SAPI POTONG (Bos sp.)
I. UMUM
1.1. Sejarah Singkat
Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.
1.2. Sentra Peternakan
Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia.
Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.
1.3. Jenis
Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).
Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.
Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.
Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.
1.4. Manfaat
Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.
Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:
a) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.
b) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan garang kerajinan
c) Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.
II. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya.
Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah.
Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.
a) Konstruksi dan letak kandang
Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.
Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.
Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan tidak boleh kehabisan setiap saat.
Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.
b) Ukuran Kandang
Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5x1 m.
c) Perlengkapan Kandang
Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai. Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.
3.2. Pembibitan
Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
a) Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
b) Matanya tampak cerah dan bersih.
c) Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
d) Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
e) Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
f) Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
g) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
h) Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.
Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
a) tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.
b) kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
c) laju pertumbuhannya relatif cepat.
d) efisiensi bahannya tinggi.
3.3. Pemeliharaan
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.
Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.
3.3.1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
3.3.2. Pemberian Pakan
Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot fattening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.
Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.
Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.
Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.
Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.
Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.
3.3.3. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
3.4. Hama dan Penyakit
3.4.1. Penyakit
a) Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
b) Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE. Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
c) Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
d) Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
3.4.2. Pengendalian
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
a) Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
b) Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
c) Mengusakan lantai kandang selalu kering.
d) Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.
3.5. Panen
3.5.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya
3.5.2. Hasil Tambahan
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.
3.6. Pascapanen
3.6.1. Stoving
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
a) Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan
b) Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
c) Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
d) Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
3.6.2. Pengulitan
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
3.6.3. Pengeluaran Jeroan
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.
3.6.4. Pemotongan Karkas
Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.
Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.
Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%). Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %
Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).
IV. GAMBARAN PELUANG AGRIBISNIS
Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.
Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :
Konsumen Akhir
Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total. Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :
1. Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )
Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.
2. Konsumen asing
Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan.
b) Konsumen Industri
Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat
Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi.
V. REFERENSI
5.1. Daftar Pustaka
a) Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.
b) Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.
c) Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka
d) Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta.
e) Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.
f) Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.
20 Maret, 2010
SAPI PERAH
SAPI PERAH
1.1. Sejarah Singkat
Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.
Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni.
Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.
1.2. Sentra Peternakan
Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang. Produksi susu sapi di PSPB masih kurang dari 10 liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari (rata-ratanya hanya 5-8 liter/hari).
1.3. Jenis
Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia).
Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.
1.4. Manfaat
Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber protein, susu, kulit yang dimanfaatkan untuk industri dan pupuk kandang sebagai salah satu sumber organik lahan pertanian.
II. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
3.2. Pembibitan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah: (a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan (h) tiap tahun beranak.
Sementara calon induk yang baik antara lain: (a) berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi, (b) kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar, (c) jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar, (d) pertumbuhan ambing dan puting baik, (e) jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta (f) sehat dan tidak cacat.
Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) umur sekitar 4-5 tahun, (b) memiliki kesuburan tinggi, (c) daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya, (d) berasal dari induk dan pejantan yang baik, (e) besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik, (f) kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat, (g) muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, (h) paha rata dan cukup terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar, (j) badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta (k) sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
3.2.1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.
Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
3.2.2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan temperamennya.
3.2.3. Sistim Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.
3.3. Pemeliharaan
3.3.1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan.
Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.
3.3.2. Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar).
Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.
3.3.3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
• sistem penggembalaan (pasture fattening)
• kereman (dry lot fattening)
• kombinasi cara pertama dan kedua.
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB.
Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara.
Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.
3.3.4. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
3.4. Hama dan Penyakit
3.4.1. Penyakit
a. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
b. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE. Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
c. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
d. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
3.4.2. Pencegahan Serangan
Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering.
3.5. Panen
3.5.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina.
3.5.2. Hasil Tambahan
Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.
3.6.Pascapanen
IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA PETERNAKAN
4.1. Analisis Usaha Budidaya
Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.
Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini.
Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering
4.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansi-instansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.
V. REFERENSI
5.1. Daftar Pustaka
Anonim. [ ]. Pedoman beternak sapi perah. Purwokerto, Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak. 2 hal. (brosur).
Anonim. 1983. Petunjuk cara-cara penggunaan obat-obatan ternak. Samarinda, Dinas Peternakan Kalimantan Timur. 12 hal.
Anonim. 1988. Kondisi peternakan sapi perah dan kualitas susu di pulau Jawa. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 39-40.
Anonim. 1988. Pemerahan, satu faktor penentu jumlah air susu. Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 23-24.
Anonim. 1988. Upaya peningkatan kesejahteraan peternak melalui peningkatan efisiensi produksi. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 16-24.
Bandini, Yusni. 1997. Sapi Bali. Cet 1. Jakarta, Penebar Swadaya. 73 hal.
Church, D.C. 1991. Livestock feeds and feeding. 3 ed. New Jersey, Prentice-Hall, Inc.: 278-279.
Djaja, Willian. 1988. Hidup bersih dan sehat di peternakan sapi perah. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 25-26.
Djarijah, Abbas Sirega. 1996. Usaha ternak sapi. Yogyakarta, Kanisius. 43 hal.
Fox, Michael W. 1984. Farm animals: husbandry, behavior, and veterinary practice. Baltimore Maryland, University Park Press: 82-112; 150.
Ginting, Eliezer. 1988. Bimbingan dan penyuluhan usaha sapi perah rakyat di Jawa Timur. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 27-33.
Hehanussa, P.E. 1995. Rencana induk Life Science Center-Cibinong. Limnotek, 3 (1) 1995: 1-34.
Hermanto. 1988. Bagaimana cara penanganan sapi perah pada masa kering? Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 24-25.
Nienaber, J.A., et al. 1974. Livestock environment affects production and health. Proceedings of the International Livestock Environment Conference. St. Joseph, American Society of Agricultural Engineers.
Pane, Ismed. 1986. Pemuliabiakan ternak sapi. Jakarta, PT. Media: 1-38; 133.
Sabrani, M. 1994. Teknologi pengembangan sapi Sumba Ongole. Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: 15-26.
Suryanto, Bambang; Santosa, Siswanto Imam; Mukson. 1988. Ilmu Usaha Peternakan. Semarang, Fakultas Peternakan UNDIP. 63 hal.
Warudjo, Bambang 1988. Kualitas dan harga susu. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 34-38.
5.2. Personil
Tri Margono d/a Puslitbang Bioteknologi LIPI Peternakan sapi perah P3-Biotek (PSPBdi Cibinong)
1.1. Sejarah Singkat
Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.
Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni.
Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.
1.2. Sentra Peternakan
Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang. Produksi susu sapi di PSPB masih kurang dari 10 liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari (rata-ratanya hanya 5-8 liter/hari).
1.3. Jenis
Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus.
Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia).
Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.
1.4. Manfaat
Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber protein, susu, kulit yang dimanfaatkan untuk industri dan pupuk kandang sebagai salah satu sumber organik lahan pertanian.
II. PERSYARATAN LOKASI
Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.
Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
3.2. Pembibitan
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah: (a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi, (d) bentuk tubuhnya seperti baji, (e) matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat, (f) ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek, (g) tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan (h) tiap tahun beranak.
Sementara calon induk yang baik antara lain: (a) berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi, (b) kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar, (c) jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup lebar, (d) pertumbuhan ambing dan puting baik, (e) jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta (f) sehat dan tidak cacat.
Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut: (a) umur sekitar 4-5 tahun, (b) memiliki kesuburan tinggi, (c) daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya, (d) berasal dari induk dan pejantan yang baik, (e) besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik, (f) kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat, (g) muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, (h) paha rata dan cukup terpisah, (i) dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar, (j) badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar, serta (k) sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.
3.2.1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.
Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit. Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.
3.2.2. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan temperamennya.
3.2.3. Sistim Pemuliabiakan
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.
3.3. Pemeliharaan
3.3.1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan.
Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.
3.3.2. Perawatan Ternak
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar).
Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.
3.3.3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
• sistem penggembalaan (pasture fattening)
• kereman (dry lot fattening)
• kombinasi cara pertama dan kedua.
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB.
Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara.
Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.
3.3.4. Pemeliharaan Kandang
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
3.4. Hama dan Penyakit
3.4.1. Penyakit
a. Penyakit antraks
Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan. Gejala: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman. Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
b. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE. Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan. Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.
c. Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)
Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri. Gejala: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam. Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.
d. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor. Gejala: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.
3.4.2. Pencegahan Serangan
Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering.
3.5. Panen
3.5.1. Hasil Utama
Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina.
3.5.2. Hasil Tambahan
Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.
3.6.Pascapanen
IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA PETERNAKAN
4.1. Analisis Usaha Budidaya
Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.
Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini.
Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering
4.2. Gambaran Peluang Agribisnis
Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansi-instansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.
V. REFERENSI
5.1. Daftar Pustaka
Anonim. [ ]. Pedoman beternak sapi perah. Purwokerto, Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak. 2 hal. (brosur).
Anonim. 1983. Petunjuk cara-cara penggunaan obat-obatan ternak. Samarinda, Dinas Peternakan Kalimantan Timur. 12 hal.
Anonim. 1988. Kondisi peternakan sapi perah dan kualitas susu di pulau Jawa. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 39-40.
Anonim. 1988. Pemerahan, satu faktor penentu jumlah air susu. Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 23-24.
Anonim. 1988. Upaya peningkatan kesejahteraan peternak melalui peningkatan efisiensi produksi. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 16-24.
Bandini, Yusni. 1997. Sapi Bali. Cet 1. Jakarta, Penebar Swadaya. 73 hal.
Church, D.C. 1991. Livestock feeds and feeding. 3 ed. New Jersey, Prentice-Hall, Inc.: 278-279.
Djaja, Willian. 1988. Hidup bersih dan sehat di peternakan sapi perah. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 25-26.
Djarijah, Abbas Sirega. 1996. Usaha ternak sapi. Yogyakarta, Kanisius. 43 hal.
Fox, Michael W. 1984. Farm animals: husbandry, behavior, and veterinary practice. Baltimore Maryland, University Park Press: 82-112; 150.
Ginting, Eliezer. 1988. Bimbingan dan penyuluhan usaha sapi perah rakyat di Jawa Timur. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 27-33.
Hehanussa, P.E. 1995. Rencana induk Life Science Center-Cibinong. Limnotek, 3 (1) 1995: 1-34.
Hermanto. 1988. Bagaimana cara penanganan sapi perah pada masa kering? Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 24-25.
Nienaber, J.A., et al. 1974. Livestock environment affects production and health. Proceedings of the International Livestock Environment Conference. St. Joseph, American Society of Agricultural Engineers.
Pane, Ismed. 1986. Pemuliabiakan ternak sapi. Jakarta, PT. Media: 1-38; 133.
