri S. aureus dengan dosis infeksi pada mencit tidak menyebabkan adanya perubahan jaringan ambing secara klinis. Ambing dari semua kelompok mencit yang diinfeksi dengan S. aureus tidak menampakkan adanya tanda-tanda peradangan dan terlihat sama dengan kelompok kontrol. Puting tampak normal, tidak menampakkan adanya pembengkakan, eksudasi maupun keropeng. Keadaan ini tampak pada seluruh kelompok perlakuan. Puting pada semua mencit berwarna putih, tersembunyi di antara rambut abdomen. Mencit juga tidak memperlihatkan tanda-tanda gelisah, tidak menggaruk-garuk dan tidak menunjukkan tingkah laku yang berbeda dibandingkan dengan mencit kontrol. Aktivitas makan dan minum berjalan normal, menunjukkan bahwa infeksi S. aureus tidak menimbulkan perubahan secara klinis.
Ketika kulit bagian ventral mencit dibuka, tampak ada perubahan pada bagian subkutis. Subkutis tampak lebih basah pada mencit yang diinfeksi S. aureus. Hal ini terlihat pada kelompok mencit 12, 16, 20, 24 dan 36 jam pasca infeksi. Diperkirakan karena terjadinya edema radang ringan. Sedangkan pada kelompok mencit 2 jam sampai dengan 8 jam pasca infeksi tidak tampak adanya perubahan ini. Hiperemi pada pembuluh darah yang menuju ke kelenjar ambing tampak pada kelompok mencit 2 jam sampai dengan 36 jam pasca infeksi. Juga disertai adanya sedikit eksudat disekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelenjar ambing sedang terjadi peradangan. Dan pada kelompok mencit 48 jam pasca infeksi, keadaan subkutis sedikit kering sehingga kulit agak susah dipisahkan dari kelenjar ambing.
Pengamatan histopatologi menggunakan pewarnaan HE pada kelompok 2 jam pasca infeksi (p.i.) memperlihatkan edema jaringan interstitium dan pembendungan pembuluh darah inter-alveoler. Sel-sel epitel alveol mulai mengalami hiperplasia. Struktur kelenjar ambing dan sekresi susu tidak berbeda nyata (P>0,05) bila dibandingkan dengan kelenjar ambing mencit kontrol. Susunan kelenjar masih dalam batas normal.
Empat jam pasca infeksi, masih terlihat adanya edema jaringan interstitium dan pembendungan pembuluh darah. Pada saat ini, dilatasi pembuluh darah disertai dengan diapedesis mulai tampak sebagai respon inang terhadap infeksi. Juga tampak adanya infiltrasi sel-sel radang polimorfonuklear (PMN) pada jaringan interstitium. Arsitektur kelenjar dan sekresi susu masih dalam batas normal (P>0,05). Tampak adanya stagnasi sekresi susu pada lumen ductus lactiverus sebagai akibat dari adanya hambatan pengaliran susu.
Hasil uji statistik memperlihatkan struktur kelenjar ambing kelompok mencit 2 dan 4 jam pasca infeksi (p.i.) memperlihatkan struktur kelenjar yang berbeda nyata (P<0,05) bila dibandingkan dengan kelompok 72, 84 dan 96 jam p.i.; serta kelompok 6 jam p.i. berbeda nyata (P<0,05) dengan kelompok 72 dan 96 jam p.i. Penurunan jumlah alveol yang aktif terjadi pada kelompok mencit 60 sampai 96 jam p.i. (P<0.05) bila dibandingkan dengan kontrol menunjukkan adanya pengaruh infeksi oleh S. aureus akibat terjadinya atrofi kelenjar, menyebabkan penurunan sekresi susu. Isi lumen alveol dan keutuhan epitel menunjukkan kemampuan epitel alveol dalam mensekresikan susu. Namun demikian, keberadaan susu di dalam lumen alveol dapat pula dipandang sebagai keadaan retensi susu jika disertai dengan terjadinya degenerasi epitel alveol dan tubular. Hambatan pengaliran susu dapat terjadi jika terdapat kebengkakan atau hambatan akibat banyaknya reruntuhan sel pada sistem duktus penyalur. Stagnasi sekresi susu tampak pada tubulus ductus lactiverus pada 4 dan 6 jam p.i. (Paryati 2002).
Selanjutnya dijelaskan bahwa penurunan sekresi susu juga tampak nyata (P<0,05) pada kelompok mencit 60, 72 dan 96 jam p.i dibandingkan dengan kelompok 6 dan 20 jam p.i. Penurunan sekresi susu terjadi karena berkurangnya jumlah kelenjar yang aktif dan terjadi atrofi kelenjar alveol.
Hurley dan Morin (2000) lebih lanjut menjelaskan, bahwa terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan kelenjar ambing untuk bertahan dari infeksi, di antaranya adalah : jaringan yang menjadi kurang efektif pada umur tua; PMN yang terlalu muda pada kelenjar dan adanya PMN yang tidak memusnahkan bakteri tapi sebaliknya malah melindungi bakteri dari proses penghancuran berikutnya. Hal lain juga disebabkan karena adanya komponen lipid pada susu yang kemungkinan menghambat reseptor Fc pada leukosit, menyebabkan degranulasi yang berlebihan dan meningkatnya gejala peradangan. Lemak dan casein susu yang tertelan oleh PMN dapat menyebabkan kegagalan PMN dalam proses ingesti bakteri. Kemampuan PMN dalam fagositosis dan membunuh bakteri juga dapat menurun pada keadaan defisiensi vitamin E atau selenium.
Pemusnahan bakteri melalui sistem oxygen respiratory burst membutuhkan oksigen yang lebih banyak, namun kadar oksigen pada susu jauh lebih rendah daripada konsentrasi oksigen dalam darah. Demikian juga glukosa sebagai sumber energi pada susu sangat rendah konsentrasinya, padahal untuk fagositosis diperlukan energi yang lebih tinggi. Di samping itu, susu mengandung komponen opsonin (seperti : imunoglobulin dan komplemen) yang relatif sedikit dan dalam susu hampir tidak ada aktivitas lisosim (Hurley dan Morin 2000).
Pengujian hipotesis
Suriasumantri (1999) menjelaskan bahwa metode ilmiah adalah langkah-langkah dalam proses pengetahuan ilmiah dengan menggabungkan cara berpikir rasional dan empiris dengan penghubung berupa hipotesis. Hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik secara rasional dalam sebuah kerangka berpikir yang bersifat koheren dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya dan hipotesis tersebut berfungsi sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang ditelaah dalam kegiatan ilmiah. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis untuk mengetahui apakah kenyataan empiris sesuai dengan hipotesis yang telah dibuat.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa hipotesis yang telah dibuat dapat diterima, artinya bahwa pernyataan yang terkandung dalam hipotesis tersebut dianggap benar, yaitu :
1 Ada perubahan struktur dan sekresi susu pada jaringan ambing penderita mastitis subklinis akibat infeksi bakteri S. aureus.
2 Terjadi variasi kerusakan jaringan ambing penderita mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus sesuai dengan lamanya waktu infeksi.
3 Mencit dapat digunakan sebagai hewan model untuk menjelaskan patogenesis mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus pada sapi.
