Tampilkan postingan dengan label pakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pakan. Tampilkan semua postingan

29 Mei, 2013

DAGING SAPI ... RIWAYATMU KINI

Daging Sapi …. Riwayatmu Kini

Ternak sapi, seperti ternak ruminansia lainnya merupakan supporting bagi kehidupan manusia melalui sumbangsihnya untuk memenuhi kebutuhan daging, susu dan ikutannya.  Sebagai salah satu sumber protein hewani masyarakat, daging sapi diperlukan untuk membentuk jaringan fikir generasi muda, meremajakan sel tubuh dan menjadikan diri sebagai sosok yang tangguh.  Keberadaan ternak sapi tentunya tidak dapat dipisahkan dari budaya masyarakat Indonesia yang hidup dari pertanian (masyarakat agraris).

Ternak sapi awalnya dipelihara oleh masyarakat sebagai peternakan belakang rumah (backyard farming) yang merupakan usaha sampingan, sebatas tabungan dan juga sebagai tolok ukur tingkat perekonomian penduduk.  Pertambahan penduduk, tidak ayal membuat peningkatan kebutuhan akan daging sapi terus bertambah.  Peternakan belakang rumah akhirnya mulai bergeser karena adanya perubahan paradigma ekonomi sehingga sisi kapitalis peternakan mulai terbentuk.  Ternak sapi mulai menjadi sebuah usaha ekonomi dengan melakukan penggemukan ternak.  Kegiatan pembibitan juga mulai bermunculan, meski masih dalam skala tradisional (dilepas dan digembalakan tanpa dijadikan sebagai usaha intensif).
Kandang ternak sapi berkapasitas menengah – besar mulai bermunculan dan mulailah terjadi kepastian supply and demand.  Permintaan daging sapi tidak mampu dipenuhi peternakan sapi dalam negeri sehingga mulailah terjadi hubungan dagang dengan negara luar untuk dapat mensupply ternak atau daging sapi ke Indonesia.  Australia merupakan salah satu negara yang mampu memasok ternak dan daging sapi di Indonesia.

Australia sebagai salah satu negara produsen ternak sapi sudah mampu melakukan kegiatan budidaya ternak secara integral dan komprehensif, selain dukungan topografi dan iklim wilayah yang mampu menumbuhkan tanaman legum (kacang-kacangan) seperti alfalfa (Medicago sativa) untuk supply pakan ternak.  Kondisi sub tropis Australia membuat alfalfa dapat tumbuh dengan baik dan tidak berebut dengan rumput liar serta gangguan rayap.  Jumlah ternak yang lebih banyak dari jumlah penduduk inilah yang menjadikan Australia mampu membuat ternak sebagai salah satu sumber devisa besar bagi negara.

Kita kembali ke Indonesia yang sampai saat ini masih memasang hastag#SwasembadaDagingSapi2014 yang sudah dipastikan tidak dapat direalisasikan oleh Kementerian Pertanian RI, termasuk hastag-hastag lainnya, seperti#GoOrganik2010 (dan semua program-program itu tidak ada yang mengevaluasi, sehingga hanya berhenti sampai di batas waktu antar rejim).

Program Swasembada Daging Sapi yang didengungkan Kementerian Pertanian Republik Indonesia sangat-sangat prematur dan seharusnya mampu dilakukan asalkan benar-benar dikembangkan penuh komitmen, misalnya :

1. Kemandirian Pembibitan Ternak Sapi
Permasalahan pengembangan ternak adalah penyediaan bibit sebagai sumber bakalan yang mampu secara berkelanjutan.  Sampai saat ini pembibitan masih dilakukan seperempat hati oleh pemerintah.  Proses ‘akal-akalan’ yang dilakukan oknum pengusaha yang bekerjasama dengan oknum birokrasi menjadikan program pembibitan hanya sebatas pelaksanaan tanpa hasil dan berakhir nihil (ingat dengan program pemasukan betina sapi potong seharga sapi potong dan program Sarjana Membangun Desa yang gagal total??).  Village Breeding Centre milik Dinas Peternakan patut dikembangkan sebagai slaah satu sumber bakalan dan juga daerah lain yang mampu menyediakan pakan yang  berkualitas, kontinyu dan ekonomis

2. Kemandirian Pakan Ternak Sapi
Pemeliharaan ternak tentunya memerlukan pakan sebagai salah satu bahan baku untuk menghasilkan produk peternakan sapi (daging, susu).  Proses integrasi pakan yang tidak dilakukan secara serius membuat ketersediaan pakan menjadi satu masalah yang terus dan terus berlanjut.  Badan Usaha Milik Negara mulai melakukan tindakan penyelamatan dengan melakukan usaha penggemukan ternak dan ini merupakan satu langkah bagus, tetapi proses integrasi dengan hasil samping usaha kegiatan BUMN tidak dilakukan secara optimal.  Misalnya, integrasi sawit – sapi sebenarnya mampu memberikan sumber pakan yang sangat cukup bagi ternak sapi atau integrasi tebu – sapi