Sabrani, M. 1994. Teknologi pengembangan sapi Sumba Ongole. Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: 15-26.
Suryanto, Bambang; Santosa, Siswanto Imam; Mukson. 1988. Ilmu Usaha Peternakan. Semarang, Fakultas Peternakan UNDIP. 63 hal.
Warudjo, Bambang 1988. Kualitas dan harga susu. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 34-38.
5.2. Personil
Tri Margono d/a Puslitbang Bioteknologi LIPI Peternakan sapi perah P3-Biotek (PSPBdi Cibinong)
Label:
air susu,
bibit,
peluang,
sapi perah
13 Maret, 2010
MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT???
Dear friends..... .
Terlampir kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya
dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). Semoga kita dapat mengambil pelajaran
Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis
Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana diIndonesia. Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali. Silahkan baca dan dihayati.
MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT???
Sebuah perenungan, Buat para suami dan calon suami baca ya....istri & calon istri juga boleh...
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi,usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran menyuapi dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur.Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun,dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka,sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari...ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yang sulung berkata "Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak ....... bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" .Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian".
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga ana-anaknya: "Anak-anakku ........... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah ..... tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian .. ..(sejenak kerongkongannya tersekat,) ..... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti Ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit."Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno .. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa .. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita."Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.
Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya,dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama... dan itu merupakan ujian bagi saya,apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit..."
Terlampir kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya
dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). Semoga kita dapat mengambil pelajaran
Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis
Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana diIndonesia. Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali. Silahkan baca dan dihayati.
MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT???
Sebuah perenungan, Buat para suami dan calon suami baca ya....istri & calon istri juga boleh...
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi,usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran menyuapi dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur.Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun,dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka,sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari...ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yg cukup hati-hati anak yang sulung berkata "Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak ....... bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" .Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian".
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga ana-anaknya: "Anak-anakku ........... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah ..... tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian .. ..(sejenak kerongkongannya tersekat,) ..... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti Ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit."Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno .. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu..
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa .. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita."Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan.
Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya,dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama... dan itu merupakan ujian bagi saya,apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit..."
Pakan dan Manajemen Pedet
Pakan dan Manajemen Pedet
umur 0 – 3 bulan
Donna M. Amaral-Phillips, Patty B. Scharko, John T. Johns, and Sharon Franklin
Masa depan produktifitas sebuah peternakan sapi perah, ternak induk merupakan gambaran investasi keuangan yang sangat penting dalam hal pakan dan tenaga kerja. Nilai investasi ini perlu dijaga melalui manajemen pemeliharaan dan pakan untuk memberi pertumbuhan nilai ekonomis dan kemampuan untuk beranak pada umur 24 bulan.
Bulan pertama, kedua sampai ketiga merupakan periode kritis untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik.
Program Pakan Pada Masa Kering
Aplikasi terbaik untuk pakan dan pemeliharaan ternak, dimulai saat induk berada pada masa dua bulan sebelum beranak. Pertumbuhan janin terjadi pada masa itu dan diperlukan zat makanan yang penting untuk masa pertumbuhan. Program manajemen ini juga akan memberi pengaruh pada kualitas dan jumlah antibody yang terkandung didalam kolostrum, sebagai susu pertama untuk pedet yang memberi nilai bagi kesehatan pedet setelah dilahirkan.
Pemeliharaan di masa kering memerlukan keseimbangan ransum dan memberi dorongan untuk pertumbuhan janin. Jika induk mendapatkan pakan dengan kandungan energi dan atau protein yang rendah, maka janin boleh jadi akan tetap berkembang seperti pada umumnya, tetapi induk akan menggunakan cadangan dari tubuhnya atau keperluan pertumbuhannya untuk menjamim perkembangan kandungannya. Intinya, pertumbuhan janin memerlukan prioritas zat makanan dari pada pertumbuhan induknya atau penjagaan kondisi tubuh induk. Induk yang mendapatkan jumlah pakan yang kurang akan mengalami banyak permasalahan saat persalinan. Pada induk yang tua, mereka akan menggunakan cadangan tubuh, seperti lemak dan protein dan cadangan ini tidak akan mencukupi untuk produksi susu.
Pesan penting yang disampaikan, bahwa kekurangan pakan pada ternak yang bunting tua tidak akan menyebabkan pedet lahir dalam keadaan kecil, tetapi penampilan produksi induk akan menurun setelah bersalin. Mineral dan vitamin sangat penting bagi ternak bunting tua dan perkembangan janin serta akan mengurangi permasalahan kesehatan, seperti pencegahan terjadinya retensio placenta, meningkatnya sistem immun sehingga ternak dapat melawan gangguan penyakit, seperti mastitis sebelum atau setelah beranak. Kekurangan mineral seperti fosfor, mangan, kobalt, tembaga, seng dan selenium dapat menyebabkan defisiensi pada pedet yang dilahirkan.
Hal yang paling efektif untuk mencegah terjadinya diare adalah dengan melakukan vaksinasi pada ternak bunting tua dengan vaksin diare sebelum beranak. Induk dewasa harus diinjeksi 4 – 6 minggu sebelum bersalin. Induk divaksin dua bulan sebelum beranak dan diulang kembali satu bulan sebelum bersalin. Vaksin diare mengandung rota dan corona virus, E. Coli dan atau Clostridium perfingens. Konsultasi dengan dokter hewan sangat diperlukan.
Penjagaan Pedet
Saat setelah persalinan, pedet harus dijaga dari terjadinya komplikasi. Induk harus bersalin dalam keadaan bersih, kering, diberi bantalan dari hamparan jerami atau serbuk gergaji. Kandang beranak berukuran 50 – 60 m2 dengan penerangan yang cukup, sirkulasi udara yang baik dan bebas debu. Induk dapat juga bersalin di luar kandang asalkan tidak terdapat gangguan angin yang kencang.
Pedet yang baru lahir akan segera bernafas sesaat setelah tali plasentanya terputus. Lendir sekitar hidung harus segera disingkirkan, jangan membopong pedet melalui ketiak atau dengan mengangkatn kaki belakang, pastikan pedet sudah berada pada kondisi yang aman untuk dibopong. Segera setelah beranak, celupkan 7% iodine tincture pada tali pusat pedet. Induk akan menjilati pedetnya sampai bulunya mengering, pada suhu yang dingin atau bila induk tidak mau menjilati pedetnya, gunakan kain kering untuk menyeka tubuh pedet. Hal ini bukan semata untuk mengeringkan bulu pedet, tetapi untuk merangsang sirkulasi darah. Umumnya, pedet segara dipisahkan dari induknya sesaat setelah selesai dijilat dan bulunya mengering.
Konsumsi Kolostrum = Bertahan Hidup
Kolostrum disekresi oleh glandula mamary segera sebelum dan setelah persalinan. Kolostrum yang sebenarnya disekresi hanya saat perahan pertama, setelah 1,5 sampai dua hari kemudian, dinamakan susu transisi. Kolostrum diperuntukkan kepada pedet sebagai makanan utama. Seperti pada tabel 2., kolostrum mengandung dua kali atau lebih bahan kering dan total bahan padat, dua – tiga kali lebih banyak mineral dan lima kali lebih banyak protein dari susu pada umumnya. Kolostrum juga mengandung berbagai hormon dan pemicu pertumbuhan yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan saluran pencernaan. Kolostrum memiliki kandungan laktosa lebih rendah sehingga mengurangi terjadinya gangguan diare. Susu yang diperah setelah masa awal pemerahan memiliki kualitas yang rendah dan sebaiknya tidak diberikan sebagai makanan bagi pedet sebagai susu kolostrum.
Pedet lahir dengan pertahanan atau imunitas dari serangan penyakit yang minim. Mereka secara perlahan akan mampu bertahan dari serangan penyakit setelah mengkonsumsi kolostrumk berkualitas tinggi, yang merupakan susu pertama dari induknya. Pedet yang tidak mendapatkan kolostrum berkualitas sejak awal lahir akan mudah terserang penyakit. Ternak sapi Peranakan Frisien Holstein (PFH) setidaknya mengkonsumsi 1 – 1,5 liter kolostrum dalam kurun waktu satu jam setelah lahir dan jumlah yang sama dalam kurun waktu 12 jam sesudahnya atau pada pemberian berikutnya (pedet yang mengkonsumsi kolostrum sebanyak 1,5 liter tidak menyebabkan diare pada ternak PFH). Jumlah antibodi akan menurun seiring dengan kondisi kolostrum setelah beranak. Dalam kurun waktu enam jam setelah lahor, kemampuan retikulum untuk menyerap antibodi akan berkurang 1/3-nya. Setalah 24 jam, retikulum hanya mampu menyerap 11% dari potensi awal saat baru saja lahir. Selain itu, pada masa tersebut pencernaan oleh enzym akan merusak dan mencerna seluruh antibodi. Kadang kala, ada peternak yang membiarkan pedet mengkonsumsi langsung dari induknya. Penelitian menunjukkan pedet yang langsung menghisap puting induknya tidak mampu mengkonsumsi kolostrum yang tepat pada jam pertama kehidupannya dan tidak mampu mendapatkan kemampuan imun dari serangan penyakit. Pemberian kolostrum dengan menggunakan tangan/kolostrum diperah dari induknya, merupakan cara yang dianjurkan karena peternak mampu mengetahui jumlah kolostrum yang dikonsumsim pedetnya. Kolostrum berada dalam jumlah sedikit dan kental. Kualitas kolostrum dapat diukur dengan alat yang bernama COLOSTROMETER (terdapat pada katalog produk Nasco). Kualitas kolostrum terbaik memiliki kandungan immunoglobulin sebesar 50mg/ml. Sebelum diperah, puting induk sebaiknya dibersihkan, karena pedet tidak dianjurkan mengkonsumsi kolostrum yang encer, mengandung darah dan terkena mastitis atau induk terkena serangan penyakit Johne. Pedet yang tidak mendapatkan kolostrum ideal, dapat mengkonsumsi susu melalui jalur masuk melalui tenggorokan. 3 – 5,5 galon kolostrum yang baik, dapat disimpan pada freezer dan mampu bertahan sampai satu tahun, untuk mengantisipasi pedet yang lahir dengan kondisi induk yang terkena mastitis atau tidak keluar air susunya. Kolostrum dari ternak sapi perah dapat dikonsumsi oleh pedet ternak sapi potong. Kolostrum dapat dicairkan dengan menggunakan air hangat atau dalam microwave pada power yang minimum dalam jangka waktu yang singkat.