TINJAUAN AKSIOLOGI PATOGENESIS MASTITIS SUBKLINIS PADA SAPI PERAH
Selama ini, penanggulangan terhadap kasus mastitis hanya ditujukan untuk membasmi agen penyebabnya, misalnya dengan pemberian antibiotika dalam jangka waktu yang lama. Hal ini telah diketahui banyak menimbulkan efek samping, di antaranya akumulasi residu antibitika dalam produk hewan yang dapat merugikan masyarakat konsumen, disamping juga faktor biaya yang relatif mahal. Pengobatan biasanya hanya dilakukan pada hewan-hewan yang secara klinis menunjukkan gejala sakit.
Namun kenyataan yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa hewan yang secara klinis terlihat sehat bukan berarti bahwa dalam tubuhnya tidak terjadi perubahan yang secara ekonomi dapat merugikan. Sebagai contoh dalam penelitian ini, bahwa mastitis subklinis tidak memperlihatkan gejala pada inangnya, namun terjadi penurunan sekresi susu yang diakibatkan oleh adanya infeksi oleh S. aureus. Pada kasus mastitis, jalan infeksi bakteri S. aureus biasanya melewati puting ambing. Diduga infeksi diawali oleh keberhasilan bakteri menembus lapisan tanduk puting lalu dilanjutkan oleh proses adhesi dan kolonisasi (Jonsson dan Wadstrƶm 1993).
Dengan mengetahui patogenesis S. aureus sebagai penyebab mastitis subklinis, dapat dijelaskan bagaimana mekanisme bakteri dalam menimbulkan kerusakan pada jaringan inangnya. Dengan demikian dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai upaya pencegahan mastitis tanpa penggunaan antibiotika, misalnya pemanfaatan S. aureus sebagai kandidat vaksin yang dapat mencegah adhesi bakteri pada sel inang atau menggertak kekebalan spesifik dan non spesifik inang dalam upaya penanganan mastitis subklinis. Selanjutnya, penggunaan obat-obatan seperti antibiotika yang diketahui mempunyai berbagai macam efek samping pada ternak maupun pada masyarakat konsumen dapat dikurangi atau bahkan ditiadakan.
Penggunaan mencit sebagai model untuk penelitian penyakit pada sapi , khususnya penyakit yang menyerang ambing dapat dipertimbangkan mengingat bahwa mencit mempunyai struktur kelenjar yang sama dengan sapi. Hal ini berarti dapat menekan biaya penelitian karena harga mencit relatif murah dan mudah didapat.
PENUTUP
Gambaran histopatologi kelenjar ambing mencit yang secara klinis tidak menunjukkan adanya peradangan (mastitis) pada kenyataannya menunjukkan adanya perubahan struktur dari kelenjar berupa degenerasi, nekrosis dan atrofi. Perubahan ini berpengaruh terhadap sekresi susu, baik secara kuantitas maupun kualitas, ditunjukkan oleh adanya lumen kelenjar yang kosong dan berkurangnya kelenjar yang aktif.
Mencit memiliki struktur kelenjar yang sama dengan kelenjar ambing mencit, sehingga dapat disimpulkan bahwa mencit dapat digunakan sebagai hewan model untuk penelitian pada sapi perah. Namun demikian, perlu dilakukan penelitian pada jaringan kelenjar ambing sapi sebagai studi banding. Dan penggunaan metode lain dalam mempelajari infeksi S. aureus perlu dikembangkan, misalnya dengan menggunakan teknik imunositokimia, mikroskop elektron ataupun dengan pewarnaan khusus lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson JC, Chandler RL. 1975. Experimental Staphylococcal Mastitis in The Mouse : Histological, Ultrastructural and Bacteriological Changes Caused by A Virulent Strain of Staphylococcus aureus. J. Comp. Path. 85:499-510.
Arpin C, Lagrange I, Gachie JP, Bebear C, Quentin C. 1996. Epidemiologycal study of an outbreak of infection with Staphylococcus aureus resistant to lincosamides and streptogramin A in a French Hospital. J.Med.Microbiol. 44:303-310.
Bramley AJ. 1991. Mastitis : Physiology or Pathology? Flem.Vet.J. (62) : Suppl. 1, 3-11.
Duirs GF, Macmillan KL. 1979. Interrelationships between somatic cell counts, production, age and mastitis organisms in individual cows. Proceedings of the New Zealand Society of Animal Production. 39:175-179.
Duval J. 1997. Treating mastitis without antibiotics. Ecological Agriculture Projects. http://www.eap.mcgill.ca/Publications/EAP69.htm. [15-12-2000].
Estuningsih S. 2001. Patogenesis mastitis subklinis pada sapi perah : Pendekatan histopatologis mastitis subklinis akibat infeksi Streptococcus agalactiae hemaglutinin positif pada mencit. Disertasi Doktor Pascasarjana. IPB.
Godkin A. 1998. Staphylococcus aureus Mastitis : A contagious bacterial infection of the udder. Health Management, OMAFRA (519):846-965. agodkin@omafra.gov.on.ca. [22-10-1998].
Hajek V, Marsalek E. 1971. The Differentiation of Pathogenic Staphylococci and Sugestion for Their Taxonomic Classification. Zbl. Bacteriol. Parasit. (Abt I Orig.) 217a:176-182
Haraldsson I, Jonsson P. 1984. Histopathology and Pathogenesis of Mouse Mastitis Induced with Staphylooccus aureus Mutans. J. Comp. Path. 94:183196.
Hensel A, Ganter M, Kipper S, Krehon S, Wittenbrink MM, Petzoldt K. 1994. Prevalence of Aerobic Bacteria in Bronchoalveolar Lavage Fluids from Healthy Pigs. Am. J. Vet. Res. 55(12) : 1697-1702.
Hoblet KH, Eastridge ML. 1992. Control of Contagious Mastitis. Dairy Guide Leaflet. Ohio.
Hurley WL, Morin DE. 2000. Mastitis Lesson A.. Lactation Biology. ANSCI 308. http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308/. [13-12-2001].
Hurley WL. 2000. Mammary tissue organization. Lactation Biology. ANSCI 308. http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308/. [17-11-2001].
Jonsson P, Wadstrƶm T. 1993. Staphylococcus in : Pathogenesis of bacterial infections in animals. Second edition. Edited by Carlton LG. and Charles O.T. Iowa State University Press. Ames : 21 – 35.
Kirk JH, De Graves F, Tyler J. 1994. Recent progess in : Treatment and control of mastitis in cattle. JAVMA 204:1152-1158.
Menzies BE, Kourteva I. 1998. Internalization of Staphylococcus aureus by Endothelial Cells Induces Apoptosis. Infection and Immunity. 66(12):5994-5998.
Paryati SPY. 2002. Patogenesis Mastitis Subklinis yang Disebabkan oleh Staphylococcus aureus pada Mencit Berdasarkan Gambaran Histopatologi sebagai Hewan Model untuk Sapi Perah. Tesis. Program Magister. Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Purnami NL. 1999. Perbandingan kemampuan adhesi Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus yang memiliki antigen permukaan hemaglutinin pada permukaan biakan sel epitel ambing sapi. Skripsi. FKH-IPB Bogor.