3. Manajemen Usaha Ternak Sapi
Sebagai salah satu bagian Segitiga Produksi, manajemen usaha ternak kadang hanya dapat ditemui pada kandang-kandang besar, sementara peningkatan kapasitas peternakan rakyat diabaikan.  Atau memang inilah sebuah model konspirasi untuk mengkapitalisasi usaha ternak sapi sehingga nantinya ternak sapi hanya menjadi usaha pemodal besar atau memang inilah salah satu cara untuk mengubah Indonesia sebagai negara pengimpor ternak dan daging sapi?
Manajemen usaha ini sangat penting dilakukan, termasuk kesehatan dan reproduksi ternak

4. Tataniaga
Selalu dan selalu permasalahan tataniaga produk pertanian menjadi momok bagi pengembangan usaha pertanian/peternakan.  Ketidakmapuan pemerintah dalam mengatur tataniaga produk pertanian, membuat harga produk selalu ditentukan oleh satu atau beberapa stake holder tertentu dan hal ini pastinya akan membuat harga produk melambung tidak terkendali.  Kebijakan penyelesaian masalah tataniaga oleh pemerintah, kebanyakan berada dibawah kendali stake holder tertentu.  Itikad baik pemerintah untuk mengatasi dan mengatur tataniaga produk pertanian/peternakan/perkebunan merupakan satu langkah penting.
Daging sapi akan turun menjelang Ramadhan dan akan meningkat di awal - pertengahan Ramadhan lalu turun menjelang Idul Fitri dan akan meningkat kembali harganya bukan karena produksi ternak dalam negeri, tetapi kembali karena kran impor dibuka dan jumlahnya tidak pernah turun secara signifikan, hanya memindah kuota dari jadualnya dan menambah kuota dengan alasan kekurangan stok (lagu lama yang selalu dirilis ulang)

5. Kelembagaan
Di Indonesia, kelembagaan petani atau peternak atau pekebun hanya akan menjadi sebuah legitimasi atas pengangkangan Kapitalisme Kerakyatan.  Hal ini terjadi karena lembaga yang terbentuk hanya menjadikan pengurusnya sebagai raja kecil yang menjadikan anggotanya selalu tertindas dan tidak dapat berbuat apa-apa.  Tengoklah koperasi susu di Indonesia yang kebanyakan oknum pengurusnya menjadi salah satu dari mafia susu, yang memeras peternakan rakyat.

6. Komitmen dan Berkelanjutan
Tentunya komitmen dan sebuah program berkelanjutan menjadi hal penting dalam menjadikan ternak sapi sebagai salah satu sumber protein hewani yang secara ekonomis mampu menguntungkan peternak pembibit, peternak penggemukan, pemotong, penjual daging dan produsen.
Berkelanjutan berarti pelaksanaan secara terus menerus dan tidak terkendala masalah rejim atau urusan lain, seperti urusan politik.
Ternak sapi adalah Rojo Koyo, siapa yang memiliki ternak lebih banyak, maka dia adalah negara yang kaya dan siap bersaing sebagai negara yang berkedaulatan pangan.  Jangan pernah terbuai dengan jargon ketahanan pangan, tetapi berkomitmen dan berketetapan untuk berkedaulatan pangan.

Salam moooo

07 Desember, 2011

Lumbung itu bernama, Pulau Buru

Menyusuri jalan aspal mulus sedikit berliku dari Namlea menuju Waeapo, sebuah kecamatan di Pulau Buru – Kepulauan Maluku, mata ini selalu disuguhkan dengan lahan datar disisi kiri dan kanan dengan latar belakang sebuah deretan punggung bukit sejauh mata memandang. Tanaman kayu putih –kalau boleh dibilang, hutan kayu putih, berserak diseluruh perbukitan dan menjadikannya sebagai primadona Pulau Buru, minyak kayu putih. Beberapa rumah ketel nampak disepanjang jalan menuju Kecamatan Waeapo. Semak belukar masih menjadi vegetasi dominan di tanah lapang nan datar, sementara lahan sawah dan palawija serta hortikultura menjadi raja di seputaran pemukiman masyarakat. Ditunjang dengan irigasi teknis yang baik, lahan yang masih sedikit tersentuh bahan-bahan kimia merupakan salah satu aset terbaik dalam menjadilan wilayah Pulau Buru sebagai Lumbung Pangan. Ternak sapi, kerbau dan kambing menjadi hiasan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan menjadi salah satu tulang punggung Program Swasembada Daging Sapi, sebuah Lumbung Pangan. Ternyata, tanaman coklat rakyat juga menjadi salah satu tanaman perkebunan yang diandalkan penduduk, juga ampas sagu, sungguh sebuah Lumbung Pakan Ternak. Potensi hasil samping pertanian – perkebunan yang luar biasa, sungguh sebuah kemuliaan yang terpendam, kesejahteraan tersembunyi dan kebesaran budaya masyarakat Pulau Buru yang agung. Perjalanan sampai dataran Waeapo telah memberi sebuah inspirasi bahwa ada magma tersembunyi yang siap meletuskan keberkahan bagi Indonesia.
Mewujudkan Lumbung Pangan dan Lumbung Pakan Ternak di Pulau Buru, tidak perlu menjual pulau, cukup dengan sistem kerjasama dengan investor dengan model saling menguntungkan, maka sebuah budaya ‘menyimpan’ dapat dikembangkan dan dijadikan sebagai penyangga kehidupan rakyat Indonesia.

