12 Desember, 2010

POTENSI ITU ... MASIH ADA - Mengulik serba serbi sapi potong Indonesia

POTENSI ITU ... MASIH ADA
Mengulik serba serbi sapi potong Indonesia

disampaikan pada Seminar Nasional dalam rangkaian kegiatan Musyawarah Nasional Ismapeti XI, 11 Desember 2010 di Ruang Seminar 1 Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

PENDAHULUAN

Negara yang kaya dengan ternak tidak akan pemah miskin, dan negara yang miskin dengan ternak tidak akan pernah kaya (Campbell dan Lasley, 1985)

Sapi bagi masyarakat Indonesia sudah menjadi sebuah kegiatan yang mendarah daging, sudah menjadi sebuah nilai-nilai yang membumi, sudah menjadi kultur yang mengakar, sudah menjadi benda yang memiliki banyak hikmah. Mulai dari penghasil daging dan susu, sumber tenaga kerja untuk membajak sawah atau menggiling bahan pangan, sumber tenaga angkut pedati atau angkutan barang, sarana ritual, tabungan hidup dan nilai kekayaan yang bernilai gengsi. Perkembangan selanjutnya, ternak sapi banyak menjadi sumber kehidupan bagi sebagian rakyat Indonesia yang memilih profesi sebagai peternak. Pengusahaan ternak sapi mulai banyak dilakukan seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan protein asal daging dan susu sehingga permintaan akan komoditas asal daging dan susu terus meningkat. Model usaha peternakan juga bermacam-macam, mulai dari tingkatan konvensional sampai tingkatan modern. Peternakan rakyat, perusahaan peternakan, akademisi bidang peternakan dan kedokteran hewan, rumah sakit hewan dan seluruh komponen kesehatan hewan (termasuk pabrik obat-obatan ternak besar), perusahaan pakan ternak, institusi pembibitan ternak, koperasi, pabrik pengolahan hasil ternak, jagal (pemotong) ternak, asosiasi/perkumpulan peternakan sapi Indonesia dan pemerintah merupakan stake holder yang berperan bagi pengembangan persapian Indonesia.



SAPI POTONG

Masyarakat Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta jiwa tentunya semakin banyak membutuhkan protein asal daging ini. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya lonjakan permintaan yang cukup signifikan akan daging. Ternak sapi merupakan penyedia protein hewani asal daging yang cukup potensial.
Indonesia yang kaya raya ini menyediakan sarana produksi yang cukup berlimpah untuk usaha pengembangan ternak sapi, diantaranya sapi potong. Sayangnya, sumber sapi potong yang dimiliki Indonesia sebagai plasma nutfah asli sangatlah sedikit dan perbandingan antara kelahiran dan jumlah pemotongan ternak tidak seimbang. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya hubungan dagang dengan negara lain untuk menyediakan bakalan sapi potong untuk digemukkan di Indonesia demi penyediaan kebutuhan protein hewani asal daging tersebut. Program swasembada daging untuk menekan jumlah impor ternak sapi potong maupun daging, telah dicanangkan dan perlu dilaksanakan secara terintegrasi oleh seluruh stake holder di bidang persapian Indonesia.
Usaha peternakan yang terintegrasi (Integrated Farming) diharapan dapat meningkatkan nilai efisiensi usaha dengan pemanfaatan by product yang diharapkan dapat menurunkan cost of production dan sekaligus meningkatkan pay of income. Sapi potong merupakan salah satu jenis ternak yang berperan dalam melakukan supply untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan protein hewani asal daging. Pengelolaan yang baik dengan pola manajerial yang sempurna akan menghasilkan kinerja ternak potong yang ideal sehingga diperoleh hasil baik. Hasil yang baik akan memberi banyak keuntungan, pertama : pemenuhan supply protein hewani asal daging; kedua : pembukaan lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar farm; ketiga : peningkatan nilai penggunaan lahan-lahan pertanian marjinal sehingga memberi nilai guna pada lahan secara positif; keempat : peningkatan kualitas lahan seiring dengan introdusir penggunaan kompos (by product usaha peternakan); kelima : peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang mengikuti peningkatan income pengusaha atas peternakan yang diusahakan.



BEBERAPA JENIS SAPI POTONG
Bangsa sapi yang ada didunia saat ini sebenarnya merupakan produk domestikasi (penjinakan) sapi mulai jaman promitif. Kemudian digolongkan menjadi tiga kelompok.
Kelompok pertama, Bos Indicus
Kelompok sapi ini berkembang baik di India yang kemudian berkembang ke daratan Asia Tenggara (salah satunya, Indonesia), Afrika, Amerika dan Australia. Disebut juga sapi ‘Zebu’ (berpunuk), dengan salah satu keturunannya di Indonesia kita kenal dengan nama Peranakan Ongole dan Brahman, di Amerika dikenal dengan sebutan American Brahman.
Kelompok kedua, Bos Taurus
Menurunkan kelompok sapi perang dan potong di daratan Eropa, belakangan menyebar ke Amerika, Australia dan Selandia Baru. Indonesia juga turut mencoba mengembangkannya. Jenis-jenisnya antara lain : Aberdeen Angus, Hereford, Shorthorn, Charolais, Simmental dan Limousine.
Kelompok ketiga, Bos Sondaicus (Bos Bibos)
Merupakan kelompok yang berkembang di Indonesia, yang merupakan keturunan banteng. Jenisnya antara lain : Sapi Jawa, Sapi Sumatera, Sapi Bali dan sapi-sapi lokal lainnya.

Beberapa strain ternak sapi potong antara lain :
A.Santa Gertrudis, Merupakan persilangan antara induk Shorthorn dan pejanta Brahman. Berkembang baik di seputar wilayah Texas (Amerika)
B.Beefmaster, Persilangan antara Brahman, Hereford dan Shorthorn dengan perbandingan genetis = 50 % : 25 % : 25 %. Sama seperti Santa Gertrudis, sapi ini berkembang baik di daratan Texas (Amerika).
C.Droughtmaster, Memiliki perbandingan genetis = 3/7 Brahman dan 4/7 Shorthorn. Performancenya sama dengan Santa Gertrudis, hanya saja genetic Brahman lebih dominan.
D.American Brahman, Termasuk golongan sapi zebu keturunan Kankrey, Ongole, Gir, Krishna, Hariana dan Bhagari. Masuk Amerika tahun 1854 dan dkembangkan di wilayah Lousiana. Tipe potong yang baik dengan pertumbuhan cepat dengan pakan sederhana.
E.Peranakan Ongole, Di Indonesia dikenal dengan sebutan Sapi Bengggala. Berasal dari daratan India. Termasuk sapi potong dan kerja.
F.Aberdeen Angus, Berasal dari Scotlandia Utara, masuk Indonesia sekitar tahun 1973. Biasanya berbulu hitam, agak panjang, keriting dan halus. Tidak bertanduk dengan tubuh panjang dan kompak. Tubuh rata, lebar, dalam dan pendek. Disilangkan dengan sapi Brahman akan menghasilkan Brahman Angus (Brangus)
G.Hereford, Berasal dari Inggris. Warna bulu merah, kecuali pada muka, dada, badan, perut bawah, keempat kaki sebatas lutut, bahu dan ekor berwarna putih. Sehingga dikenal pula sebagai white faced cattle. Postur tubuh rendah tetapi memiliki urat daging yang padat dan tegap.
Bobot badan jantan dewasa sekitar 850 kg dan betina dewasa 650 kg. Lebih sesuai bila digemukkan dengan system pastur atau padang gembalaan karena cara merumput yang baik. Tidak cocok dikembangkan di Indonesia.
H.Simmental, Berasal dari Switzerland. Ukuran tubuh besar, perototan bagus dengan penimbunan lemak bawah kulit yang rendah. Warna bulu umumnya krem agak coklat atau sedikit merah, kecuali pada muka, keempat kaki sebatas lutut dan ujung ekor berwarna putih.
I.Limousine, Berasal dari Prancis, merupakan tipe potong dengan warna bulu cokelat dengan warna agak terang pada sekeliling mata dan kali mulai lutut kebawah. Tubuh besar dan panjang, pertumbuhan bagus.
J.Brahman Cross, Merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman dengan sapi jenis lain. Dikembangkan di Amerika dan Australia. Diimpor dari Australia. Memiliki pertumbuhan baik, konformasi karkas yang ideal, tahan iklim tropis dan lalat/kutu. Umumnya sapi ini memiliki warna gelap keabu-abuan atau kemerahan atau hitam. Pada jantan warnanya lebih gelap daripada betina.
K.Sapi Lokal Indonesia, Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan). Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman. Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Ternak sapi lokal Indonesia juga memiliki daya tahan terhadap lingkungan tropis dan serangan caplak, kutu atau tungau yang biasa terjadi diwilayah tropis
Peternak sebagai salah satu stake holder persapian Indonesia, saat ini terbagi atas tiga golongan :
a.Peternak Sapi
Kumpulan rakyat Indonesia yang melakukan model pengusahaan dan tataniaga ternak sapi potong dan sapi perah dengan penjiwaan yang dalam. Skala usaha dari kecil sampai besar dilakukan sepenuh hati dengan tujuan agar perkembangan usaha ternak sapi dapat terencana dan terarah. Orientasi reproduktif dilakukan untuk menambah populasi ternak melalui perkawinan alam, inseminasi buatan atau transfer embrio
b.Pemerhati Ternak Sapi
Kumpulan rakyat Indonesia yang membagi perhatian lebih bagi perkembangan peternakan sapi potong dan perah. Usaha, kebijakan dan dukungan yang dilakukan adalah semata-mata untuk kepentingan perkembangan persapian nasional. Perhatian melalui penelitian, pengembangan pakan ternak, studi komparasi, pengembangan uji bibit ternak, pengembangan keilmuan, studi tentang penanganan produk peternakan, pengembangan melalui perkumpulan/group/kelompok serta model pengembangan lainnya
c.Pebisnis Sapi
Merupakan kumpulan masyarakat Indonesia yang melakukan usaha dan tataniaga peternakan sapi potong dan sapi perah tanpa jiwa dan kecintaan terhadap ternak. Nilai-nilai kapitalis telah mengaburkan konsep perkembangan persapian nasional yang tertata, terencana dan terarah. Sebagian besar usaha yang dilakukan hanya kepentingan material semata dan tidak pernah berfikir mengenai kegiatan reproduktif yang mantap. Kendali mereka terhadap pengambilan kebijakan, penghalalan segala cara dan model usaha yang dilakukan sangat tidak mendukung kemandirian peternakan sapi Indonesia

Warna yang digurat oleh para stake holder akhirnya menjadikan kondisi persapian Indonesia menjadi seperti saat ini. Berdasarkan analisa makro yang disajikan oleh Departemen Pertanian RI (2009) menunjukkan betapa memprihatinkan kondisi persapian Indonesia yang sudah mulai terbangun sejak jaman Majapahit. Indonesia yang merupakan negara agraris dengan seluruh potensi keanekaragaman hayati terpaksa takluk pada ketidakmampuan dalam menyediakan protein hewani asal daging dan susu secara mandiri. Sejarah panjang persapian Indonesia yang tertulis pada “Prasasti Nandini Nusantara” memberi nilai merah pada rapor kemampuan kita dalam melaksanakan manajemen usaha ternak sapi. Sampai saat ini, pencapaian populasi ternak sapi potong dan sapi perah masih belum mampu memberi kemandirian produktifitas untuk memenuhi permintaan masyarakat.


Jumlah populasi ternak sapi potong yang kurang dari 5% jumlah penduduk Indonesia menunjukkan betapa ketidakseriusan para stake holder dalam mengembangkan peternakan sapi potong Indonesia. Pemotongan betina produktif yang rata-rata mencapai 200.000 ekor per tahun memberi penegasan betapa kita masih jauh dari niatan untuk berswasembada daging dan air susu sapi. Nilai impor daging dari luar negeri yang masih berpotensi polemik terus mengalir ditambah dengan membanjirnya impor ternak sapi terutama dari Australia merupakan bukti betapa negara ini lebih senang disebut ‘shopaholic of cattle’ daripada ‘producer of cattle’. Kondisi peternakan rakyat yang senang dengan ternak lokal (brahman, simmental, limousine, brangus, angus, peranakan ongole, bali, madura, grati) yang memiliki nilai reproduktif tinggi tentunya berbeda dengan jenis ternak impor dari Australia yang merupakan Brahman Cross (ternak Brahman yang disilangkan dengan beberapa jenis ternak lain, seperti Shorthorn, Hereford, Braford atau Drougmaster) dan lebih mengarah pada ‘ternak hibrida’ sehingga nilai reproduktifnya terbilang rendah.
Nilai merah lain yang tertoreh adalah masih rendahnya nilai konsumsi perkapita rakyat Indonesia terhadap produk-produk peternakan dibandingkan dengan negara-negara lain, terutama negara jiran. Data Apfindo (Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia) (2007) menunjukan bahwa pangsa konsumsi daging nasional didominasi oleh daging ayam sebesar 56 %, sapi 23%, babi 13 %, kambing dan domba 5% dan lainnya sekitar 3 %. Konsumsi protein hewani di Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, masih tergolong rendah. Rata-rata konsumsi ayam di ASEAN 7.5 kg/kapita/tahun, Indonesia 4.5 kg/kapita/tahun menduduki peringkat ke lima setelah Filipina 8.5 kg/kapita/tahun, Kamboja menduduki peringkat terendah kurang dari 2.0 kg/kapita/tahun, dan Malaysia merupakan konsumen terbesar 38.5 kg/kapita/tahun. Konsumsi telur pun tidak jauh beda, Indonesia 67 butir/kapita/tahun sedangkan Malaysia 311 butir/kapita/tahun (FAO : 2005).