Nelson W, Nickerson S. 1991. Mastitis counter attack. Babson Bros.
Ressang AA. 1984. Patologi Khusus Veteriner. NV. Percetakan Bali. pp. 153-163.
Russo IH, Russo J. 1996. Mammary Gland Neoplasia in Long-term Rodent Studies. Eviron Health Perpect. 104:938-967.
Shibahara T, Nakamura K. 1998. Pathology of acute necrotizing mastitis caused by Staphylococcus aureus in a dairy cow. http://ss.jircas.affrc.go.jp/engpage/jarq/33-2/Shibahara/shibahara.htm.
Singh I. 1991. Teks dan atlas histologi manusia. Alih bahasa : Jan Tambayong. Edisi I. Binarupa Aksara. Jakarta. 300-301.
Sudarwanto M. 1993. Mastitis subklinis dan cara diagnosa. Makalah dalam Kursus Kesehatan Ambing dan Program Pengendalian Mastitis. IKA-IPB (tidak dipublikasikan).
Todar K. 1997. Bacteriology 330 Lecture Topics : Colonization and Invasion. http://www.bact.wisc.edu/bact330/lecturecoli
Todar K. 1998. Bacteriology 330 Lecture Topics : Staphylococcus. http://www.bact.wisc.edu/bact330/lecturestaph. [2-4-2001].
Wahyuni AETH. 1998. Peran hemaglutinin Streptococcus agalactiae dalam proses adhesi pada sel epitel sapi perah. Thesis Magister Sains. Program Pascasarjana – IPB.
Wibawan IWT, Pasaribu FH, Huminto H, Estuningsih S. 1995. Ciri biovar Streptococcus agalactiae sebagai petunjuk infeksi silang antara sapi dan manusia. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi IV Tahap-1.
Woodford N, Watson AP, Patel S, Jevon M, Waghorn DJ, Cookson BD. 1998. Heterogeneous location of the mupA high-level mupirocin sesistance gene in Staphylococcus aureus. J.Med.Microbiol. 47:829-835.
Oleh
Sayu Putu Yuni Paryati
B161020061
E-mail : yunisayu@yahoo.com
PENDAHULUAN
Mastitis atau peradangan pada jaringan internal ambing umum terjadi pada peternakan sapi perah di seluruh dunia (Duval 1997). Secara ekonomi, mastitis banyak menimbulkan kerugian karena adanya penurunan produksi susu yang mencapai 70% dari seluruh kerugian akibat mastitis. Kerugian lain timbul akibat adanya residu antibiotika pada susu, biaya pengobatan dan tenaga kerja, pengafkiran, meningkatnya biaya penggantian sapi perah, susu terbuang, dan kematian pada sapi serta adanya penurunan kualitas susu (Kirk et al. 1994; Hurley dan Morin 2000). Tingkat keparahan dan intensitas mastitis sangat dipengaruhi oleh organisme penyebabnya (Duval 1997).
Mastitis dapat disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme, di antaranya adalah bakteri. Salah satu bakteri penyebab mastitis subklinis yang sering terisolasi adalah Staphylococcus aureus. Dengan terapi antibiotika, S. aureus dapat dimusnahkan dari permukaan kulit ambing, namun akan tetap tumbuh pada jaringan ikat yang lebih dalam dan ini menyebabkan S. aureus cenderung menjadi resisten terhadap antibiotika (Hoblet dan Eastridge 1992 ; Arpin et al. 1996). Sifat resistensi ini juga ditentukan oleh gen resisten yang terbawa oleh plasmid (Woodford et al. 1998). Kegagalan pengobatan juga disebabkan karena kegagalan antibiotika mencapai jaringan yang terinfeksi atau bakteri penyebabnya (Godkin 1998). Bakteri umumnya bertahan pada jaringan dalam beberapa minggu atau bulan sebagai penyebab mastitis subklinis (Bramley 1991).
Penelitian mengenai patogenesis mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. agalactiae telah dilakukan menggunakan mencit sebagai hewan model (Estuningsih 2001). Demikian juga patogenesis mastitis nekrotik akut (Shibahara dan Nakamura 1998) serta mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus telah diteliti secara in vitro menggunakan biakan jaringan (Purnami 1999), namun belum banyak diketahui mengenai patogenesis penyakit yang disebabkan oleh S. aureus pada kasus mastitis subklinis secara in vivo. Berbagai kendala mungkin dihadapi untuk mempelajari patogenesis mastitis subklinis pada jaringan kelenjar ambing sapi, sehingga perlu dilakukan penelitian pada hewan lain yang mungkin dapat dijadikan model untuk sapi. Dalam penelitian ini akan digunakan mencit sebagai hewan model.
Hipotesis
1. Ada perubahan struktur dan sekresi susu pada jaringan ambing penderita mastitis subklinis akibat infeksi bakteri S. aureus.
2. Terjadi variasi kerusakan jaringan ambing penderita mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus sesuai dengan lamanya waktu infeksi.
3. Mencit dapat digunakan sebagai hewan model untuk menjelaskan patogenesis mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus pada sapi.
TINJAUAN ONTOLOGI MASTITIS PADA SAPI PERAH
Pengertian Mastitis
Mastitis didefinisikan sebagai peradangan pada jaringan internal kelenjar ambing. Penyakit ini umum terjadi pada peternakan sapi perah di seluruh dunia (Duval 1997). Peradangan dapat terjadi pada satu kelenjar atau lebih dan mudah dikenali apabila pada kelenjar susu menampakkan gejala peradangan yang jelas. Kelenjar ambing membengkak, edematus berisi cairan eksudat disertai tanda-tanda peradangan lainnya, seperti ; suhu meningkat, kemerahan, rasa sakit dan penurunan fungsi. Akan tetapi seringkali sulit untuk mengetahui kapan terjadinya suatu peradangan, sehingga diagnosis terhadap mastitis sering dilakukan melalui pengujian pada produksi susunya, misalnya dengan melakukan penghitungan jumlah sel somatik (JSS) dalam susu (Bramley 1991).
Berdasarkan respon radang yang terjadi, mastitis dapat dibedakan menjadi : mastitis perakut, akut, sub akut, subklinis dan kronis (Hurley dan Morin 2000 ; Nelson dan Nickerson 1991). Mastitis subklinis merupakan mastitis yang paling umum terjadi, yaitu kira-kira 15 – 40 kali lebih banyak dibandingkan dengan mastitis klinis (Hurley dan Morin 2000). Sebagian besar kejadian mastitis di Indonesia merupakan mastitis subklinis (Wibawan et al. 1995). Pada mastitis subklinis terjadi peningkatan jumlah sel radang, adanya mikroorganisme patogen dan terjadi perubahan kimia susu (Sudarwanto 1993). Diagnosis mastitis subklinis dapat dilakukan dengan melakukan penghitungan jumlah sel somatik (JSS) dalam susu (Bramley 1991), tapi jumlah sel somatik pada susu dapat meningkat seiring dengan bertambahnya umur sapi (Duirs and Macmillan 1979).
