Tampilkan postingan dengan label tataniaga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tataniaga. Tampilkan semua postingan

29 Mei, 2013

DAGING SAPI ... RIWAYATMU KINI

Daging Sapi …. Riwayatmu Kini

Ternak sapi, seperti ternak ruminansia lainnya merupakan supporting bagi kehidupan manusia melalui sumbangsihnya untuk memenuhi kebutuhan daging, susu dan ikutannya.  Sebagai salah satu sumber protein hewani masyarakat, daging sapi diperlukan untuk membentuk jaringan fikir generasi muda, meremajakan sel tubuh dan menjadikan diri sebagai sosok yang tangguh.  Keberadaan ternak sapi tentunya tidak dapat dipisahkan dari budaya masyarakat Indonesia yang hidup dari pertanian (masyarakat agraris).

Ternak sapi awalnya dipelihara oleh masyarakat sebagai peternakan belakang rumah (backyard farming) yang merupakan usaha sampingan, sebatas tabungan dan juga sebagai tolok ukur tingkat perekonomian penduduk.  Pertambahan penduduk, tidak ayal membuat peningkatan kebutuhan akan daging sapi terus bertambah.  Peternakan belakang rumah akhirnya mulai bergeser karena adanya perubahan paradigma ekonomi sehingga sisi kapitalis peternakan mulai terbentuk.  Ternak sapi mulai menjadi sebuah usaha ekonomi dengan melakukan penggemukan ternak.  Kegiatan pembibitan juga mulai bermunculan, meski masih dalam skala tradisional (dilepas dan digembalakan tanpa dijadikan sebagai usaha intensif).
Kandang ternak sapi berkapasitas menengah – besar mulai bermunculan dan mulailah terjadi kepastian supply and demand.  Permintaan daging sapi tidak mampu dipenuhi peternakan sapi dalam negeri sehingga mulailah terjadi hubungan dagang dengan negara luar untuk dapat mensupply ternak atau daging sapi ke Indonesia.  Australia merupakan salah satu negara yang mampu memasok ternak dan daging sapi di Indonesia.

Australia sebagai salah satu negara produsen ternak sapi sudah mampu melakukan kegiatan budidaya ternak secara integral dan komprehensif, selain dukungan topografi dan iklim wilayah yang mampu menumbuhkan tanaman legum (kacang-kacangan) seperti alfalfa (Medicago sativa) untuk supply pakan ternak.  Kondisi sub tropis Australia membuat alfalfa dapat tumbuh dengan baik dan tidak berebut dengan rumput liar serta gangguan rayap.  Jumlah ternak yang lebih banyak dari jumlah penduduk inilah yang menjadikan Australia mampu membuat ternak sebagai salah satu sumber devisa besar bagi negara.

Kita kembali ke Indonesia yang sampai saat ini masih memasang hastag#SwasembadaDagingSapi2014 yang sudah dipastikan tidak dapat direalisasikan oleh Kementerian Pertanian RI, termasuk hastag-hastag lainnya, seperti#GoOrganik2010 (dan semua program-program itu tidak ada yang mengevaluasi, sehingga hanya berhenti sampai di batas waktu antar rejim).

Program Swasembada Daging Sapi yang didengungkan Kementerian Pertanian Republik Indonesia sangat-sangat prematur dan seharusnya mampu dilakukan asalkan benar-benar dikembangkan penuh komitmen, misalnya :

1. Kemandirian Pembibitan Ternak Sapi
Permasalahan pengembangan ternak adalah penyediaan bibit sebagai sumber bakalan yang mampu secara berkelanjutan.  Sampai saat ini pembibitan masih dilakukan seperempat hati oleh pemerintah.  Proses ‘akal-akalan’ yang dilakukan oknum pengusaha yang bekerjasama dengan oknum birokrasi menjadikan program pembibitan hanya sebatas pelaksanaan tanpa hasil dan berakhir nihil (ingat dengan program pemasukan betina sapi potong seharga sapi potong dan program Sarjana Membangun Desa yang gagal total??).  Village Breeding Centre milik Dinas Peternakan patut dikembangkan sebagai slaah satu sumber bakalan dan juga daerah lain yang mampu menyediakan pakan yang  berkualitas, kontinyu dan ekonomis

2. Kemandirian Pakan Ternak Sapi
Pemeliharaan ternak tentunya memerlukan pakan sebagai salah satu bahan baku untuk menghasilkan produk peternakan sapi (daging, susu).  Proses integrasi pakan yang tidak dilakukan secara serius membuat ketersediaan pakan menjadi satu masalah yang terus dan terus berlanjut.  Badan Usaha Milik Negara mulai melakukan tindakan penyelamatan dengan melakukan usaha penggemukan ternak dan ini merupakan satu langkah bagus, tetapi proses integrasi dengan hasil samping usaha kegiatan BUMN tidak dilakukan secara optimal.  Misalnya, integrasi sawit – sapi sebenarnya mampu memberikan sumber pakan yang sangat cukup bagi ternak sapi atau integrasi tebu – sapi

3. Manajemen Usaha Ternak Sapi
Sebagai salah satu bagian Segitiga Produksi, manajemen usaha ternak kadang hanya dapat ditemui pada kandang-kandang besar, sementara peningkatan kapasitas peternakan rakyat diabaikan.  Atau memang inilah sebuah model konspirasi untuk mengkapitalisasi usaha ternak sapi sehingga nantinya ternak sapi hanya menjadi usaha pemodal besar atau memang inilah salah satu cara untuk mengubah Indonesia sebagai negara pengimpor ternak dan daging sapi?
Manajemen usaha ini sangat penting dilakukan, termasuk kesehatan dan reproduksi ternak

4. Tataniaga
Selalu dan selalu permasalahan tataniaga produk pertanian menjadi momok bagi pengembangan usaha pertanian/peternakan.  Ketidakmapuan pemerintah dalam mengatur tataniaga produk pertanian, membuat harga produk selalu ditentukan oleh satu atau beberapa stake holder tertentu dan hal ini pastinya akan membuat harga produk melambung tidak terkendali.  Kebijakan penyelesaian masalah tataniaga oleh pemerintah, kebanyakan berada dibawah kendali stake holder tertentu.  Itikad baik pemerintah untuk mengatasi dan mengatur tataniaga produk pertanian/peternakan/perkebunan merupakan satu langkah penting.
Daging sapi akan turun menjelang Ramadhan dan akan meningkat di awal - pertengahan Ramadhan lalu turun menjelang Idul Fitri dan akan meningkat kembali harganya bukan karena produksi ternak dalam negeri, tetapi kembali karena kran impor dibuka dan jumlahnya tidak pernah turun secara signifikan, hanya memindah kuota dari jadualnya dan menambah kuota dengan alasan kekurangan stok (lagu lama yang selalu dirilis ulang)

5. Kelembagaan
Di Indonesia, kelembagaan petani atau peternak atau pekebun hanya akan menjadi sebuah legitimasi atas pengangkangan Kapitalisme Kerakyatan.  Hal ini terjadi karena lembaga yang terbentuk hanya menjadikan pengurusnya sebagai raja kecil yang menjadikan anggotanya selalu tertindas dan tidak dapat berbuat apa-apa.  Tengoklah koperasi susu di Indonesia yang kebanyakan oknum pengurusnya menjadi salah satu dari mafia susu, yang memeras peternakan rakyat.