TANTANGAN PERSAPIAN INDONESIA

Persapian Indonesia sebenarnya tetap terkungkung pada permasalahan klasik yang sebenarnya selalu menjadi ‘pekerjaan rumah’ seluruh stake holder persapian Indonesia. Sayangnya, negara ini tidak serius dan tidak berkeinginan besar untuk menjadikan persapian Indonesia menjadi lebih baik.
1.Tataniaga
Permasalahan ini masih sangat menganggu dan terus menghantui perkembangan usaha peternakan sapi. Proses distribusi persapian Indonesia menunjukkan betapa lemahnya tataniaga daging di bumi nusantara ini. Nilai permintaan dan penawaran pada beberapa produk daging sepertinya lebih mengarah pada sistem kartel dan monopoli sehingga banyak kepentingan yang terjadi dalam ranah perkembangan ternak sapi potong Indonesia. Harga daging yang saat ini tertekan akibat banjirnya daging impor dan aliran ternak impor yang tidak berpihak pada peternakan rakyat memberi signal-signal yang jelas bagi perlemahan nilai-nilai peternakan sapi Indonesia. Undang-undang no 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan hewan secara jelas disebutkan dalam pasal 36 ayat 1 dan 2 menyatakan tentang kewajiban pemerintah dalam menyelenggarakan dan memfasilitasi pemasaran produk peternakan. Pola tataniaga dengan menyerahkan pada mekanisme pasar yang dilakukan oleh pemerintah menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam mendukung peternak (terutama peternak rakyat untuk meningkatkan kesejahteraan melalui peternakan)
2.Egosektoral
Hampir kebanyakan stake holder di republik ini melakukan usaha dan kebijakan perkembangan persapian nasional hanya sebatas pada kepentingan golongan/kelompok semata. Keinginan menjadi yang terbaik dengan mengabaikan sebuah kolaborasi yang manis menjadikan kesatuan misi dan visi dalam merealisasikan kemandirian persapian nasional hanya sebuah utopia semata. Direktur Jenderal Peternakan – Departemen Pertanian RI bertanggungjawab atas seluruh hal yang berkenaan dengan peternakan dan hasil ternak, tetapi saat sudah menyentuh ranah distribusi produk daging, maka Departemen Perindustrian dan Perdagangan yang mengambil peran lebih banyak. Sementara koordinasi lintas departemen sangat lemah dan ini dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab
3.Penegakan Aturan
Seluruh aktifitas perkembangan persapian nasional sampai saat ini masih diwarnai dengan berbagai pelanggaran dan hal ini menyebabkan terjadinya stagnasi atau hal yang lebih buruk lagi. Pemotongan ternak betina terjadi karena penegakan aturan hukum yang setengah-setengah, dilanggarnya konsep karantina hewan di Indonesia, protokol impor merupakan cermin betapa penegakan aturan masih sangat lemah dan penuh pensiasatan. Perangkat hukum sudah diletakkan, mulai dari Undang-undang nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Menteri Pertanian nomor 54/Permentan/OT.140/10/2006 tentang Pedoman Pembibitan Sapi Potong Yang Baik (Good Breeding Practice),
4.Ketidakjelasan Program Pemerintah
Pemerintah sebagai regulator perkembangan persapian Indonesia, kadang kala masih melakukan program-program yang tidak jelas arah dan tujuannya. Konsep pengembangan peternakan sapi potong dengan memberlakukan impor sapi Brahman Cross betina bunting sungguh sangat tidak bijak, karena evaluasi terhadap nilai kebuntingan kembali sangat rendah dan tidak pernah terlaporkan secara gamblang. Proses pengadaan ternak inipun sangat tidak masuk akal, seekor ternak betina produktif dengan harga pengadaan seperti ternak potong adalah sebuah hal yang menggelikan. Juga program kebijakan pendanaan bagi masyarakat peternakan Indonesia yang belum memberikan penyegaran. Aturan-aturan yang tidak jelas, pembatasan-pembatasan yang sangat kabur serta ketidakberanian pemerintah dalam menentukan keputusan merupakan pemicu ketidakberhasilan program pemerintah
5.Penyediaan pakan ternak
Tentunya sebagai salah satu hal penting dalam segitiga produksi, penyediaan pakan ternak merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Penelitian-penelitian tentang pakan ternak ruminansia dari berbagai bahan hasil samping usaha dan agroindustri pertanian – perkebunan menunjukkan betapa potensi pakan ternak merupakan hal yang patut menjadi perhatian. Akhirnya, akhir-akhir ini banyak hasil samping usaha dan agroindustri pertanian – perkebunan diekspor keluar negeri sebagai pakan ternak, sementara di dalam negeri, ‘sapi makan sapi’ menjadi fenomena umum saat musim kemarau
6.Pendampingan dan bimbingan
Peternakan rakyat saat ini masih menjadi obyek persapian Indonesia. Mereka masih berada dibawah kendali tataniaga yang dikuasai oleh pemodal kuat dan perusahaan besar milik pebisnis sapi. Kebanyakan Koperasi Unit Desa sebagai pengayom mereka belum menunjukkan fungsi dan peran seperti yang diharapkan. Ketiadaan pendampingan dan pembimbingan kepada peternakan rakyat menjadikan kualitas reproduktif ternak sapi menurun, pemotongan ternak betina produktif, ketidakmampuan dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi air susu dan rendahnya nilai tawar peternakan rakyat adalah bukti konkret yang patut digarisbawahi

Potensi itu ... Masih Ada

1.Pemetaan Ternak
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan harus segara melakukan pemetaan ternak sapi, mengenai jumlah, jenis kelamin, kondisi (kapita selekta), potensi produksi daging dan susu, status produksi/reproduksi, jumlah dan kondisi Rumah Potong Hewan serta kapitaselekta kesehatan ternak. Acuan data yang digunakan untuk Program Swasembada Daging Sapi tahun 2014 dianggap masih tidak valid, merupakan cermin pengambilan keputusan yang terburu-buru. Sensus sapi yang akan dilaksanakan tentunya akan lebih baik bila mampu melibatkan banyak pihak, mulai dari kelompok ternak, desa, Dinas Peternakan Kecamatan sampai Propinsi
2.Pemetaan Kebutuhan Daging Sapi
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan melakukan pendataan kebutuhan daging sapi per wilayah, lengkap dengan standarisasi nasional kualitas daging. Pemetaan ternak dan kebutuhan masyarakat ini akan melahirkan besaran jumlah ternak yang harus tersedia, jumlah ternak yang harus dipotong oleh setiap Rumah Pemotongan Hewan, strategi pembibitan ternak sapi, jumlah impor ternak sapi, jumlah impor daging dan jerohan sapi, negara calon eksportir ternak dan daging. Penetapan ini sangat penting sebagai langkah proteksi pemerintah dalam menjaga keamanan pasar bagi peternakan nasional Indonesia, peningkatan kualitas produk peternakan mutlak dilaksanakan sebagai konsekuensi daya saing yang lebih baik. Pemetaan per wilayah akan sangat membantu penyediaan bahan pangan asal daging sapi serta akan sangat merangsang daerah untuk menyiapkan diri sebagai wilayah penyangga daging sapi nasional. Hal ini juga dapat diberlakukan untuk jenis ternak lainnya
3.Perbaikan Tataniaga
Pengaturan harga produk asal daging sesuai dengan besaran permintaan dan penawaran perlu dikawal secara ketat sehingga harga penawaran yang diberikan peternak/penjual dapat bersanding ideal dengan harga permintaan dari konsumen, termasuk didalamnya adalah model rantai distribusi produk. Impor ternak sapi Brahman Cross dan daging/jerohan sapi secara membabi buta tanpa memperhatikan tingkat kebutuhan melalui pemetaan yang tepat adalah sebuah kesalahan besar dan berdampak sistemik bagi perkembangan usaha ternak sapi potong nasional. Ketegasan pemerintah dalam mengatur tataniaga sangat mutlak diperlukan dan harus dilaksanakan. Setelah dipenuhi kapita selekta ternak sapi dan dapat dipastikan kondisi penyediaan produk asal daging sapi, pemerintah segera melakukan penataan terhadap tataniaga, status stok yang terpenuhi dan besaran harga yang layak kepada konsumen dan besaran harga bagi petani/peternak sudah sewajarnya dilaksanakan. Bila mekanisme pasar menjadi indikator penentuan harga, maka pemerintah harus mengawal kondisi pasar agar tetap kondusif dan menjamin pasokan agar sesuai dengan kebutuhan (tidak kekurangan dan tidak berlebihan). Rantai pemasaran produk asal sapi yang selama ini memberi warna diatur sedemikian rupa sehingga stabilitas ketersediaan barang dan fluktuasi harga dapat dijaga kestabilannya. Blantik, jagal pasar, pedagang daging, KUD adalah mata rantai yang dibangun untuk mendukung ekonomi kerakyatan.
4.Bijak dalam Impor Ternak dan Daging/Jerohan Sapi
Banyaknya impor ternak dan daging/jerohan sapi tidak sebanding dengan kebutuhan yang ada akan menyebabkan terjadinya koreksi harga akibat persaingan yang tidak sehat dalam tataniaga ternak dan daging/jerohan sapi. Bijak dalam pelaksanaan impor dan pengenaan pajak impor pada produk-produk tersebut akan membantu perkembangan usaha ternak sapi potong nasional. Sebaiknya BULOG sapi segera dibentuk sebagai salah satu buffer penyediaan produk asal sapi dan penjaga stabilisasi harga. Pemerintah sebaiknya memiliki Unit Pelaksana Teknis Kandang Penyangga Produk Ternak Sapi yang saat ini beberapa fasilitasnya tersebar di beberapa wilayah. UPT ini nantinya akan melakukan pemeliharaan ternak sapi, mulai breeding – rearing sampai fattening. Saat harga produk asal sapi dipasar tinggi, maka UPT ini akan melepas asset ternaknya sehingg harga terkoreksi sesuai dengan daya beli masyarakat. Demikian juga bila harga dipasar rendah karena over supply, maka pemerintah wajib melakukan sweeping kelebihan ternak potong dan juga ternak indukan produktif untuk dikembangkan dalam UPT. Sumber pembiayaan dapat diperoleh dari APBN, pajak bea masuk ternak dan daging impor serta keuntungan pengelolaan oleh UPT.
5.Penegakan Aturan
Undang-undang Republik Indonesia nomor 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan adalah payung hukum dalam menjalankan aturan. Aturan dan kebijakan peternakan merupakan rambu-rambu hukum dalam melakukan usaha ternak yang terarah, terencana dan tertata. Melalui penegakan aturan yang ketat, peternakan Indonesia akan menuju kearah yang lebih profesional, sehingga model perdagangan dengan negara lain juga dapat dilakukan secara berimbang dan saling menguntungkan.
6.Pemotongan Induk Betina Produktif
Jumlah induk betina produktif yang dipotong sampai saat ini masih sangat besar, sementara larangan pemotogan induk betina produktif sudah disosisalisasikan. Pemeriksaan di Rumah Potong Hewan dan penolakan pemotongan serta penyelamatan terhadap induk betina produktif oleh pemerintah merupakan langkah yang harus diejawantahkan dan segera dilakukan secara terintegrasi diseluruh wilayah Republik Indonesia atau pembelian betina produktif yang akan dipotong untuk dipelihara di UPT serta pemberian sanksi bagi pelaku penjualan ternak sapi induk produktif.
7.Konsistensi Program Pemerintah
Program swasembada daging melalui program-program yang sudah dilaksanakan, seperti Sarjana membangun Desa (SMD), Lembaga Mandiri dan Mengakar pada Masyarakat (LM3), Desa Mandiri Energi dan beberapa scheme bantuan pembiayaan (KKPE = Kredit Ketahanan Pangan dan Energi, KUPS = Kredit Usaha Pembibitan Sapi), bila menggunakan ternak impor, seharusnya dilakukan dengan menggunakan ternak peranakan pure breed (seperti Simmental, Limousine, Brangus, Brahman, Angus) yang benar-benar diseleksi dan didampingi proses protokolnya dari negara asal ternak sampai pelaksanaan dilapangan. Selama ini program pemerintah dalam pembangunan peternakan nasional masih belum memiliki rencana jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Program yang dibuat cenderung instan dan hanya karena terbawa arus masyarakat peternakan nasional.
8.Rangsangan dan Stimulus
a.Revitalisasi dan sosialisasi Unit Pelaksana Teknis milik Departemen Pertanian yang dapat memajukan usaha ternak sapi potong, seperti Balai Besar Inseminasi Buatan, Balai Embrio Transfer, Balai Penelitian Ternak, Balai Penelitian Veteriner, Balai Besar Penelitian Ternak Unggul dan institusi lain yang berkenaan dengan penelitian dan pengembangan usaha peternakan sapi potong
b.Peningkatan peran Dinas Peternakan di masing-masing wilayah Indonesia agar dapat menjembatani setiap keputusan yang sudah dibuat oleh Direktorat Jenderal Peternakan – Departemen Pertanian RI sebagai sebuah program nasional. Selama ini terkadang Dinas di Daerah kurang memahami rencana yang dibangun oleh pusat
c.Prioritas khusus berupa fasilitas transportasi temak di pelabuhan, kereta api, kapal laut dan bebas antri di pelabuhan antar pulau serta pengurangan biaya retribusi, pemeriksaan hewan di karantina dan pembebasan pajak hasil ternak
d.Pengadaan Indukan Ternak Sapi Potong melalui sistem kredit lunak untuk pengembangan populasi ternak nasional
e.Proteksi wilayah yang sudah berswasembada dari distribusi ternak dan daging/jerohan impor
f.Fasilitas pemeriksaan teknis di negara asal ternak dan daging/jerohan impor oleh pihak ketiga yang independen
g.Pemberian fasilitas pembiayaan yang murah melalui pendampingan yang ketat dan terarah demi kemajuan peternakan sapi nasional
9.Pola Pertanian Terpadu