Penyebab Mastitis Subklinis Staphylococcus aureus
S. aureus tersebar luas di dunia dan banyak menyebabkan kelainan-kelainan pada kulit dan membran mukosa hewan maupun manusia. Bakteri ini bersifat gram positif, fakultatif anaerob, katalase positif, koagulase positif dan menghasilkan asam laktat. Pada biakan agar padat membentuk koloni kuning keemasan (Todar 1998). S. aureus tidak membentuk spora, tidak ada flagela, tumbuh baik pada suhu 37° C dan mati apabila dipanaskan pada suhu 80° C selama setengah jam.
Berbagai komponen S. aureus yang berperan dalam mekanisme infeksi adalah : (1) Polisakarida dan protein yang merupakan substansi penting di dalam dinding sel, seperti protein adhesin hemaglutinin (Wahyuni 1998) dan glikoprotein fibronectin (Nelson et al. 1991). Protein permukaan ini berperan dalam proses kolonisasi bakteri pada jaringan inang; (2). Invasin yang berperan dalam penyebaran bakteri di dalam jaringan, misalnya leukocidin, kinase, hyaluronidase; (3). Kapsul dan protein A yang dapat menghambat fagositosis oleh leukosit polimorfonuklear ; (4). Substansi biokimia, seperti : carotenoid dan produk katalase, dapat membuat bakteri bertahan hidup dalam fagosit ; (5). Protein A, coagulase dan clumping factor untuk menghindarkan diri dari respon imun inang. S. aureus dengan coagulase negatif terbukti kurang virulen dibandingkan dengan yang mempunyai faktor coagulase (Haraldsson dan Jonsson 1984) ; dan (6). Toksin yang dapat melisis membran sel dan jaringan inang (Todar 1998).
S. aureus mempunyai arti penting sebagai penyebab mastitis subklinis karena bakteri ini dapat menyebar ke mana-mana dan dapat membentuk koloni dengan baik pada kulit dan puting ambing. Keberadaannya pada kulit merupakan suatu keuntungan bagi bakteri ini untuk terhindar dari sel fagosit, sehingga bakteri menjadi persisten (Todar 1997). S. aureus dapat dimusnahkan dari permukaan kulit ambing dengan terapi antibiotika, namun bakteri akan tetap tumbuh pada jaringan ikat yang lebih dalam, menyebabkan S. aureus cenderung menjadi resisten terhadap antibiotika (Hoblet dan Eastridge 1992 ; Arpin et al. 1996). Sifat resistensi ini juga ditentukan oleh gen resisten yang terbawa oleh plasmid (Woodford et al. 1998). Kegagalan pengobatan juga disebabkan karena kegagalan antibiotika mencapai jaringan yang terinfeksi atau bakteri penyebabnya (Godkin 1998). Bakteri umumnya bertahan pada jaringan dalam beberapa minggu atau bulan sebagai penyebab mastitis subklinis (Bramley 1991).
Selain sebagai penyebab mastitis klinis maupun subklinis, S. aureus dikenal pula sebagai bakteri komensal, yang dapat diisolasi dari sebagian besar permukaan tubuh. Bakteri ini bersifat “strain-host specific”, artinya ada kaitan antara biotipe dengan spesies inang (Hajek dan Marsalek 1971). S. aureus merupakan flora normal pada manusia, terutama ditemukan pada saluran pernapasan bagian atas, kulit dan mukosa. Pada babi sehat, S. aureus banyak ditemukan pada cairan bronchoalveolar (Hensel et al. 1994).
Kemampuan S. aureus menginvasi dan hidup dalam sel-sel endotel diyakini dapat menyebabkan infeksi endovascular yang bersifat persisten dengan menimbulkan kerusakan pada sel-sel endotel. Kerusakan sel-sel endotel ini diduga sebagai bagian dari proses apoptosis yang disebabkan oleh infeksi S. aureus (Menzies dan Kourteva 1998).
Histopatologi Mastitis
Secara histopatologi, pada mastitis subklinis dapat ditemukan adanya peradangan dan degenerasi pada parenkim (epitel) saluran-saluran air susu. Selain itu juga ditemukan adanya reruntuhan sel-sel somatik yang meningkat (Ressang 1984; Duval 1997), deskuamasi dan regresi epitel. Sel-sel radang (leukosit-leukosit berinti polimorf) banyak ditemukan di dalam lumen saluran air susu (Ressang 1984).
Penelitian pada mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. agalactiae menunjukkan bahwa patogenesis penyakit dimulai dengan menempelnya bakteri pada permukaan sel epitel, kemudian masuk ke dalam sel epitel alveol kelenjar susu menyebabkan degenerasi dan nekrosa. Nekrosa berlanjut dan menyebabkan atrofi alveol kelenjar susu disertai respon peradangan yang menyebabkan terjadi involusi kelenjar susu. Selanjutnya terjadi proses persembuhan berupa pembentukan jaringan ikat. Pada hari keempat setelah diinfeksi, sebagian jaringan ikat digantikan oleh jaringan lemak dan bakteri terperangkap di dalam kelenjar ambing (Estuningsih 2001).
TINJAUAN EPISTEMOLOGI MASTITIS SUBKLINIS
Tinjauan epistemologi mastitis subklinis pada sapi perah akan menjelaskan mengenai mekanisme kejadian penyakit serta patogenesis bakteri S. aureus sebagai penyebab mastitis subklinis yang umum dijumpai pada sapi perah. Patogenesis penyakit dijelaskan berdasarkan gambaran histopatologi dari kelenjar ambing mencit sebagai hewan model dalam penelitian ini.
Histologi Kelenjar Ambing
Struktur kelenjar ambing tersusun dari jaringan parenkim dan stroma (connective tissue). Parenkim merupakan jaringan sekretori berbentuk kelenjar tubulo-alveolar yang mensekresikan susu ke dalam lumen alveol. Lumen alveol dibatasi oleh selapis sel epitel kuboid. Lapisan sel epitel ini dikelilingi oleh sel-sel myoepitel yang bersifat kontraktil sebagai responnya terhadap hormon oxytocin dan selanjutnya dikelilingi oleh stroma berupa jaringan ikat membrana basalis. Pembuluh darah dan kapiler terdapat pada jaringan ikat di antara alveol-alveol ini. Beberapa alveol bersatu membentuk suatu struktur lobulus dan beberapa lubulus bergabung dalam suatu lobus yang lebih besar. Penyaluran susu dari alveol sampai ke glandula sisterna melalui suatu sistem duktus yang disebut ductus lactiferus (Hurley 2000).
Sel yang melapisi alveol bervariasi penampilannya, tergantung aktivitas fungsionalnya. Pada keadaan kelenjar tidak laktasi, sel berbentuk kuboid. Bila aktif menghasilkan sekret (susu), selnya berbentuk silindris. Dan bila susu dicurahkan ke dalam lumen, meregang, sel-sel kembali berbentuk kuboid dengan ukuran yang jauh lebih besar dan sel-sel penuh berisi sekret (Singh 1991). Sel-sel sekretoris alveol kaya akan ribosom, kompleks golgi dan droplet lemak serta banyak memiliki vakuol sekretoris (Russo dan Russo 1996).