6. Komitmen dan Berkelanjutan
Tentunya komitmen dan sebuah program berkelanjutan menjadi hal penting dalam menjadikan ternak sapi sebagai salah satu sumber protein hewani yang secara ekonomis mampu menguntungkan peternak pembibit, peternak penggemukan, pemotong, penjual daging dan produsen.
Berkelanjutan berarti pelaksanaan secara terus menerus dan tidak terkendala masalah rejim atau urusan lain, seperti urusan politik.
Ternak sapi adalah Rojo Koyo, siapa yang memiliki ternak lebih banyak, maka dia adalah negara yang kaya dan siap bersaing sebagai negara yang berkedaulatan pangan.  Jangan pernah terbuai dengan jargon ketahanan pangan, tetapi berkomitmen dan berketetapan untuk berkedaulatan pangan.

Salam moooo

04 Desember, 2011

Kebersamaan menuju Kesejahteraan - Expedisi Waeapo



Diskusi, aplikasi lapangan, sekolah lapang menjadi santapan harian yang selalu dilakukan demi menghasilkan sebuah tatanan masyarakat adat yang luar biasa. Masyarakat adat Pulau Buru saat ini berada dalam cengkeraman persepsi yang kadang keliru dalam menterjemahkan dan mengaplikasikan dalam kehidupan, bagaimana tidak? Untuk hantaran “membeli” wanita untuk dijadikan istri, tidak kurang Rp 100 jutaan dihabiskan untuk membeli kuali, kain berlembar-lebar dan pesta perkawinan, uang diperoleh dari keluarga dan juga sanak saudara se-marga mereka dan hal itu terus berputar-putar mengamini kehidupan yang seharuanya lebih elegan, karena Rp 100-an juta itu tentunya lebih baik bila digunakan untuk membiayai kehidupan kedua mempelai atau modal usaha, karena anggaran untuk pendidikan malah ditiadakan. Saat ini, beberapa tokoh adat sudah berani menolak di’pinjami’ uang untuk perkawinan, beberapa intelektual muda sudah menganggap pendidikan adalah hal yang terpenting.
Ketiada setaraan pendidikan serta “penindasan” kecerdasan oleh penguasa adat jaman dahulu menyebabkan tingkat berfikir masyarakat adat menjadi lemah, kebanyakan mereka memiliki level kehidupan yang ‘nrimo’ (keinginan meningkatkan level kehidupan masih rendah). Sikap soliter (beraktifitas secara individual) dalam masyarakat adat sehingga nilai-nilai solidaritas dalam melakukan aktifitas menjadi sangat menurun (misalnya, penjualan hasil penyulingan minyak kayu putih dan hasil bumi lainnya serta aktifitas sosial lainnya). Peningkatan kualitas sikap mental masyarakat memang sangat perlu ditingkatkan. Keterlenaan mereka dengan kekayaan alam Pulau Buru yang melimpah membuat kemajuan intelektual dan sikap mental mereka menjadi terhambat, ditambah dengan terjadinya sistem budaya adat dengan persepsi keliru sehingga menjadi kendala pengembangan kehidupan masyarakat. Sampai saat ini kebanyakan program yang diberikan kepada masyarakat adat adalah Pembangunan Infrastruktur fisik sementara sikap mental masyarakat masih terabaikan. Padahal sebenarnya Masyarakat Adat memiliki asset yang besar, tetapi kebanyakan masyarakat tidak menyadarinya sehingga mereka selalu merasa hidup dalam kekurangan (mengharapkan bantuan), misalnya mereka merasa tidak memiliki apa-apa, padahal tanah yang mereka miliki cukup luas, beberapa puluh atau ratus tanaman cokelat, tanaman-tanaman kayu berkelas serta keahlian mereka dalam melakukan penyulingan minyak kayu putih kualitas baik. Hal lain yang membuat kualitas kehidupan mereka selalu terjajah adalah model tataniaga hasil bumi melalui jeratan tengkulak serta ilmu dalam pengelolaan usaha dan keuangan yang tidak mereka kuasai menjadikan penindasan ekonomi selalu merangkul sendi kehidupan mereka. Masyarakat transmigrasi dilingkungan masyarakat adat, disadari menjadi inspirasi positif dalam kehidupan masyarakat asli yang hanya dapat terkagum-kagum (masih bermimpi untuk dapat meniru)
Perubahan sikap mental, pendidikan, kualitas teknis dalam melaksanakan budidaya pertanian – perkebunan – peternakan, pemberdayaan perempuan, peningkatan keterampilan (permesinan, perkayuan, sipil) dan peningkatan kualitas keekonomian (panganan keuangan merupakan hal terpenting dalam untuk dapat dilaksanakan, mereka memerlukan hal ini dan kita harus peduli, karena kita adalah satu .. manusia Indonesia

Ketel, Sapi, Kerbau dan Kesejahteraan - Expedisi Waeapo




Kami mengunjungi sebuah rumah ketel minyak kayu putih yang sederhana dan memberi sebuah gambaran yang cukup menyesakkan .. betapa tidak, setiap petani yang terdiri dari penduduk asli, melakukan penyulingan minyak kayu putih dengan membawa keluarga (istri, anak-anak) serta seluruh perbekalan yang memenuhi lokasi ketel. Bila dilihat dari proporsi antara ketel – gudang daun kayu putih – kamar/lokasi tidur – dapur, maka terlihat betapa tidak efisiennya pengelolaan minyak kayu putih yang dilakukan mereka. Ruang tungku – ketel – bak konsensasi memakan sekitar 20% total ruangan. Model pergudangan sementara daun kayu putih merupakan beberapa kotal dengan tinggi sisi dinding sekitar 50cm terdiri atas 6 – 8 bak berukutan 2x2meter dan tentunya akan memuat daun kayu putih yang terbatas. Total pergudangan mencapai sekitar 50% luasan. Selebihnya adalah ruang sosial yang sebenarnya dapat diperingkas. Beberapa hal yang boleh jadi dapat dilakukan untuk meningkatkan produktifitas adalah :
1. Perbaikan kondisi ketel dan tungku, tungku yang digunakan dapat menggunakan bahan bakar berupa ampas hasil penyulingan yang sudah dikeringkan sehingga menghemat kayu bakar, ditambah dengan luasan tungku yang sebenarnya dapat menampung lebih dari satu ketel. Kondisi ketel dapat dirubah melalui penggunaan ketel stainsteel berbentuk buah labu yang dapat menggunakan system uap langsung atau steam dengan kapasitas tampung yang lebih besar (saat ini daya tampung ketel sekitar 200-220kg sekali masak). Selain itu penataan daun kayu putih juga dapat diperbaiki sehingga proses penguapan berlangsung maksimal dan berhasil baik. Hal penting lagi adalah dengan menutup ketel dan jaringan instalasi dari kemungkinan terjadi penguapan.
2. Kondensasi uap kayu putih yang dapat disetting dengan memperbaiki model pipa/selang kondensasi yang pendek dan berpotensi memberi kadar air lebih pada minyak dengan menggunakan selang kuningan yang dibentuk seperti spiral dan masuk kedalam bak kondensasi dalam beberapa putaran.
3. Kelembagaan Penyuling Minyak Kayu Putih. System ekonomi perminyakan kayu putih yang sangat mungkin untuk dilaksanakan dan segera direalisasikan. Tata kelola penduduk asli dalam melakukan penyulingan membuat tingkat perekonomian mereka menjadi sangat terganggu dan tidak memberi hasil maksimal. Kelembagaan akan membuat para petani minyak kayu putih mampu melakukan sebuah system produksi yang baik, manajemen keuangan yang membuat mereka memiliki simpanan dan pengembangan usaha. Kebiasaan mereka dalam berhutang bahan pokok menjadikan beban dalam pendapatan serta penurunan nilai tawar. Sebagai perhitungan, untuk memberangkatkan diri dan keluarga ke rumah ketel, menyewa ketel, mereka melakukan kasbon bahan pokok rata-rata sebesar Rp 200.000 dengan hasil minyak sekitar 5 liter @Rp 115.000 = Rp 575.000, saldo Rp 375.000 hasil ini tentunya akan memberi nilai ekonomi yang jauh dari kelayakan sebuah keluarga, apalagi mereka tidak dapat melakukan penyulingan setiap hari, harus bergantian dengan penyuling yang lain. Berbeda dengan penyuling minyak kayu putih yang berasal dari Pulau Jawa, mereka melakukan aktifitas penyulingan dengan berangkat ke rumah ketel tanpa didampingi istri sehingga perbekalan yang diperlukan juga sedikit (sekitar Rp 300.000 selama 10 hari) dengan hasil minyak sekitar 15 liter, maka nilai keekonomian yang mereka peroleh juga sangat kentara. Kelembagaan petani ini juga dapat digunakan untuk komoditas lain, misalnya kakao, kasbi (singkong), kacang mete, jeruk dan tanaman pangan – hortikultura – perkebunan lainnya. Kebersamaan petani adalah momok bagi pengusaha “hitam” yang kebanyakan hanya memeras keringat mereka. Pembinaan dan pendampingan kepada petani adalah tugas bersama untuk menjadikan mereka sebagai sebuah komunitas petani kayu putih yang tangguh