Pola integrasi antar komponen yang ada pada sebuah usaha peternakan sehingga menghasilkan produktifitas, efisiensi dan efektifitas tinggi dan memberi nilai ekonomis serta berorientasi ekologis merupakan satu keterpaduan yang akan memberi nilai kesejahteraan. Salah satu manfaat yang dapat diambil adalah ketersediaan pakan bagi ternak, pupuk organik, ketersediaan energi terbarukan, ramah lingkungan (meminimalkan limbah), bernilai edukasi – wisata dan inspiratif. Pemerintah harus merangsang dan melaksanakan program integrasi peternakan dengan pertanian, perkebunan secara sinergi dan berkesinambungan. Pakan merupakan hal penting dalam pengembangan usaha ternak sapi potong sehingga, melalui pola pertanian terpadu akan diperoleh sumber pakan berkualitas dari hasil samping usaha pertanian – perkebunan.
10.Pendampingan dan Bimbingan
Pendampingan petani/peternak akan membuat organisasi petani/peternak menjadi kuat dan transfer informasi, teknologi tepat guna serta komunikasi dengan jalur distribusi akan semakin efektif dan nilai jual produk berbanding lurus dengan kualitasnya. Bimbingan bagi para pelaku dibidang pertanian/peternakan akan mendorong kemajuan dan memberi kenyamanan dalam mengembangkan usaha. Bimbingan yang terus menerus akan membuat pemberdayaan petani/peternak semakin besar dan kuat.

PENUTUP

Mengembangkan usaha peternakan sapi potong dalam mendukung Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2014 harus dilaksanakan secara integral dan menyeluruh dengan melibatkan seluruh stake holder. Pengembangan peternakan sapi potong rakyat juga merupakan satu hal penting dalam meletakkan sendi-sendi ekonomi kerakyatan. Penataan kelembagaan, system usaha serta kebijakan dan penegakan aturan merupakan hal yang penting juga untuk dilaksanakan.

06 Desember, 2010

Selamat Tahun Baru Hijriah 1432 H

Mentari Dzulhijah 1431 H mulai tenggelam diufuk
Fajar Muharram 1432 H menggantinya .... Bulan pemula untuk 12 bulan berikutnya
Getar do'a menghantar semangat baru .... Tangan terhantar penuh harap .... Agar tahun ini memberi yang lebih baik, lebih cemerlang, lebih ceria dan lebih berkah.

Selamat Tahun Baru Hijriah 1432 H

Keep on istiqomah untuk selalu berbuat yang terbaik dan meraih kehidupan yang semakin menceriakan

28 November, 2010

Sepenggal Kisah Seekor Kambing Qurban

Seekor kambing qurban yang tertambat di batang pohon trembesi itu sedang terpekur …. Sambil mengunyah sejumput daun nangka layu, ia memandang titik kosong disebuah rumah besar bercat putih. Tampak 2 orang satpam tengah duduk menjaga rumah itu, seakan takut rumah dan seisinya itu pergi.

Dalam keterpekurannya, kambing qurban itu menyimpan kebanggaan karena mampu menjadi bukti keshalehan anak manusia untuk membersihkan hartanya. Disamping rasa bangga, ia menyimpan satu uneg” yang mungkin bisa membuat dirinya dan teman”nya sesama hewan qurban menjadi lebih berarti.

Pikirannya teringat saat masih di kandang ternak sebelum dibeli, tanyangan televisi tentang banjir bandang di Wasior - Papua, Tsunami di Mentawai - Sumatera Barat, Letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah, banjir bandang di Aceh Barat dan beberapa bencana alam lainnya yang membuat banyak manusia menjadi kehilangan sanak keluarga dan harta benda.

Pemerintah mengambil tindakan tanggap bencana, rakyat saling menyumbang dan relawan” bahu membahu mengatasi bencana yang fase pemulihannya tentu akan memakan waktu tidak sebentar dengan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Tanggal 10 Dzulhijah ….. Umat muslim merayakan Hari Raya ‘Idul Adha, sebuah hari untuk mengenang sejarah keteguhan hari seorang anak manusia bernama Ibrahim AS yang mendapat perintah Tuhannya untuk mengorbankan anaknya, Ismail. Ketegaran dan baktinya pada Illahi, membuat Ismail ‘ditukar’ dengan seekor domba dan hasilnya, keimanan Ibrahim AS dan Ismail AS semakin bertambah. Akhirnya, sampai saat ini umat muslim seluruh dunia melakukan pembersihan harta dengan melaksanakan qurban hewan ternak, sebagai wujud keimana dan bakti pada Illahi Rabbi. Ditambah 3 hari tasyrik kedepan (tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijah) hewan” qurban disembelih dan dibagikan kepada para mustahiq, anak manusia yang masuk kriteria sebagai penerima, termasuk juga jatah 1/3 untuk yang berqurban.

“Lampu” diatas kepala kambing menyala …. “Tuing !!!” ….. Terbayang ratusan ton daging qurban di nusantara ini pada Hari Raya Qurban dan banyak orang bersuka karena dapat merasakan makanan bergizi asal daging, senyum menyeringai menghiasi bibirnya dan semakin mengembang apabila pembagian daging qurban dilakukan dalam bentuk lain yang lebih ‘product catching’ … Misalnya dibuat cornet (sudah dilakukan oleh salah satu lembaga qurban nasional), sosis, bakso, nugget yang tentunya akan membuat sebuah dimensi lain yang membuat para pemerima daging qurban memikmati daging dalam berbagai bentuk olahan dan daging” itu dapat disimpan dalam jangka waktu lama sehingga keberlanjutan asupan gizi tidak hanya terbatas pada hari Raya Qurban dan Tasyrik saja, tetapi juga pada hari” lain. Disamping itu, pada masa kejadian” khusus seperti bencana alam yang terjadi saat ini,l pengawetan daging qurban ini akan memberi dampak positif bagi distribusi bahan makanan dan variasi menu untuk para korban sehingga mereka tetap memperoleh gizi yang sangat cukup.

Allahu akbar Allahu akbat Allahu akbar … Laa illaha illallahu allahu akbar, allahu akbar walillahilhamd

Gema takbir berkumandang dan kambing itu semakin ikhlas menjadi hewan qurban … Ia merasa menjadi makhluk paling berarti

Keep on istiqomah untuk memberikan yang terbaik

Purwokerto, 16112011

22 Oktober, 2010

EMAS PUTIH RAKYAT, HARUSNYA BERKILAU INDAH

EMAS PUTIH RAKYAT, HARUSNYA BERKILAU INDAH



“Kasihan ya Pak”, kata induk merpati betina. “Coba lihat, Pak Ahmad dini hari sudah bangun, mengurus sapi laktasinya yang delapan ekor, empat sapi kering kandang dan empat pedet”, lanjut sang betina. “kenapa kasihan Bu?”, jawab Sang Jantan. “buktinya Pak Ahmad mampu menyekolahkan anak-anaknya, si sulung hampir masuk Perguruan Tinggi. Berarti usaha Pak Ahmad masih layak dilakukan”, lanjutnya. “Toh, Pak Ahmad tidak sendirian, Bu Ahmad dan ketiga anaknya selalu membantu, masih ditambah Tono yang khusus membantu di kandang”, imbuh Sang Jantan. “benar juga Pak, dengan duabelas induk dan empat pedet, Pak Ahmad dapat hidup cukup. Ditambah ketelatenan Pak Ahmad merawat semua sapi perahnya”, sambung Sang Induk.

Percakapan sepasang merpati yang tinggal di kotak kayu dekat kandang sapi perah Pak Ahmad memberi sepenggal cerita kehidupan peternak sapi perah rakyat Indonesia. Perkembangan sapi perah rakyat di Indonesia saat ini masih tertinggal bila dibandingkan dengan perkembangan sapi perah dunia yang semakin berkembang baik sisi teknis budidaya, reproduksi, manajemen, penanganan kesehatan sampai pengolahan air susu pasca panen.

Data jumlah penduduk Indonesia yang telah mencapai 220juta jiwa dan angka yang menyebutkan bahwa produksi susu Indonesia baru menyediakan 33% total kebutuhan pasar domestik, berarti ada 67% pasar potensial yang masih menganga.

Persusuan nasional seharusnya sudah memasuki usia dewasa, baik dari segi produksi maupun teknologi. Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) sebagai Induk Koperasi Primer Susu di Indonesia seyogyanya sudah dapat memberi sumbangsih nyata bagi kemajukan peternakan sapi perah Indonesia.

Permasalahan dan pengalaman yang ada membuat beberapa insan sapi perah Indonesia berinisiatif sendiri-sendiri agar tidak tertinggal dan dapat terus eksis dalam usaha sapi perah, seperti mengolah air susu menjadi produk olahan, misalnya susu pasteurisasi, tahu susu, krupuk susu, dodol susu, yoghurt, permen, karamel, keju dan produk olahan lainnya.

Bermuara pada upaya peningkatkan konsumsi protein perkapita dan pendapatan peternak rakyat, saatnya dilakukan upaya nyata, terarah dan terprogram oleh semua pihak untuk meningkatkan produktivitas ternak serta evaluasi menyeluruh sehingga monitoring produktivitas dapat terukur, kuantitatif maupun kualitatif.



SUMBER DAYA MANUSIA


Sumber daya manusia (bukan hanya peternak semata, tetapi juga pada pembuat sistem dan konsep persusuan yaitu Pemerintah, akademisi, perusahaan peternakan dan Koperasi Susu) berperan dalam pelaksanaan manajemen usaha ternak yang menentukan keberhasilan usaha.

Dimulai dari pelaku langsung dilapangan, peternak sebagai ujung tombak usaha yang harus diberi pelatihan, transfer teknologi dan informasi. Pembiayaan kegiatan ini dapat diambil dari Pos Dana APBN/APBD, Pemerintah Daerah, Koperasi atau peternak itu sendiri. Pembiayaan tersebut menjadi sangat murah bila muatan-muatan yang diterima dapat diserap, dicerna dan diterapkan oleh peternak, dibarengi pendampingan dan arahan secara simultan yang berimbas pada peningkatan produktivitas ternak.

Pengurus Koperasi Susu seyogyanya memiliki kemampuan dan keterampilan mumpuni untuk disampaikan kepada anggota melalui pendidikan dan latihan langsung dilapangan sehingga budidaya ternak dapat efektif dan efisien. Pelatihan dan pendidikan bagi Staf Teknis Koperasi mutlak dilakukan selain studi komparasi dan transfer informasi.