Perubahan Paradigma Berfikir melalui Sikap Mental dan Pendidikan
Hal awal yang perlu disampaikan kepada masyarakat Pulau Buru, baik masyarakat adat ataupun masyarakat transmigrasi, adalah sosialisasi tentang potensi Pulau Buru sebagai Lumbung Pangan dan Lumbung Pakan Ternak. Sosialisasi akan merubah sikap dan mental masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang selama ini kurang dimaksimalkan penggunaannya, serta merubah paradigma masyarakat tentang penggunaan lahan yang efektif dan ekonomis. Perubahan sikap mental ini tentunya harus disertai dengan pendidikan secara berkelanjutan untuk lebih memantapkan program Lumbung Pangan dan Lumbung Pakan. Misi dan visi yang sama serta pendampingan dan bimbingan adalah kemantapan pelaksanaan mewujudkan Lumbung Pangan dan Lumbung Pakan Ternak. Pemetaan potensi lahan, mutlak dikerjakan terlebih dahulu.

Teknis Budidaya Tanaman Pangan dan Peternakan
Produktifitas lahan akan tercapai maksimal bila diiringi dengan perlakuan atas tanah dan program budidaya yang terencana, tersusun dan terpolakan dengan baik serta pelaksanaan yang terevaluasi dan terdokumentasi. Kebanyakan teknis aplikasi lahan yang sudah baik ada pada masyarakat transmigrasi yang notabene sudah memiliki kemampuan bertani dari tanah asalnya. Budidaya lahan padi sawah, palawija dan sedikit hortikultura dikembangkan melalui pengairan teknis yang baik. Ketergantungan akan sarana produksi pertanian (seperti : benih, pupuk, pestisida) terkadang menjadi kendala dalam pengembangan produksi tanaman serta akan mempengaruhi harga jual produk.
Pada masyarakat adat, teknis budidaya ini sedemikian parahnya, ketidaktahuan mereka akan teknis budidaya yang baik ditambah dengan persepsi atas kebiasaan yang keliru menyebabkan mereka sangat minim dalam melakukan olah tanah, tanaman pangan praktis hanya sagu dan kasbi (singkong) yang ditanam, itupun tanpa perawatan. Demikian pula dengan tanaman perkebunan, kebanyakan hanya tanaman cokelat yang ditanam dan dibiarkan tumbuh, bila berbuah diambil buahnya, dikupas dikebun dan bijinya dikeringkan lalu dijual. Lingkungan tanaman cokelat tidak dipupuk dan dirawat, buah cokelat yang terserang hama dibiarkan menggantung dipohon dan menjadi surat undangan bagi datangnya penyakit dan hama tanaman cokelat. Tanaman keras tidak beraturan dan dijadikan kayu. Beruntung tingkat penebangan kayu belum mencapai tahapan kritis, sehingga potensi sumber daya tanaman hutan masih dapat dipertahankan. Penerapan ladang berpindah akan dapat dikurangi sehingga potensi seluruh lahan dapat dimaksimalkan dan tingkat produktifitas yang tinggi dapat diraih.
Tanaman Padi
Sebagai tanaman pangan utama di negeri ini, pengembangan tanaman padi di Pulau Buru dapat menjadikan wilayah tersebut sebagai lumbung beras untuk kepulauan Maluku. Sumber air yang tiada berhenti akan mempermudah peningkatan produktifitas tanaman. Sayangnya, budidaya tanaman padi ini masih sedkit yang dikembangkan dengan metode SRI, beberapa lahan masih menebarkan benih setelah tanah diolah, sehingga akan terjadi perebutan unsur hara dan ketidakseragaman pertumbuhan dan hasil yang beragam per malai padi.
Pelatihan dan pendidikan untuk melakukan budidaya tanaman padi dengan metode SRI penting untuk dilaksanakan sehingga gairan petani dalam melakukan budidaya tanaman padi akan semakin meningkat demi produktifitas yang maksimal.
Tanaman Palawija
Penanaman jagung, kacang tanah, kacang kedelai dan tanaman palawija lainnya masih belum banyak dikembangkan. Karena irigasi teknis yang menjamin supply air, kebanyakan konsentrasi lahan lebih diperuntukkan pada tanaman padi sawah. Penggalakan penanaman palawija akan membuat variasi produksi tanaman dan memutus siklus perkembangan hama dan penyakit tanaman.
Tanaman Perkebunan
Kekurangtahuan masyarakat adat dalam mengembangkan tanaman perkebunan menyebabkan tanaman menjadi tidak subur, produktifitas rendah serta hasil yang diterima petani akan selalu menurun dari hari kehari. Pelatihan dan pendidikan serta pendampingan dan bimbingan kepada para petani dalam mengelola lahan cokelat mereka adalah sebuah kebutuhan sehingga potensi pengembangan tanaman cokelat semakin lama semakin baik dengan hasil yang bertambah dan berkualitas.
Tanaman Keras
Pohon meranti, mahoni, Eucaliptus sp. dan beberapa tanaman kayu lainnya dikembangkan di Pulau buru dan memiliki hasil pengembangan yang baik. Juga tanaman kayu putih yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat. Penyulingan minyak kayu putih yang dilakukan oleh masyarakat tentunya perlu ditingkatkan lebih baik melalui : (1) Penataan lokasi penanaman minyak kayu putih semata, tetapi dibuat seperti blok seperti penanaman teh. Model penanaman ini akan mempermudah teknis pemeliharaan, pemberian pupuk, pemanenan dan juga sebagai lokasi wisata alam, (2) Perbaikan model penyulingan sehingga tidak banyak energi kayu bakar yang terbuang, ampas kayu putih yang dikeringkan dibantu dengan kayu bakar atau biogas akan dapat menjadi sumber energi bagi proses pemasakan ketel minyak kayu putih. Disamping itu, model penataan dan teknis penyulingan juga harus diperbaiki, mislanya model konsensasi uap minyak kayu putih. Tanaman sagu yang diolah menjadi tepung sagu juga dapat diambil ampasnya sebagai pakan ternak.