Selepas menyelesaikan tugas, malam harinya beberapa orang petani mengundang kami berpesta durian … wow, nyummmmyyy sangat.



Keesokan harinya, kami kembali mengunjungi Pak Wakil Belen yang merupakan peternak sapi Bali di kampong Dalam Desa Basalale. Dari pengamatan visual dan pemeriksaan ternak, dapat disimpulkan terjadi infeksi cacing perut dan cacing hati pada hampir kebanyakan ternak. Infeksi cacing hati sudah menyebabkan terjadinya kebutaan pada ternak sapi Bali … benar-benar ironis, pengembangan peternakan di Indonesia Timur di pulau yang dahulunya pernah menjadi pulau buangan ini sangat memprihatinkan, padahal potensi Pulau Buru untuk menjadi daerah pusat pembibitan ternak sapi potong sangat memungkinkan dan memiliki nilai yang manstaf dalam mengembangan peternakan berbasis pertanian terpadu mengingat potensi pakan yang luar biasa (sawah padi, hortikultura, sagu, kemungkinan mengembangkan hijauan makanan ternak). Pengembangan kerbau juga dapat menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan di Pulau Buru, juga kambing dan ayam kampung.

04 Juni, 2011

Persusuan Nasional, milik siapa?

berbicara tentang persusuan nasional, ada beberapa stake holder yang terkait dan saling berhubungan satu sama lain.

Peternak,
sebenarnya merupakan pelaku utama yang ada dibagian teknis dan bagian ujung tombak produksi air susu. mereka adalah pelaksana pemeliharaan ternak, penjaga kesehatan dan reproduksi ternak, pemberi pakan dan menjamin kelangsungan produksi ternak. kehidupan mereka selalu tergantung pada tiap tetes air susu yang berhasil mereka kumpulkan dan mereka jual

Jaring Tataniaga,
seharusnya merupakan satu tatanan jalur distribusi air susu dari peternak menuju konsumen, di jalur inilah biasanya air susu mengalami pembolakbalikan fakta, ada yang secara jujur disalurkan ke Industri Pengolahan Susu atau konsumen, ada juga yang 'menggoreng' air susu sehingga menjadi tidak HAUS (Halal, Asli, Utuh dan Segar) demi menambah nilai jual air susu

Birokrat Persusuan,
merupakan kumpulan pembuat kebijakan tentang air susu yang menentukan arah kebijakan pengembangan persusuan tanah air. ditangan beliau-beliau (yang kebanyakan tidak punya sapi perah) justru persusuan nasional ditentukan, sehingga kadang ada kebijakan yang terbolak balik sehingga bukannya mendukung perkembangan persusuan nasional, malah mamtikan persusuan nasional

konsumsi air susu perkapita masyarakat Indonesia saat ini mencapai 11,7 liter (masih lebih rendah dari Malaysia, 30 liter dan Vietnam 12 liter), artinya kebutuhan air susu masih sangat banyak dan harusnya perkembangan persusuan nasional masih dapat dikembangkan secara maksimal

cacatan kecil tentang pembangunan persusuan nasional adalah :

Peternak adalah Subjek

jadikan peternak sebagai subjek yang akan mengembangkan persusuan nasional. berilah ruang bagi para peternak untuk berkreasi dan selalu dapat meningkatkan produktifitas dan pupulasi ternak dengan baik. hal-hal yang dapat dilakukan : penambahan populasi, pendampingan dan pembinaan, jaminan ketersediaan bahan pakan, pendampingan dalam peningkatan kualitas reproduksi ternak, jaminan tataniaga yang sehat dan menguntungkan serta kemudahan-kemudahan berusaha sesuai dengan tingkatan profesionalisme

Perbaikan Tataniaga
sudah menjadi rahasia umum bahwa urusan tataniaga adalah sumber bencana bagi pembangunan pertanian Indonesia. perbaikan tataniaga adalah perbaikan yang sangat fundamental dan paling penting, tataniagalah yang akan membuat peternak meningkatkan produktifitasnya dan berkreasi semaksimal mungkin. saat ini harga susu ditentukan oleh para "tengkulak" baik yang berdasi, maupun yang menggunakan sarung. peternak hanya 'melongo' dan tidak bisa berbuat banyak. perbaiki tata niaga, pangkas pembuat 'ekonomi biaya tinggi' dan pastikan bahwa peternak mendapatkan porsi harga terbanyak, karena selama ini penyalurnya adalah bagian terbesarnya

Kelembagaan
selalu yang namanya pelembaga persusuan Indonesia hanya bisa berbicara diatas kertas, implementasi dilapangan selalu berhenti dengan permainan kepentingan sesaat dan itu kembali membuat peternak hanya bisa terkapar. bila ingin kualitas air susu peternak meningkat, lakukanlah pembinaan dan pendampingan, beri peternak sebuah kelembagaan yang mampu menjamin ketersediaan bahan baku pakan yang berkualitas dan terjangkau serta kontinyu; beri peternak pelatihan untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas air susu; beri peternak stimulus-stimulus untuk semakin mengembangkan diri. maaf, jangan tunggangi peternak untuk kepentingan sendiri dan menambah kocek pribadi. pihak akademisipun kebanyakan hanya berhenti sampai di dataran laboratorium, jarang pihak akademisi mampu memberikan masukan dan statemen tentang pembangunan persusuan nasional. kasus bakteri E. sakazaki pada beberapa susu formula di tanah air, adalah bentuk belenggu yang mencengkeram independensi akademisi dan betapa pihak akademisi dapat 'dibeli'

Persusuan Nasional ini milik siapa?
peternak sapi perah? para tengkulak? pengusaha industri air susu? pejabat pemerintah? kaum akademisi?