Direktorat Jenderal Peternakan/Dinas Peternakan berperan lewat penyuluhan, pembinaan dan pendampingan kepada peternak. Petugas Penyuluh Lapangan diberi pendidikan dan latihan teknis peternakan maupun informasi kebijakan pemerintah.

Perguruan Tinggi dan Sekolah Menegah Kejuruan yang berhubungan dengan dunia peternakan, akan terus mencetak Sarjana, Ahli Madya atau tenaga terlatih untuk mengaplikasikan dan mengembangkan teori yang mereka terima di bangku pendidikan. Kurikulum yang sempurna, pola pengajaran yang baik dan informasi terbaru dunia peternakan tidak diragukan lagi akan menghasilkan tenaga-tenaga intelektual terdidik dan terlatih dalam mengembangkan persusuan Indonesia, baik sebagai wirausahawan atau tenaga karir.


MANAJERIAL, TEKNIS dan KEBIJAKAN PEMERINTAH

Bukan rahasia lagi bila perkembangan yang lamban peternakan rakyat salah satunya berasal dari aspek manajerial, teknis dan kebijakan pemerintah. Kegiatan budidaya yang baik dibarengi kebijakan Pemerintah yang kondusif tentunya akan memberi angin segar perkembangan peternakan sapi perah rakyat. Kebijakan pemerintah tidak boleh tumpang tindih untuk menghindari terjadinya perbedaan persepsi yang mengganggu perkembangan persusuan Indonesia.

Dinas Peternakan dan Balai-balai Penelitian (Balai Penelitian Ternak, Balai Veteriner, BPT-HMT) bertugas melakukan pembinaan, pengarahan serta transfer manajemen dan teknologi kepada peternak. Tengoklah kasus Brucellosis dan Anthrax yang mewabah di peternakan sapi perah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seandainya sebelum wabah terjadi dilakukan tindakan pencegahan yang cepat dan tepat, bukan tidak mungkin ratusan peternak akan terselamatkan ‘asap dapurnya’. Ribuan hasil penelitian para ahli dalam dan luar negeri tentang teknis budidaya sapi perah, harus dapat disosialisasi dan diaplikasi oleh peternak. Sangat sayang bila pengorbanan waktu, tenaga dan tentunya biaya penelitian dan penyusunan program itu hanya menjadi tumpukan kertas belaka, tidak teraplikasi dan tersosialisasi kepada peternak rakyat. Pendampingan secara sinergis akan mempercepat bertumbuhnya jiwa profesionalisme peternak.

Profesionalisme peternak akan memberi dampak nyata bagi kesinambungan segitiga produksi (Bibit–Pakan-Manajemen). Peternak akan mendapatkan bibit ternak berproduktivitas tinggi, mampu memberi pakan berkualitas dan memiliki manajemen usaha yang baik.

Pihak Akademisi bidang Peternakan yang terus menetaskan para konseptor dan pelaksana teknis di lapangan merupakan asset berharga yang berpotensi membantu perkembangan persusuan Indonesia dengan cara memberi masukan berlandaskan teori-teori ilmiah yang aplikatif.

VISI DAN MISI


Pihak-pihak yang terkait dan berkompeten terhadap perkembangan dunia persusuan Indonesia harus segera berkumpul, menyatukan misi dan visi, mengesampingkan kepentingan masing-masing untuk melahirkan SATU KONSEP PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI PERAH RAKYAT.

Koleksi dan pemecahan permasalahan merupakan hal yang masih dilakukan secara parsial oleh masing-masing pihak. Permasalahan-permasalahan dilapangan melalui pemilahan objektif dan ilmiah akan melahirkan akar permasalahan yang dapat diselesaikan secara tuntas. Solusi-solusi jitu yang lahir melalui pemikiran banyak pihak dibarengi penyatuan persepsi, dikumpulkan sebagai bank data pemecahan masalah, sehingga saat timbul permasalahan sejenis dapat diambil tindakan yang cepat dan tepat.

Sistem baku yang luwes dalam mencari jati diri hakiki peternakan sapi perah Indonesia akan dapat dihasilkan dan akan terus bergulir semakin besar dalam menghasilkan Persusuan Indonesia yang mandiri dan berhasil. Evaluasi program akan menghasilkan masukan dan referensi penyempurnaan konsep yang mengkerucut pada satu keluaran pola baku persusuan Indonesia.

Sambil menerawang kelangit pagi seakan melihat lukisan digumpalan awan putih yang bergerak ditimpa matahari pagi dan merapatkan tubuhnya ke sang jantan, betina berkata, “alangkah indahnya ya pak, kalau peternakan sapi perah kita bisa berkembang dan memberi sumbangsih nyata bagi bangsa yang besar ini”. “Memang seharusnya begitu Bu, Emas Putih rakyat harusnya berkilau indah ...” sambut Sang Jantan memeluk belahan hatinya. Sepasang sejoli ini saling memandang dan bertatap mesra sambil menengok telur-telur mereka yang akan menetaskan generasi baru untuk melihat perubahan nyata persusuan Indonesia.

Memberi yang tidak kita miliki ..........




Banyak dari kita yang sering naik kendaraan, entah itu mobil, sepeda motor ataupun sepeda angin, juga kita dengan berjalan kaki. sebagai pengguna jalan kita tentunya akan sering berhubungan dengan para pengguna jalan lainnya. Jalan yang dibuat awalnya merupakan sebuah tapak bagi kita untuk memudahkan dan mempercepat kita mencapai tujuan, dimulai dari pembabatan belukar, seringnya kita melalui jalan itu dan tapak-tapak kaki dan kendaraan membuat rerumputan menjadi enggan tumbuh (gimana mau tumbuh, sebentar bertunas dah diinjak lagi). Lambat laun akhirnya terbentuklah tapak jalan yang akhirnya diperbesar ... diperbesar dan diperbagus sampai saat ini. Jalan yang dibuatpun ada yang masih mengikuti kontur jalan awal dan ada pula yang sudah berubah dengan penataan yang semakin baik.

Jalan akhirnya menjadi salah satu infrastruktur yang paling utama dalam kehidupan manusia dan menjadi semakin vital, terutama dengan semakin bertambahnya manusia, semakin banyaknya produksi dan penjualan kendaraan serta semakin meningkatnya roda perekonomian bangsa. Beberapa penguasa wilayah sudah ada yang menjadikan pembangunan jalan sebagai prioritas dan terbukti bahwa pembangunan jalan yang terus menerus dilaksanakan (bukan terus menerus diperbaiki, rusak lagi, diperbaiki, rusak lagi .. kalo itu namanya "Cari Proyek" ... masuk delik korupsi gak ya??). terbukti, begitu jalan dibuka, diperbesar dan kondisinya bagus .... seluruh akses ekonomi rakyat akan sangat terbantu dan semakin efisien. Sebaliknya, jalan yang rudak, sempit, tidak teratur akan membuat kondisi ekonomi semakin parah dan sangat tidak efisien serta kemungkinan banyak manusia mencari pendapatan dengan cara tidak legal akan semakin berjamur.

Di kota besar, dalam keseharian kita selalu menemui penggunaan jalan yang sudah sangat luar biasa, istilahnya "Over Capacity" .... hal yang ada di dalam keseharian adalah bertumpuknya berbagai kendaraan sehingga menyebabkan antrian yang sangaaaaaat panjang dan membuat psikologis kita terganggu (istilah jalanannya : bikin stress/tertekan, bisa bikin gila :-)). Kemacetan selalu menjadi makanan sehari-hari pengguna jalan dan terkadang akan membuat keheranan yang sangat apabila jalan berubah lancar dan lengang. pada kondisi jalan yang sangat padat, timbullah 'ide busuk' dari para oknum pengguna jalan yang keliru memaknai kehidupan, saling serobot, potong kanan, potong kiri, klakson dimana-mana, menaikkan dan menurunkan penumpang seenaknya, ngetem berala-lama ampir di badan jalan dan segepok penggunaan jalan yang tentunya akan membangkitkan emosi berkepanjangan, terkadang menerbitkan sumpah serapah dan terkadang ada juga sisi baiknya, kita banyak beristighfar dan berdo'a.

Terkadang ada oknum pengguna jalan yang 'kampungan' masuk kejalur kita saat kita sedang asyik dalam antrian dan kita serta merta akan berusaha menutup aksesnya dengan manganggap bahwa kita adalah 'empunya jalan' sehingga terjadikan gejolak adrenalin dan mungkin berujung pada putusnya silaturahmi pengguna jalan. Memang kembali pada nilai-nilai peraturan dan ketaatan kita pada peraturanlah yang menyebabkan kita harusnya menyadari betapa jalan yang kita gunakan harus kita gunakan sebagaimana mestinya. Boleh jadi dengan antrian yang teratur, perjalanan kita akan semakin lancar ... boleh jadi bila kita menghormati pengguna jalan yang lain, perjalanan kita akan semakin menyenangkan ... boleh jadi bila kita tetap pada jalur jalan kita, perjalanan akan semakin lancar dan efisiensi bahan bakar akan semakin tinggi .... boleh jadi dengan tidak ngetem (buat kendaraan umum), tidak serobot, 'humble in drive' bisa membuat kita menikmati perjalanan.

Terkadang adrenalin kita akan sangat bergejolak dan keegoan kita menjadi raja saat kita menggunakan jalan (saya aja masih begitu -_' ) ... sehingga saat mulai masuk antrian dan ada pengguna jalan yang tidak semestinya, emosi semakin menggelegak dan kita seakan menjadi pemilik sah jalan, lajur dan yang lainnya tidak boleh menganggu hak kita. Akhirnya, seperti yang sudah dikatakan diatas, terjadilah pergumulah egoisme yang berujung pada hal-hal yang tidak pas.

Berilah jalur kita .. berilah jalan kita .. kita bukan pemilik itu, kita hanya pengguna. Mungkin sang penyerobot memerlukan jalur itu untuk mengejar waktu, setoran atau 'gagah-gagahannya' ... kita maklumi saja, berikan yang kita tidak punyai itu bagi mereka ....

Khan kita tentunya tidak mau dirasani mereka ... "minta jalan aja gak dikasih, apalagi minta duit" ...he..he..

selamat beraktifitas dan keep on istiqomah untuk selalu berbagi

08 September, 2010

HARI KEMENANGAN




Tepat 30 hari Ramadhan mubarrak menyapa keseharian kita
Satu bulan kita menempa hati, jiwa dan diri dengan ibadah
Satu bulan kita melalui dengan gegap gempita rasa
Satu bulan kita pasrahkan diri pada Illahi, berharap agar kita menjadi manusia muttaqien
Satu bulan kita tutup dengan berzakat, membersihkan harta kita

Kini Hari Kemenangan menjelang
Tiada yang tahu apakah kita menyelesaikan Ramadhan dengan khusyuk
Tiada yang tahu apakah kita beribadah dengan ta’lim
Tiada yang tahu apakah kita mampu menikmati perjalanan menuju manusia taqwa
Yang penting, hari ini kita bersuka
Yang penting, hari ini semua gembira
Yang penting, hari ini makanan berlimpah
Yang penting, 11 bulan kemuka boleh makan minum dan bersyahwat sepanjang waktu

Konon, banyak yang bersedih Ramadhan telah usai …. Benarkah?
Konon, banyak yang merindukan Ramadhan tahun depan kembali diperoleh … Benarkah?
Konon, banyak yang ingin 12 bulan adalah Ramadhan … Benarkah?

Semua berpulang pada diri
Semua kembali pada jiwa
Semua kembali pada kepasrahan

Ikhlaskan Ramadhan Mubarrak ini pergi
Syukuri kita masih bisa menyelesaikan Ramadhan Mubarrak ini
Tawakkalkan hati semoga hikmah Ramadhan selalu menyertai diri ….

Hari kemenangan ini semoga memenangkan hati – jiwa dan diri kita

Colomadu, 08092010

31 Agustus, 2010

SEPTEMBER CERIA


SEPTEMBER CERIA


bercerita pada nilai" yang membuncah
bergumul dengan berkah
bulan itu sudah tiba
bulan yang menggembirakan
bulan yang menceriakan
karena ada momen cantik
karena ada hikmah tergurat

berada didalamnya semoga bahagia
berada ditengah"nya semoga menyenangkan
mengarungi hari"nya semoga menceriakan

September Ceria ...... aku padamu

22 Agustus, 2010

Meracuni Utopia

Meracuni Utopia

Melalui selorong semu engkau dikungkung
Pikiranmu dibelenggu jiwamu dipasung
Otakmu yang membeku semakin terbatu
Hatimu yang merekah mendadak melegam

Momentum itu meraja dilayar kenangan
Masa saat dirimu terbuai rayu cita yang menggembira
Membawa utopia menuju tempat yang ternyata nirwana bualan
Tapi kesadaran itu ternyata terlambat dan sesal selalu tiba terakhir

Menatap kegelapan diri yang melesukan
Dirimu tak mampu bergerak dan bergerak
Jemari terborgol kaku dalam kekalutan
Kaki tak tergerakkan serasa terbenam beton

Hanya satu yang masih mampu dibersihkan
Hanya satu yang masih dapat mungkin
Kalbumu adalah jiwa yang haus
Kalbumu adalah hati yang bening

Kalbumu adalah awalan
Kalbumu adalah mulanya
Mengerakkan kreatifitas kehidupan
Mewarnai atmosfer dengan corak dan harmoni mencerahkan

Kalbumu ... hati kecilmu ... kemurnian hakikimu ...