Pada mencit, masa laktasi berlangsung selama 3 – 4 minggu tergantung strain mencit dan sekresi susu maksimal terjadi antara 12-13 hari post partus. Setelah masa sapih, sel-sel epitel mulai berdegenerasi dan alveol mulai menurun aktifitasnya untuk memproduksi susu dan berubah bentuk menjadi kumpulan struktur massa sel tanpa lumen. Pada saat ini lobulus alveolar mulai diisi dengan jaringan lemak (fat pad).
Patogenesis Mastitis
Duval (1997) menjelaskan bahwa proses infeksi pada mastitis terjadi melalui beberapa tahap, yaitu adanya kontak dengan mikroorganisme dimana sejumlah mikroorganisme mengalami multiplikasi di sekitar lubang puting (sphincter), kemudian dilanjutkan dengan masuknya mikroorganisme akibat lubang puting yang terbuka ataupun karena adanya luka (Gambar 1). Tahap berikutnya, terjadi respon imun pada induk semang. Respon pertahanan pertama ditandai dengan berkumpulnya leukosit-leukosit untuk mengeliminasi mikroorganisme yang telah menempel pada sel-sel ambing. Apabila respon ini gagal, maka mikroorganisme akan mengalami multiplikasi dan sapi dapat memperlihatkan respon yang lain, misalnya demam.
Penelitian pada mencit yang diinfeksi dengan S. aureus, memperlihatkan bahwa tahap kritis patogenesis mastitis terjadi ketika terjadi interaksi antara neutrofil dan S. aureus pada 12 sampai 18 jam setelah diinokulasi S. aureus melalui kelenjar ambing. Fagositosis bakteri oleh neutrofil mulai terlihat pada 6 jam setelah infeksi. Setelah 12 jam pasca infeksi, neutrofil mengalami perubahan-perubahan yang bersifat degeneratif, mengakibatkan S. aureus dapat mencapai lumen alveol dan terjadi peningkatan jumlah bakteri ekstraseluler pada 18 jam setelah infeksi (Anderson dan Chandler 1975).
Hurley dan Morin (2000), menjelaskan bahwa peradangan pada ambing diawali dengan masuknya bakteri ke dalam ambing yang dilanjutkan dengan multiplikasi. Sebagai respon pertama, pembuluh darah ambing mengalami vasodilatasi dan terjadi peningkatan aliran darah pada ambing. Permeabilitas pembuluh darah meningkat disertai dengan pembentukan produk-produk inflamasi, seperti prostaglandin, leukotrine, protease dan metabolit oksigen toksik yang dapat meningkatkan permeabilitas kapiler ambing. Adanya filtrasi cairan ke jaringan menyebabkan kebengkakan pada ambing. Pada saat ini terjadi diapedesis, sel-sel fagosit (PMN dan makrofag) keluar dari pembuluh darah menuju jaringan yang terinfeksi dilanjutkan dengan fagositosis dan penghancuran bakteri. Tahap berikutnya, terjadi proses persembuhan jaringan.
Paryati (2002) menyatakan bahwa infeksi bakteri S. aureus dengan dosis infeksi pada mencit tidak menyebabkan adanya perubahan jaringan ambing secara klinis. Ambing dari semua kelompok mencit yang diinfeksi dengan S. aureus tidak menampakkan adanya tanda-tanda peradangan dan terlihat sama dengan kelompok kontrol. Puting tampak normal, tidak menampakkan adanya pembengkakan, eksudasi maupun keropeng. Keadaan ini tampak pada seluruh kelompok perlakuan. Puting pada semua mencit berwarna putih, tersembunyi di antara rambut abdomen. Mencit juga tidak memperlihatkan tanda-tanda gelisah, tidak menggaruk-garuk dan tidak menunjukkan tingkah laku yang berbeda dibandingkan dengan mencit kontrol. Aktivitas makan dan minum berjalan normal, menunjukkan bahwa infeksi S. aureus tidak menimbulkan perubahan secara klinis.
Ketika kulit bagian ventral mencit dibuka, tampak ada perubahan pada bagian subkutis. Subkutis tampak lebih basah pada mencit yang diinfeksi S. aureus. Hal ini terlihat pada kelompok mencit 12, 16, 20, 24 dan 36 jam pasca infeksi. Diperkirakan karena terjadinya edema radang ringan. Sedangkan pada kelompok mencit 2 jam sampai dengan 8 jam pasca infeksi tidak tampak adanya perubahan ini. Hiperemi pada pembuluh darah yang menuju ke kelenjar ambing tampak pada kelompok mencit 2 jam sampai dengan 36 jam pasca infeksi. Juga disertai adanya sedikit eksudat disekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada kelenjar ambing sedang terjadi peradangan. Dan pada kelompok mencit 48 jam pasca infeksi, keadaan subkutis sedikit kering sehingga kulit agak susah dipisahkan dari kelenjar ambing.
Pengamatan histopatologi menggunakan pewarnaan HE pada kelompok 2 jam pasca infeksi (p.i.) memperlihatkan edema jaringan interstitium dan pembendungan pembuluh darah inter-alveoler. Sel-sel epitel alveol mulai mengalami hiperplasia. Struktur kelenjar ambing dan sekresi susu tidak berbeda nyata (P>0,05) bila dibandingkan dengan kelenjar ambing mencit kontrol. Susunan kelenjar masih dalam batas normal.
Empat jam pasca infeksi, masih terlihat adanya edema jaringan interstitium dan pembendungan pembuluh darah. Pada saat ini, dilatasi pembuluh darah disertai dengan diapedesis mulai tampak sebagai respon inang terhadap infeksi. Juga tampak adanya infiltrasi sel-sel radang polimorfonuklear (PMN) pada jaringan interstitium. Arsitektur kelenjar dan sekresi susu masih dalam batas normal (P>0,05). Tampak adanya stagnasi sekresi susu pada lumen ductus lactiverus sebagai akibat dari adanya hambatan pengaliran susu.
Hasil uji statistik memperlihatkan struktur kelenjar ambing kelompok mencit 2 dan 4 jam pasca infeksi (p.i.) memperlihatkan struktur kelenjar yang berbeda nyata (P<0,05) bila dibandingkan dengan kelompok 72, 84 dan 96 jam p.i.; serta kelompok 6 jam p.i. berbeda nyata (P<0,05) dengan kelompok 72 dan 96 jam p.i. Penurunan jumlah alveol yang aktif terjadi pada kelompok mencit 60 sampai 96 jam p.i. (P<0.05) bila dibandingkan dengan kontrol menunjukkan adanya pengaruh infeksi oleh S. aureus akibat terjadinya atrofi kelenjar, menyebabkan penurunan sekresi susu. Isi lumen alveol dan keutuhan epitel menunjukkan kemampuan epitel alveol dalam mensekresikan susu. Namun demikian, keberadaan susu di dalam lumen alveol dapat pula dipandang sebagai keadaan retensi susu jika disertai dengan terjadinya degenerasi epitel alveol dan tubular. Hambatan pengaliran susu dapat terjadi jika terdapat kebengkakan atau hambatan akibat banyaknya reruntuhan sel pada sistem duktus penyalur. Stagnasi sekresi susu tampak pada tubulus ductus lactiverus pada 4 dan 6 jam p.i. (Paryati 2002).