Kelembagaan Petani
Melembagakan masyarakat petani sudah merupakan hal penting untuk dilaksanakan. Kelembagaan itu akan melahirkan sebuah potensi masyarakat untuk mandiri dan melakukan aktifitas secara dinamis. Pembentukan lembaga seperti koperasi akan mempermudah masyarakat petani dalam mengatur supply sarana produksi pertanian/peternakan, meningkatkan kualitas pasca panen, menambah nilai hasil panen dan meningkatkan nilai tawar penjualan hasil panen sehingga akan bermuara pada Kesejahteraan Masyarakat.
Lembaga Keuangan Mikro di Pulau Buru merupakan satu lembaga keuangan yang mampu menjembatani kekurangan modal dalam beraktifitas, mendisiplinkan masyarakat untuk berinvestasi dan menabung, mengembangkan usaha pertanian – peternakan – perkebunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



Integrated Farming System (Pola Pertanian Terpadu)
Pola integrasi antar komponen usaha yang dilaksanakan masyaakat Pulau Buru di bidang pertanian – perkebunan – peternakan sehingga menghasilkan produktifitas, efisiensi dan efektifitas tinggi dan memberi nilai ekonomis serta berorientasi ekologis merupakan satu keterpaduan yang akan memberi nilai kesejahteraan. Salah satu manfaat yang dapat diambil adalah ketersediaan pakan bagi ternak, pupuk organik, ketersediaan energi terbarukan, ramah lingkungan (meminimalkan limbah), bernilai edukasi – wisata dan inspiratif.
Hasil yang dapat diperoleh dari pelaksanaan Pola Pertanian Terpadu adalah :
1.Tanaman padi sawah, akan menghasilkan jerami padi. Bila biasanya jerami padi dibakar, maka untuk dijadikan sebagai pakan ternak, jerami padi perlu difermentasi terlebih dahulu. Juga untuk tanaman palawija lainnya, misalnya : batang dan daun kedelai, tongkol dan klobot jagung, daun kacang tanah.
2.Tanaman hortikultura, hasil sortir tanaman sayuran dapat dijadikan sebagai pakan ternak
3.Tanaman perkebunan, kulit buah cokelat dapat difermentasi dan dijadikan sebagai pakan ternak ruminansia
4.Kotoran ternak sapi, kerbau dan kambing dikumpulkan untuk diubah menjadi biogas sebagai sumber energi terbarukan serta didekomposisi menjadi pupuk organik padat atau difermentasi menjadi pupuk organik cair. Pupuk organik ini nantinya akan dapat digunakan sebagai sarana produksi pertanian – perkebunan serta pengembangan pestisida hayati untuk peningkatan kualitas budidaya tanaman
5.Kelembagaan petani/masyarakat akan meningkatkan kualitas keekonomian dan kesejahteraan masyarakat
6.Eduekoagrotourism. Penataan yang baik bagi lahan dan pengelolaan yang mantap serta teknis budidaya yang terorganisir akan dapat membuat Pulau Buru sebagai kawasan wisata agro sekaligus pendidikan agro yang menginspirasi pengembangan dunia pertanian Indonesia