Hari Susu Nasional 1 Juni 2011 yang puncak acaranya dilakukan tanggal 4 Juni 2011 di Tarubudaya Ungaran - Jawa Tengah, kembali hanya menyampaikan sisi seremonial belaka, tanpa roh, tanpa jiwa, tanpa keinginan menggebu untuk mengedepankan sisi-sisi kemajuan persusuan nasional
Banyak kegiatan lain yang dilaksanakan untuk memperingati Hari Susu Nusantara (HSN). Di antaranya adalah workshop/seminar sistem jaminan mutu keamanan pangan produk susu (tanggal 26-28 Mei 2011), workshop pengembangan jaringan pemasaran susu (tanggal 2-3 Juni 2011), dan seminar upaya peningkatan produksi dan pemasaran susu segar untuk membangun SDM yang berkualitas (tanggal 2-3 Juni 2011).

semoga ada media yang memberi kabar tentang kegiatan itu semua, atau ... semuanya bermuara pada kapitalisme ... dan itu bukan untuk peternak

kasihan deh peternak sapi perah nasional

12 Desember, 2010

POTENSI ITU ... MASIH ADA - Mengulik serba serbi sapi potong Indonesia

POTENSI ITU ... MASIH ADA
Mengulik serba serbi sapi potong Indonesia

disampaikan pada Seminar Nasional dalam rangkaian kegiatan Musyawarah Nasional Ismapeti XI, 11 Desember 2010 di Ruang Seminar 1 Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

PENDAHULUAN

Negara yang kaya dengan ternak tidak akan pemah miskin, dan negara yang miskin dengan ternak tidak akan pernah kaya (Campbell dan Lasley, 1985)

Sapi bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi sebuah kegiatan yang mendarah daging, sudah menjadi sebuah nilai-nilai yang membumi, sudah menjadi kultur yang mengakar, sudah menjadi benda yang memiliki banyak hikmah. Mulai dari penghasil daging dan susu, sumber tenaga kerja untuk membajak sawah atau menggiling bahan pangan, sumber tenaga angkut pedati atau angkutan barang, sarana ritual, tabungan hidup dan nilai kekayaan yang bernilai gengsi. Perkembangan selanjutnya, ternak sapi banyak menjadi sumber kehidupan bagi sebagian rakyat Indonesia yang memilih profesi sebagai peternak. Pengusahaan ternak sapi mulai banyak dilakukan seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan protein asal daging dan susu sehingga permintaan akan komoditas asal daging dan susu terus meningkat. Model usaha peternakan juga bermacam-macam, mulai dari tingkatan konvensional sampai tingkatan modern. Peternakan rakyat, perusahaan peternakan, akademisi bidang peternakan dan kedokteran hewan, rumah sakit hewan dan seluruh komponen kesehatan hewan (termasuk pabrik obat-obatan ternak besar), perusahaan pakan ternak, institusi pembibitan ternak, koperasi, pabrik pengolahan hasil ternak, jagal (pemotong) ternak, asosiasi/perkumpulan peternakan sapi Indonesia dan pemerintah merupakan stake holder yang berperan bagi pengembangan persapian Indonesia.



SAPI POTONG

Masyarakat Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa tentunya semakin banyak membutuhkan protein asal daging ini. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya lonjakan permintaan yang cukup signifikan akan daging. Ternak sapi merupakan penyedia protein hewani asal daging yang cukup potensial.
Indonesia yang kaya raya ini menyediakan sarana produksi yang cukup berlimpah untuk usaha pengembangan ternak sapi, diantaranya sapi potong. Sayangnya, sumber sapi potong yang dimiliki Indonesia sebagai plasma nutfah asli sangatlah sedikit dan perbandingan antara kelahiran dan jumlah pemotongan ternak tidak seimbang. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hubungan dagang dengan negara lain untuk menyediakan bakalan sapi potong untuk digemukkan di Indonesia demi penyediaan kebutuhan protein hewani asal daging tersebut. Program swasembada daging untuk menekan jumlah impor ternak sapi potong maupun daging, telah dicanangkan dan perlu dilaksanakan secara terintegrasi oleh seluruh stake holder di bidang persapian Indonesia.
Usaha peternakan yang terintegrasi (Integrated Farming) diharapan dapat meningkatkan nilai efisiensi usaha dengan pemanfaatan by product yang diharapkan dapat menurunkan cost of production dan sekaligus meningkatkan pay of income. Sapi potong merupakan salah satu jenis ternak yang berperan dalam melakukan supply untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani asal daging. Pengelolaan yang baik dengan pola manajerial yang sempurna akan menghasilkan kinerja ternak potong yang ideal sehingga diperoleh hasil baik. Hasil yang baik akan memberi banyak keuntungan, pertama : pemenuhan supply protein hewani asal daging; kedua : pembukaan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar farm; ketiga : peningkatan nilai penggunaan lahan-lahan pertanian marjinal sehingga memberi nilai guna pada lahan secara positif; keempat : peningkatan kualitas lahan seiring dengan introdusir penggunaan kompos (by product usaha peternakan); kelima : peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang mengikuti peningkatan income pengusaha atas peternakan yang diusahakan.



BEBERAPA JENIS SAPI POTONG
Bangsa sapi yang ada didunia saat ini sebenarnya merupakan produk domestikasi (penjinakan) sapi mulai jaman promitif. Kemudian digolongkan menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama, Bos Indicus
Kelompok sapi ini berkembang baik di India yang kemudian berkembang ke daratan Asia Tenggara (salah satunya, Indonesia), Afrika, Amerika dan Australia. Disebut juga sapi ‘Zebu’ (berpunuk), dengan salah satu keturunannya di Indonesia kita kenal dengan nama Peranakan Ongole dan Brahman, di Amerika dikenal dengan sebutan American Brahman.
Kelompok kedua, Bos Taurus
Menurunkan kelompok sapi perang dan potong di daratan Eropa, belakangan menyebar ke Amerika, Australia dan Selandia Baru. Indonesia juga turut mencoba mengembangkannya. Jenis-jenisnya antara lain : Aberdeen Angus, Hereford, Shorthorn, Charolais, Simmental dan Limousine.
Kelompok ketiga, Bos Sondaicus (Bos Bibos)
Merupakan kelompok yang berkembang di Indonesia, yang merupakan keturunan banteng. Jenisnya antara lain : Sapi Jawa, Sapi Sumatera, Sapi Bali dan sapi-sapi lokal lainnya.