Selanjutnya dijelaskan bahwa penurunan sekresi susu juga tampak nyata (P<0,05) pada kelompok mencit 60, 72 dan 96 jam p.i dibandingkan dengan kelompok 6 dan 20 jam p.i. Penurunan sekresi susu terjadi karena berkurangnya jumlah kelenjar yang aktif dan terjadi atrofi kelenjar alveol.
Hurley dan Morin (2000) lebih lanjut menjelaskan, bahwa terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kemampuan kelenjar ambing untuk bertahan dari infeksi, di antaranya adalah : jaringan yang menjadi kurang efektif pada umur tua; PMN yang terlalu muda pada kelenjar dan adanya PMN yang tidak memusnahkan bakteri tapi sebaliknya malah melindungi bakteri dari proses penghancuran berikutnya. Hal lain juga disebabkan karena adanya komponen lipid pada susu yang kemungkinan menghambat reseptor Fc pada leukosit, menyebabkan degranulasi yang berlebihan dan meningkatnya gejala peradangan. Lemak dan casein susu yang tertelan oleh PMN dapat menyebabkan kegagalan PMN dalam proses ingesti bakteri. Kemampuan PMN dalam fagositosis dan membunuh bakteri juga dapat menurun pada keadaan defisiensi vitamin E atau selenium.
Pemusnahan bakteri melalui sistem oxygen respiratory burst membutuhkan oksigen yang lebih banyak, namun kadar oksigen pada susu jauh lebih rendah daripada konsentrasi oksigen dalam darah. Demikian juga glukosa sebagai sumber energi pada susu sangat rendah konsentrasinya, padahal untuk fagositosis diperlukan energi yang lebih tinggi. Di samping itu, susu mengandung komponen opsonin (seperti : imunoglobulin dan komplemen) yang relatif sedikit dan dalam susu hampir tidak ada aktivitas lisosim (Hurley dan Morin 2000).
Pengujian hipotesis
Suriasumantri (1999) menjelaskan bahwa metode ilmiah adalah langkah-langkah dalam proses pengetahuan ilmiah dengan menggabungkan cara berpikir rasional dan empiris dengan penghubung berupa hipotesis. Hipotesis merupakan kesimpulan yang ditarik secara rasional dalam sebuah kerangka berpikir yang bersifat koheren dengan pengetahuan ilmiah sebelumnya dan hipotesis tersebut berfungsi sebagai jawaban sementara terhadap permasalahan yang ditelaah dalam kegiatan ilmiah. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis untuk mengetahui apakah kenyataan empiris sesuai dengan hipotesis yang telah dibuat.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa hipotesis yang telah dibuat dapat diterima, artinya bahwa pernyataan yang terkandung dalam hipotesis tersebut dianggap benar, yaitu :
1 Ada perubahan struktur dan sekresi susu pada jaringan ambing penderita mastitis subklinis akibat infeksi bakteri S. aureus.
2 Terjadi variasi kerusakan jaringan ambing penderita mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus sesuai dengan lamanya waktu infeksi.
3 Mencit dapat digunakan sebagai hewan model untuk menjelaskan patogenesis mastitis subklinis yang disebabkan oleh S. aureus pada sapi.
TINJAUAN AKSIOLOGI PATOGENESIS MASTITIS SUBKLINIS PADA SAPI PERAH
Selama ini, penanggulangan terhadap kasus mastitis hanya ditujukan untuk membasmi agen penyebabnya, misalnya dengan pemberian antibiotika dalam jangka waktu yang lama. Hal ini telah diketahui banyak menimbulkan efek samping, di antaranya akumulasi residu antibitika dalam produk hewan yang dapat merugikan masyarakat konsumen, disamping juga faktor biaya yang relatif mahal. Pengobatan biasanya hanya dilakukan pada hewan-hewan yang secara klinis menunjukkan gejala sakit.
Namun kenyataan yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa hewan yang secara klinis terlihat sehat bukan berarti bahwa dalam tubuhnya tidak terjadi perubahan yang secara ekonomi dapat merugikan. Sebagai contoh dalam penelitian ini, bahwa mastitis subklinis tidak memperlihatkan gejala pada inangnya, namun terjadi penurunan sekresi susu yang diakibatkan oleh adanya infeksi oleh S. aureus. Pada kasus mastitis, jalan infeksi bakteri S. aureus biasanya melewati puting ambing. Diduga infeksi diawali oleh keberhasilan bakteri menembus lapisan tanduk puting lalu dilanjutkan oleh proses adhesi dan kolonisasi (Jonsson dan Wadstrƶm 1993).
Dengan mengetahui patogenesis S. aureus sebagai penyebab mastitis subklinis, dapat dijelaskan bagaimana mekanisme bakteri dalam menimbulkan kerusakan pada jaringan inangnya. Dengan demikian dapat dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai upaya pencegahan mastitis tanpa penggunaan antibiotika, misalnya pemanfaatan S. aureus sebagai kandidat vaksin yang dapat mencegah adhesi bakteri pada sel inang atau menggertak kekebalan spesifik dan non spesifik inang dalam upaya penanganan mastitis subklinis. Selanjutnya, penggunaan obat-obatan seperti antibiotika yang diketahui mempunyai berbagai macam efek samping pada ternak maupun pada masyarakat konsumen dapat dikurangi atau bahkan ditiadakan.
Penggunaan mencit sebagai model untuk penelitian penyakit pada sapi , khususnya penyakit yang menyerang ambing dapat dipertimbangkan mengingat bahwa mencit mempunyai struktur kelenjar yang sama dengan sapi. Hal ini berarti dapat menekan biaya penelitian karena harga mencit relatif murah dan mudah didapat.
PENUTUP
Gambaran histopatologi kelenjar ambing mencit yang secara klinis tidak menunjukkan adanya peradangan (mastitis) pada kenyataannya menunjukkan adanya perubahan struktur dari kelenjar berupa degenerasi, nekrosis dan atrofi. Perubahan ini berpengaruh terhadap sekresi susu, baik secara kuantitas maupun kualitas, ditunjukkan oleh adanya lumen kelenjar yang kosong dan berkurangnya kelenjar yang aktif.
Mencit memiliki struktur kelenjar yang sama dengan kelenjar ambing mencit, sehingga dapat disimpulkan bahwa mencit dapat digunakan sebagai hewan model untuk penelitian pada sapi perah. Namun demikian, perlu dilakukan penelitian pada jaringan kelenjar ambing sapi sebagai studi banding. Dan penggunaan metode lain dalam mempelajari infeksi S. aureus perlu dikembangkan, misalnya dengan menggunakan teknik imunositokimia, mikroskop elektron ataupun dengan pewarnaan khusus lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson JC, Chandler RL. 1975. Experimental Staphylococcal Mastitis in The Mouse : Histological, Ultrastructural and Bacteriological Changes Caused by A Virulent Strain of Staphylococcus aureus. J. Comp. Path. 85:499-510.
Arpin C, Lagrange I, Gachie JP, Bebear C, Quentin C. 1996. Epidemiologycal study of an outbreak of infection with Staphylococcus aureus resistant to lincosamides and streptogramin A in a French Hospital. J.Med.Microbiol. 44:303-310.