Pengembangan Peternakan Sapi Bali
Lahan dibagi setiap luasan 2.500 m2 dan dipagar. Setiap 1 ha dijadikan sebagai satu cluster pemeliharaan.
Setiap cluster dibagi empat petak @100 ekor induk dan 4 ekor pejantan, masing-masing petak dibagi menjadi empat lokal @25 ekor induk dan 1 ekor pejantan, total = 400 ekor induk dan 16 ekor pejantan, seluruh ternak diidentifikasi lengkap
Pada bagian tengah cluster, dipersiapkan tempat pakan dan tempat minum
Seluruh ternak sapi dijaga kesehatan dan dibiarkan untuk melakukan aktifitas perkawinan alam
Pada masing-masing petak disiapkan shelter sebagai lokasi istirahat ternak
Setiap ternak yang beranak, diidentifikasi anakannya dan dibiarkan bersama induknya sampai umur 6 bulan
Setelah 6 bulan, anak sapi dipisahkan antara anakan jantan dan anakan betina dan dipelihara pada lokasi yang berbeda. Anakan betina dipelihara pada lokasi berkelompok, sementara anakan jantan dipelihara secara berkelompok sampai umur 12 bulan, diatas 12 bulan dipelihara secara individu
Anakan betina yang dibesarkan, nantinya diidentifikasi dan dijadikan sebagai calon indukan baru
Sementara anakan jantan dikandangkan sampai siap potong, kualifikasi jantan terbaik dapat dijadikan sebagai sumber pejantan baru





Palang luar tempat pakan :

Palang I = tinggi 40 cm dari tempat pakan untuk menjaga ternak tidak masuk ketempat
pakan
Palang II = tinggi 50 cm dari palang I untuk menjaga ternak tidak keluar kandang
Tinggi tempat pakan dari lantai 60 cm dengan lebar 1 meter, terbuat dari bilah papan yang diserut halus dan dibuat seperti bak dengan konstruksi yang kuat untuk menahan bobot rumput dan air minum dalam ember yang akan diberikan kepada tenak
Pada sisi samping dan belakang juga disiapkan palang penghalang dengan tiga baris palang yang berjarak masing-masing : 40 cm
Perlu dipersiapkan juga pintu masuk dan keluar ternak untuk mempermudah akses ternak



Bangunan lain yang penting untuk dipersiapkan adalah :
1.Gudang pakan dan pemotongan rumput
2.Lokasi komposting dan biogas
3.Lokasi kantor dan penimbangan ternak

04 Desember, 2011

Ketel, Sapi, Kerbau dan Kesejahteraan - Expedisi Waeapo




Kami mengunjungi sebuah rumah ketel minyak kayu putih yang sederhana dan memberi sebuah gambaran yang cukup menyesakkan .. betapa tidak, setiap petani yang terdiri dari penduduk asli, melakukan penyulingan minyak kayu putih dengan membawa keluarga (istri, anak-anak) serta seluruh perbekalan yang memenuhi lokasi ketel. Bila dilihat dari proporsi antara ketel – gudang daun kayu putih – kamar/lokasi tidur – dapur, maka terlihat betapa tidak efisiennya pengelolaan minyak kayu putih yang dilakukan mereka. Ruang tungku – ketel – bak konsensasi memakan sekitar 20% total ruangan. Model pergudangan sementara daun kayu putih merupakan beberapa kotal dengan tinggi sisi dinding sekitar 50cm terdiri atas 6 – 8 bak berukutan 2x2meter dan tentunya akan memuat daun kayu putih yang terbatas. Total pergudangan mencapai sekitar 50% luasan. Selebihnya adalah ruang sosial yang sebenarnya dapat diperingkas. Beberapa hal yang boleh jadi dapat dilakukan untuk meningkatkan produktifitas adalah :
1. Perbaikan kondisi ketel dan tungku, tungku yang digunakan dapat menggunakan bahan bakar berupa ampas hasil penyulingan yang sudah dikeringkan sehingga menghemat kayu bakar, ditambah dengan luasan tungku yang sebenarnya dapat menampung lebih dari satu ketel. Kondisi ketel dapat dirubah melalui penggunaan ketel stainsteel berbentuk buah labu yang dapat menggunakan system uap langsung atau steam dengan kapasitas tampung yang lebih besar (saat ini daya tampung ketel sekitar 200-220kg sekali masak). Selain itu penataan daun kayu putih juga dapat diperbaiki sehingga proses penguapan berlangsung maksimal dan berhasil baik. Hal penting lagi adalah dengan menutup ketel dan jaringan instalasi dari kemungkinan terjadi penguapan.
2. Kondensasi uap kayu putih yang dapat disetting dengan memperbaiki model pipa/selang kondensasi yang pendek dan berpotensi memberi kadar air lebih pada minyak dengan menggunakan selang kuningan yang dibentuk seperti spiral dan masuk kedalam bak kondensasi dalam beberapa putaran.
3. Kelembagaan Penyuling Minyak Kayu Putih. System ekonomi perminyakan kayu putih yang sangat mungkin untuk dilaksanakan dan segera direalisasikan. Tata kelola penduduk asli dalam melakukan penyulingan membuat tingkat perekonomian mereka menjadi sangat terganggu dan tidak memberi hasil maksimal. Kelembagaan akan membuat para petani minyak kayu putih mampu melakukan sebuah system produksi yang baik, manajemen keuangan yang membuat mereka memiliki simpanan dan pengembangan usaha. Kebiasaan mereka dalam berhutang bahan pokok menjadikan beban dalam pendapatan serta penurunan nilai tawar. Sebagai perhitungan, untuk memberangkatkan diri dan keluarga ke rumah ketel, menyewa ketel, mereka melakukan kasbon bahan pokok rata-rata sebesar Rp 200.000 dengan hasil minyak sekitar 5 liter @Rp 115.000 = Rp 575.000, saldo Rp 375.000 hasil ini tentunya akan memberi nilai ekonomi yang jauh dari kelayakan sebuah keluarga, apalagi mereka tidak dapat melakukan penyulingan setiap hari, harus bergantian dengan penyuling yang lain. Berbeda dengan penyuling minyak kayu putih yang berasal dari Pulau Jawa, mereka melakukan aktifitas penyulingan dengan berangkat ke rumah ketel tanpa didampingi istri sehingga perbekalan yang diperlukan juga sedikit (sekitar Rp 300.000 selama 10 hari) dengan hasil minyak sekitar 15 liter, maka nilai keekonomian yang mereka peroleh juga sangat kentara. Kelembagaan petani ini juga dapat digunakan untuk komoditas lain, misalnya kakao, kasbi (singkong), kacang mete, jeruk dan tanaman pangan – hortikultura – perkebunan lainnya. Kebersamaan petani adalah momok bagi pengusaha “hitam” yang kebanyakan hanya memeras keringat mereka. Pembinaan dan pendampingan kepada petani adalah tugas bersama untuk menjadikan mereka sebagai sebuah komunitas petani kayu putih yang tangguh

