28 Januari, 2012

Gerakan 1.000 cangkul dan buku untuk Pulau Buru




Berkonstribusilah untuk Gerakan 1.000 cangkul dan buku untuk Pulau Buru

Bambang Ismawan dan Rhenald Kasali menyerahkan cangkul, bibit rumput,
serta buku “Mengubah Dunia” dan “Dari Akar Kami Tumbuh” kepada
Pastor Joseph Rhetob dan Antoni Besan (anak raja Buru, yang mewakili masyarakat adat)
sebagai pencanangan gerakan 1000 Cangkul dan Buku untuk Pulau Buru.

Pastor Joseph Rhetob meminta dukungan terhadap nasib masa depan anak-anak perempuan asli Buru
yang tidak memiliki akses pendidikan dan masih kuat dengan tradisi kawin di bawah umur.

Rhenald Kasali menyampaikan, melalui 1000 Cangkul dan Buku untuk Pulau Buru, kita dapat memajukan Pulau Buru
bersama-sama, siapapun dapat berkontribusi sekecil apa pun.

Acara yang dipandu Farhan ini juga dimeriahkan oleh penampilan Sanggar Anak Akar.


Kepedulian anda akan sangat berarti, donasikan Rp. 100.000untuk sebuah cangkul dan niat mulia bagi Masyarakat Adat Pulau Buru ke :
Bank Mandiri Cab. Ujung Aspal no. rek. 1240004936762 a.n. Yayasan Rumah Perubahan Indonesia

Rumah Perubahan Jl. Raya Hankam (Samping Gardu Induk PLN Jati Ranggon) Jatimurni, Pondok Melati Bekasi 17431 - Jawa Barat Telp : (021) 845 90010, (021) 843 04579 Fax : (021) 845 90211 email : info@rumahperubahan.com

25 Januari, 2012

Melaju dan Meraih Potensi - Ekspedisi Waeapo II



Keesokan harinya, tepat pukul 06.40 WIT, kami bergerak menjemput kelompok dan bergegas menuju lokasi pengambilan daun sagu, pergerakan pengambilan daun jauh lebih ‘beringas’ dan sampai pukul 11.30 WIT, terambil enam gelondong daun sagu dengan bobot rataan 80kg, sempat terjadi masalah, ban kendaraan pecah karena membawa banyak beban, setelah diganti dengan ban cadangan, kelompok bergerak kembali dan selepas bongkar muatan kami bergerak kembali ke asrama setelah berjanji untuk berkumpul sekitar pukul 20.00 WIT untuk bersama-sama ke Namlea. Sesampai di asrama, anak-anak asrama dan anak-anak perempuan sekitar asrama sudah menunggu, pastor menjanjikan mereka piknik kepantai. Selepas acara kebaktian di asrama dan sambil menunggu acara kebaktian, saya berkemas-kemas di kamar, malam ini kami akan ke Namlea dengan dua program, program pertama adalah memjemput Adam dan Mas Haedy, program kedua adalah belanja kuali dan support tools untuk ketel. Sekitar pukul 21.30 WIT kami berangkat. Kondisi yang mendung dan nyaris hujan, membuat pastor meminta saya mengambil alih kemudi agar tidak berada di belakang yang terbuka dan kemungkinan basah karena hujan. Sesampai di Namlea sekitar pukul 23.00 WIT, saya masih belum langsung tidur, Juventus vs Udinesse cukup menarik untuk disaksikan dan sekaligus membunuh waktu karena kapal akan sampai di Namlea membawa Adam dan Mas Haedy sekitar pukul 04.00 WIT. Akhirnya sekitar pukul 01.00 WIT saya masuk kamar Frater Etus dan sambil melihat film dari laptop, saya tidur-tidur ayam sampai pukul 03.00 WIT, masih agar goyang sebenarnya, lalu kaki melangkah menuju kamar mandi dan sedikit membasahi muka, lalu membangunkan Iron. Sekitar pukul 03,30 WIT kami berangkat dan antre menunggu Elizabeth II merapat. Setelah merapat dan sebagian penumpang turun, baru kami keatas dan menjemput Adam dan Mas haedy di kamar no 20. Setelah semua siap, kami bergerak menuju asrama. Setelah semuanya selesai melakukan persiapan, sekitar pukul 09.00 WIT rombongan belanja keperlua ketel, empat kuali, sekop, bendrat tebal dan beberapa peralatan lain dipersiapkan mereka. Selanjutnya pukul 11.00 WIT kami berangkat menuju Waeapo, sebelumnya singgah sementara untuk makan siang dan isi premium.
Perjalanan menuju Waeapo terasa lebih panjang tetapi menyenangkan, pada beberapa lokasi, kami berhenti. Sesuai dengan tugas Adam untuk mengambil gambar tentang Penduduk Asli Pulau Buru, kami berhenti di beberapa tempat, seperti misalnya di Desa Savana jaya, Mako, sisi sungau Waeapo dan lokasi Usaha Bersama. Selepas bongkar muatan, seluruh tas dimasukkan ke kabin, karena hari sudah mulai hujan dan penting untuk lebih menyelamatkan bawaan. Akhirnya berhujan-hujan sampai asrama dan Adam sudah harus terciprat lumpur dari roda kendaraan saat berusaha bebas dari kepungan lumpur. Sesampai di asrama, kami mandi dan berehat.