Bramley AJ. 1991. Mastitis : Physiology or Pathology? Flem.Vet.J. (62) : Suppl. 1, 3-11.
Duirs GF, Macmillan KL. 1979. Interrelationships between somatic cell counts, production, age and mastitis organisms in individual cows. Proceedings of the New Zealand Society of Animal Production. 39:175-179.
Duval J. 1997. Treating mastitis without antibiotics. Ecological Agriculture Projects. http://www.eap.mcgill.ca/Publications/EAP69.htm. [15-12-2000].
Estuningsih S. 2001. Patogenesis mastitis subklinis pada sapi perah : Pendekatan histopatologis mastitis subklinis akibat infeksi Streptococcus agalactiae hemaglutinin positif pada mencit. Disertasi Doktor Pascasarjana. IPB.
Godkin A. 1998. Staphylococcus aureus Mastitis : A contagious bacterial infection of the udder. Health Management, OMAFRA (519):846-965. agodkin@omafra.gov.on.ca. [22-10-1998].
Hajek V, Marsalek E. 1971. The Differentiation of Pathogenic Staphylococci and Sugestion for Their Taxonomic Classification. Zbl. Bacteriol. Parasit. (Abt I Orig.) 217a:176-182
Haraldsson I, Jonsson P. 1984. Histopathology and Pathogenesis of Mouse Mastitis Induced with Staphylooccus aureus Mutans. J. Comp. Path. 94:183196.
Hensel A, Ganter M, Kipper S, Krehon S, Wittenbrink MM, Petzoldt K. 1994. Prevalence of Aerobic Bacteria in Bronchoalveolar Lavage Fluids from Healthy Pigs. Am. J. Vet. Res. 55(12) : 1697-1702.
Hoblet KH, Eastridge ML. 1992. Control of Contagious Mastitis. Dairy Guide Leaflet. Ohio.
Hurley WL, Morin DE. 2000. Mastitis Lesson A.. Lactation Biology. ANSCI 308. http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308/. [13-12-2001].
Hurley WL. 2000. Mammary tissue organization. Lactation Biology. ANSCI 308. http://classes aces.uiuc.edu/Ansci 308/. [17-11-2001].
Jonsson P, Wadstrƶm T. 1993. Staphylococcus in : Pathogenesis of bacterial infections in animals. Second edition. Edited by Carlton LG. and Charles O.T. Iowa State University Press. Ames : 21 – 35.
Kirk JH, De Graves F, Tyler J. 1994. Recent progess in : Treatment and control of mastitis in cattle. JAVMA 204:1152-1158.
Menzies BE, Kourteva I. 1998. Internalization of Staphylococcus aureus by Endothelial Cells Induces Apoptosis. Infection and Immunity. 66(12):5994-5998.
Paryati SPY. 2002. Patogenesis Mastitis Subklinis yang Disebabkan oleh Staphylococcus aureus pada Mencit Berdasarkan Gambaran Histopatologi sebagai Hewan Model untuk Sapi Perah. Tesis. Program Magister. Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Purnami NL. 1999. Perbandingan kemampuan adhesi Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus yang memiliki antigen permukaan hemaglutinin pada permukaan biakan sel epitel ambing sapi. Skripsi. FKH-IPB Bogor.
Nelson W, Nickerson S. 1991. Mastitis counter attack. Babson Bros.
Ressang AA. 1984. Patologi Khusus Veteriner. NV. Percetakan Bali. pp. 153-163.
Russo IH, Russo J. 1996. Mammary Gland Neoplasia in Long-term Rodent Studies. Eviron Health Perpect. 104:938-967.
Shibahara T, Nakamura K. 1998. Pathology of acute necrotizing mastitis caused by Staphylococcus aureus in a dairy cow. http://ss.jircas.affrc.go.jp/engpage/jarq/33-2/Shibahara/shibahara.htm.
Singh I. 1991. Teks dan atlas histologi manusia. Alih bahasa : Jan Tambayong. Edisi I. Binarupa Aksara. Jakarta. 300-301.
Sudarwanto M. 1993. Mastitis subklinis dan cara diagnosa. Makalah dalam Kursus Kesehatan Ambing dan Program Pengendalian Mastitis. IKA-IPB (tidak dipublikasikan).
Todar K. 1997. Bacteriology 330 Lecture Topics : Colonization and Invasion. http://www.bact.wisc.edu/bact330/lecturecoli
Todar K. 1998. Bacteriology 330 Lecture Topics : Staphylococcus. http://www.bact.wisc.edu/bact330/lecturestaph. [2-4-2001].
Wahyuni AETH. 1998. Peran hemaglutinin Streptococcus agalactiae dalam proses adhesi pada sel epitel sapi perah. Thesis Magister Sains. Program Pascasarjana – IPB.
Wibawan IWT, Pasaribu FH, Huminto H, Estuningsih S. 1995. Ciri biovar Streptococcus agalactiae sebagai petunjuk infeksi silang antara sapi dan manusia. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi IV Tahap-1.
Woodford N, Watson AP, Patel S, Jevon M, Waghorn DJ, Cookson BD. 1998. Heterogeneous location of the mupA high-level mupirocin sesistance gene in Staphylococcus aureus. J.Med.Microbiol. 47:829-835.
SAPI PERAH
SAPI PERAH
1.1. Sejarah Singkat
Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.
Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni.
Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.
1.2. Sentra Peternakan
Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang. Produksi susu sapi di PSPB masih kurang dari 10 liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari (rata-ratanya hanya 5-8 liter/hari).
1.3. Jenis
Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia).
Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.
1.4. Manfaat
Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber protein, susu, kulit yang dimanfaatkan untuk industri dan pupuk kandang sebagai salah satu sumber organik lahan pertanian.
II. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
3.2. Pembibitan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah: (a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan (h) tiap tahun beranak.
Sementara calon induk yang baik antara lain: (a) berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi, (b) kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar, (c) jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar, (d) pertumbuhan ambing dan puting baik, (e) jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta (f) sehat dan tidak cacat.
Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) umur sekitar 4-5 tahun, (b) memiliki kesuburan tinggi, (c) daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya, (d) berasal dari induk dan pejantan yang baik, (e) besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik, (f) kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat, (g) muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, (h) paha rata dan cukup terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar, (j) badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta (k) sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
3.2.1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.
Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
3.2.2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan temperamennya.
3.2.3. Sistim Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.
3.3. Pemeliharaan
3.3.1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan.
Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.
3.3.2. Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar).
Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.
3.3.3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
• sistem penggembalaan (pasture fattening)
• kereman (dry lot fattening)
• kombinasi cara pertama dan kedua.
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB.
Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara.
Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.
3.3.4. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
3.4. Hama dan Penyakit
3.4.1. Penyakit
a. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
b. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE. Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
c. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
d. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
3.4.2. Pencegahan Serangan
Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering.
3.5. Panen
3.5.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina.
3.5.2. Hasil Tambahan
Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.
3.6.Pascapanen
IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA PETERNAKAN
4.1. Analisis Usaha Budidaya
Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.
Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini.
Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering
4.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansi-instansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.
V. REFERENSI
5.1. Daftar Pustaka
Anonim. [ ]. Pedoman beternak sapi perah. Purwokerto, Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak. 2 hal. (brosur).
Anonim. 1983. Petunjuk cara-cara penggunaan obat-obatan ternak. Samarinda, Dinas Peternakan Kalimantan Timur. 12 hal.
Anonim. 1988. Kondisi peternakan sapi perah dan kualitas susu di pulau Jawa. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 39-40.
Anonim. 1988. Pemerahan, satu faktor penentu jumlah air susu. Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 23-24.
Anonim. 1988. Upaya peningkatan kesejahteraan peternak melalui peningkatan efisiensi produksi. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 16-24.
Bandini, Yusni. 1997. Sapi Bali. Cet 1. Jakarta, Penebar Swadaya. 73 hal.
Church, D.C. 1991. Livestock feeds and feeding. 3 ed. New Jersey, Prentice-Hall, Inc.: 278-279.
Djaja, Willian. 1988. Hidup bersih dan sehat di peternakan sapi perah. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 25-26.
Djarijah, Abbas Sirega. 1996. Usaha ternak sapi. Yogyakarta, Kanisius. 43 hal.
Fox, Michael W. 1984. Farm animals: husbandry, behavior, and veterinary practice. Baltimore Maryland, University Park Press: 82-112; 150.
Ginting, Eliezer. 1988. Bimbingan dan penyuluhan usaha sapi perah rakyat di Jawa Timur. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 27-33.
Hehanussa, P.E. 1995. Rencana induk Life Science Center-Cibinong. Limnotek, 3 (1) 1995: 1-34.
Hermanto. 1988. Bagaimana cara penanganan sapi perah pada masa kering? Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 24-25.
Nienaber, J.A., et al. 1974. Livestock environment affects production and health. Proceedings of the International Livestock Environment Conference. St. Joseph, American Society of Agricultural Engineers.
Pane, Ismed. 1986. Pemuliabiakan ternak sapi. Jakarta, PT. Media: 1-38; 133.
Sabrani, M. 1994. Teknologi pengembangan sapi Sumba Ongole. Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: 15-26.
Suryanto, Bambang; Santosa, Siswanto Imam; Mukson. 1988. Ilmu Usaha Peternakan. Semarang, Fakultas Peternakan UNDIP. 63 hal.
Warudjo, Bambang 1988. Kualitas dan harga susu. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 34-38.
5.2. Personil
Tri Margono d/a Puslitbang Bioteknologi LIPI Peternakan sapi perah P3-Biotek (PSPBdi Cibinong)
1.1. Sejarah Singkat
Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.
Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni.
Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.
1.2. Sentra Peternakan
Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang. Produksi susu sapi di PSPB masih kurang dari 10 liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari (rata-ratanya hanya 5-8 liter/hari).
1.3. Jenis
Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia).
Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.
1.4. Manfaat
Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber protein, susu, kulit yang dimanfaatkan untuk industri dan pupuk kandang sebagai salah satu sumber organik lahan pertanian.
II. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
3.2. Pembibitan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah: (a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan (h) tiap tahun beranak.
Sementara calon induk yang baik antara lain: (a) berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi, (b) kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar, (c) jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar, (d) pertumbuhan ambing dan puting baik, (e) jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta (f) sehat dan tidak cacat.
Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) umur sekitar 4-5 tahun, (b) memiliki kesuburan tinggi, (c) daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya, (d) berasal dari induk dan pejantan yang baik, (e) besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik, (f) kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat, (g) muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, (h) paha rata dan cukup terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar, (j) badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta (k) sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
3.2.1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.
Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
3.2.2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan temperamennya.
3.2.3. Sistim Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.
3.3. Pemeliharaan
3.3.1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan.
Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.
3.3.2. Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar).
Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.
3.3.3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
• sistem penggembalaan (pasture fattening)
• kereman (dry lot fattening)
• kombinasi cara pertama dan kedua.
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB.
Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara.
Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.
3.3.4. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
3.4. Hama dan Penyakit
3.4.1. Penyakit
a. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
b. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE. Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
c. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
d. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
3.4.2. Pencegahan Serangan
Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering.
3.5. Panen
3.5.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina.
3.5.2. Hasil Tambahan
Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.
3.6.Pascapanen
IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA PETERNAKAN
4.1. Analisis Usaha Budidaya
Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.
Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini.
Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering
4.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansi-instansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.
V. REFERENSI
5.1. Daftar Pustaka
Anonim. [ ]. Pedoman beternak sapi perah. Purwokerto, Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak. 2 hal. (brosur).
Anonim. 1983. Petunjuk cara-cara penggunaan obat-obatan ternak. Samarinda, Dinas Peternakan Kalimantan Timur. 12 hal.
Anonim. 1988. Kondisi peternakan sapi perah dan kualitas susu di pulau Jawa. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 39-40.
Anonim. 1988. Pemerahan, satu faktor penentu jumlah air susu. Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 23-24.
Anonim. 1988. Upaya peningkatan kesejahteraan peternak melalui peningkatan efisiensi produksi. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 16-24.
Bandini, Yusni. 1997. Sapi Bali. Cet 1. Jakarta, Penebar Swadaya. 73 hal.
Church, D.C. 1991. Livestock feeds and feeding. 3 ed. New Jersey, Prentice-Hall, Inc.: 278-279.
Djaja, Willian. 1988. Hidup bersih dan sehat di peternakan sapi perah. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 25-26.
Djarijah, Abbas Sirega. 1996. Usaha ternak sapi. Yogyakarta, Kanisius. 43 hal.
Fox, Michael W. 1984. Farm animals: husbandry, behavior, and veterinary practice. Baltimore Maryland, University Park Press: 82-112; 150.
Ginting, Eliezer. 1988. Bimbingan dan penyuluhan usaha sapi perah rakyat di Jawa Timur. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 27-33.
Hehanussa, P.E. 1995. Rencana induk Life Science Center-Cibinong. Limnotek, 3 (1) 1995: 1-34.
Hermanto. 1988. Bagaimana cara penanganan sapi perah pada masa kering? Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 24-25.
Nienaber, J.A., et al. 1974. Livestock environment affects production and health. Proceedings of the International Livestock Environment Conference. St. Joseph, American Society of Agricultural Engineers.
Pane, Ismed. 1986. Pemuliabiakan ternak sapi. Jakarta, PT. Media: 1-38; 133.
Sabrani, M. 1994. Teknologi pengembangan sapi Sumba Ongole. Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: 15-26.
Suryanto, Bambang; Santosa, Siswanto Imam; Mukson. 1988. Ilmu Usaha Peternakan. Semarang, Fakultas Peternakan UNDIP. 63 hal.
Warudjo, Bambang 1988. Kualitas dan harga susu. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 34-38.
5.2. Personil
Tri Margono d/a Puslitbang Bioteknologi LIPI Peternakan sapi perah P3-Biotek (PSPBdi Cibinong)
Label:
air susu,
bibit,
peluang,
sapi perah
Langganan:
Komentar (Atom)
Mengenai Saya
- ekabees
- keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...
COWMANIA