Selepas menyelesaikan tugas, malam harinya beberapa orang petani mengundang kami berpesta durian … wow, nyummmmyyy sangat.



Keesokan harinya, kami kembali mengunjungi Pak Wakil Belen yang merupakan peternak sapi Bali di kampong Dalam Desa Basalale. Dari pengamatan visual dan pemeriksaan ternak, dapat disimpulkan terjadi infeksi cacing perut dan cacing hati pada hampir kebanyakan ternak. Infeksi cacing hati sudah menyebabkan terjadinya kebutaan pada ternak sapi Bali … benar-benar ironis, pengembangan peternakan di Indonesia Timur di pulau yang dahulunya pernah menjadi pulau buangan ini sangat memprihatinkan, padahal potensi Pulau Buru untuk menjadi daerah pusat pembibitan ternak sapi potong sangat memungkinkan dan memiliki nilai yang manstaf dalam mengembangan peternakan berbasis pertanian terpadu mengingat potensi pakan yang luar biasa (sawah padi, hortikultura, sagu, kemungkinan mengembangkan hijauan makanan ternak). Pengembangan kerbau juga dapat menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan di Pulau Buru, juga kambing dan ayam kampung.

16 Agustus, 2010

Acetonaemia (Ketosis) Pada Ternak Laktasi


Nicky Stone, Ballarat
Updated: July 2007 AG0210 ISSN 1329-8062 © State of Victoria, Department of Primary Industries


A very distinct problem for dairy cows is the disease of ketosis (or acetonaemia). The occurrence of this disease in dairy cows is related to an increased demand for glucose by the animal. Ketosis also occurs in other animals and the problem is known by various names, eg, regnancy toxaemia in ewes.


Kejadian ketosis terjadi pada ternak sapi laktasi atau sapi dengan kondisi nutrisi buruk. Tanda-tanda penyakit dapat dilihat sebelum melahirkan anak sapi, tetapi paling sering terjadi di bulan pertama setelah melahirkan anak sapi dan kadang-kadang di bulan kedua. Dalam ternak berkelompok, ketosis terjadi secara sporadis hanya pada ternak yang terjangkit, atau endemik dengan banyak sapi yang terjangkit.

Penyebab Ketosis
Penyakit ini merupakan perpanjangan dari proses metabolisme normal yang terjadi pada ternak sapi laktasi. Ketosis adalah masalah kekurangan glukosa (atau gula) dalam darah dan jaringan tubuh. Glukosa dihasilkan oleh sapi dari karbohidrat yang merupakan komponen utama padang gembala dan tambahan lain yang terdapat pada pakan. Pada masa bunting tua, glukosa digunakan untuk fungsi ideal tubuh dan perkembangan pedet. Saat masa laktasi, glukosa berperan dalam pembentukan lactose (gula susu) dan lemak susu. Penggunaan glukosa yang tinggi akan menyebabkan kondisi gula dalam darah akan menurun. Lima puluh gram glukosa diperlukan untuk pembentukan setiap liter susu dengan 4,8% laktosa dan 30 gram untuk setiap liter susu dengan 4% kandungan lemak. Ternak sapi (ruminants dan lainnya) tidak dapat diberi pakan glukosa, dalam bentuk karbohidrat yang akan diurai dalam rumen menjadi glukosa. Jika jumlah karbohidrat dalam pakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam susu sapi, maka akan hati akan membentuk glukosa dari bahan lain - lemak cadangan. Sayangnya peningkatan produksi oleh hati akan menimbulkan hasil lain yang disebut dengan badan Ketone. Kemudian bersama dengan kurangnya level gula darah, menyebabkan tanda-tanda penyakit.
Ketosis utama, seperti yang dijelaskan, terjadi ketika produksi tinggi
sapi tidak hanya dapat makan karbohidrat cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, atau di mana pakan yang dberikan memiliki kandungan karbohidrat yang kurang. Ketosis sekunder dapat juga terjadi jika penyebab penyakit yang membuncah di pencernaan atau
metabolisme dari karbohidrat oleh sapi. Hal ini dapat terjadi meskipun jumlah karbohidrat dimakan terlihat cukup untuk fungsi tubuh normal. Penyakit utama yang terjadi selain ketosis adalah kelainan dari keempat perut, radang selaput, radang kelenjar dada, metritis, milk fever dan kurangnya nafsu makan sapi dalam waktu yang cukup panjang.