17 Agustus, 2010

17 Agustus

17 Agustus
selalu menjadi hari keramat bangsa ini
selalu menjadi hari upacara bangsa ini
slalu menjadi hari karnaval bangsa ini
selalu menjadi hari penuh sukacita bagi lomba anak-anak, remaja sampai orang tua
selalu menjadi hari libur nasional

65 tahun
adalah jumlah tahun yang mengidentifikasikan bagaimana negara ini
adalah angka yang terus bertambah
adalah nilai kedewasaan bangsa ini
adalah nilai yang luar biasa

sesaat aku tertegun setelah menyelesaikan tirakat tengah malam ini
kumelayang pada masa dimana Rengas Dengklok menjadi lokasi bergejolak, penuh pertimbangan, penuh interupsi dan penuh lalulalang pemikiran-pemikiran tentang bangsa
seorang Soekarno yang terintimidasi oleh pemuda, didampingi Bung Hatta yang menyabarkan
seorang Fatmawati menjahit perca dua warna
kebulatan tekat yang terjadi dini hari itu, membawa sebuah gurat sejarah bangsa ini

saat ini
hampir kebanyakan anak bangsa lupa betapa masa penjajahan lebih dari 350 tahun penuh pertumpahan darah dan air mata
hampir lupa membangun, kita terlalu sibuk mencari jati diri, katanya
jati diri macam apa yang dicari???
sementara pembangunan berketimpangan
sementara rapor korupsi kita memberi gelar mentereng sebagai negara dengan kasus korupsi terbanyak
hutang negara ini ribuan triliun
pemerataan pembangunan masih pincang
karena setiap tahun ruas jalan yang sama selalu diperbaiki
kemacetan ibukota, membuat banyak pemikiran sempit terjadi, pindahkan ibukota negara !!
sementara kasus gelandangan dan pengemis masih menjadi tren; cafe dan resto bermunculan dimana" dan semua orang tiada yang tidak makan, terkadang makanan cenderung dihambur-hamburkan, tidak habis
dunia pertanian hanya slogan agrarisnya
sektor peternakan hanya berisi daging yang naik turun tak tentu
perikanan hanya saling tangkap di perairan
sementara tataniaga selalu menjadi pilihan terburuk untuk diperbaiki
negeri yang katanya sudah menjadi "Negara Para Bedebah"


ku memandang merah putih
menyelip dalam dada, betapa semakin rentanya Indonesia
menggugah jiwa, harus kubangun Indonesia
aku masih bisa !!!

16 Agustus, 2010

Acetonaemia (Ketosis) Pada Ternak Laktasi


Nicky Stone, Ballarat
Updated: July 2007 AG0210 ISSN 1329-8062 © State of Victoria, Department of Primary Industries


A very distinct problem for dairy cows is the disease of ketosis (or acetonaemia). The occurrence of this disease in dairy cows is related to an increased demand for glucose by the animal. Ketosis also occurs in other animals and the problem is known by various names, eg, regnancy toxaemia in ewes.


Kejadian ketosis terjadi pada ternak sapi laktasi atau sapi dengan kondisi nutrisi buruk. Tanda-tanda penyakit dapat dilihat sebelum melahirkan anak sapi, tetapi paling sering terjadi di bulan pertama setelah melahirkan anak sapi dan kadang-kadang di bulan kedua. Dalam ternak berkelompok, ketosis terjadi secara sporadis hanya pada ternak yang terjangkit, atau endemik dengan banyak sapi yang terjangkit.

Penyebab Ketosis
Penyakit ini merupakan perpanjangan dari proses metabolisme normal yang terjadi pada ternak sapi laktasi. Ketosis adalah masalah kekurangan glukosa (atau gula) dalam darah dan jaringan tubuh. Glukosa dihasilkan oleh sapi dari karbohidrat yang merupakan komponen utama padang gembala dan tambahan lain yang terdapat pada pakan. Pada masa bunting tua, glukosa digunakan untuk fungsi ideal tubuh dan perkembangan pedet. Saat masa laktasi, glukosa berperan dalam pembentukan lactose (gula susu) dan lemak susu. Penggunaan glukosa yang tinggi akan menyebabkan kondisi gula dalam darah akan menurun. Lima puluh gram glukosa diperlukan untuk pembentukan setiap liter susu dengan 4,8% laktosa dan 30 gram untuk setiap liter susu dengan 4% kandungan lemak. Ternak sapi (ruminants dan lainnya) tidak dapat diberi pakan glukosa, dalam bentuk karbohidrat yang akan diurai dalam rumen menjadi glukosa. Jika jumlah karbohidrat dalam pakan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam susu sapi, maka akan hati akan membentuk glukosa dari bahan lain - lemak cadangan. Sayangnya peningkatan produksi oleh hati akan menimbulkan hasil lain yang disebut dengan badan Ketone. Kemudian bersama dengan kurangnya level gula darah, menyebabkan tanda-tanda penyakit.
Ketosis utama, seperti yang dijelaskan, terjadi ketika produksi tinggi
sapi tidak hanya dapat makan karbohidrat cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, atau di mana pakan yang dberikan memiliki kandungan karbohidrat yang kurang. Ketosis sekunder dapat juga terjadi jika penyebab penyakit yang membuncah di pencernaan atau
metabolisme dari karbohidrat oleh sapi. Hal ini dapat terjadi meskipun jumlah karbohidrat dimakan terlihat cukup untuk fungsi tubuh normal. Penyakit utama yang terjadi selain ketosis adalah kelainan dari keempat perut, radang selaput, radang kelenjar dada, metritis, milk fever dan kurangnya nafsu makan sapi dalam waktu yang cukup panjang.

Tanda-tanda
1.kurang nafsu makan
2.produksi susu turun
3.sering menggoyangkan kaki/kepala
4.nafas ternak berbau
5.pemulihan akan sangat lama dan bila kembali sehat, tidak akan seperti sedia kala

Akibat yang ditimbulkan
1.kebutaan
2.tulang keropos
3.gerakan aneh pada lidah
4.perubahan pada kulit
5.melakukan hentakan-hentakan untuk sesuatu yang tidak jelas

Diagnosa penyakit
•tanda terserang ketosis baru dapat diketahui pada saat ternak akan mendekati puncak produksi
•tetapi pengamatan pada gangguan sekunder dapat digunakan, seperti : radang kelenjar dada

Perawatan
•tujuan awal perawatan adalah pengembalian kekurangan glukosa dalam tubuh.
•Pemberian suplemen glukosa melalui intra vena
•Pemberian Propylene glycol atau gliserin per oral selama dua empat hari.
•therapy hormonal dengan corticosteroids yang diimbangi dengan pemberian pakan berkarbohidrat tinggi
•pencegahan ketosis adalah hal yang sangat penting, melalui perbaikan pakan dan manajemen yang memadai
•pemberian makanan tambahan dengan kandungan karbohidrat tinggi sangat penting dengan pemberian bahan pakan berkualitas tinggi, seperti : silage, biji-bijian atau gandum.
•Kondisi tubuh sapi adalah saat melahirkan pedet harus mendapat asupan nutrisi yang baik. Begitu pula setelah melahirkan, sapi yang memiliki potensi untuk mencapai produksi maksimum, harus mendapat asupan pakan dengan kandungan energy yang tinggi. Melalui pemberian suplemen energi yang diperlukan
•Pemberian pakan kualitas baik setidaknya terus menerus diberikan sampai
puncak laktasi tercapai. Program pencegahan yang terbaik adlah pemberian Propylene glycol per oral segera setelah melahirkan anak sapi

Penulis asli ini adalah Dr George Miller, dan versi sebelumnya dimuat di September 1998.

11 Agustus, 2010

EDUAGROEKOTOURISM

EDUAGROEKOTOURISM
Maksimalisasi Fungsi Experimental Farming Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman menjadi sebuah Inspiratif Farming

PENDAHULUAN

Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman adalah salah satu fakultas di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman untuk menghasilkan sarjana yang mampu berkiprah di bidang peternakan. Mengembangkan bidang peternakan, baik budidaya, penelitian dan pengembangan, pengolahan pasca panen dan nilai-nilai edukasi tentang peternakan merupakan hal-hal yang dipelajari dan dilakukan di Fakultas Peternakan.
Sebagai sebuah fakultas eksakta yang juga menerapkan ilmu-ilmu praktikan, Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman memiliki sebuah Experimental Farming sebagai sebuah fasilitas pendidikan lapangan untuk memberi gambaran nyata tentang operasional sebuah usaha peternakan. Experimental Farming Fakultas Peternakan Unsoed memiliki usaha pemeliharaan ternak sapi perah, ternak sapi potong, ternak domba, ternak kambing, ternak ayam potong, instalasi biogas, sapi berfistula, kandang unggas close house (tidak berfungsi), kebun rumput, kamar susu dan fasilitas penunjang sebuah farm.
Dunia pertanian saat ini telah mulai memiliki paradigma spesial tentang pengelolaan sebuah usaha. Kemajuan teknologi bidang peternakan telah membawa kemajuan dalam bidang genetik, budidaya, penanganan pasca panen, nilai-nilai sosial, teknologi mekanisasi, nilai-nilai pemasaran dan penelitian – pengembangan. Paradigma spesial yang saat ini mulai mengembrio dan pada beberapa usaha peternakan sudah mulai terimplementasi adalah sebuah kegiatan usaha Peternakan Terpadu (Integrated Farming System).

POLA PERTANIAN TERPADU


Pola Pertanian Terpadu merupakan salah satu konsep cerdik dalam menciptakan dunia pertanian yang akan menghasilkan bahan pangan yang berkualitas (food safety attributes –aman dikonsumsi, nutritional attributes –bernilai nutrisi tinggi dan eco labelling attributes –ramah lingkungan), memiliki nilai produktifitas mantap dan kontinuitas penyediaan bahan makanan. Konsep pertanian terpadu dapat mengatasi permasalahan di sektor pertanian, yaitu : Permodalan; Tekhnologi; Pasar (fluktuasi harga); Sarana dan Prasarana; Efisiensi dan Produktifitas masih rendah; serta Kuantitas, kualitas dan kontinyuitas produksi.
Pola pertanian terpadu sendiri merupakan suatu pola yang mengintegrasikan beberapa unit usaha dibidang pertanian yang dikelola secara terpadu, berorientasi ekologis sehingga diperoleh peningkatan nilai ekonomi, tingkat efisiensi dan produktifitas yang tinggi. Melalui pertanian terpadu, akan dapat dihasilkan produk-produk pertanian (dan peternakan) dari sinergitas antar unit dengan mengedepankan kelestarian lingkungan yang selanjutnya akan menghasilkan peningkatan secara ekonomis karena penambahan nilai daya dan guna melalui efisiensi dan efektifitas tinggi serta nilai produktifitas usaha yang baik.
Pertanian terpadu juga akan menghasilkan keluaran yang memiliki karakter khas dan memiliki nilai saing serta mampu memberi nilai-nilai inovasi yang lahir secara kontinyu dari sebuah penelitian dan pengembangan yang terkondisi baik. Nilai lain yang dapat dikembangkan adalah nilai-nilai edukasi yang dapat berlanjut menjadi model baru sebuah usaha pertanian/peternakan, yaitu Inspiratif Farming

Experimental Farming Fapet Unsoed, Inspiratif Farming potensial yang tersembunyi

Gambaran Umum
 Lokasi Experimental Farming Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman berada terintegrasi dengan kampus-kampus eksakta (berturut-turut ke Utara adalah Fakultas Biologi, Fakultas Pertanian, Fakultas MIPA, Fakultas Pertanian dan Program Bahasa, lingkungan sebelah Barat adalah Fakultas Pasca Sarjana, GOR Susilo Soedarman dan sekitarnya adalah kompleks perumahan dan GOR Satria yang menjadi pusat aktifitas fisik, Sunday market dan kuliner masyarakat Purwokerto
 Selama ini digunakan sebagai lokasi praktikum, lokasi penelitian, lokasi belajar usaha, lokasi pemeliharaan ternak perah, potong dan unggas serta penanganan pasca panen ternak perah
 Pengelolaan Eksperimental Farming masih belum tersentuh paradigma inspiratif farming (masih berupa pengelolaan konvensional yang belum menampilkan suatu model integrasi usaha peternakan dan nilai-nilai estetika)
 Sangat memungkinkan menjadi inkubator bisnis bagi mahasiswa dan pemerhati bidang peternakan
 Perlu sentuhan khas dan peningkatan nilai-nilai edukasi dan karakter spesial sehingga mampu menjadi Inspiratif Farming