Beberapa strain ternak sapi potong antara lain :
A.Santa Gertrudis, Merupakan persilangan antara induk Shorthorn dan pejanta Brahman. Berkembang baik di seputar wilayah Texas (Amerika)
B.Beefmaster, Persilangan antara Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan perbandingan genetis = 50 % : 25 % : 25 %. Sama seperti Santa Gertrudis, sapi ini berkembang baik di daratan Texas (Amerika).
C.Droughtmaster, Memiliki perbandingan genetis = 3/7 Brahman dan 4/7 Shorthorn. Performancenya sama dengan Santa Gertrudis, hanya saja genetic Brahman lebih dominan.
D.American Brahman, Termasuk golongan sapi zebu keturunan Kankrey, Ongole, Gir, Krishna, Hariana dan Bhagari. Masuk Amerika tahun 1854 dan dkembangkan di wilayah Lousiana. Tipe potong yang baik dengan pertumbuhan cepat dengan pakan sederhana.
E.Peranakan Ongole, Di Indonesia dikenal dengan sebutan Sapi Bengggala. Berasal dari daratan India. Termasuk sapi potong dan kerja.
F.Aberdeen Angus, Berasal dari Scotlandia Utara, masuk Indonesia sekitar tahun 1973. Biasanya berbulu hitam, agak panjang, keriting dan halus. Tidak bertanduk dengan tubuh panjang dan kompak. Tubuh rata, lebar, dalam dan pendek. Disilangkan dengan sapi Brahman akan menghasilkan Brahman Angus (Brangus)
G.Hereford, Berasal dari Inggris. Warna bulu merah, kecuali pada muka, dada, badan, perut bawah, keempat kaki sebatas lutut, bahu dan ekor berwarna putih. Sehingga dikenal pula sebagai white faced cattle. Postur tubuh rendah tetapi memiliki urat daging yang padat dan tegap.
Bobot badan jantan dewasa sekitar 850 kg dan betina dewasa 650 kg. Lebih sesuai bila digemukkan dengan system pastur atau padang gembalaan karena cara merumput yang baik. Tidak cocok dikembangkan di Indonesia.
H.Simmental, Berasal dari Switzerland. Ukuran tubuh besar, perototan bagus dengan penimbunan lemak bawah kulit yang rendah. Warna bulu umumnya krem agak coklat atau sedikit merah, kecuali pada muka, keempat kaki sebatas lutut dan ujung ekor berwarna putih.
I.Limousine, Berasal dari Prancis, merupakan tipe potong dengan warna bulu cokelat dengan warna agak terang pada sekeliling mata dan kali mulai lutut kebawah. Tubuh besar dan panjang, pertumbuhan bagus.
J.Brahman Cross, Merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman dengan sapi jenis lain. Dikembangkan di Amerika dan Australia. Diimpor dari Australia. Memiliki pertumbuhan baik, konformasi karkas yang ideal, tahan iklim tropis dan lalat/kutu. Umumnya sapi ini memiliki warna gelap keabu-abuan atau kemerahan atau hitam. Pada jantan warnanya lebih gelap daripada betina.
K.Sapi Lokal Indonesia, Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan). Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman. Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Ternak sapi lokal Indonesia juga memiliki daya tahan terhadap lingkungan tropis dan serangan caplak, kutu atau tungau yang biasa terjadi diwilayah tropis
Peternak sebagai salah satu stake holder persapian Indonesia, saat ini terbagi atas tiga golongan :
a.Peternak Sapi
Kumpulan rakyat Indonesia yang melakukan model pengusahaan dan tataniaga ternak sapi potong dan sapi perah dengan penjiwaan yang dalam. Skala usaha dari kecil sampai besar dilakukan sepenuh hati dengan tujuan agar perkembangan usaha ternak sapi dapat terencana dan terarah. Orientasi reproduktif dilakukan untuk menambah populasi ternak melalui perkawinan alam, inseminasi buatan atau transfer embrio
b.Pemerhati Ternak Sapi
Kumpulan rakyat Indonesia yang membagi perhatian lebih bagi perkembangan peternakan sapi potong dan perah. Usaha, kebijakan dan dukungan yang dilakukan adalah semata-mata untuk kepentingan perkembangan persapian nasional. Perhatian melalui penelitian, pengembangan pakan ternak, studi komparasi, pengembangan uji bibit ternak, pengembangan keilmuan, studi tentang penanganan produk peternakan, pengembangan melalui perkumpulan/group/kelompok serta model pengembangan lainnya
c.Pebisnis Sapi
Merupakan kumpulan masyarakat Indonesia yang melakukan usaha dan tataniaga peternakan sapi potong dan sapi perah tanpa jiwa dan kecintaan terhadap ternak. Nilai-nilai kapitalis telah mengaburkan konsep perkembangan persapian nasional yang tertata, terencana dan terarah. Sebagian besar usaha yang dilakukan hanya kepentingan material semata dan tidak pernah berfikir mengenai kegiatan reproduktif yang mantap. Kendali mereka terhadap pengambilan kebijakan, penghalalan segala cara dan model usaha yang dilakukan sangat tidak mendukung kemandirian peternakan sapi Indonesia

Warna yang digurat oleh para stake holder akhirnya menjadikan kondisi persapian Indonesia menjadi seperti saat ini. Berdasarkan analisa makro yang disajikan oleh Departemen Pertanian RI (2009) menunjukkan betapa memprihatinkan kondisi persapian Indonesia yang sudah mulai terbangun sejak jaman Majapahit. Indonesia yang merupakan negara agraris dengan seluruh potensi keanekaragaman hayati terpaksa takluk pada ketidakmampuan dalam menyediakan protein hewani asal daging dan susu secara mandiri. Sejarah panjang persapian Indonesia yang tertulis pada “Prasasti Nandini Nusantara” memberi nilai merah pada rapor kemampuan kita dalam melaksanakan manajemen usaha ternak sapi. Sampai saat ini, pencapaian populasi ternak sapi potong dan sapi perah masih belum mampu memberi kemandirian produktifitas untuk memenuhi permintaan masyarakat.


Jumlah populasi ternak sapi potong yang kurang dari 5% jumlah penduduk Indonesia menunjukkan betapa ketidakseriusan para stake holder dalam mengembangkan peternakan sapi potong Indonesia. Pemotongan betina produktif yang rata-rata mencapai 200.000 ekor per tahun memberi penegasan betapa kita masih jauh dari niatan untuk berswasembada daging dan air susu sapi. Nilai impor daging dari luar negeri yang masih berpotensi polemik terus mengalir ditambah dengan membanjirnya impor ternak sapi terutama dari Australia merupakan bukti betapa negara ini lebih senang disebut ‘shopaholic of cattle’ daripada ‘producer of cattle’. Kondisi peternakan rakyat yang senang dengan ternak lokal (brahman, simmental, limousine, brangus, angus, peranakan ongole, bali, madura, grati) yang memiliki nilai reproduktif tinggi tentunya berbeda dengan jenis ternak impor dari Australia yang merupakan Brahman Cross (ternak Brahman yang disilangkan dengan beberapa jenis ternak lain, seperti Shorthorn, Hereford, Braford atau Drougmaster) dan lebih mengarah pada ‘ternak hibrida’ sehingga nilai reproduktifnya terbilang rendah.
Nilai merah lain yang tertoreh adalah masih rendahnya nilai konsumsi perkapita rakyat Indonesia terhadap produk-produk peternakan dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama negara jiran. Data Apfindo (Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia) (2007) menunjukan bahwa pangsa konsumsi daging nasional didominasi oleh daging ayam sebesar 56 %, sapi 23%, babi 13 %, kambing dan domba 5% dan lainnya sekitar 3 %. Konsumsi protein hewani di Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, masih tergolong rendah. Rata-rata konsumsi ayam di ASEAN 7.5 kg/kapita/tahun, Indonesia 4.5 kg/kapita/tahun menduduki peringkat ke lima setelah Filipina 8.5 kg/kapita/tahun, Kamboja menduduki peringkat terendah kurang dari 2.0 kg/kapita/tahun, dan Malaysia merupakan konsumen terbesar 38.5 kg/kapita/tahun. Konsumsi telur pun tidak jauh beda, Indonesia 67 butir/kapita/tahun sedangkan Malaysia 311 butir/kapita/tahun (FAO : 2005).