Tanda-tanda
1.kurang nafsu makan
2.produksi susu turun
3.sering menggoyangkan kaki/kepala
4.nafas ternak berbau
5.pemulihan akan sangat lama dan bila kembali sehat, tidak akan seperti sedia kala

Akibat yang ditimbulkan
1.kebutaan
2.tulang keropos
3.gerakan aneh pada lidah
4.perubahan pada kulit
5.melakukan hentakan-hentakan untuk sesuatu yang tidak jelas

Diagnosa penyakit
•tanda terserang ketosis baru dapat diketahui pada saat ternak akan mendekati puncak produksi
•tetapi pengamatan pada gangguan sekunder dapat digunakan, seperti : radang kelenjar dada

Perawatan
•tujuan awal perawatan adalah pengembalian kekurangan glukosa dalam tubuh.
•Pemberian suplemen glukosa melalui intra vena
•Pemberian Propylene glycol atau gliserin per oral selama dua empat hari.
•therapy hormonal dengan corticosteroids yang diimbangi dengan pemberian pakan berkarbohidrat tinggi
•pencegahan ketosis adalah hal yang sangat penting, melalui perbaikan pakan dan manajemen yang memadai
•pemberian makanan tambahan dengan kandungan karbohidrat tinggi sangat penting dengan pemberian bahan pakan berkualitas tinggi, seperti : silage, biji-bijian atau gandum.
•Kondisi tubuh sapi adalah saat melahirkan pedet harus mendapat asupan nutrisi yang baik. Begitu pula setelah melahirkan, sapi yang memiliki potensi untuk mencapai produksi maksimum, harus mendapat asupan pakan dengan kandungan energy yang tinggi. Melalui pemberian suplemen energi yang diperlukan
•Pemberian pakan kualitas baik setidaknya terus menerus diberikan sampai
puncak laktasi tercapai. Program pencegahan yang terbaik adlah pemberian Propylene glycol per oral segera setelah melahirkan anak sapi

Penulis asli ini adalah Dr George Miller, dan versi sebelumnya dimuat di September 1998.

19 Mei, 2010

Mengurai Carut Marut Persapian Indonesia



Tantangan Peternakan Indonesia

Persapian Indonesia sebenarnya tetap terkungkung pada permasalahan klasik yang sebenarnya selalu menjadi ‘pekerjaan rumah’ seluruh stake holder persapian Indonesia. Sayangnya, negara ini tidak serius dan tidak berkeinginan besar untuk menjadikan persapian Indonesia menjadi lebih baik.

Tataniaga
Permasalahan ini masih sangat menganggu dan terus menghantui perkembangan usaha peternakan sapi. Proses distribusi persapian Indonesia menunjukkan betapa lemahnya tataniaga daging dan susu di bumi nusantara ini. Nilai permintaan dan penawaran pada beberapa produk daging dan susu lebih mengarah pada sistem kartel dan monopoli sehingga banyak kepentingan yang terjadi dalam ranah perkembangan ternak sapi Indonesia. Harga daging yang saat ini tertekan akibat banjirnya daging impor dan aliran ternak impor, penerimaan susu oleh Industri Pengolahan Susu yang tidak berpihak pada peternakan rakyat memberi signal-signal yang jelas bagi perlemahan nilai-nilai peternakan sapi Indonesia

Egosektoral
Hampir kebanyakan stake holder di republik ini melakukan usaha dan kebijakan perkembangan persapian nasional hanya sebatas pada kepentingan golongan/kelompok semata. Keinginan menjadi yang terbaik dengan mengabaikan sebuah kolaborasi yang manis menjadikan kesatuan misi dan visi dalam merealisasikan kemandirian persapian nasional hanya sebuah utopia semata

Penegakan Aturan
Seluruh aktifitas perkembangan persapian nasional sampai saat ini masih diwarnai dengan berbagai pelanggaran dan hal ini menyebabkan terjadinya stagnasi atau hal yang lebih buruk lagi. Pemotongan ternak betina terjadi karena penegakan aturan hukum yang setengah-setengah, dilanggarnya konsep karantina hewan di Indonesia, protokol impor serta beberapa kegiatan ‘hanky panky’ dalam persapian Indonesia merupakan cermin betapa penegakan aturan masih sangat lemah dan penih pensiasatan