Setelah pedet berumur tiga hari, selanjutnya pedet akan mengkonsumsi susu transisi yang berasal dari induknya atau induk yang lain, dengan catatan, air susu berada pada konsisi sehat.
Kandang Pedet
Kandang pedet sebaiknya berada pada kondisi individu, bebas debu dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Satu pintu masuk dianjurkan untuk mencegah penyebaran penyakit dari satu pedet kepada pedet lain. Lantai kandang dapat diberi lapisan jerami atau serbuk gergaji yang tetap dijaga kebersihan dan kekeringannya serta diganti setiap pedet tersebut dipindahkan/dikeluarkan dari kandangnya.
Pilihan Susu untuk Pedet
Selama 1 – 2 minggu sejak lahir, pedet mengkonsumsi air susu sebagai makanannya. Setelah empat hari, pedet dapat mengkonsumsi jenis susu lain, misalnya air susu biasa, susu reject, Calf Milk Replacer atau susu fermentasi atau kolostrum segar. (tabel 3). Perbedaan jenis susu diatas adalah harga, keterdiaan dan kemudahan. Pedet secara umum mengkonsumsi air susu dua kali sehari dari dot atau ember atau mereka mengkonsumsi langsung dari ember. Saat mengkonsumsi susu, saluran oesophagus akan menutup dan air susu akan secara langsung masuk ke abomasum atau perut sejati. Respon menutupnya oesophagus, merupakan mekanisme kerja syaraf yang akan aktif sampai kira-kira pedet berumur 12 minggu.
Pencegahan terhadap penyakit dapat dilakukan dengan melakukan pasteurisasi susu dengan suhu 65,5oC atau 150oF selama 30 menit. Peralatan juga dikonsisikan terbebas dari bakteri (dilakukan desinfektan)
(note –redaksi) :
Di Indonesia, penggunaan CMR atau susu pengganti biasanya dilakukan setelah pedet berumur dua bulan dan jumlah pemberiannya secara bertahap sampai puncaknya, sebanyak 4 – 5 liter/ekor/hari
Susu Segar
Dapat digunakan sebagai pakan bagi pedet dengan dosis 10% dari bobot lahir pedet. Misalnya, pedet lahir dengan bobot 45 kg, maka dilakukan pemberian air susu sebanyak 4,5 liter/hari atau 2,25 liter setiap pemberian. Pemberian air susu yang kurang akan menyebabkan pertumbuhan pedet yang terganggu karena kekurangan zat makanan. Kelebihan konsumsidapat mengakibatkan gangguan pencernaan dan diare. Kelebihan konsumsi air susu akan menyebabkan pengurangan konsumsi pakan kering atau biji-bijian sehingga akan menyebabkan bertambahnya masa menyusui.
Susu Reject
Susu mastitis dapat digunakan sebagai pakan pedet dengan dosis 10% dari bobot lahir. Susu ini dapat dikonsumsi pedet setelah berumur 8 – 12 minggu dan tidak boleh diberikan apabila berasal dari induk yang diberi perlakuan antibiotik, sementara pedet akan diproyeksikan dipotong (dijual sebagai calf). Pedet harus berada pada kandang individual. Jangan berikan susu mastitis yang encer dan terkena mastitis akut.
Calf Milk Replacer (CMR)
CMR harus dilarutkan pada air hangat dan merupakan salah satu model yang digunakan dengan pertimbangan ekonomis. Selama tiga minggu pertama, pedet mengkonsumsi CMR yang memiliki kandungan protein tinggi yang berasal dari susu bubuk atau hasi prosesing keju (whey). CMR sebaiknya mengandung 18 – 22% PK. 10 – 22% Lemak dan kurang dari 5% SK.
Kolostrum yang Difermentasi
Fermentasi atau sop kolostrum digunakan sebagai pakan pedet, dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa PBBH pedet yang diberi kolostrumk fermentasi sama dengan pedet yang mengkonsumsi air susu biasa. Fermentasi kolostrum merupakan hasil koleksi kolostrum yang berlebihan pada tiga hari pertama setelah bersalin. Kolostrum ini dimasukkan kedalam kantong plastik. Kolostrum dari ternak yang diberi injeksi antibiotik, sebaiknya tidak dicampurkan karena akan membunuh organisme fermentor. Fermentasi kolostrum dilakukan pada suhu 60 – 80oF dan terlindung dari sinar matahari. Dibawah suhu 60oF, proses akan berlangsung lambat dan diatas 80oF fermentasi akan berlangsung cepat dan akan mengembangbiakkan mikroorganisme yang tidak diharapkan. Penambahan bahan pengawet yang bersifat asam akan menambah kemapuan bakteri fermentasi dan menurunkan mikroorganisme yang tidak diharapkan. Fermentasi berlangsung selama 10 – 14 hari dan dapat disimpan 14 – 30 hari kemudian. Pedet dapat diberikan kolostrum fermentasi pada umur 4 hari. Kolostrum fermentasi dilarutkan pada air hangat dengan perbansingan 1 bagian air hangat : 2 bagian kolostrum fermentasi dengan dosis 10% dari bobot lahir pedet.
Diare
Diare disebabkan karena konsumsi susu terlalu banyak atau karena infeksi bakteri, virus atau protozoa (cryto atau coccidia). Pengawasan oleh petugas kesehatan adalah hal terbaik untuk mendiagnosa penyabab dan melakukan program pencegahan. Diare akan menyebabkan kehilangan air dan elektrolit dari tubuh pedet, seperti sodium, bikarbonat, klorin dan potassium. Diare dapat menyebabkan kehilangan 10 – 12 % bobot badan dan air. Lemas dan kematian merupakan efek dari kejadian diare. Pedet memerlukan asupan elektrolit setiap hari sebanyak 4 kali sehari. Pedet yang tidak dapat menyusu, harus dicekok atau air susunya yang banyak mengandung energi dan nutrisi lain dan diberi larutan elektrolit untuk menjaganya dapat bertahan hidup. \
Tabel 4. salah satu komposisi elektrolit
1 pak pectin dari buah-buahan
1 sendok teh garam
2 sendok teh soda kue
1 ember beef consommƩ
Air hangat sampai 2 liter
Diaplikasi 30 – 60 menit setelah konsumsi susu
Pakan Pedet dan Air, Penting untuk Perkembangan Rumen
Sebagai bagian pertama kehidupan, pedet memiliki pertut sederhana, sama seperti ternak monogastrik. Saat lahir, ada tiga komponen perut, rumen, retikulum, omasum, yang belum berkembang dan belum mampu melaksanakan pencernaan pakan. Saat pedet mulai makan konsentrat (biasanya merupakan campuran antara biji-biian, sumber protein, mineral dan vitamin) dan air minum, saat itulah rumen mulai berkembang. Pakan pedet dapat dimulai sejak pedet berumut 4 hari dan pakan harus diformulasi sehingga disukai dan memiliki kandungan protein, mineral dan vitamin.
Konsentrat pedet ini harus dibarengi dengan tersedianya air untuk menjamin perkembangan rumen. Pemberian dilakukan sedikit demi sedikit. Pakan berserat diberikan sampai pedet berumur delapan minggu.
Pemberian air sangat diperlukan dan selalu ada untuk menjamin perkembangan pedet. Menurut hasil penelitian, pedet yang tidak diberi minum akan menurunkan 31 % konsumsi konsentrat dan menurunkan bobot badan sampai 38% dibandingkan dengan pedet yang diberi cukup air. Konsumsi air yang masuk ke dalam rumen akan merangsang pertumbuhan rumen.
Penyapihan
Pedet dapat disapih setelah mampu mengkonsumsi 0,75 – 1 kg konsentrat sebanyak tiga kali sehari, sehingga pedet dapat disapih bukan berdasarkan pada umur, tetapi pada kemampuan konsumsi konsentrat. Ada pedet yang disapih pada umur empat minggu dan ada pula yang disapih diatas 10 minggi. Penyapihan dilakukan secara bertahap selama 3 – 7 hari.
Pakan Pedet Setelah Penyapihan
Setelah penyapihan, penggantian pakan konsentrat serta pemeliharaan dengan sistem kelompok dilakukan secara bertahap selama sekitar dua minggu. Pengelompokan pedet dengan umur 2 – 4 bulan dilakukan tiap 4 – 6 ekor. Perlakuan pedet pada kelompok kecil dimaksudkan untuk memudahkan terjadinya penyesuaian diri dan menekan terjadinya kompetisi perebutan makanan. Pemberian pakan berserat sudah mulai dilakukan dan konsentrat yang diberikan sebanyak 1,5 – 3 kilogram (jenis Jersey memerlukan 2 kg konsentrat). Diare disebabkan Diare disebabkan
Manajemen Budidaya
Saat beranak, pedet harus dudah diberi identitas dengan menggunakan ear tag atau tanda pada telinga atau dengan photo. Pencatatan sangat penting untuk mendapatkan dokumentasi tentang tanggal lahir, garis keturunan. Pemberian vaksin anti diare dilaksanakan sebagai salah satu tindakan pencegahan penyakit. Saat tanduk pedet sudah nampak, dilakukan dehorning dengan menggunakan electric dehorner dan lebih baik dilakukan pada pedet yang berumur dibawah satu bulan untuk mengurangi terjadinya stress dan kemudahan penanganan.
Puting yang berlebih, harus segera dihilangkan dengan gunting yang tajam dan steril serta pastikan bahwa puting yang dipotong adalah puting yang tidak berguna.
umur 0 – 3 bulan
Donna M. Amaral-Phillips, Patty B. Scharko, John T. Johns, and Sharon Franklin
Masa depan produktifitas sebuah peternakan sapi perah, ternak induk merupakan gambaran investasi keuangan yang sangat penting dalam hal pakan dan tenaga kerja. Nilai investasi ini perlu dijaga melalui manajemen pemeliharaan dan pakan untuk memberi pertumbuhan nilai ekonomis dan kemampuan untuk beranak pada umur 24 bulan.
Bulan pertama, kedua sampai ketiga merupakan periode kritis untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik.
Program Pakan Pada Masa Kering
Aplikasi terbaik untuk pakan dan pemeliharaan ternak, dimulai saat induk berada pada masa dua bulan sebelum beranak. Pertumbuhan janin terjadi pada masa itu dan diperlukan zat makanan yang penting untuk masa pertumbuhan. Program manajemen ini juga akan memberi pengaruh pada kualitas dan jumlah antibody yang terkandung didalam kolostrum, sebagai susu pertama untuk pedet yang memberi nilai bagi kesehatan pedet setelah dilahirkan.