TANTANGAN PERSAPIAN INDONESIA

Persapian Indonesia sebenarnya tetap terkungkung pada permasalahan klasik yang sebenarnya selalu menjadi ‘pekerjaan rumah’ seluruh stake holder persapian Indonesia. Sayangnya, negara ini tidak serius dan tidak berkeinginan besar untuk menjadikan persapian Indonesia menjadi lebih baik.
1.Tataniaga
Permasalahan ini masih sangat menganggu dan terus menghantui perkembangan usaha peternakan sapi. Proses distribusi persapian Indonesia menunjukkan betapa lemahnya tataniaga daging di bumi nusantara ini. Nilai permintaan dan penawaran pada beberapa produk daging sepertinya lebih mengarah pada sistem kartel dan monopoli sehingga banyak kepentingan yang terjadi dalam ranah perkembangan ternak sapi potong Indonesia. Harga daging yang saat ini tertekan akibat banjirnya daging impor dan aliran ternak impor yang tidak berpihak pada peternakan rakyat memberi signal-signal yang jelas bagi perlemahan nilai-nilai peternakan sapi Indonesia. Undang-undang no 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan hewan secara jelas disebutkan dalam pasal 36 ayat 1 dan 2 menyatakan tentang kewajiban pemerintah dalam menyelenggarakan dan memfasilitasi pemasaran produk peternakan. Pola tataniaga dengan menyerahkan pada mekanisme pasar yang dilakukan oleh pemerintah menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam mendukung peternak (terutama peternak rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan melalui peternakan)
2.Egosektoral
Hampir kebanyakan stake holder di republik ini melakukan usaha dan kebijakan perkembangan persapian nasional hanya sebatas pada kepentingan golongan/kelompok semata. Keinginan menjadi yang terbaik dengan mengabaikan sebuah kolaborasi yang manis menjadikan kesatuan misi dan visi dalam merealisasikan kemandirian persapian nasional hanya sebuah utopia semata. Direktur Jenderal Peternakan – Departemen Pertanian RI bertanggungjawab atas seluruh hal yang berkenaan dengan peternakan dan hasil ternak, tetapi saat sudah menyentuh ranah distribusi produk daging, maka Departemen Perindustrian dan Perdagangan yang mengambil peran lebih banyak. Sementara koordinasi lintas departemen sangat lemah dan ini dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab
3.Penegakan Aturan
Seluruh aktifitas perkembangan persapian nasional sampai saat ini masih diwarnai dengan berbagai pelanggaran dan hal ini menyebabkan terjadinya stagnasi atau hal yang lebih buruk lagi. Pemotongan ternak betina terjadi karena penegakan aturan hukum yang setengah-setengah, dilanggarnya konsep karantina hewan di Indonesia, protokol impor merupakan cermin betapa penegakan aturan masih sangat lemah dan penuh pensiasatan. Perangkat hukum sudah diletakkan, mulai dari Undang-undang nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Menteri Pertanian nomor 54/Permentan/OT.140/10/2006 tentang Pedoman Pembibitan Sapi Potong Yang Baik (Good Breeding Practice),
4.Ketidakjelasan Program Pemerintah
Pemerintah sebagai regulator perkembangan persapian Indonesia, kadang kala masih melakukan program-program yang tidak jelas arah dan tujuannya. Konsep pengembangan peternakan sapi potong dengan memberlakukan impor sapi Brahman Cross betina bunting sungguh sangat tidak bijak, karena evaluasi terhadap nilai kebuntingan kembali sangat rendah dan tidak pernah terlaporkan secara gamblang. Proses pengadaan ternak inipun sangat tidak masuk akal, seekor ternak betina produktif dengan harga pengadaan seperti ternak potong adalah sebuah hal yang menggelikan. Juga program kebijakan pendanaan bagi masyarakat peternakan Indonesia yang belum memberikan penyegaran. Aturan-aturan yang tidak jelas, pembatasan-pembatasan yang sangat kabur serta ketidakberanian pemerintah dalam menentukan keputusan merupakan pemicu ketidakberhasilan program pemerintah
5.Penyediaan pakan ternak
Tentunya sebagai salah satu hal penting dalam segitiga produksi, penyediaan pakan ternak merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Penelitian-penelitian tentang pakan ternak ruminansia dari berbagai bahan hasil samping usaha dan agroindustri pertanian – perkebunan menunjukkan betapa potensi pakan ternak merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Akhirnya, akhir-akhir ini banyak hasil samping usaha dan agroindustri pertanian – perkebunan diekspor keluar negeri sebagai pakan ternak, sementara di dalam negeri, ‘sapi makan sapi’ menjadi fenomena umum saat musim kemarau
6.Pendampingan dan bimbingan
Peternakan rakyat saat ini masih menjadi obyek persapian Indonesia. Mereka masih berada dibawah kendali tataniaga yang dikuasai oleh pemodal kuat dan perusahaan besar milik pebisnis sapi. Kebanyakan Koperasi Unit Desa sebagai pengayom mereka belum menunjukkan fungsi dan peran seperti yang diharapkan. Ketiadaan pendampingan dan pembimbingan kepada peternakan rakyat menjadikan kualitas reproduktif ternak sapi menurun, pemotongan ternak betina produktif, ketidakmampuan dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi air susu dan rendahnya nilai tawar peternakan rakyat adalah bukti konkret yang patut digarisbawahi

