12 Juli, 2009

THERAPY KESABARAN

Resep Pertama : Biarkan mereka mendahului ……


Sabar ya Pak … sabar ya Bu … sabar ya Mas .. sabar ya Mbak … sabar ya Dek … sabar ya … sering kita mendapatkan ungkapan tentang perlunya kita bersabar … dalam kitab suci-pun nilai kesabaran juga kita sering baca atau dengarkan saat pengajian … terutama saat memasuki bulan Ramadhan, untuk yang muslim … para pemberi pelajaran agama selalu mengatakan untuk kita selalu bersabar.
Diri saya sendiripun termasuk orang yang tidak sabaran … ketidaksabaran saya biasanya akan saya ledakkan melalui nilai” emosional yang cukup jelas dirasakan oleh orang” sekeliling saya. Nilai emosional saya sangat terasa karena saya mengkaitkan dengan hati. Yang saya rasakan nilai emosional itu terjadi karena menyangkut harga diri yang dinjak” sehingga saya harus melawan dan menjadi pemenang … emang dasar manusia kalee.
Keumuran ini seakan memaksa saya untuk melakukan sebuah nilai” yang berbeda dalam hidup … saya mencoba merenung dan mengendapkan nilai”, tahapan” yang harus saya lalui agar saya dapat bersabar .. akhirnya saya memulai dari aktifitas yang sering saya lakukan … berkendara … resep pertama saya, saya namakan BIARKAN MEREKA MENDAHULUI
Saat saya berkendara, entah dengan sepeda motor atau dengan kendaraan roda empat, kolega” saya yang juga mengendarai kendaraan sering memiliki tingkah laku yang tidak pada tempatnya (pastinya mereka juga memandang saya sedemikian saat saya melakukan hal itu dulu). Berada pada jalur cepat, ugal”an, berkecepatan tinggi, mendahului seenaknya sampai berhenti pada tempat yang tidak diperbolehkan atau menerobos marka jalan … suatu kondisi yang biasa dilakukan … saat ada kolega saya dijalan mendahului, maka saya akan serta merta tancap gas dan mencoba mendahului mereka sampai pernah saya kebut”an dengan mereka dijalan hanya karena masing” tidak ingin berada dibelakang … beruntung saya baru kecelakaan lalulintas dua kali, entah bila harus ketiga kalinya … kedua kecelakaan itu membuat saya harus berurusan dengan dokter bedah tulang karena tulang kaki saya patah .. kecelakaan pertama, tulang kering dan betis saya yang patah, kecelakaan kedua, gentian tulang paha saya yang patah. Untuk keluarga dan perusahaan saya jelas itupun sebuah kerugian … secara materi, mulai kendaraan yang rusak sampai biaya pengobatan … sisi non material, mulai dari keadaan moril merek yang rontok, sampai kekhawatiran mereka akan ‘kehilangan’ manusia berkualitas macam saya (ciiieee). Endapan” itulah yang membuat saya mencoba meramu resep therapy kesabaran.
Kesabaran saya ujikan dijalan … saat saya berkendara saya melakukan beberapa therapy, yaitu :

1.kecepatan normal (kisaran 60 – 80 km/jam – dijalan raya yang kosong, seperti jalan raya Solo – Boyolali atau Klaten – Yogyakarta. Kalau di Jalan Jenderal Soedirman saat pagi hari … jangan harap ya ..he..he), kecepatan ini membuat kita mampu mengendalikan kendaraan sepenuhnya, entah bermanuver kiri-kanan, entah melakukan pengereman dengan langsam, entah melakukan aktifitas pengamatan terhadap situasi lalulintas dan aktifitas lain yang menyamankan kita berkendara. Saat kondisi sedemikian, pikiran kita sangat ayem sekali … kita dapat tenang, dapat menikmati alunan lagu yang menyapu relung” gendang telinga atau berbincang dengan lebih fokus. Jangan buru” dan kebut”an .. kita tidak sedang berkejaran dengan Jeson Button atau Jorge Lorenso atau Ananda Mikola, kita sedang berkendara sambil mententramkan hati

2.mengalah untuk nyaman … ungkapan ini saya plesetkan dari “mengalah untuk menang” … di jalan raya saat kita akan keluar dari gang menuju jalan raya (terutama saya alami selama berkendara di Solo dan sekitarnya sampai seputaran wilayah di Jawa tengah dan Jawa Timur), sangat sedikit kendaraan yang ada di jalan raya memberi kita kelapangan untuk dapat menyeberang masuk ke lajur di jalan raya. Jangankan kendaraan bermotor yang berakselerasi lebih tinggi, sepeda dan becak-pun kadang kala ‘tancap pedal’ yang penting kita tidak menyeberang dihadapan mereka. Bila sudah demikian, biasana saya dengan tetap bersenandug riang, memajukan moncong kendaraan sedikit demi sedikit sampai keleluasaan tercipta, baru saya menyeberang. Grasa-grusu sambil ngomel” akan membuat kita nyaman dan adrenalin kita menggelegak menciptakan emosi, akhirnya ketenangan kita akan terganggu.

3.biarkan mereka mendahului … kalimat ini saya jadikan ikon … karena kita yang masih berdarah dingin ini seringkali merasa ‘diremehkan’ manakala kita didahului oleh kendaraan lain … biasanya kita serta merta memacu kendaraan lebih cepat … kita menambah akselerasi putaran mesin karena keinginan kita, “tidak mau berada pada pihak yang kalah” … agar kita menjadi orang yang sabar, biarkan saja mereka mendahului, setting dalam pikiran kita, “ah, beliau pasti sedang terburu” wawancara sehingga harus cepat” .. atau “ah, mereka pasti sudah tidak kuat menahan untuk buang air, sehingga harus ngebut untuk sampai di jamban” …. atau “ah, dia pasti akan terlambat ke sekolah, karena ada ulangan umum” … banyak kalimat” yang akan mententramkan hati dan pikiran kita sehingga kita akan merasa nyaman”: saja saat ada kendaraan yang mendahului
4.konsisten akan hati dan kepala yang dingin … separah apapun provokasi dalam diri kita … konsistensi kita untuk tetap cool akan menjadi jaminan kesabaran kita

Akhirnya … saya mengutip kata” ayah saya dan salah seorang guru kehidupan saya (Ir. Suharto, MS) … “Berangkat Lebih Awal, Tidak Tergesa”, Selamat Sampai Tujuan”
Sampai bertemu di Resep Kedua saya dalam trilogy resep menjadi sabar … selamat mencoba dan kita ambil referensi atas ini

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...

COWMANIA

COWMANIA