Pemeliharaan di masa kering memerlukan keseimbangan ransum dan memberi dorongan untuk pertumbuhan janin. Jika induk mendapatkan pakan dengan kandungan energi dan atau protein yang rendah, maka janin boleh jadi akan tetap berkembang seperti pada umumnya, tetapi induk akan menggunakan cadangan dari tubuhnya atau keperluan pertumbuhannya untuk menjamim perkembangan kandungannya. Intinya, pertumbuhan janin memerlukan prioritas zat makanan dari pada pertumbuhan induknya atau penjagaan kondisi tubuh induk. Induk yang mendapatkan jumlah pakan yang kurang akan mengalami banyak permasalahan saat persalinan. Pada induk yang tua, mereka akan menggunakan cadangan tubuh, seperti lemak dan protein dan cadangan ini tidak akan mencukupi untuk produksi susu.
Pesan penting yang disampaikan, bahwa kekurangan pakan pada ternak yang bunting tua tidak akan menyebabkan pedet lahir dalam keadaan kecil, tetapi penampilan produksi induk akan menurun setelah bersalin. Mineral dan vitamin sangat penting bagi ternak bunting tua dan perkembangan janin serta akan mengurangi permasalahan kesehatan, seperti pencegahan terjadinya retensio placenta, meningkatnya sistem immun sehingga ternak dapat melawan gangguan penyakit, seperti mastitis sebelum atau setelah beranak. Kekurangan mineral seperti fosfor, mangan, kobalt, tembaga, seng dan selenium dapat menyebabkan defisiensi pada pedet yang dilahirkan.
Hal yang paling efektif untuk mencegah terjadinya diare adalah dengan melakukan vaksinasi pada ternak bunting tua dengan vaksin diare sebelum beranak. Induk dewasa harus diinjeksi 4 – 6 minggu sebelum bersalin. Induk divaksin dua bulan sebelum beranak dan diulang kembali satu bulan sebelum bersalin. Vaksin diare mengandung rota dan corona virus, E. Coli dan atau Clostridium perfingens. Konsultasi dengan dokter hewan sangat diperlukan.
Penjagaan Pedet
Saat setelah persalinan, pedet harus dijaga dari terjadinya komplikasi. Induk harus bersalin dalam keadaan bersih, kering, diberi bantalan dari hamparan jerami atau serbuk gergaji. Kandang beranak berukuran 50 – 60 m2 dengan penerangan yang cukup, sirkulasi udara yang baik dan bebas debu. Induk dapat juga bersalin di luar kandang asalkan tidak terdapat gangguan angin yang kencang.
Pedet yang baru lahir akan segera bernafas sesaat setelah tali plasentanya terputus. Lendir sekitar hidung harus segera disingkirkan, jangan membopong pedet melalui ketiak atau dengan mengangkatn kaki belakang, pastikan pedet sudah berada pada kondisi yang aman untuk dibopong. Segera setelah beranak, celupkan 7% iodine tincture pada tali pusat pedet. Induk akan menjilati pedetnya sampai bulunya mengering, pada suhu yang dingin atau bila induk tidak mau menjilati pedetnya, gunakan kain kering untuk menyeka tubuh pedet. Hal ini bukan semata untuk mengeringkan bulu pedet, tetapi untuk merangsang sirkulasi darah. Umumnya, pedet segara dipisahkan dari induknya sesaat setelah selesai dijilat dan bulunya mengering.
Konsumsi Kolostrum = Bertahan Hidup
Kolostrum disekresi oleh glandula mamary segera sebelum dan setelah persalinan. Kolostrum yang sebenarnya disekresi hanya saat perahan pertama, setelah 1,5 sampai dua hari kemudian, dinamakan susu transisi. Kolostrum diperuntukkan kepada pedet sebagai makanan utama. Seperti pada tabel 2., kolostrum mengandung dua kali atau lebih bahan kering dan total bahan padat, dua – tiga kali lebih banyak mineral dan lima kali lebih banyak protein dari susu pada umumnya. Kolostrum juga mengandung berbagai hormon dan pemicu pertumbuhan yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan saluran pencernaan. Kolostrum memiliki kandungan laktosa lebih rendah sehingga mengurangi terjadinya gangguan diare. Susu yang diperah setelah masa awal pemerahan memiliki kualitas yang rendah dan sebaiknya tidak diberikan sebagai makanan bagi pedet sebagai susu kolostrum.
Pedet lahir dengan pertahanan atau imunitas dari serangan penyakit yang minim. Mereka secara perlahan akan mampu bertahan dari serangan penyakit setelah mengkonsumsi kolostrumk berkualitas tinggi, yang merupakan susu pertama dari induknya. Pedet yang tidak mendapatkan kolostrum berkualitas sejak awal lahir akan mudah terserang penyakit. Ternak sapi Peranakan Frisien Holstein (PFH) setidaknya mengkonsumsi 1 – 1,5 liter kolostrum dalam kurun waktu satu jam setelah lahir dan jumlah yang sama dalam kurun waktu 12 jam sesudahnya atau pada pemberian berikutnya (pedet yang mengkonsumsi kolostrum sebanyak 1,5 liter tidak menyebabkan diare pada ternak PFH). Jumlah antibodi akan menurun seiring dengan kondisi kolostrum setelah beranak. Dalam kurun waktu enam jam setelah lahor, kemampuan retikulum untuk menyerap antibodi akan berkurang 1/3-nya. Setalah 24 jam, retikulum hanya mampu menyerap 11% dari potensi awal saat baru saja lahir. Selain itu, pada masa tersebut pencernaan oleh enzym akan merusak dan mencerna seluruh antibodi. Kadang kala, ada peternak yang membiarkan pedet mengkonsumsi langsung dari induknya. Penelitian menunjukkan pedet yang langsung menghisap puting induknya tidak mampu mengkonsumsi kolostrum yang tepat pada jam pertama kehidupannya dan tidak mampu mendapatkan kemampuan imun dari serangan penyakit. Pemberian kolostrum dengan menggunakan tangan/kolostrum diperah dari induknya, merupakan cara yang dianjurkan karena peternak mampu mengetahui jumlah kolostrum yang dikonsumsim pedetnya. Kolostrum berada dalam jumlah sedikit dan kental. Kualitas kolostrum dapat diukur dengan alat yang bernama COLOSTROMETER (terdapat pada katalog produk Nasco). Kualitas kolostrum terbaik memiliki kandungan immunoglobulin sebesar 50mg/ml. Sebelum diperah, puting induk sebaiknya dibersihkan, karena pedet tidak dianjurkan mengkonsumsi kolostrum yang encer, mengandung darah dan terkena mastitis atau induk terkena serangan penyakit Johne. Pedet yang tidak mendapatkan kolostrum ideal, dapat mengkonsumsi susu melalui jalur masuk melalui tenggorokan. 3 – 5,5 galon kolostrum yang baik, dapat disimpan pada freezer dan mampu bertahan sampai satu tahun, untuk mengantisipasi pedet yang lahir dengan kondisi induk yang terkena mastitis atau tidak keluar air susunya. Kolostrum dari ternak sapi perah dapat dikonsumsi oleh pedet ternak sapi potong. Kolostrum dapat dicairkan dengan menggunakan air hangat atau dalam microwave pada power yang minimum dalam jangka waktu yang singkat.
Setelah pedet berumur tiga hari, selanjutnya pedet akan mengkonsumsi susu transisi yang berasal dari induknya atau induk yang lain, dengan catatan, air susu berada pada konsisi sehat.
Kandang Pedet
Kandang pedet sebaiknya berada pada kondisi individu, bebas debu dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Satu pintu masuk dianjurkan untuk mencegah penyebaran penyakit dari satu pedet kepada pedet lain. Lantai kandang dapat diberi lapisan jerami atau serbuk gergaji yang tetap dijaga kebersihan dan kekeringannya serta diganti setiap pedet tersebut dipindahkan/dikeluarkan dari kandangnya.
Pilihan Susu untuk Pedet
Selama 1 – 2 minggu sejak lahir, pedet mengkonsumsi air susu sebagai makanannya. Setelah empat hari, pedet dapat mengkonsumsi jenis susu lain, misalnya air susu biasa, susu reject, Calf Milk Replacer atau susu fermentasi atau kolostrum segar. (tabel 3). Perbedaan jenis susu diatas adalah harga, keterdiaan dan kemudahan. Pedet secara umum mengkonsumsi air susu dua kali sehari dari dot atau ember atau mereka mengkonsumsi langsung dari ember. Saat mengkonsumsi susu, saluran oesophagus akan menutup dan air susu akan secara langsung masuk ke abomasum atau perut sejati. Respon menutupnya oesophagus, merupakan mekanisme kerja syaraf yang akan aktif sampai kira-kira pedet berumur 12 minggu.
Pencegahan terhadap penyakit dapat dilakukan dengan melakukan pasteurisasi susu dengan suhu 65,5oC atau 150oF selama 30 menit. Peralatan juga dikonsisikan terbebas dari bakteri (dilakukan desinfektan)
(note –redaksi) :
Di Indonesia, penggunaan CMR atau susu pengganti biasanya dilakukan setelah pedet berumur dua bulan dan jumlah pemberiannya secara bertahap sampai puncaknya, sebanyak 4 – 5 liter/ekor/hari
Susu Segar
Dapat digunakan sebagai pakan bagi pedet dengan dosis 10% dari bobot lahir pedet. Misalnya, pedet lahir dengan bobot 45 kg, maka dilakukan pemberian air susu sebanyak 4,5 liter/hari atau 2,25 liter setiap pemberian. Pemberian air susu yang kurang akan menyebabkan pertumbuhan pedet yang terganggu karena kekurangan zat makanan. Kelebihan konsumsidapat mengakibatkan gangguan pencernaan dan diare. Kelebihan konsumsi air susu akan menyebabkan pengurangan konsumsi pakan kering atau biji-bijian sehingga akan menyebabkan bertambahnya masa menyusui.
Susu Reject
Susu mastitis dapat digunakan sebagai pakan pedet dengan dosis 10% dari bobot lahir. Susu ini dapat dikonsumsi pedet setelah berumur 8 – 12 minggu dan tidak boleh diberikan apabila berasal dari induk yang diberi perlakuan antibiotik, sementara pedet akan diproyeksikan dipotong (dijual sebagai calf). Pedet harus berada pada kandang individual. Jangan berikan susu mastitis yang encer dan terkena mastitis akut.
Calf Milk Replacer (CMR)
CMR harus dilarutkan pada air hangat dan merupakan salah satu model yang digunakan dengan pertimbangan ekonomis. Selama tiga minggu pertama, pedet mengkonsumsi CMR yang memiliki kandungan protein tinggi yang berasal dari susu bubuk atau hasi prosesing keju (whey). CMR sebaiknya mengandung 18 – 22% PK. 10 – 22% Lemak dan kurang dari 5% SK.