Visi dan Misi

Visi :
Experimental Farming yang merupakan model peternakan terpadu dan memiliki peran bagi nilai-nilai edukasi, penelitian dan pengembangan keilmuan, pengabdian pada masyarakat serta kewirausahaan dalam sebuah kerangka Inspiratif Farming

Misi :

Nilai Edukasi
 Memberi gambaran nyata tentang operasional budidaya peternakan ternak ruminasia besar (sapi perah dan sapi potong), ruminansia kecil (kambing dan domba), unggas (ayam dan itik) dan aneka ternak (kelinci, burung merpati) bagi mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
 Memberi gambaran nyata tentang penanganan kesehatan ternak dan biosekuriti
 Memberi gambaran nyata tentang pengolahan hasil ternak
 Memberi gambaran nyata tentang perhitungan ekonomis usaha peternakan
 Memberi gambaran nyata tentang pengelolaan hasil samping organik usaha peternakan
 Memberi gambaran nyata tentang penataan estetika lokasi peternakan
 Memberi gambaran nyata tentang sebuah Peternakan Terpadu

Nilai Penelitian dan Pengembangan Keilmuan
 Menjadi lokasi penelitian bagi pengembangan peternakan ternak ruminasia besar (sapi perah dan sapi potong), ruminansia kecil (kambing dan domba), unggas (ayam dan itik) dan aneka ternak (kelinci, burung merpati) bagi dosen dan mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
 Menjadi lokasi ujicoba lapangan terhadap hasil penelitian di laboratorium

Nilai Pengabdian Pada Masyarakat
 Menjadi lokasi bagi masyarakat yang memiliki usaha, minat dan kegemaran beternak untuk mengembangkan usaha yang dilakukan
 Menjadi lokasi percontohan bagi masyarakat dan pengguna hasil penelitian dan pengembangan peternakan yang sudah dilakukan sehingga memberi keyakinan bagi masyarakat yang memiliki usaha atau sebagai konsumen produk peternakan
 Penyedia sumber bibit ternak, rujukan penanganan kesehatan masyarakat veteriner, lokasi sharing usaha peternakan dan lokasi pelatihan peternakan bagi masyarakat yang tertarik dalam mengembangkan peternakan

Nilai Kewirausahaan

 Menjadi lokasi peternakan terpadu yang dapat memberi pelajaran bagi pengembangan kewirausahaan peternakan
 Menjadi lokasi peternakan terpadu yang mampu memberi nilai ekonomi, disamping nilai edukasi, penelitian dan pengabdian pada masyarakat melalui pengelolaan Experimental Farming yang profesional
 Menjadi lokasi pengembangan kemampuan mahasiswa melalui unit-unit kegiatan, diskusi kelompok dan organisasi intra mahasiswa (BEM dan Senat Mahasiswa)

Inspiratif Farming
Sebuah lokasi peternakan yang terintegrasi dengan penataan menarik, kelengkapan jenis ternak yang diusahakan, penanganan pasca panen, pengelolaan hasil samping peternakan terpadu, kejelasan dan kelengkapan informasi, sumber solusi peternakan terpadu, memberi nilai refreshing, sumber produk peternakan dan bibit ternak, sumber referensi peternakan, sumber tenaga pengelola peternakan, penggunaan peralatan mekanisasi, penggunaan teknologi tinggi (interner, multimedia) dan merangsang inspirasi bidang peternakan terpadu


Tahapan Kegiatan Menuju Inspiratif Farming


Potensi Experimental Farming :
• Experimental Farming Fapet Unsoed adalah sebuah usaha peternakan satu-satunya di kawasan kota Purwokerto yang dapat menjadi salah satu “point of interest” yang berkarakter
• Dukungan Civitas Academika Fakultas Peternakan Unsoed dan juga Universitas Jenderal Soedirman serta Pemerintah Daerah yang terdiri atas para pakar bidang genetik – reproduksi – produksi – ekonomi – hubungan sosial – spiritual – birokrasi – kelembagaan pemerintahan merupakan satu model integrasi yang sangat potensial
• Usaha budidaya ternak perah, ternak potong, ruminansia besar dan kecil, unggas potong dan petelur, aneka ternak, kebun buah, tanaman pangan dan hortikultura, lokasi penelitian dan lokasi penanganan pasca panen adalah item-item penting yang dapat dilakukan
• Lokasi yang strategis dan merupakan pusat susu segar “fresh from the oven” dapat dimanfaatkan menjadi sebuah “Pojok Nongkrong” bagi mahasiswa dan umum melalui penataan, pengolahan produk peternakan (susu menjadi susu pasteurisasi, susu UHT, yoghurt, keju, kompos), media informasi dan teknologi tinggi (hotspot)
• Lokasi lahan yang sudah berisi bangunan kandang, gudang, kamar susu, mess, lokasi penelitian, sumber air, lahan rumput, instalasi biogas dan akses jalan yang strategis

Pertimbangan Maksimalisasi Experimental Farming :
 Pemetaan terhadap potensi, kondisi dan asset Experimental Farming
 Penyusunan dan sinkronisasi aktifitas yang dilakukan di Experimental Farming (edukasi, penelitian dan pengembangan, pengabdian masyarakat, kewirausahaan) sebagai kemungkinan pengembangan potensi
 Perimbangan dan koordinasi antara sisi kewirausahaan dan sisi pendidikan-penelitian-pengembangan di Experimental Farming
 Meningkatkan dan mengatur keterlibatan mahasiswa sebagai subjek ajar yang menerima ilmu profesional di Experimental Farming
 Pencatatan – pembahasan – pengambilan kesimpulan – sosialisasi pelaksanaan aktifitas Experimental Farming kepada seluruh Civitas Academika dan stake holder yang terlibat
 Suasana Experimental Farming dapat ditawarkan sebagai sebuah wacana wisata keluarga maupun ilmiah yang inspiratif, bernilai edukasi, ekonomi, sosiologis, refreshing dan tentunya bernilai hasil-hasil penelitian
 Hasil penelitian ilmiah, pelaksanaan kegiatan kewirausahaan di Experimental Farming dapat disosialisasikan sebagai jurnal ilmiah, ilmu terapan atau pelatihan. Ilmu inipun dapat bernilai ekonomis bila ada pelaku agribisnis yang tertarik menerapkannya
 Experimental Farming nantinya dapat menjadi rujukan bagi bahan perkuliahan serta dapat dikerjasamakan dengan fakultas lain, universitas lain ataupun pihak ketiga
 Lahirnya buku-buku peternakan untuk merangsang budaya menulis dikalangan Civitas Academika Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman

Tahapan Pelaksanaan :
Pemantapan struktur pengelola dan pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) pelaksanaan kegiatan di Experimental Farming
Penataan lokasi sesuai jenis ternak – pola usaha yang akan dilakukan – koleksi ternak komersial dan ternak penelitian (misalnya sapi berfistula) – pengaturan ternak dan kandang untuk usaha komersial dan penelitian – lokasi koleksi hijauan pakan ternak – lokasi penerimaan tamu – lokasi pengolahan pasca panen – lokasi edukasi-wisata-kuliner bagi para pengunjung – lokasi konsultasi serta sebagai Miniatur Farm bagi para mahasiswa, sehingga mereka mendapat pengalaman aktifitas pada farm komersial (misalnya keteraturan, kerapihan, bio security)
Integrasi yang jelas antara masing-masing komponen dalam Peternakan Terpadu, misalnya : penyediaan pakan penguat dan pakan berserat (penggunaan pakan alternatif), penanganan alas kandang broiler yang dicampur dengan kompos atau slurry biogas dan tanah dijadikan sebagai media tanam, pemanfaatan pupuk organik cair, pengembangan kebun buah dan tanaman hortikultura organik
Pengelolaan dengan tingkat transparansi tinggi, penuh komitmen, dedikasi dan keberlanjutan serta terus membuka diri untuk bekerjasama dengan pihak lain

Jenis-jenis Kegiatan Teknis :

1. Usaha ternak sapi perah
2. Usaha ternak sapi potong
3. Usaha ternak kambing/domba
4. Usaha ternak unggas pedaging
5. Usaha ternak unggas petelur
6. Aneka ternak (kelinci, burung merpati)
7. Koleksi ternak
8. Ternak-ternak penelitian
9. Biogas dan composting atau pupuk cair
10. Pakan, alternatif pakan, bank hijauan pakan ternak
11. Penanganan reproduksi
12. Pemerahan secara manual dan mekanis
13. Close house ternak ayam
14. Perpustakaan
15. Laboratorium mini (pemeriksaan kesehatan, pengukuran kualitas air susu)
16. Lokasi penanganan pasca panen (susu segar, caramel, yoghurt, susu pasteurisasi, permen, kerupuk susu, tahu susu, susu UHT, dendeng, abon, fresh meat, nugget, sosis) lengkap dengan kafe atau kedai yang dilengkapi hot spot
17. Lokasi konsultasi dan kegiatan pelatihan
18. Taman
19. Penanganan yang intens terhadap lokasi Experimental Farming (kebersihan, kerapihan)

Kunci :
1. Memiliki dan menghayati misi dan visi
2. Kerjasama yang erat
3. Perbedaan adalah jalan menuju kemajuan
4. Professional
5. Saya/anda tidak lebih pintar dari kita semua
6. Keterbukaan
7. Menuju kesejahteraan dan kemuliaan

PENUTUP

Experimental Farming yang menjadi lokasi kegiatan lapangan implementasi ilmu peternakan merupakan cermin nyata kemajuan fakultas dalam mengaplikasikan nilai-nilai keilmuan dan dikombinasikan pada sebuah integrasi antar berbagai cabang ilmu peternakan menjadi sebuah kesepaduan yang harmonis dalam bentuk usaha peternakan yang terpadu dan mampu menjadi inspirasi bagi pemerhati agribisnis. Menilik potensi besar Fakultas Peternakan Universias Jenderal Soedirman, mewujudkannya adalah sesuatu yang sangat mungkin.

10 Agustus, 2010

KEGIATAN EKSTRAKULIKULER

KEGIATAN EKSTRAKULIKULER
(melakukan sebuah perubahan ... bukan mengulang sebuah kebiasaan)