Ketidakjelasan Program Pemerintah
Pemerintah sebagai regulator perkembangan persapian Indonesia, kadang kala masih melakukan program-program yang tidak jelas arah dan tujuannya. Konsep pengembangan peternakan sapi potong dengan memberlakukan impor sapi Brahman Cross betina bunting sungguh sangat tidak bijak, karena evaluasi terhadap nilai kebuntingan kembali sangat rendah dan tidak pernah terlaporkan secara gamblang. Proses pengadaan ternak inipun sangat tidak masuk akal, seekor ternak betina produktif dengan harga pengadaan seperti ternak potong adalah sebuah hal yang menggelikan. Juga program kebijakan pendanaan bagi masyarakat peternakan Indonesia yang belum memberikan penyegaran. Aturan-aturan yang tidak jelas, pembatasan-pembatasan yang sangat kabur serta ketidakberanian pemerintah dalam menentukan keputusan merupakan pemicu ketidakberhasilan program pemerintah

Penyediaan pakan ternak
Tentunya sebagai salah satu hal penting dalam segitiga produksi, penyediaan pakan ternak merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Penelitian-penelitian tentang pakan ternak ruminansia dari berbagai bahan hasil samping usaha dan agroindustri pertanian – perkebunan menunjukkan betapa potensi pakan ternak merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Akhirnya, akhir-akhir ini banyak hasil samping usaha dan agroindustri pertanian – perkebunan diekspor keluar negeri sebagai pakan ternak, sementara di dalam negeri, ‘sapi makan sapi’ menjadi fenomena umum saat musim kemarau

Pendampingan dan bimbingan
Peternakan rakyat saat ini masih menjadi obyek persapian Indonesia. Mereka masih berada dibawah kendali tataniaga yang dikuasai oleh pemodal kuat dan perusahaan besar milik pebisnis sapi. Kebanyakan Koperasi Unit Desa sebagai pengayom mereka belum menunjukkan fungsi dan peran seperti yang diharapkan. Ketiadaan pendampingan dan pembimbingan kepada peternakan rakyat menjadikan kualitas reproduktif ternak sapi menurun, pemotongan ternak betina produktif, ketidakmampuan dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi air susu dan rendahnya nilai tawar peternakan rakyat adalah bukti konkret yang patut digarisbawahi

Solusi jitu peternakan sapi Indonesia

Pemetaan Ternak
Masing-masing wilayah melakukan pemetaan atas ternak sapi, mengenai jumlah, jenis kelamin, kondisi (kapita selekta) dan kebutuhan masing-masing wilayah
Perbaikan Tataniaga
Berdasarkan pemetaan yang ada, dapat ditentukan besaran kebutuhan ternak sapi, daging dan produk olahan ternak sapi sehingga harga penawaran yang diberikan peternak/penjual dapat bersanding ideal dengan harga permintaan dari konsumen, termasuk didalamnya proses rantai distribusi yang biasa terjadi agar dapat diatur sehingga tidak merugikan peternak sebagau hulu distribusi produk peternakan

Penegakan Aturan
Sudah saatnya kita kembali pada posisi yang mantap dalam menjalankan aturan. Aturan dan kebijakan peternakan merupakan rambu-rambu hukum dalam melakukan usaha ternak yang terarah, terencana dan tertata. Melalui penegakan aturan yang ketat, peternakan Indonesia akan menuju kearah yang lebih profesional, sehingga model perdagangan dengan negara lain juga dapat dilakukan secara berimbang dan saling menguntungkan

Program Pemerintah yang Mantap
Program pemerintah tentang perkembangan peternakan sapi harus ditetapkan dengan pertimbangan yang penuh, penguasaan kondisi lapangan yang menyeluruh serta aktifasi pihak ketiga yang idependen dalam mendampingi pelaksanaan program. Evaluasi program adalah salah satu hal yang harus dilakukan sebagai bukti bahwa program yang dilakukan harus mendapatkan penilaian untuk menjadi referensi shahih bagi program selanjutnya yang lebih baik. Bank permasalahan dan solusi dari masa ke masa kepemimpinan di pemerintahan hendaknya perlu dilakukan sehingga menjadi lebih baik dan lebih baik adalah tujuan utama yang diraih

Pertanian Terpadu
Pola integrasi antar komponen yang ada pada sebuah usaha peternakan sehingga menghasilkan produktifitas, efisiensi dan efektifitas tinggi dan memberi nilai ekonomis serta berorientasi ekologis merupakan satu keterpaduan yang akan memberi nilai kesejahteraan. Salah satu manfaat yang dapat diambil adalah ketersediaan pakan bagi ternak, pupuk organik, ketersediaan energi terbarukan, ramah lingkungan (meminimalkan limbah), bernilai edukasi – wisata dan inspiratif

Pendampingan dan Bimbingan
Pendampingan petani/peternak akan membuat organisasi petani/peternak menjadi kuat dan transfer informasi, teknologi tepat guna serta komunikasi dengan jalur distribusi akan semakin efektif dan nilai jual produk berbanding lurus dengan kualitasnya. Bimbingan bagi para pelaku dibidang pertanian/peternakan akan mendorong kemajuan dan memberi kenyamanan dalam mengembangkan usaha. Bimbingan yang terus menerus akan membuat pemberdayaan petani/peternak semakin besar dan kuat.

Mengenai Saya

Foto saya
keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...

COWMANIA

COWMANIA