Kolostrum yang Difermentasi
Fermentasi atau sop kolostrum digunakan sebagai pakan pedet, dimana hasil penelitian menunjukkan bahwa PBBH pedet yang diberi kolostrumk fermentasi sama dengan pedet yang mengkonsumsi air susu biasa. Fermentasi kolostrum merupakan hasil koleksi kolostrum yang berlebihan pada tiga hari pertama setelah bersalin. Kolostrum ini dimasukkan kedalam kantong plastik. Kolostrum dari ternak yang diberi injeksi antibiotik, sebaiknya tidak dicampurkan karena akan membunuh organisme fermentor. Fermentasi kolostrum dilakukan pada suhu 60 – 80oF dan terlindung dari sinar matahari. Dibawah suhu 60oF, proses akan berlangsung lambat dan diatas 80oF fermentasi akan berlangsung cepat dan akan mengembangbiakkan mikroorganisme yang tidak diharapkan. Penambahan bahan pengawet yang bersifat asam akan menambah kemapuan bakteri fermentasi dan menurunkan mikroorganisme yang tidak diharapkan. Fermentasi berlangsung selama 10 – 14 hari dan dapat disimpan 14 – 30 hari kemudian. Pedet dapat diberikan kolostrum fermentasi pada umur 4 hari. Kolostrum fermentasi dilarutkan pada air hangat dengan perbansingan 1 bagian air hangat : 2 bagian kolostrum fermentasi dengan dosis 10% dari bobot lahir pedet.
Diare
Diare disebabkan karena konsumsi susu terlalu banyak atau karena infeksi bakteri, virus atau protozoa (cryto atau coccidia). Pengawasan oleh petugas kesehatan adalah hal terbaik untuk mendiagnosa penyabab dan melakukan program pencegahan. Diare akan menyebabkan kehilangan air dan elektrolit dari tubuh pedet, seperti sodium, bikarbonat, klorin dan potassium. Diare dapat menyebabkan kehilangan 10 – 12 % bobot badan dan air. Lemas dan kematian merupakan efek dari kejadian diare. Pedet memerlukan asupan elektrolit setiap hari sebanyak 4 kali sehari. Pedet yang tidak dapat menyusu, harus dicekok atau air susunya yang banyak mengandung energi dan nutrisi lain dan diberi larutan elektrolit untuk menjaganya dapat bertahan hidup. \
Tabel 4. salah satu komposisi elektrolit
1 pak pectin dari buah-buahan
1 sendok teh garam
2 sendok teh soda kue
1 ember beef consommƩ
Air hangat sampai 2 liter
Diaplikasi 30 – 60 menit setelah konsumsi susu
Pakan Pedet dan Air, Penting untuk Perkembangan Rumen
Sebagai bagian pertama kehidupan, pedet memiliki pertut sederhana, sama seperti ternak monogastrik. Saat lahir, ada tiga komponen perut, rumen, retikulum, omasum, yang belum berkembang dan belum mampu melaksanakan pencernaan pakan. Saat pedet mulai makan konsentrat (biasanya merupakan campuran antara biji-biian, sumber protein, mineral dan vitamin) dan air minum, saat itulah rumen mulai berkembang. Pakan pedet dapat dimulai sejak pedet berumut 4 hari dan pakan harus diformulasi sehingga disukai dan memiliki kandungan protein, mineral dan vitamin.
Konsentrat pedet ini harus dibarengi dengan tersedianya air untuk menjamin perkembangan rumen. Pemberian dilakukan sedikit demi sedikit. Pakan berserat diberikan sampai pedet berumur delapan minggu.
Pemberian air sangat diperlukan dan selalu ada untuk menjamin perkembangan pedet. Menurut hasil penelitian, pedet yang tidak diberi minum akan menurunkan 31 % konsumsi konsentrat dan menurunkan bobot badan sampai 38% dibandingkan dengan pedet yang diberi cukup air. Konsumsi air yang masuk ke dalam rumen akan merangsang pertumbuhan rumen.
Penyapihan
Pedet dapat disapih setelah mampu mengkonsumsi 0,75 – 1 kg konsentrat sebanyak tiga kali sehari, sehingga pedet dapat disapih bukan berdasarkan pada umur, tetapi pada kemampuan konsumsi konsentrat. Ada pedet yang disapih pada umur empat minggu dan ada pula yang disapih diatas 10 minggi. Penyapihan dilakukan secara bertahap selama 3 – 7 hari.
Pakan Pedet Setelah Penyapihan
Setelah penyapihan, penggantian pakan konsentrat serta pemeliharaan dengan sistem kelompok dilakukan secara bertahap selama sekitar dua minggu. Pengelompokan pedet dengan umur 2 – 4 bulan dilakukan tiap 4 – 6 ekor. Perlakuan pedet pada kelompok kecil dimaksudkan untuk memudahkan terjadinya penyesuaian diri dan menekan terjadinya kompetisi perebutan makanan. Pemberian pakan berserat sudah mulai dilakukan dan konsentrat yang diberikan sebanyak 1,5 – 3 kilogram (jenis Jersey memerlukan 2 kg konsentrat). Diare disebabkan Diare disebabkan
Manajemen Budidaya
Saat beranak, pedet harus dudah diberi identitas dengan menggunakan ear tag atau tanda pada telinga atau dengan photo. Pencatatan sangat penting untuk mendapatkan dokumentasi tentang tanggal lahir, garis keturunan. Pemberian vaksin anti diare dilaksanakan sebagai salah satu tindakan pencegahan penyakit. Saat tanduk pedet sudah nampak, dilakukan dehorning dengan menggunakan electric dehorner dan lebih baik dilakukan pada pedet yang berumur dibawah satu bulan untuk mengurangi terjadinya stress dan kemudahan penanganan.
Puting yang berlebih, harus segera dihilangkan dengan gunting yang tajam dan steril serta pastikan bahwa puting yang dipotong adalah puting yang tidak berguna.
08 Maret, 2010
Perkawinan
pernahkah anda mendengar tentang hasil perkawinan antara mentok dengan itik? .. tentunya sudah kita ketahui, namanya TikTok
juga perkawinan antara sapi Peranakan Ongole (PO) dengan sapi Simmental, kita kenal dengan nama Simpo
atau sapi Limousine dengan Peranakan Ongole (PO), kita kenal dengan nama Limpo
atau sapi Aberdeen Angus dengan Brahman, kita kenal dengan nama Brangus
atau sapi-sapi Brahman yang dikawinkan dengan beberapa jenis sapi lainnya, seperti Shorthorn, Droughmaster, Hereford, Angus, Frisien Holstein
pada ternak yang lebih kecil, misalnya ...
ternak kambing kacang yang dikawinkan dengan kambing peranakan ettawah, yang dikenal dengan nama kambing koplo
atau kambing boer dengan kambing kacang, kita kenal dengan nama boerka
atau domba ekor gemuk dengan domba garut
tetapi, dibalik kebisaan persilangan itu ... ada lagi yang tidak dapat disilangkan, dikawinkan dan menghasilkan keturunan, sampai saat ini dan kemungkinan tanpa seijinNya tioidak akan mungkin ...
Sapi dengan Kerbau
atau
Kambing dengan Domba
berbagai versi akan memunculkan perdebatan, mulai genetis, jumlah kromosom dan gennya sampai beberapa paparan ilmiah yang njlimet ... ternyata, dibalik itu semua ... ada hal yang sepele dan cukup masuk akal, kenapa mereka tidak dapat dikawinkan ...
Orang Tuanya Tidak Setuju
..he..he.. just joke
keep on istiqomah for smile
juga perkawinan antara sapi Peranakan Ongole (PO) dengan sapi Simmental, kita kenal dengan nama Simpo
atau sapi Limousine dengan Peranakan Ongole (PO), kita kenal dengan nama Limpo
atau sapi Aberdeen Angus dengan Brahman, kita kenal dengan nama Brangus
atau sapi-sapi Brahman yang dikawinkan dengan beberapa jenis sapi lainnya, seperti Shorthorn, Droughmaster, Hereford, Angus, Frisien Holstein
pada ternak yang lebih kecil, misalnya ...
ternak kambing kacang yang dikawinkan dengan kambing peranakan ettawah, yang dikenal dengan nama kambing koplo
atau kambing boer dengan kambing kacang, kita kenal dengan nama boerka
atau domba ekor gemuk dengan domba garut
tetapi, dibalik kebisaan persilangan itu ... ada lagi yang tidak dapat disilangkan, dikawinkan dan menghasilkan keturunan, sampai saat ini dan kemungkinan tanpa seijinNya tioidak akan mungkin ...
Sapi dengan Kerbau
atau
Kambing dengan Domba
berbagai versi akan memunculkan perdebatan, mulai genetis, jumlah kromosom dan gennya sampai beberapa paparan ilmiah yang njlimet ... ternyata, dibalik itu semua ... ada hal yang sepele dan cukup masuk akal, kenapa mereka tidak dapat dikawinkan ...
Orang Tuanya Tidak Setuju
..he..he.. just joke
keep on istiqomah for smile
SINKRONISASI ESTRUS
SINKRONISASI ESTRUS
Conception Rate merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam usaha pembibitan dan melakukan suatu penyeragaman kelahiran pada ternak sapi. Sinkronisasi ini adalah satu upaya untuk menyeragamkan terjadinya estrus pada ternak sapi sehingga dalam satu kelompok induk, proses bersalinnya dapat diatur pada rentang waktu tertentu.
Sinkronisasi estrus dilakukan untuk menghemat waktu dan mempermudah pelaksanaan deteksi berahi, penggunaan hormon reproduksi merupakan kunci pelaksanaan sinkronisasi berahi.
Hormon
Progesteron, Prostaglandin (PGF2α), Gonadotropin releasing hormone (GnRH), follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) merupakan beberapa hormone yang berpengaruh terhadap proses berahi. Hormone-hormon ini digunakan secara terpisah atau bersama-sama
Progesteron adalah hormon yang digunakan untuk mempertahankan kehamilan. Progesteron secara alami berada dalam bentuk (progesteron) atau sintetik (progestin). Saat terjadi pelepasan sel telur (ovulasi) akan terbentuk corpus hemorrhagicum, yang dengan cepat (dalam waktu 4 sampai 7 hari) berkembang menjadi korpus luteum (CL). CL akan menghasilkan progesteron di dalam aliran darah dan setelah CL matang, konsentrasi progesteron meningkat. Konsentrasi progesteron tetap meningkat selama kehamilan dan akan menentukan kehamilan. Jika dia tidak bunting, maka dalam waktu 15 sampai 18 hari dari siklus estrus normal, prostaglandin disintesis dan dilepaskan untuk regresi korpus luteum.