Memasuki kampus yang dulu pernah aku jejaki selama 5,7 tahun, menatap deratan bangunan permanen yang menjadi sekretariat unit kegiatan mahasiswa yang jauh dari kondisiku waktu itu yang berdinding triplek. Perbedaan dengan saat ini, keriuh rendahan mahasiswa berlalu lalang sangat jauh berbeda, saat itu mahasiswa datang silih berganti ke Sekretariat Unit untuk saling mem’back up’ kegiatan atau sekedar mengetahui informasi aktifitas atau berkaitan dengan tugas perkuliahan atau saling bertukar perlengkapan praktikum atau rapat untuk membahas sebuah event atau sekedar berkumpul, mengobrol kesana kemari sambil memainkan gitar bolong yang dimakan usia. Sementara, pemandangan yang kusaksikan tadi ... sebuah fenomena kesunyian dalam kemegahan kompleks menara gading, sebuah paradigma berfikir yang menurutku sangat ’cupet’, sebuah rasa sayang atas kelengkapan fasilitas teknologi dan sarana yang tidak termanfaatkan dengan baik.
Saat aku tanya, ”apa kegiatan kalian saat ini?” .. kebanyakan dari mereka hanya terdiam, meringis atau tersenyum terpaksa ... NYARIS TANPA KEGIATAN. Unit kegiatan berdiri hanya menjaga sebuah identitas Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) belaka, mereka hanya takut nama UKM A hilang, mereka takut nama UKM B bubar, mereka takut nama UKM C diberangus, ditambah saat mereka membuka file album foto dan demi memandang satu persatu alumni yang saat itu menggawangi UKM, mereka takut pada Anggota Luar Biasa (alumni) apabila UKM ini hilang dari daftar nama UKM dilingkungan Fapet Unsoed. Saat ini kebanyakan UKM hanya melakukan penerimaan anggota baru, pelantikan, rapat kerja program kegiatan, laporan pertanggungjawaban, pemilihan anggota baru dan terus berulang.
Entah siapa bilang keladi dari keterpurukan kegiatan mahasiswa, yang jelas ada sebuah distorsi yang tercipta dari kekurangaktifan mahasiswa pada unit kegiatan. Bila hal ini terus berlarut, akan menjadi sangat ironis dan menjadi hal yang sangat membahayakan kehidupan kemahasiswaan dan institusi bernama pendidikan tinggi. Mengapa tidak, ditengah budaya yang semakin digital, teknologi yang makin maju, transformasi informasi yang semakin cepat dan tingkat konsumsi protein yang semakin tinggi, kehidupan mahasiswa yang hanya memikirkan kegiatan perkuliahan dan ketidak akomodasian kampus akan kegiatan ekstra kulikuler kemahasiswaan, akan membuat mahasiswa berfikir dan memutar otaknya untuk mencari sensasi baru dalam variasi kehidupannya. Melakukan aktifitas diluar kampus boleh jadi menjadi pilihan, beroleh raga, berteater, bermusik, berkegiatan ekstrem, narkoba, seks bebas, mengikuti aliran kiri, menjadi pengusaha jaringan, tindakan kriminal dan seabreg kegiatan lain (termasuk memasuki kancah politik praktis) boleh jadi akan menjadi salah satu atau salah dua pilihan bagi mereka yang ’bete’ dengan kegiatan kampus.
Seharusnya hal ini menjadi bahan pemikiran dan menjadi salah satu program yang perlu dilaksanakan oleh birokrat kampus agar melaksanakan kembali kegiatan kemahasiswaan dengan aktifitas yang terarah, menyenangkan, terprogram dan berkesinambungan sehingga pola berfikir mahasiswa akan semakin terpacu dinamis dan melahirkan inspirasi yang mengakomodir ’keliaran’ berfikir mereka menjadi produk keluaran yang mantap. Sebagai salah satu produk UKM, kepedulian yang ada dalam diri saya sangat besar karena pengaruh keaktifan dalam UKM sangat membantu di Universitas Kehidupan ini, beberapa rekan alumni yang dulunya merupakan aktifis UKM sudah menuai hasilnya menjadi Area Marketing Manager, Direktur, Farm Manager, Konsultan, Penulis, Motivator, Wartawan, Mentor, Guru, Agamawan, Dosen, Peternak, Pemegang jabatan penting sebuah departemen, Pimpinan BUMN, Event Organizer dan mereka semua masih berjuang untuk meraih kesuksesan demi kesuksesan berikutnya.

Masukan :

1. Rekoordinasi

Unit kegiatan mahasiswa merupakan kumpulan mahasiswa yang memiliki minat, bakat dan kegemaran yang sama terhadap satu aktifitas tertentu dan mereka melembagakan diri serta terdaftar sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa yang diakui oleh Birokrat Kampus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman melalui Surat Keputusan Dekan Fapet Unsoed. Seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa dikoordinir secara kelembagaan oleh Senat Mahasiswa (sekarang : Badan Eksekutif Mahasiswa). Sema (baca : BEM) diawasi oleh Badan Perwakilan Mahasiswa (sekarang : Dewan Mahasiswa). Masing-masing UKM didampingi oleh seorang dosen pembina yang bertugas mengarahkan aktifitas dan mengadvokasi UKM, sementara BEM dan Dema berada dibawah bimbingan Pembantu Dekan III.
PD III dapat memulainya dengan melakukan kordinasi dan konsolidasi pada dosen-dosen pembina UKM. Selanjutnya dengan BEM dan Dema serta seluruh ketua UKM ditambah ketua HMPS dilakukan koordinasi dan konsolidasi ketat untuk menentukan ketegasan terhadap UKM bersangkutan. UKM yang tidak mampu memberikan gambaran tentang program kerja, dilikuidasi atau dimerger saja dengan UKM yang sangat aktif, kalau perlu UKM dibagi saja menjadi tiga besar : Penelitian, Minat/Kegemaran serta Pengabdian Masyarakat&Kerohanian. Pihak PD III kalau perlu mendikte sementara seluruh kegiatan UKM yang ada dan memantau sambil melakukan bimbingan terhadap kegiatan mereka. Setelah mereka mulai dinamis, dapat dilepas untuk berjalan mandiri
2. Stimulasi

Seluruh UKM dirangsang untuk melakukan kegiatan bersama setiap bulan melalui program kolaburasi
misalnya :
Kegiatan Bersih Halaman Kampus
Steering Committee : Pembantu Dekan III
Pembina UKM
BEM dan Dema
Steering commitee menentukan lokasi pembersihan, target pembersihannya dan seluruh detail kegiatan
Pelaksana : Unit Kegiatan Mahasiswa
Sasaran : halaman depan kampus agar lebih asri dan dilakukan juga penanaman pohon pelindung
Pendanaan : Dana Pembinaan Kemahasiswaan
Hasil yang akan diperoleh :
a. Capra Pala akan mampu melakukan misi dan visinya untuk melakukan konservasi
b. Husbandry akan mendapatkan angle untuk berita/majalah/ koran/mading
c. Unit Kerohanian mendapatkan bahan spiritual tentang arti pentingnya menjaga kebersihan, kerapihan dan keindahan
d. Unit Pengabdian Masyarakat dan Unit Penelitian – Pengembangan Peternakan (UP3) dapat mengaplikasikan teknologi tepat guna untuk pengabdian pada masyarakat
Bila program ini berjalan, maka pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan dapat dilaksanakan melalui cara ini, Program Bersama
Program Bersama lainnya yang sangat strategis adalah LUSTRUM Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman di tahun 2011 mendatang
3. Pembentukan Brand Image

Sebagai sebuah kegiatan yang terstruktur dan berkesinambungan, Unit Kegiatan Mahasiswa juga harus melakukan penerapan pola” marketing dengan mengkedepankan brand image UKM. UKM dituntut melakukan tindakan” yang mendorong anggotanya secara khusus untuk membawa nama baik UKM dan Civitas Academika, misalnya dengan menjaga kerapihan sekretariat, kerapihan dokumen, kerapihan personal dan kedisiplinan pengurus UKM. Citra yang baik dan tulus ini akan menjadikan UKM tersebut memiliki daya saing yang manstaf dan dapat berkiprah dalam memajukan kreativitas mahasiswa
Koordinasi dengan seluruh civitas academika boleh jadi merupakan hal yang patut dilaksanakan. Kerapihan sekretariat, kelancaran program aktifitas, pendampingan terus menerus dan memacu adrenalin beraktifitas adalah sebuah keharusan dan menjadi identitas nyata mahasiswa yang benar” siap menjadi sarjana yang sujana. Membuat bank kesalahan dan brangkas solusi adalah sebuah ide jitu sehingga kita semuanya dapat selalu terus melakukan perubahan-perubahan yang mengarah menuju kebaikan, bukan kebiasaan” yang dianggap baik oleh diri sendiri

MARHABAN YAA RAMADHAN




MARHABAN YAA RAMADHAN

Ramadhan itu datang lagi
Ramadhan yang sudah tahun ke 1431
Ramadhan yang sama seperti ramadhan sebelumnya
Ramadhan yang berulang sebagai salah satu bulan dalam tahun hijriah

Bagi sebagian kita, kaum muslimin ..... Ramadhan boleh berarti sebuah anugrah
Bagi sebagian kita, kaum muslimin .... Ramadhan boleh berarti biasa-biasa saja
tuuuuh
Bagi sebagian kita, kaum muslimin .... Ramadhan boleh berarti menyusahkan

Tenang saja, karena Ramadhan itu khusus diberikan untuk yang beriman
Tenang saja, karena Ramadhan itu spesial untuk yang merasa diwajibkan berpuasa
Tenang saja, karena Ramadhan itu memberi kesempatan bagi yang ingin menjadi muttaqien

Ramadhan ....
Bulan penuh rahmat, ampunan dan pembebasan
Bulan penuh hikmah dan berkah
Bulan penuh kegembiraan
Bulan penuh nilai

11 bulan kita jarang Shubuh tepat waktu
11 bulan kita jarang makan dini hari
11 bulan kita jarang tadarrus
11 bulan kita jarang pulang sore

Saatnya ....
Satu bulan ini kita sholat Shubuh tepat waktu dan berjamaah
Satu bulan ini kita berpuasa
Satu bulan ini kita mendalami seluruh firmanNya
Satu bulan ini kita berkumpul dengan orang-orang terdekat dan tercinta dengan penuh
kasih

Semoga ...
Kelak kita diakui sebagai umat yang beriman
Kelak kita melakukan syariat puasa seperti manusia-manusia sebelum kita
Kelak kita berusaha keras menjadi manusia yang bertaqwa

Karena ....
Berkah Ramadhan kita raih
Hikmah Ramadhan kita dapat
Nilai-nilai suci Ramadhan menjadi atmosfer


Selamat
Datang yaa Ramadhan .... terimakasih yaa Allah, Kau temukan lagi kami dengan
Ramadhan mubbarakMu ... jadikan kami manusia yang mampu berfikir dan
memanfaatkan RamadhanMu, karena .... kami selalu ingin diwisuda Allah SWT
sebagai manusia bertaqwa

02 Agustus, 2010

INTEGRATED CITY SYSTEM

INTEGRATED CITY SYSTEM

Saat ini wacana pemindahan ibukota mulai terus menerus didengungkan dan menjadi dianggap sebagai sebuah cara untuk mengatasi permasalahan kota besar. Sebuah team yang menamakan dirinya Team Visi 2033 menggelontorkan pemindahan ibukota Jakarta karena beban yang sangat berat sudah dipanggul oleh kota yang dulunya bernama Batavia ini. Sensus penduduk oleh BPS sudah mengeluarkan angka sebanyak 9.500.000 jiwa penduduk Jakarta, padahal prakiraan penduduk ibukota ini pada tahun 2014 hanya sebesar 10.000.000 jiwa, artinya hanya setengah juta jiwa lagi maka penduduk Jakarta sudah mencapai target, andaikan itu sebuah target sales, tentunya sangat menggembirakan. Bisa dibayangkan jumlah penduduk Jakarta pada tahun 2014 nanti ... penuh sesak, hiruk pikuk dan semakin kisruh (semoga saja tidak).
Menurut cerita, pada bulan Juli 1957, Presiden I Republik Indonesia meletakkan batu pertama pembangunan kota Palangkaraya di Kalimantan Tengah serta mewacanakan Palangkaraya sebagai calon Ibukota Negara Republik Indonesia. Kota dengan luas mencapai 2.678,51 km2 lebih ini didesign dengan model seperti sarang laba-laba dengan konsep blok sehingga semakin menjauh dari pusat kota yang merupakan bundaran dengan delapan simpang (menyiratkan jumlah pulau besar di Indonesia). Banyak yang mewacanakan pemindahan ibukota negara ke kota ini, karena sebagai pusat pemerintahan dan pusat bisnis, Jakarta dinilai memiliki beban yang sangat besar dan sulit menyamankan aktifitas warga kota.
Beberapa masalah kota besar (terutama Jakarta), antara lain :

a. Kemacetan

Sudah pasti kemacetan ini menjadi ‘biang kerok’ di kota besar. Pertambahan jalan raya yang hanya 0,1% sangat jauh dibandingkan dengan pertambahan jumlah kendaraan bermotor. Dalam Tempo Interaktif (2010), Kepala Dinas Perhubungan Jakarta Udar Pristono menyampaikan pertumbuhan kendaraan baik roda dua atau empat di ibukota mencapai 1.172 unit per harinya. Sebanyak 186 unit kendaraan roda dua dan 986 unit kendaraan roda dua terdaftar di Dinas Perhubungan Jakarta tiap harinya, sangat spektakuler dan membuat beban kota besar menjadi sangat beratnya. Setiap pameran mobil, jumlah mobil yang terjual sangat banyak, karena seluruh ATPM pasti akan berusaha mencetak angka penjualan yang terus bertambah. Kebijakan mengatasi kemacetan sudah berkali-kali dilakukan, mulai dengan pemberlakuan “three in one”, pembuatan jalur khusus bus trans kota (misalnya jalur busway untuk bus Trans Jakarta) sampai rencana pemberlakuan ganjil – genap pada angka belakang plat nomor kendaraan bermotor dan perjalanan melalui air sungai serta pembangunan kereta monorail telah digelontorkan, tetapi tetap saja kemacetan semakin lama semakin parah.
b. Prasarana Pemukiman
Sebagai sebuah kebutuhan primer, perumahan merupakan kebutuhan utama yang penting bagi masyarakat sebuah kota. Jumlah yang sangat besar untuk sebuah kota, misalnya Jakarta yang luas sekitar 661,52 km2 pastinya akan sangat sulit mengatur hunian untuk warganya.
c. Insrastruktur Penunjang
Sebuah kota tentunya dituntut untuk menyediakan kebutuhan lain, misalnya infrastruktur. Air bersih merupakan kebutuhan primer yang hanya bisa disediakan oleh alam, air yang sama sekali tidak bisa diciptakan manusia merupakan barang penting yang harus terus dijaga melalui kelihaian dalam melakukan model konservasi alam, model penjernihan air serta penjagaan kondisi air tanah agar tetap terjaga keseimbangannya. Tentunya jalan merupakan infrastruktur yang masih sulit dipenuhi, juga air bersih, udara bersih juga menjadi persoalan. Pertumbuhan penduduk dan pembangunan infrastruktur menuntut penggunaan ruang kota sehingga akan menurunkan ruang terbuka dan paru-paru kota sebagai penyaring udara.
d. Urbanisasi
Sebuah fenomena perpindahan penduduk dari desa ke kota. Fenomena kedahsyaratan urbanisasi dapat kita saksikan saat hari raya atau liburan sekolah, kota besar seperti jakarta menjadi sebuah kota yang lenggang, lalulintas di tengah kota sangat lancar dan terbuka lebar sehingga aturan three in one menjadi tidak berlaku


Menilik kondisi yang terjadi, Integrated City System boleh jadi dapat dilaksanakan, minimal sebelum terjadi perpindahan ibukota negara yang terwacanakan dan hanya akan membuang waktu dan tentu saja biaya apabila hal itu dilaksanakan. Secara materiil (lokasi baru, kemungkinan pembangunan kota baru –meski akan menambah berat beban hutang negara) bukan menjadi persoalan krusial, justru hal-hal yang non materiil menjadi nilai penting yang harus diperhatikan dan diselesaikan terlebih dahulu sebelum dilakukan perpindahan ibukota negara (kalau jadi).
Integrated City System adalah sebuah model pengaturan kota dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki sebuah kota serta pengaturan sistem kota sehingga semakin memberi kenyamanan bagi pelaksanaan aktifitas pemerintahan dan bisnis sebuah kota.