Potensi itu ... Masih Ada

1.Pemetaan Ternak
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan harus segara melakukan pemetaan ternak sapi, mengenai jumlah, jenis kelamin, kondisi (kapita selekta), potensi produksi daging dan susu, status produksi/reproduksi, jumlah dan kondisi Rumah Potong Hewan serta kapitaselekta kesehatan ternak. Acuan data yang digunakan untuk Program Swasembada Daging Sapi tahun 2014 dianggap masih tidak valid, merupakan cermin pengambilan keputusan yang terburu-buru. Sensus sapi yang akan dilaksanakan tentunya akan lebih baik bila mampu melibatkan banyak pihak, mulai dari kelompok ternak, desa, Dinas Peternakan Kecamatan sampai Propinsi
2.Pemetaan Kebutuhan Daging Sapi
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan melakukan pendataan kebutuhan daging sapi per wilayah, lengkap dengan standarisasi nasional kualitas daging. Pemetaan ternak dan kebutuhan masyarakat ini akan melahirkan besaran jumlah ternak yang harus tersedia, jumlah ternak yang harus dipotong oleh setiap Rumah Pemotongan Hewan, strategi pembibitan ternak sapi, jumlah impor ternak sapi, jumlah impor daging dan jerohan sapi, negara calon eksportir ternak dan daging. Penetapan ini sangat penting sebagai langkah proteksi pemerintah dalam menjaga keamanan pasar bagi peternakan nasional Indonesia, peningkatan kualitas produk peternakan mutlak dilaksanakan sebagai konsekuensi daya saing yang lebih baik. Pemetaan per wilayah akan sangat membantu penyediaan bahan pangan asal daging sapi serta akan sangat merangsang daerah untuk menyiapkan diri sebagai wilayah penyangga daging sapi nasional. Hal ini juga dapat diberlakukan untuk jenis ternak lainnya
3.Perbaikan Tataniaga
Pengaturan harga produk asal daging sesuai dengan besaran permintaan dan penawaran perlu dikawal secara ketat sehingga harga penawaran yang diberikan peternak/penjual dapat bersanding ideal dengan harga permintaan dari konsumen, termasuk didalamnya adalah model rantai distribusi produk. Impor ternak sapi Brahman Cross dan daging/jerohan sapi secara membabi buta tanpa memperhatikan tingkat kebutuhan melalui pemetaan yang tepat adalah sebuah kesalahan besar dan berdampak sistemik bagi perkembangan usaha ternak sapi potong nasional. Ketegasan pemerintah dalam mengatur tataniaga sangat mutlak diperlukan dan harus dilaksanakan. Setelah dipenuhi kapita selekta ternak sapi dan dapat dipastikan kondisi penyediaan produk asal daging sapi, pemerintah segera melakukan penataan terhadap tataniaga, status stok yang terpenuhi dan besaran harga yang layak kepada konsumen dan besaran harga bagi petani/peternak sudah sewajarnya dilaksanakan. Bila mekanisme pasar menjadi indikator penentuan harga, maka pemerintah harus mengawal kondisi pasar agar tetap kondusif dan menjamin pasokan agar sesuai dengan kebutuhan (tidak kekurangan dan tidak berlebihan). Rantai pemasaran produk asal sapi yang selama ini memberi warna diatur sedemikian rupa sehingga stabilitas ketersediaan barang dan fluktuasi harga dapat dijaga kestabilannya. Blantik, jagal pasar, pedagang daging, KUD adalah mata rantai yang dibangun untuk mendukung ekonomi kerakyatan.
4.Bijak dalam Impor Ternak dan Daging/Jerohan Sapi
Banyaknya impor ternak dan daging/jerohan sapi tidak sebanding dengan kebutuhan yang ada akan menyebabkan terjadinya koreksi harga akibat persaingan yang tidak sehat dalam tataniaga ternak dan daging/jerohan sapi. Bijak dalam pelaksanaan impor dan pengenaan pajak impor pada produk-produk tersebut akan membantu perkembangan usaha ternak sapi potong nasional. Sebaiknya BULOG sapi segera dibentuk sebagai salah satu buffer penyediaan produk asal sapi dan penjaga stabilisasi harga. Pemerintah sebaiknya memiliki Unit Pelaksana Teknis Kandang Penyangga Produk Ternak Sapi yang saat ini beberapa fasilitasnya tersebar di beberapa wilayah. UPT ini nantinya akan melakukan pemeliharaan ternak sapi, mulai breeding – rearing sampai fattening. Saat harga produk asal sapi dipasar tinggi, maka UPT ini akan melepas asset ternaknya sehingg harga terkoreksi sesuai dengan daya beli masyarakat. Demikian juga bila harga dipasar rendah karena over supply, maka pemerintah wajib melakukan sweeping kelebihan ternak potong dan juga ternak indukan produktif untuk dikembangkan dalam UPT. Sumber pembiayaan dapat diperoleh dari APBN, pajak bea masuk ternak dan daging impor serta keuntungan pengelolaan oleh UPT.
5.Penegakan Aturan
Undang-undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah payung hukum dalam menjalankan aturan. Aturan dan kebijakan peternakan merupakan rambu-rambu hukum dalam melakukan usaha ternak yang terarah, terencana dan tertata. Melalui penegakan aturan yang ketat, peternakan Indonesia akan menuju kearah yang lebih profesional, sehingga model perdagangan dengan negara lain juga dapat dilakukan secara berimbang dan saling menguntungkan.
6.Pemotongan Induk Betina Produktif
Jumlah induk betina produktif yang dipotong sampai saat ini masih sangat besar, sementara larangan pemotogan induk betina produktif sudah disosisalisasikan. Pemeriksaan di Rumah Potong Hewan dan penolakan pemotongan serta penyelamatan terhadap induk betina produktif oleh pemerintah merupakan langkah yang harus diejawantahkan dan segera dilakukan secara terintegrasi diseluruh wilayah Republik Indonesia atau pembelian betina produktif yang akan dipotong untuk dipelihara di UPT serta pemberian sanksi bagi pelaku penjualan ternak sapi induk produktif.
7.Konsistensi Program Pemerintah
Program swasembada daging melalui program-program yang sudah dilaksanakan, seperti Sarjana membangun Desa (SMD), Lembaga Mandiri dan Mengakar pada Masyarakat (LM3), Desa Mandiri Energi dan beberapa scheme bantuan pembiayaan (KKPE = Kredit Ketahanan Pangan dan Energi, KUPS = Kredit Usaha Pembibitan Sapi), bila menggunakan ternak impor, seharusnya dilakukan dengan menggunakan ternak peranakan pure breed (seperti Simmental, Limousine, Brangus, Brahman, Angus) yang benar-benar diseleksi dan didampingi proses protokolnya dari negara asal ternak sampai pelaksanaan dilapangan. Selama ini program pemerintah dalam pembangunan peternakan nasional masih belum memiliki rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Program yang dibuat cenderung instan dan hanya karena terbawa arus masyarakat peternakan nasional.
8.Rangsangan dan Stimulus
a.Revitalisasi dan sosialisasi Unit Pelaksana Teknis milik Departemen Pertanian yang dapat memajukan usaha ternak sapi potong, seperti Balai Besar Inseminasi Buatan, Balai Embrio Transfer, Balai Penelitian Ternak, Balai Penelitian Veteriner, Balai Besar Penelitian Ternak Unggul dan institusi lain yang berkenaan dengan penelitian dan pengembangan usaha peternakan sapi potong
b.Peningkatan peran Dinas Peternakan di masing-masing wilayah Indonesia agar dapat menjembatani setiap keputusan yang sudah dibuat oleh Direktorat Jenderal Peternakan – Departemen Pertanian RI sebagai sebuah program nasional. Selama ini terkadang Dinas di Daerah kurang memahami rencana yang dibangun oleh pusat
c.Prioritas khusus berupa fasilitas transportasi temak di pelabuhan, kereta api, kapal laut dan bebas antri di pelabuhan antar pulau serta pengurangan biaya retribusi, pemeriksaan hewan di karantina dan pembebasan pajak hasil ternak
d.Pengadaan Indukan Ternak Sapi Potong melalui sistem kredit lunak untuk pengembangan populasi ternak nasional
e.Proteksi wilayah yang sudah berswasembada dari distribusi ternak dan daging/jerohan impor
f.Fasilitas pemeriksaan teknis di negara asal ternak dan daging/jerohan impor oleh pihak ketiga yang independen
g.Pemberian fasilitas pembiayaan yang murah melalui pendampingan yang ketat dan terarah demi kemajuan peternakan sapi nasional
9.Pola Pertanian Terpadu


Pola integrasi antar komponen yang ada pada sebuah usaha peternakan sehingga menghasilkan produktifitas, efisiensi dan efektifitas tinggi dan memberi nilai ekonomis serta berorientasi ekologis merupakan satu keterpaduan yang akan memberi nilai kesejahteraan. Salah satu manfaat yang dapat diambil adalah ketersediaan pakan bagi ternak, pupuk organik, ketersediaan energi terbarukan, ramah lingkungan (meminimalkan limbah), bernilai edukasi – wisata dan inspiratif. Pemerintah harus merangsang dan melaksanakan program integrasi peternakan dengan pertanian, perkebunan secara sinergi dan berkesinambungan. Pakan merupakan hal penting dalam pengembangan usaha ternak sapi potong sehingga, melalui pola pertanian terpadu akan diperoleh sumber pakan berkualitas dari hasil samping usaha pertanian – perkebunan.
10.Pendampingan dan Bimbingan
Pendampingan petani/peternak akan membuat organisasi petani/peternak menjadi kuat dan transfer informasi, teknologi tepat guna serta komunikasi dengan jalur distribusi akan semakin efektif dan nilai jual produk berbanding lurus dengan kualitasnya. Bimbingan bagi para pelaku dibidang pertanian/peternakan akan mendorong kemajuan dan memberi kenyamanan dalam mengembangkan usaha. Bimbingan yang terus menerus akan membuat pemberdayaan petani/peternak semakin besar dan kuat.

PENUTUP

Mengembangkan usaha peternakan sapi potong dalam mendukung Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2014 harus dilaksanakan secara integral dan menyeluruh dengan melibatkan seluruh stake holder. Pengembangan peternakan sapi potong rakyat juga merupakan satu hal penting dalam meletakkan sendi-sendi ekonomi kerakyatan. Penataan kelembagaan, system usaha serta kebijakan dan penegakan aturan merupakan hal yang penting juga untuk dilaksanakan.

01 Juni, 2010

1 Juni - Hari Susu Sedunia - Hari Susu Nasional

Putih memuncrat
Putih menetes
Putih mengalir
Putih menggelegak

Kitab suci menyatakannya sebagai salah satu makanan terunik dan terbaik, karena ada diantara kotoran dan darah
Literatur mencapnya sebagai sumber gizi terhebat
Petani menganggapnya sebagai Emas Putih

Dia keluar dari puting
Dia diproduksi di dalam ambing
Dia disarikan dari darah
Dia dibuat dari bahan makanan yang dicerna

Dia dinamakan air susu
Dia menjadi bahan pembuat keju
Dia menjadi bahan utama pembuat ice cream
Dia menjadi mayonnaise dipasta Italiano
Dia menjadi whipped cream di tart pernikahan dan ulang tahun
Dia adalah penyempurna makanan masyarakat Indonesia

Persusuan Indonesia,
Masih memerlukan keluhuran budi stake holder
Masih memerlukan cambuk semangat untuk maju
Masih memerlukan bimbingan untuk menjadi berkualitas
Masih bisa diandalkan
Masih bisa dikembangkan
Dan .... Masih bisa Bangkit dan Mencapai Kejayaan

Gasing-Landak, 01062010

19 Mei, 2010

Mengurai Carut Marut Persapian Indonesia



Tantangan Peternakan Indonesia

Persapian Indonesia sebenarnya tetap terkungkung pada permasalahan klasik yang sebenarnya selalu menjadi ‘pekerjaan rumah’ seluruh stake holder persapian Indonesia. Sayangnya, negara ini tidak serius dan tidak berkeinginan besar untuk menjadikan persapian Indonesia menjadi lebih baik.