Prostaglandin (PGF2α), disekresi dari rahim betina saat tidak terjadi kebuntingan. Prostaglandin menyebabkan CL luruh dan akan menyebabkan konsentrasi progesteron menurun dengan cepat.
Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) dikeluarkan dari hipotalamus dan mempengaruhi hipofisis anterior. Saat konsentrasi progesteron meningkat, konsentrasi GnRH menurun. Jika CL meluruh, konsentrasi progesteron akan berkurang dalam aliran darah dan akan menyebabkan peningkatan konsentrasi GnRH. Kenaikan ini akan memungkinkan terjadinya peningkatan sekresi folikel stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH).
Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang ada pada ovarium (indung telur) akan meningkatkan jumlah telur. Biasa digunakan dalam transfer embrio untuk terjadinya superovulasi
Luteinizing Hormone (LH) diinjeksikan untuk meningkatkan jumlah folikel yang dihasilkan.
Potensi keuntungan Sinkronisasi estrus
1. masa perkawinan dapat dipersingkat antara 60-45 hari
2. pengembangan pembibitan lebih mudah
3. menghasilkan persalinan yang seragam dan mempermudah penyapihan ternak
4. dapat meningkatkan mutu genetik melalui inseminasi buatan atau kawin alam
5. mengurangi waktu dan tenaga untuk pengamatan berahi
Persyaratan untuk Sukses
1. perencanaan program yang baik
2. induk yang memiliki catatan reproduksi yang baik dan memiliki catatan pemberian nutrisi yang prima
3. semen untuk inseminasi yang baik dan ditunjang oleh inseminator yang handal
4. bila menggunakan pejantan, diperlukan pejantang yang sehat, agresif dan subur
5. diperlukan situasi lingkungan yang terkontrol
6. tingkat kebuntingan selanjutnya dapat lebih rendah bila kondisi ternak dan atau lingkungannya menjadi tidak terkontrol/tidak sesuai
Produk dan Dosis Rekomendasi
PROSTAGLANDIN
Lutalyse 5 ml, intra muskular
Estrumate 2 ml, intra muskular
IN-SYNC 5 ml, intra muskular
PROGESTIN
CIDR Intra vagina
MGA 0,6 mg/ekor/hari, per oral
GnRH
Cytrolrein 2 ml intra muscular atau intra vena
Factrel 2 ml intra muscular
Fertagyl 2 ml intra muscular atau intra vena
Di Balai Embrio Transfer, prosedur yang digunakan adalah :
1. Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan PGF2a satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan.
2. Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2a dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari.
Sumber Pustaka
Timotius W. Wilson, Cooperative Extension Service The University of Georgia College of Agricultural and Environmental Sciences University of Georgia College Pertanian dan Ilmu Lingkungan Estrous Synchronization for Beef Cattle Sinkronisasi estrus untuk Sapi Potong
Dr Rick Rasby., Gene Deutcher - Beef Specialist, University of Nebraska.
Iptek Net
Conception Rate merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam usaha pembibitan dan melakukan suatu penyeragaman kelahiran pada ternak sapi. Sinkronisasi ini adalah satu upaya untuk menyeragamkan terjadinya estrus pada ternak sapi sehingga dalam satu kelompok induk, proses bersalinnya dapat diatur pada rentang waktu tertentu.
Sinkronisasi estrus dilakukan untuk menghemat waktu dan mempermudah pelaksanaan deteksi berahi, penggunaan hormon reproduksi merupakan kunci pelaksanaan sinkronisasi berahi.
Hormon
Progesteron, Prostaglandin (PGF2α), Gonadotropin releasing hormone (GnRH), follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH) merupakan beberapa hormone yang berpengaruh terhadap proses berahi. Hormone-hormon ini digunakan secara terpisah atau bersama-sama
Progesteron adalah hormon yang digunakan untuk mempertahankan kehamilan. Progesteron secara alami berada dalam bentuk (progesteron) atau sintetik (progestin). Saat terjadi pelepasan sel telur (ovulasi) akan terbentuk corpus hemorrhagicum, yang dengan cepat (dalam waktu 4 sampai 7 hari) berkembang menjadi korpus luteum (CL). CL akan menghasilkan progesteron di dalam aliran darah dan setelah CL matang, konsentrasi progesteron meningkat. Konsentrasi progesteron tetap meningkat selama kehamilan dan akan menentukan kehamilan. Jika dia tidak bunting, maka dalam waktu 15 sampai 18 hari dari siklus estrus normal, prostaglandin disintesis dan dilepaskan untuk regresi korpus luteum.
Prostaglandin (PGF2α), disekresi dari rahim betina saat tidak terjadi kebuntingan. Prostaglandin menyebabkan CL luruh dan akan menyebabkan konsentrasi progesteron menurun dengan cepat.
Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) dikeluarkan dari hipotalamus dan mempengaruhi hipofisis anterior. Saat konsentrasi progesteron meningkat, konsentrasi GnRH menurun. Jika CL meluruh, konsentrasi progesteron akan berkurang dalam aliran darah dan akan menyebabkan peningkatan konsentrasi GnRH. Kenaikan ini akan memungkinkan terjadinya peningkatan sekresi folikel stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH).
Follicle Stimulating Hormone (FSH) yang ada pada ovarium (indung telur) akan meningkatkan jumlah telur. Biasa digunakan dalam transfer embrio untuk terjadinya superovulasi
Luteinizing Hormone (LH) diinjeksikan untuk meningkatkan jumlah folikel yang dihasilkan.
Potensi keuntungan Sinkronisasi estrus
1. masa perkawinan dapat dipersingkat antara 60-45 hari
2. pengembangan pembibitan lebih mudah
3. menghasilkan persalinan yang seragam dan mempermudah penyapihan ternak
4. dapat meningkatkan mutu genetik melalui inseminasi buatan atau kawin alam
5. mengurangi waktu dan tenaga untuk pengamatan berahi
Persyaratan untuk Sukses
1. perencanaan program yang baik
2. induk yang memiliki catatan reproduksi yang baik dan memiliki catatan pemberian nutrisi yang prima
3. semen untuk inseminasi yang baik dan ditunjang oleh inseminator yang handal
4. bila menggunakan pejantan, diperlukan pejantang yang sehat, agresif dan subur
5. diperlukan situasi lingkungan yang terkontrol
6. tingkat kebuntingan selanjutnya dapat lebih rendah bila kondisi ternak dan atau lingkungannya menjadi tidak terkontrol/tidak sesuai
Produk dan Dosis Rekomendasi
PROSTAGLANDIN
Lutalyse 5 ml, intra muskular
Estrumate 2 ml, intra muskular
IN-SYNC 5 ml, intra muskular
PROGESTIN
CIDR Intra vagina
MGA 0,6 mg/ekor/hari, per oral
GnRH
Cytrolrein 2 ml intra muscular atau intra vena
Factrel 2 ml intra muscular
Fertagyl 2 ml intra muscular atau intra vena
Di Balai Embrio Transfer, prosedur yang digunakan adalah :
1. Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan PGF2a satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan.
2. Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2a dilakukan dua kali selang waktu 11-12 hari.
Sumber Pustaka
Timotius W. Wilson, Cooperative Extension Service The University of Georgia College of Agricultural and Environmental Sciences University of Georgia College Pertanian dan Ilmu Lingkungan Estrous Synchronization for Beef Cattle Sinkronisasi estrus untuk Sapi Potong
Dr Rick Rasby., Gene Deutcher - Beef Specialist, University of Nebraska.
Iptek Net
Label:
berahi,
inseminasi buatan,
kebuntingan,
sapi,
sinkronisasi estrus
07 Maret, 2010
Sambel .....






sekitar setengah dasawarsa lalu ... gw yang paling seneng sama pedes, jadi mati gaya saat tidak menemukan makanan yang pedes itu di Solo. kemudian saat interaksi dengan beberapa kolega di Solo, salah satunya Mas Agoes Wardhono ... menyampaikan lokasi yang oke bangets buat ketemuan sama yang pedes-pedes. Waktu itu dikasih lokasi Waroeng SS, sebelah Barat Hotel Agas - Manahan, Selatan rel kereta api.
sore itu langsung kesana dan menemukan satu lokasi restoran yang biasa-biasa aja ...
terus pesen deh ... nasi dengan sambel bajak, sambel teri, sambel udang dan sambel ati rempelo ... lama banget waktu itu nunggunya .. akhirnya pesenan dateng juga dengan disertai rasa gondok yang amat sangat, alhamdulillah tidak melunturkan nafsu makanku ... akhirnya mulailah berbasah keringat karena kepedesan ditambah lauk telor dadar. minumnya waktu itu jus tomat. setelah dikalkulasi, walah .. walah .. habisnya sebesar Enam Belas Ribu Limaratus Rupiah untuk menu seperti itu ... wow manstaf
satu catatan yang gw tinggalin disitu adalah masalah pelayanan yang SANGAT LAMA ...
akhirnya pelayanannya semakin lama semakin baik dan cepat (pastinya karena perbaikan manajemen)
setiap bulan, pasti kesana ... dan terus kesana dengan mencoba beberapa menu lain seperti sambal tempe semangit atau sambel kecap atau iso atau sambel pete atau nasi hitam atau sambel tempe dan beberapa jenis lain .. sampai akhirnya dengan istriku di akhir tahun 2009, kami menemukan menu yang pas ...