Penanganan jaringan jalan
Pembagian antara aktifitas sebuah kota adalah :
a. Aktifitas Pemerintahan
b. Aktifitas Perkantoran
c. Aktifitas Bisnis
d. Aktifitas Rehat/Refreshing

Pada sebuah Integrated City Sistem, aktifitas pemerintahan, perkantoran, bisnis dan rehat/refreshing dihubungkan oleh sebuah jalur lalulintas yang lancar dan hidup. Pengaturan lalulintas yang penting untuk dilakukan pada sebuah kota yang sangat padat (teruk) seperti Jakarta harus dilakukan secara terintegrasi dan penuh kedisplinan. Sistem yang perlu dikedepankan adalah penggunaan moda angkutan umum yang lebih banyak daripada moda angkutan pribadi. Setidaknya dalam kawasan yang dijadikan sebagai sebuah Pusat Pemerintahan, Pusat Perkantoran, Pusat Bisnis dan Pusat Rehat/Refreshing secara terpadu, dihubungkan oleh moda transportasi umum dengan persyaratan :
1. Selalu tersedia, moda angkutan umum ini terus berkeliling dan behenti pada lokasi-lokasi tersebut dan antara halte, pusat kegiatan tersebut disediakan jalur pejalan kaki yang luas, memiliki pertukaran udara yang baik, penerangan yang baik serta terlindung dari sengatan matahari dan air hujan. Moda transportasi ini nantinya akan bermuara pada pusat feeder moda tranportasi yang akan membawa masyarakat pada lokasi penitipan kendaraan pribadi atau kendaraan umum yang akan membawa mereka kembali kerumah atau kelokasi lain. Jalur pribadi yang dibuka lebih sedikit daripada jalur angkutan umum akan membuat masyarakat berduyun-duyun menggunakan moda angkutan umum
2. Nyaman dan aman, moda angkutan umum yang digunakan harus nyaman dan juga aman. Moda angkutan umum yang tidak nyaman (penuh sesak dan panas) membuat moda transportasi umum bukan menjadi pilihan bijaksana. Keamanan dalam angkutan umum juga merupakan hal yang dirindukan oleh pengguna angkutan umum.
3. Lokasi Parkir Kendaraan Pribadi, lokasi tempat awal moda angkutan umum diberangkatkan perlu disediakan lokasi parkir untuk kendaraan pribadi. Setiap pengguna angkutan umum yang menggunakan kendaran pribadi dari rumah, berhak atas lokasi parkir yang baik dan aman.
4. Waktu pelaksanaan aktifitas moda angkutan umum ditetapkan setiap jam kerja sampai jam pulang secara terus menerus, misalnya dari pukul 06.00 – 21.00 WIB
5. Disiapkan 3 jalur utama moda angkutan umum, yaitu :
a. Jalur pendek, melayani jarak dekat (banyak berhenti), misalnya jalur Blok – M s/d Senayan, Senayan s/d Bundaran HI, Bundaran HI s/d Harmoni. Jalur ini berisi banyak bus dan sering berhenti, sehingga untuk penumpang yang ingin melambung ke lokasi yang lebih jauh, boleh menggunakan jalur menengah. Jalur ini juga akan menjadi feeder bagi perkantoran yang berada di lokasi dalam, misalnya jalur Sarinah s/d Tanah Abang
b. Jalur menengah, melayani jarak menengah, misalnya jalur Blok M s/d Bundaran HI, Bundaran HI s/d Harmoni. Jalur ini hanya berhenti dari jalur awal kejalur berikutnya sehingga memiliki jalur jalan tersendiri dengan kondisi kendaraan yang lebih besar. Untuk penumpang dengan jarak tempuh jauh, dapat menggunakan Jalur Jauh
c. Jalur Jauh, merupakan jalur yang melambung dari titik awal ke titik terjauh, misalnya Blok M s/d Harmoni. Bus dijalur ini lebih besar lagi dan memuat banyak penumpang. Jalur jauh ini dapat digunakan oleh pejabat negara untuk melintas dan khusus hanya untuk kepentingan negara semata.
d. Untuk moda kendaraan umum, seperti taksi dan mobil angkutan barang, berhak berada pada jalur manapun, dengan catatan memberi nilai efektifitas (bila perlu, sistem angkutan barang wajib hanya dilakukan pada malam hari), juga kekhususan untuk kendaraan yang sangat khusus -darurat (ambulance, kereta jenazan, pemadam kebakaran)

Penegakan Hukum dan Aturan
Kondisi tata ruang kota yang mungkin sudah terlanjur kacau terkadang menjadi kambing hitam dan tiada pejabat tata ruang yang ingin disalahkan. Tetapi memperbaiki kondisi ini patut dilakukan dan wajib menjadi perhatian. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah melakukan penegakan aturan secara konsisten dan ketat melakukan disiplin. Pada beberapa lokasi, penegakan aturan sangat jelas terasa, misalanya di kota Singapura yang secara ketat memiliki aturan yang disiplin. Pemberian sanksi bagi pelanggar disiplin ini akan memberi dampak nyata melalui penegakan aturan yang akan membuat kondisi kota menjadi teratur dan tertib.
Juga termasuk penggunaan infrastruktur lainnya, misalnya penjagaan kebersihan lingkungan, kebersihan sungai, pemisahan sampah organik – non organik, kawasan bebas rokok, penanganan kaum ‘ gepeng’ dan penegakan aturan lalu lintas.
Penegakan aturan ini sangat penting dan perlu dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.

Hal Lain
Sistem perkotaan terpadu juga akan mendorong model efektifitas kinerja bagi setiap sistem kekuasaan, perkantoran, perusahaan, distribusi barang, serta memberi kenyamanan berkendara serta sangat memungkinkan untuk mengurangi terjadinya polusi, kemacetan dan ketidaknyamanan. Seperti disampaikan oleh Pakar Tata Ruang Kota, Bapak Yayan T, bahwa hal yang penting adalah manajemen perkotaan. Melalui penegakan aturan, pemberian fasilitas transportasi yang lancar serta fasilitas pedestrian (pejalan kaki) yang nyaman, bukan tidak mungkin, kendaraan bermotor pribadi akan lebih hemat karena tidak sering digunakan, penghematan Bahan Bakar Minyak dan kemungkinan pembangunan yang berkesinambungan

Perataan Pembangunan Desa
Arus urbanisasi terjadi karena kota menjadi magnet yang sangat kuat, karena kota adalah sumber uang/kekayaan/kekuasaan/ karir/kemewahan/prestige/kemajuan jaman, sehingga untuk mengatur arus urbanisasi, perlu dilakukan suatu perlakuan yang integral antara pemerintahan pusat dengan daerah. Hampir seluruh tenaga kerja di daerah, bergerak ke kota besar untuk mendapatkan kemuliaan kehidupan. Sebaiknya melalui sebuah plaform yang manstaf dari seluruh stake holder pemerintahan dan sebuah jejaring komunikasi yang baik, akan terbentuk sebuah mainstream pembangunan wilayah. Misalnya Jakarta yang sudah menjadi Integrated City System, merangsang Bekasi untuk melakukan hal yang sama (Bekasi akan menjadi buffer bagi masyarakat Bekasi, karawang, dan sekitarnya), merangsang Depok, Bogor sampai Cirebon. Bandung merangsang Sumedang – Garut – Ciamis sampai Cilacap. Semarang merangsang Tegal, Kudus, Brebes, Purwokerto, Solo sampai Cepu dan seterusnya. Demikian pula dengan pulau-pulau lain. Melalui stimulus pembangunan kota terpadu, maka tingkat urbanisasi menyebar dam masing-masing wilayah akan maju sesuai dengan karakter masing-masing, bukankah karakter yang unik, akan memberi nilai yang lain daripada yang lain?

Alangkah luarbiasanya bila kota terpadu ini bisa mewujudkan sebuah keteraturan, ketertiban, kedisiplinan dan kemajuan.

15 Juli, 2010

Piala Dunia 2014






Perhelatan milik dunia yang menjadi trend bagi ratusan juta penduduk dunia, Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan baru saja usai dan serak ditenggorokan atau desir rasa tentang 32 kesebelasan terbaik dunia masih berkesiap di sekelebatan pandangan mata. tepat sehari sebelum piala dunia berakhir, FIFA mengumumkan untuk menjadikan Brazil sebagai negara yang akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar berikutnya di tahun 2014, meski keputusannya sudah dilaksanakan dua tahun sembilan bulan lalu

Keinginan menjadi tuan rumah adalah satu kebanggaan dan diharapkan akan merubah kultur negara dalam sesaat untuk kemudian mewarnai ritme rakyat pada masa berikutnya.

Meski terdapat hambatan krusial, seperti bersiapnya 12 kota sebagai ajang bergelut 32 wakil bangsa, juga permaslaahan infrastruktur, yang paling vital adalah bandara dan stadion. hal inilah yang menyebabkan terdengar kabar tentang bersiapnya penanaman US $ 40 miliar demi penyelenggaraan pesta sepakbola dunia.

Mulai dari logo yang menjadi perhatian. Logo itu merepresentasikan trofi Piala Dunia dengan bentuk rangkaian tiga tangan dengan warna kuning dan hijau, yang merupakan warna bendera Brasil. Logo itu diberi nama ’’Inspiration’’ setelah dewan juri, di antaranya novelis Paulo Coelho dan supermodel Gisele Bundchen, melakukan penilaian dari 25 nama yang diajukan. Seremoni peluncuran logo itu dilakukan di pusat konvensi yang terletak di pinggiran Kota Johannesburg, Afrika Selatan (Afsel), yang berjarak beberapa kilometer dari Soccer City (Udik-net)

Brasil mengajukan 17 kota untuk dipilih FIFA sebagai tuan rumah pesta sepakbola akbar se-dunia itu. Namun FIFA hanya meloloskan 12 kota.

Tidak ada kejutan dari 12 nama yang diumumkan FIFA, antara lain Belo Horizonte, Brasilia, Cuiaba, Curitiba, Fortaleza, Manaus, Natal, Porto Alegre, Recife, Rio de Janeiro, Salvador dan Sao Paulo. Sementara lima yang terdepak adalah Belem, Campo Grande, Goiania, Rio Branco dan Florianopolis.

Dipilihnya 12 kota tersebut dengan mempertimbangkan faktor geografis dan jarak antar kota agar tidak menyulitkan tim yang nantinya bertanding.

“Daya tarik di Brasil luar biasa besar, dan merupakan pengambilan keputusan yang sulit untuk memilih 12 dari 17 kota yang mereka ajukan,” ujar presiden FIFA Sepp Blatter dikutip Reuters.

Persiapan terus mereka lakukan ...
pekerjaan menata negara harus mereka wujudkan ...
no retreat ...

Like No Other Countries .... menjadi Slogan

kembali kita bersua empatahun mendatang di negara samba

Mengenai Saya

Foto saya
keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...

COWMANIA

COWMANIA