Tataniaga
Permasalahan ini masih sangat menganggu dan terus menghantui perkembangan usaha peternakan sapi. Proses distribusi persapian Indonesia menunjukkan betapa lemahnya tataniaga daging dan susu di bumi nusantara ini. Nilai permintaan dan penawaran pada beberapa produk daging dan susu lebih mengarah pada sistem kartel dan monopoli sehingga banyak kepentingan yang terjadi dalam ranah perkembangan ternak sapi Indonesia. Harga daging yang saat ini tertekan akibat banjirnya daging impor dan aliran ternak impor, penerimaan susu oleh Industri Pengolahan Susu yang tidak berpihak pada peternakan rakyat memberi signal-signal yang jelas bagi perlemahan nilai-nilai peternakan sapi Indonesia

Egosektoral
Hampir kebanyakan stake holder di republik ini melakukan usaha dan kebijakan perkembangan persapian nasional hanya sebatas pada kepentingan golongan/kelompok semata. Keinginan menjadi yang terbaik dengan mengabaikan sebuah kolaborasi yang manis menjadikan kesatuan misi dan visi dalam merealisasikan kemandirian persapian nasional hanya sebuah utopia semata

Penegakan Aturan
Seluruh aktifitas perkembangan persapian nasional sampai saat ini masih diwarnai dengan berbagai pelanggaran dan hal ini menyebabkan terjadinya stagnasi atau hal yang lebih buruk lagi. Pemotongan ternak betina terjadi karena penegakan aturan hukum yang setengah-setengah, dilanggarnya konsep karantina hewan di Indonesia, protokol impor serta beberapa kegiatan ‘hanky panky’ dalam persapian Indonesia merupakan cermin betapa penegakan aturan masih sangat lemah dan penih pensiasatan

Ketidakjelasan Program Pemerintah
Pemerintah sebagai regulator perkembangan persapian Indonesia, kadang kala masih melakukan program-program yang tidak jelas arah dan tujuannya. Konsep pengembangan peternakan sapi potong dengan memberlakukan impor sapi Brahman Cross betina bunting sungguh sangat tidak bijak, karena evaluasi terhadap nilai kebuntingan kembali sangat rendah dan tidak pernah terlaporkan secara gamblang. Proses pengadaan ternak inipun sangat tidak masuk akal, seekor ternak betina produktif dengan harga pengadaan seperti ternak potong adalah sebuah hal yang menggelikan. Juga program kebijakan pendanaan bagi masyarakat peternakan Indonesia yang belum memberikan penyegaran. Aturan-aturan yang tidak jelas, pembatasan-pembatasan yang sangat kabur serta ketidakberanian pemerintah dalam menentukan keputusan merupakan pemicu ketidakberhasilan program pemerintah

Penyediaan pakan ternak
Tentunya sebagai salah satu hal penting dalam segitiga produksi, penyediaan pakan ternak merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Penelitian-penelitian tentang pakan ternak ruminansia dari berbagai bahan hasil samping usaha dan agroindustri pertanian – perkebunan menunjukkan betapa potensi pakan ternak merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Akhirnya, akhir-akhir ini banyak hasil samping usaha dan agroindustri pertanian – perkebunan diekspor keluar negeri sebagai pakan ternak, sementara di dalam negeri, ‘sapi makan sapi’ menjadi fenomena umum saat musim kemarau

Pendampingan dan bimbingan
Peternakan rakyat saat ini masih menjadi obyek persapian Indonesia. Mereka masih berada dibawah kendali tataniaga yang dikuasai oleh pemodal kuat dan perusahaan besar milik pebisnis sapi. Kebanyakan Koperasi Unit Desa sebagai pengayom mereka belum menunjukkan fungsi dan peran seperti yang diharapkan. Ketiadaan pendampingan dan pembimbingan kepada peternakan rakyat menjadikan kualitas reproduktif ternak sapi menurun, pemotongan ternak betina produktif, ketidakmampuan dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi air susu dan rendahnya nilai tawar peternakan rakyat adalah bukti konkret yang patut digarisbawahi

Solusi jitu peternakan sapi Indonesia

Pemetaan Ternak
Masing-masing wilayah melakukan pemetaan atas ternak sapi, mengenai jumlah, jenis kelamin, kondisi (kapita selekta) dan kebutuhan masing-masing wilayah
Perbaikan Tataniaga
Berdasarkan pemetaan yang ada, dapat ditentukan besaran kebutuhan ternak sapi, daging dan produk olahan ternak sapi sehingga harga penawaran yang diberikan peternak/penjual dapat bersanding ideal dengan harga permintaan dari konsumen, termasuk didalamnya proses rantai distribusi yang biasa terjadi agar dapat diatur sehingga tidak merugikan peternak sebagau hulu distribusi produk peternakan

Penegakan Aturan
Sudah saatnya kita kembali pada posisi yang mantap dalam menjalankan aturan. Aturan dan kebijakan peternakan merupakan rambu-rambu hukum dalam melakukan usaha ternak yang terarah, terencana dan tertata. Melalui penegakan aturan yang ketat, peternakan Indonesia akan menuju kearah yang lebih profesional, sehingga model perdagangan dengan negara lain juga dapat dilakukan secara berimbang dan saling menguntungkan

Program Pemerintah yang Mantap
Program pemerintah tentang perkembangan peternakan sapi harus ditetapkan dengan pertimbangan yang penuh, penguasaan kondisi lapangan yang menyeluruh serta aktifasi pihak ketiga yang idependen dalam mendampingi pelaksanaan program. Evaluasi program adalah salah satu hal yang harus dilakukan sebagai bukti bahwa program yang dilakukan harus mendapatkan penilaian untuk menjadi referensi shahih bagi program selanjutnya yang lebih baik. Bank permasalahan dan solusi dari masa ke masa kepemimpinan di pemerintahan hendaknya perlu dilakukan sehingga menjadi lebih baik dan lebih baik adalah tujuan utama yang diraih

Pertanian Terpadu
Pola integrasi antar komponen yang ada pada sebuah usaha peternakan sehingga menghasilkan produktifitas, efisiensi dan efektifitas tinggi dan memberi nilai ekonomis serta berorientasi ekologis merupakan satu keterpaduan yang akan memberi nilai kesejahteraan. Salah satu manfaat yang dapat diambil adalah ketersediaan pakan bagi ternak, pupuk organik, ketersediaan energi terbarukan, ramah lingkungan (meminimalkan limbah), bernilai edukasi – wisata dan inspiratif

Pendampingan dan Bimbingan
Pendampingan petani/peternak akan membuat organisasi petani/peternak menjadi kuat dan transfer informasi, teknologi tepat guna serta komunikasi dengan jalur distribusi akan semakin efektif dan nilai jual produk berbanding lurus dengan kualitasnya. Bimbingan bagi para pelaku dibidang pertanian/peternakan akan mendorong kemajuan dan memberi kenyamanan dalam mengembangkan usaha. Bimbingan yang terus menerus akan membuat pemberdayaan petani/peternak semakin besar dan kuat.

Mengenai Saya

Foto saya
keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...

COWMANIA

COWMANIA