Sambel Gobal Gabul
Sambel Goreng Ati Rempelo
Sambel Udang Goreng Pedas
Wader Goreng
Telor Gobal Gabul/Telor Dadar
Sayur Asem
Kerupuk
Jus Tomat Tanpa Es/Teh Tawar Panas
.... wow ..wow. nyantol dan mak nyusss deh
sebuah penemuan yang luar biasa dan menjadi pelanggan tetap, dengan Katu Pedas-nya yang dulu setiap transaksi Rp 20.000 bisa dapet tandatangan dan setelah 10 kali, gratis makan dengan nilai voucher Rp. 20.000 (mulai tahun 2010, sudah jadi Rp 25.000) ... sebuah ide yang memenuhi keperluan untuk mendapatkan menu kuliner yang oks
luar biasa
Label:
Agas Hotel,
ekabees,
kuliner,
Manahan,
pedas,
sambel,
Solo,
waroeng ss
06 Februari, 2010
Mengurung Senja
Mengurung Senja
mentari itu mulai beranjak
meninggalkan Timur menuju awan berarak
kemerahan senja menyeruak membias garis langit
kelak kelam menganti
beratap biru kumulai melukis
tentang cita, cinta dan karya
tentang biru, merah dan jingga
tentang haru, sedu dan sedan
tentang kecap, polah dan tingkah
tentang ceria, tangis dan sinis
tentang tangan, kaki dan hati
tentang riuh, pekik dan senyap
tentang ada, tiada dan akan ada
tentang sudah, hampir dan belum
tentang nilai, rasa dan karsa
tentang kawan, sobat dan handai tolan
tentang air, akar dan gemericik
senja itu mulai senyap ... menderu diantara kepak sriti
senja itu mulai ribut ... menggayut disela jeruji
senja itu mulai temaram ... menghias diseluruh cakrawala
gedung-gedung bersorak mengacungkan tinggi
rumah-rumah berserak menghamparkan atap
gunung-gunung berbaris bertaut lembah
air laut beriak berkait sendu
senja itu telah terkurung ... berganti malam yang syahdu
mentari itu telah teredup, berbagi cahaya dengan rembulan
Bunga-bunga Kumbang-kumbang
Bunga Bunga Kumbang Kumbang
oleh: Iwan Fals
Apa memang harus layu
Bunga bunga
Setelah sang kumbang
Menghisap manisnya madumu
Apa memang harus ingkar
Kumbang kumbang
Setelah sang bunga
Terkulai layu tak berbunga
Bunga bunga dilahirkan
Untuk dihisap sang kumbang
Kumbang kumbang dilahirkan
Untuk menghisap sang bunga
Bunga bunga dimekarkan
Untuk digoda sang kumbang
Kumbang kumbang diterbangkan
Untuk menggoda sang bunga
Mengapa bunga harus layu?
Setelah kumbang dapatkan madu
Mengapa kumbang harus ingkar?
Setelah bunga tak lagi mekar
Mungkin tuhan telah takdirkan
Kumbang kumbang
Campakkan sang bunga
Setelah layu tak berguna
Bunga bunga dilahirkan
Untuk dihisap sang kumbang
Kumbang kumbang dilahirkan
Untuk menghisap sang bunga
Bunga bunga dimekarkan
Untuk dicampakkan kumbang
Kumbang kumbang diterbangkan
Untuk mencampakkan bunga
Mengapa bunga harus layu?
Setelah kumbang dapatkan madu
Mengapa kumbang harus ingkar?
Setelah bunga tak lagi mekar
25 Januari, 2010
MULAILAH DENGAN SENYUM
MULAILAH DENGAN SENYUM …..
Tersenyum … bayangan kita tergambar sebagai sebuah aktifitas bibir yang masing ujungnya ditarik mulus ketas oleh otot pipi sehingga muka terlihat menyenangkan dan lawan bicara akan merasa ikut hanyut dengan atmosfer senangnya. Berbeda dengan senyum sinis, nilai tarikan otot pipi dilakukan terpaksa dan terkesan tidak menunjukkan wajah senang. Saat kita berada pada suatu dimensi ruang dengan lawan bicara dengan senyum tulus yang kita lemparkan, maka secara otomatis balasan senyum akan kembali kepada kita ditambah dengan suasana lahir dan bathin yang menyenangkan dan ceria.
Memulai sesuatu dengan senyum tentunya satu hal yang akan memberikan satu nilai keajaiban bagi kita dan akan membuat suatu kolaborasi seluruh isi mayapada untuk mendukung apapun yang kita lakukan dan bantuan dari kolega, teman ataupun musuh sekalipun akan berdatangan secara otomatis.
Senyum yang sampai saat ini belum diperjualbelikan boleh jadi merupakan salah satu komoditas kemanusiaan yang perlu dilestarikan dan dikembangkan dalam seluruh sudut kemanusiaan yang berkaitan dengan hubungan antar manusia. Senyum yang tuluspun dapat pula menjadi sebuah penggerak sebuah fenomena kemanusiaan seperti yang pernah saya baca dari milis di internet tentang sebuah cerita dari seorang teman di Jerman tentang senyum yang mampu menggerakkan sebuah nilai kemanusiaan bagi dua orang tunawisma yang dekil, berbau, dengan segala keterbatasan dan ingin menghangatkan diri disebuah rumah makan cepat saji. Nilai kemanusiaan yang membuat sebagian besar konsumen di rumah makan cepat saji merasa tergerak dan trenyuh karena melihat sebuah nilai dari senyum yang berasal dari hati. Senyum dari hati, sebuah ungkapan yang luar biasa … sebuah nilai senyum yang sangat memberi dampak dahsyat, karena senyum dari hati bukan hanya melahirkan ketulusan, tetapi juga mampu bercerita tentang nilai-nilai kemanusiaan, persahabatan, kesenangan sampai pada sebuah nilai tentang kemarahan.
Beberapa manfaat senyum yang juga saya dapatkan dari milis internet, yaitu :
Senyum membuat Anda lebih menarik.
Orang yang banyak tersenyum memiliki daya tarik. Orang yang suka tersenyum membuat perasaan orang disekitarnya nyaman dan senang. Orang yang selalu merengut, cemburut, mengerutkan kening, dan menyeringai membuat orang-orang disekeliling tidak nyaman. Dipastikan orang yang banyak tersenyum memiliki banyak teman.
Senyum mengubah perasaan
Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa memperdayai tubuh sehingga perasaan berubah.
Senyum menular
Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih riang. Orang disekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa lebih bahagia
Senyum menghilangkan stres
Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik lelah, bosan, dan sedih. Ketika anda stres,ambil waktu untuk tersenyum. Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih jernih.
Senyum meningkatkan imunitas.
Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Menurut penelitian, flu dan batuk bisa hilang dengan senyum.
Senyum menurunkan tekanan darah
Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat anda tidak tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat anda tersenyum saat diperiksa. Tekanan darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.
Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin
Senyum ibarat obat alami. Senyum bisa menghasilkan endorphin,pemati rasa alamiah, dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yang bisa mengendalikan rasa sakit.
Senyum membuat awet muda
Senyuman menggerakkan banyak otot. Akibatnya otot wajah terlatih sehingga anda tidak perlu melakukan face lift. Dijamin dengan byk tersenyum Anda akan terlihat lebih awet muda.
Senyum membuat Anda kelihatan sukses
Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri,terkenal, dan bisa diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien. Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.
Senyum membuat orang berpikir positif.
Coba lakukan ini : pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah. Penyebabnya, ketika Anda tersenyum,tubuh mengirim sinyal "hidup adalah baik". Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai anugerah
Tersenyum sudah pasti akan terus menjadi komoditas yang terbukti ampuh untuk menyemangati penjuangan hubungan antar manusia yang kita lakukan dan tentunya akan membuat kita semakin sering tersenyum dan saat kita dilihat orang lain sedang tersenyum sendiri, tentunya kita tidak sedang bermasalah, tetapi kita sedang tersenyum karena pembicaraan yang luar biasa menyenangkan dengan hati kita.
keep on istiqomah untuk tersenyum dari hati dengan tulus
17 Januari, 2010
SERBA SERBI HATI (Sequel Kelima) - Bersahabat dengan Hati
SERBA SERBI HATI (Sequel Kelima)
Saat kita membaca tentang hati, ingatan kita pasti tertuju pada seonggok organ tubuh yang berwarna merah kecoklatan (akhirnya timbul satu warna baru : merah hati) dengan fungsi yang sangat vital, sebagai penyaring darah. karena berfungsi sebagai penyaring, sering kita ibaratkan hati itu sebagai sepasang ‘mata’ hidup seorang manusia.
“Kata Hati”, misalnya. Orang sering artikan sebagai sebuah pekataan milik jiwa yan paling bersih dan paling suci. Kata hati terkadang kita dijadikan sebagai penentu keputusan. Berbicara tentang hati, tentunya kita akan kaitkan dengan ‘Kalbu atau Nurani’. Kalbu atau Nurani diibaratkan sebagai bagian tubuh yang paling bersih dan suci, berkaitan dengan pusat kotrol seluruh aktifitas lahiriah dan bathiniah. Selanjutnya kita leburkan saja hal-hal yang berkaitan dengan kalbu atau nurani dengan satu kata “HATI”
Serba serbi tentang hati ini cukup bagus kita ulas untuk saling mencerahkan dan memahami tentang hati kita.
Sequel Kelima
Bersahabat dengan Hati
“Jadilah Dirimu Sendiri” … ungkapan yang sering kita dengar dan sering kita sampaikan pada banyak orang terkait dengan aktifitas kehidupan kita. Ungkapan itu selalu berdengung dan terkadang menjadi klise karena ternyata kita masih ingin seperti orang lain yang berbeda dengan sifat dasar kita. Adalah tidak mungkin bagi kita yang memiliki sifat kurang telaten masih mengatakan bahwa keinginan menjadi peneliti di sebuah laboratorium yang berkutat dengan reagent dan peralatan ringkih. Juga adalah suatu hal yang sulit diterima bila kita masih memiliki keinginan menjadi guru taman kanan-kanan, sementara kita memiliki temperamen dasar yang masih cukup emosional. Tentunya bukan berarti bahwa kita tidak bisa belajar telaten atau belajar menjadi sabar, pastinya setelah kita benar-benar mampu telaten atau mampu menjadi manusia yang sabar untuk selamanya, menjadi peneliti atau guru taman kanak-kanak menjadi hal yang sangat mungkin. Meskipun, secara sadar … melakukan profesi tersebut menjadi tidak menarik karena harus melakukan perubahan yang sangat frontal.
Paling tidak, profesi bagi kita yang tidak telaten atau temperamental adalah profesi di lapangan dengan melakukan modifikasi kecil akan ketidaktelatenan dan temperamental kita. Yang jelas, kalaupun ada perubahan, tetap harus ada nilai yang terlebih dahulu dikedepankan … Persahabatan dengan Hati.
Melakukan persahabatan dengan hati boleh jadi adalah hal yang terpenting dalam kehidupan kita, karena akan banyak perjanjian-perjanjian, prasyarat dan syarat, serta hal-hal idealis yang perlu dibicarakan, seperti :
Egoisme
satu nilai dasar manusia yang terus menggentayangi perjalan kehidupan, baik kehidupan sendiri maupun bersama dengan keluarga maupun dengan kelompok maupun kehidupan bermasyarakat. kepentingan diri sendiri boleh jadi adalah hal-hal yang mengendalikan sikap – perkataan – perbuatan kita. kadarnya berbeda-beda tergantung keinginan diri dalam menilai kehidupan. ada diantara kita yang sangat pelit sekali dalam meluangkan waktu-tenaga-pikiran-materi untuk orang lain karena secara tidak langsung berpengaruh pada kehidupan atau memang karena nilai diri yang materialistis. atau diantara kita yang masih mau berbagi sedikit atau yang ingin berbagi banyak, karena berfikiran bahwa kita hidup didunia ini untuk orang lain sehingga kita menjadi manusia yang sampai tidak memikirkan diri sendiri
Pengorbanan
banyak model pengorbanan yang mungkin kita lakukan, mulai dari pengorbanan materi, pengorbanan waktu, pengorbanan tenaga sampai pengorbanan kenikmatan dan pengorbanan melalui do’a. pada prinsipnya, pengorbanan adalah sebuah tuntutan dari pengaturan egoisme kita. setiap ego diri yang kita atur, maka konsekuensinya adalah pengorbana. besar kecilnya relatif, tergantung pada bagaimana kita mampu merayu hati yang mengatur ego diri
Kedua hal diatas, boleh jadi merupakan syarat dalam usaha kita bersahabat dengan hati. Tentunya setiap syarat yang kita laksanakan akan melahirkan keluaran, seperti konsep Aksi – Reaksi.
pribadi yang menarik
kemampuan kita dalam mengatur ego dan bersedia melakukan pengorbanan akan membuat kita menjadi pribadi yang menarik, membuat kita sangat disukai banyak orang dan membuat kita dapat diterima oleh komunitas kita
kemudahan-kemudahan dalam kehidupan
setelah menjadi pribadi yang menarik, penilaian komunitas pada diri kita juga akan berubah positif dan melalui persahabatan hati yang baik, maka seluruh isi dunia ini akan berkolaborasi untuk memberi kemudahan-kemudahan dalam kehidupan kita
kebahagiaan
mencapai nilai akhir kehidupan adalah mendapatkan kebahagiaan lahir dan bathin. kebahagiaan yang menjadi capaian kita merupakan satu keadaan dimana kedamaian hati yang kita terima, kecukupan lahir yang kita rasakan dapat dipadukan untuk disebarkan pada manusia-manusia yang lain yang kita cintai, yang bersentuhan dengan kita dan berhubungan dengan kita
keep on istiqomah untuk selalu bersahabat dengan hati
Saat kita membaca tentang hati, ingatan kita pasti tertuju pada seonggok organ tubuh yang berwarna merah kecoklatan (akhirnya timbul satu warna baru : merah hati) dengan fungsi yang sangat vital, sebagai penyaring darah. karena berfungsi sebagai penyaring, sering kita ibaratkan hati itu sebagai sepasang ‘mata’ hidup seorang manusia.
“Kata Hati”, misalnya. Orang sering artikan sebagai sebuah pekataan milik jiwa yan paling bersih dan paling suci. Kata hati terkadang kita dijadikan sebagai penentu keputusan. Berbicara tentang hati, tentunya kita akan kaitkan dengan ‘Kalbu atau Nurani’. Kalbu atau Nurani diibaratkan sebagai bagian tubuh yang paling bersih dan suci, berkaitan dengan pusat kotrol seluruh aktifitas lahiriah dan bathiniah. Selanjutnya kita leburkan saja hal-hal yang berkaitan dengan kalbu atau nurani dengan satu kata “HATI”
Serba serbi tentang hati ini cukup bagus kita ulas untuk saling mencerahkan dan memahami tentang hati kita.
Sequel Kelima
Bersahabat dengan Hati
“Jadilah Dirimu Sendiri” … ungkapan yang sering kita dengar dan sering kita sampaikan pada banyak orang terkait dengan aktifitas kehidupan kita. Ungkapan itu selalu berdengung dan terkadang menjadi klise karena ternyata kita masih ingin seperti orang lain yang berbeda dengan sifat dasar kita. Adalah tidak mungkin bagi kita yang memiliki sifat kurang telaten masih mengatakan bahwa keinginan menjadi peneliti di sebuah laboratorium yang berkutat dengan reagent dan peralatan ringkih. Juga adalah suatu hal yang sulit diterima bila kita masih memiliki keinginan menjadi guru taman kanan-kanan, sementara kita memiliki temperamen dasar yang masih cukup emosional. Tentunya bukan berarti bahwa kita tidak bisa belajar telaten atau belajar menjadi sabar, pastinya setelah kita benar-benar mampu telaten atau mampu menjadi manusia yang sabar untuk selamanya, menjadi peneliti atau guru taman kanak-kanak menjadi hal yang sangat mungkin. Meskipun, secara sadar … melakukan profesi tersebut menjadi tidak menarik karena harus melakukan perubahan yang sangat frontal.
Paling tidak, profesi bagi kita yang tidak telaten atau temperamental adalah profesi di lapangan dengan melakukan modifikasi kecil akan ketidaktelatenan dan temperamental kita. Yang jelas, kalaupun ada perubahan, tetap harus ada nilai yang terlebih dahulu dikedepankan … Persahabatan dengan Hati.
Melakukan persahabatan dengan hati boleh jadi adalah hal yang terpenting dalam kehidupan kita, karena akan banyak perjanjian-perjanjian, prasyarat dan syarat, serta hal-hal idealis yang perlu dibicarakan, seperti :
Egoisme
satu nilai dasar manusia yang terus menggentayangi perjalan kehidupan, baik kehidupan sendiri maupun bersama dengan keluarga maupun dengan kelompok maupun kehidupan bermasyarakat. kepentingan diri sendiri boleh jadi adalah hal-hal yang mengendalikan sikap – perkataan – perbuatan kita. kadarnya berbeda-beda tergantung keinginan diri dalam menilai kehidupan. ada diantara kita yang sangat pelit sekali dalam meluangkan waktu-tenaga-pikiran-materi untuk orang lain karena secara tidak langsung berpengaruh pada kehidupan atau memang karena nilai diri yang materialistis. atau diantara kita yang masih mau berbagi sedikit atau yang ingin berbagi banyak, karena berfikiran bahwa kita hidup didunia ini untuk orang lain sehingga kita menjadi manusia yang sampai tidak memikirkan diri sendiri
Pengorbanan
banyak model pengorbanan yang mungkin kita lakukan, mulai dari pengorbanan materi, pengorbanan waktu, pengorbanan tenaga sampai pengorbanan kenikmatan dan pengorbanan melalui do’a. pada prinsipnya, pengorbanan adalah sebuah tuntutan dari pengaturan egoisme kita. setiap ego diri yang kita atur, maka konsekuensinya adalah pengorbana. besar kecilnya relatif, tergantung pada bagaimana kita mampu merayu hati yang mengatur ego diri
Kedua hal diatas, boleh jadi merupakan syarat dalam usaha kita bersahabat dengan hati. Tentunya setiap syarat yang kita laksanakan akan melahirkan keluaran, seperti konsep Aksi – Reaksi.
pribadi yang menarik
kemampuan kita dalam mengatur ego dan bersedia melakukan pengorbanan akan membuat kita menjadi pribadi yang menarik, membuat kita sangat disukai banyak orang dan membuat kita dapat diterima oleh komunitas kita
kemudahan-kemudahan dalam kehidupan
setelah menjadi pribadi yang menarik, penilaian komunitas pada diri kita juga akan berubah positif dan melalui persahabatan hati yang baik, maka seluruh isi dunia ini akan berkolaborasi untuk memberi kemudahan-kemudahan dalam kehidupan kita
kebahagiaan
mencapai nilai akhir kehidupan adalah mendapatkan kebahagiaan lahir dan bathin. kebahagiaan yang menjadi capaian kita merupakan satu keadaan dimana kedamaian hati yang kita terima, kecukupan lahir yang kita rasakan dapat dipadukan untuk disebarkan pada manusia-manusia yang lain yang kita cintai, yang bersentuhan dengan kita dan berhubungan dengan kita
keep on istiqomah untuk selalu bersahabat dengan hati
16 Januari, 2010
Satu karena Beda
Satu karena Beda
gemerecap kata meluncur berkelanjutan …
bersahutan kecap menyilang silang …
mengalirnya kata bertaut kalimat …
menyatukan perbedaan adalah tujuan
kadang emosi diri ternyatakan …
menyusup ditengah-tengah kesehatan akal …
melupakan tata tertata …
karena kuasa ego meluluhlantakkan segalanya
galibnya tautan diri …
berdasar pada nilai-nilai dan tata silaturahmi …
mengkedepankan kesatuan yang mendamaikan …
mendamaikan jiwa menuju kebahagiaan
sebuah perbedaan kata terjadi berulang …
sebuah perbedaan pengertian terjadi setiap saat …
mencari titik tengah adalah keharusan …
menggiring sepakat menuju satu kata
menyadari berbeda adalah anugrah …
menyadari diskusi adalah sarana …
mengesampingkan ego diri …
menyungging senyum sesame
keindahan perbedaan …
keberkahan perdebatan …
kenikmatan penyatuan persepsi …
segalanya akan terasa indah pada saat kelegawaan diri ternyatakan
mengalahkan tidak merendahkan …
terkalahkan tidak menjadi pecundang …
karena kelebihan adalah anugrah …
karena kekurangan adalah hikmah
gemerecap kata meluncur berkelanjutan …
bersahutan kecap menyilang silang …
mengalirnya kata bertaut kalimat …
menyatukan perbedaan adalah tujuan
kadang emosi diri ternyatakan …
menyusup ditengah-tengah kesehatan akal …
melupakan tata tertata …
karena kuasa ego meluluhlantakkan segalanya
galibnya tautan diri …
berdasar pada nilai-nilai dan tata silaturahmi …
mengkedepankan kesatuan yang mendamaikan …
mendamaikan jiwa menuju kebahagiaan
sebuah perbedaan kata terjadi berulang …
sebuah perbedaan pengertian terjadi setiap saat …
mencari titik tengah adalah keharusan …
menggiring sepakat menuju satu kata
menyadari berbeda adalah anugrah …
menyadari diskusi adalah sarana …
mengesampingkan ego diri …
menyungging senyum sesame
keindahan perbedaan …
keberkahan perdebatan …
kenikmatan penyatuan persepsi …
segalanya akan terasa indah pada saat kelegawaan diri ternyatakan
mengalahkan tidak merendahkan …
terkalahkan tidak menjadi pecundang …
karena kelebihan adalah anugrah …
karena kekurangan adalah hikmah
12 Januari, 2010
11 Januari, 2010
cerita tentang sejumput alang-alang ...
cerita tentang sejumput alang-alang ...
akarnya merantai tepat digaris tanah, mengajarkan pada kita arti tentang PERSAHABATAN
saat panas berkepanjangan dan kekeringan melanda, dia selalu mampu bertanahn dan berkembang biak, mengajarkan pada kita arti tentang SURVIVE
bunganya beterbangan meniti angin, mengajarkan pada kita arti tentang SOSIALISASI
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenai Saya
- ekabees
- keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...
COWMANIA