Keesokan harinya selama dua hari berturut-turut kegiatan yang dilakukan selain tetap menjalankan tugas kelompok juga mendampingi Adam untuk mendapatkan foto-foto, seperti foto potensi alam, ternak, gunung kayu putih, Pak Roni dan kegiatan pengambilan daun sagu. Kunjungan kembali ke Weflan juga kami lakukan dan kembali, sambutan hangat kami terima dan kamipun sempat melihat ketel yang sedang dijalankan oleh adik Pak Edy Behuku. Selepas makan siang kami melanjutkan program dengan menjemput kelompok yang mengambil daun sagu selanjutnya kami sampai asrama dan bersiap untuk menjalani hari teakhir di Waeapo besok. Keesokan harinya, pukul 05.30 WIT kami sudah bergerak ke dusun Metar, kami segera melangkah menuju air terjun Metar yang kabarnya menawan. Kami melangkah pada track ditengah-tengah alang-alang yang menjuntai, kemudian memasuki vegetasi tanaman keras dan sampai akhirnya pada sebuah kelokan sungai, kami menyusuri sungai menuju air terjun. Sambil saling mengambil foto suasana alam, kami akhirnya sampai di air terjun yang sangat menawan dan luar biasa. Sebuah gerojogan air yang mengangungkan kuasaNYA serta mengisyaratkan sebuah potensi yang sangat nyata dalam bidang pengembangan wisata alam. Setelah menceburkan diri di danau dibawah air terjun dengan kedalaman sampai 6 meter itu, dengan melawan rasa takut untuk dapat terjun dan akhirnya berhasil mencapai permukaan. Akhirnya dari rencana 2 jam, molor sampai 6 jam di lokasi air terjun dan baru setelah makan siang kami dapat sampai di asrama dan kemudian menjemput Pak Tony untuk bersama-sama sampai Namlea. Sekitar pukul 16.30 WIT kami sampai Namlea dan sontak, selepas seluruh barang dibongkar, hujan deras mengguyur Namlea, sangat deras sampai akhirnya hampir mencoba mencarter angkot untuk mengantar ke pelabuhan. Sekitar pukul 18.30 WIT, hujan mendadak berhenti dan seperti sebuah keberkahan yang nyata dari NYA, kami berhasil berangkat ke pelabuhan dan sampai di Ferry. Sekitar pukul 20.00 WIT, kami meninggalkan pelabuhan Namlea menuju Ambon, mengakhiri ekspedisi kali ini untuk mempersiapkan diri menuju ekspedisi selanjutnya.



Kembali ke Ritme ... dan lahirlah Kreatifitas - Ekspedisi Waeapo II



Hari yang cerah itu dimulai dengan pembumbunan lahan rumput dan penananaman stek baru sampai menjelang tengah hari, seperti biasa, saat istirahat menjelang dan kelompok mulai berkumpul sampai menikmati rokok dan sirih-pinang, saat itulah masukan-masukan dan pendampingan tentang arti pelaksanaan kegiatan dilaksanakan sebagai sarana yang paling mudah untuk memberikan penyuluhan. Selepas makan siang, kelompok segera bergerak menuju jalan menuju lokasi, sabetan parang mulai melakukan tugas membersihkan rumput liar yang menutupi lokasi. Selepas parang bekerja, giliran herbisida bergerak menyemprot tanaman liar sampai tandas. Selepas siang, pergerakan menuju kediaman Pak Roni dilakukan, melalui Kampung Dalam yang dihuni penduduk asli dengan vegetasi hutan yang menyejukkan. Beberapa orang anak sedang ambil kesempatan bersumbangsih bagi keluarga dengan menunggu dan berjualan durian jatohan. Kesempatan sangat terbuka karena kaum lelaki dewasa banyak yang pergi menambang emas. Setelah hutan, kompleks persawahan yang subur dan manstaf terbentang menampakkan kesuburan alam Indonesia. Sebelum senja datang, kami sudah mencapai kediaman beliau berbentul leter ‘L’ dengan bagian depan digunakan untuk warung kelontong dan lokasi pijat refleksi (beliau saat menjadi tahanan politik, sempat berguru diam-diam dengan seorang singkek, bernaka Li Tek Hwan). Sementara hujan mulai rintik-rintik dan beliau sedang bepergian, kami berbincang dengan istri beliau yang ternyata istri beliau dari perkawinan yang ketiga. Perkawinan pertama beliau harus terpisah karena beliau ditangkap oleh Orde Baru dan berpindah dari penjara satu kepenjara lainnya. Kemudian beliau menikah kembali dan kembali harus berakhir karena terpisah oleh kerusuhan tahun 1999. Kemudian perkawinan ketiga dengan seorang ibu yang membawa empat orang anak. Sekitar 30 menit kami menunggu sampai akhirnya muncul sosok yang ditunggu, seorang lelaki berumur dengan baju batik cokelat bercelana pendek. Wajah yang tampak sangat segar terpancar dari sosok yang pernah mengalami jutaan kekerasan fisik diwaktu itu. Sambutan sangat hangat kami terima dan berteman dengan barang dagangan di warung kelontongnya itu, beliau menceritakan perjalanan kehidupan beliau sejak beliau bergabung dengan laskar pelajar sampai akhirnya beliau masuk tentara untuk kemudian ditangkap dan berpindah-pindah penjara sampai akhirnya dibuang di Pulau Buru. Cerita demi cerita mengalir sejak awal pertama tiba di Pulau Buru sampai akhirnya berkehidupan dan tidak bersedia kembali ke Pulau jawa karena keinginan beliau untuk tetap memajukan Pulau Buru bersama-sama dengan tahanan politik lainnya, seperti : Bapak Kuncung dan Bapak Slamet. Tanpa terasa pukul 23,00 WIT pembicaraan berakhir dan kami harus kembali ke asrama. Kapsul kosong yang beliau harapkan dapat dibawakan dari Jawa melalui Uda Masril telah diserahkan dan diharapkan dapat digunakan untuk obat-obatan herbal yang beliau kembangkan. Beliau memohon agar dapat membantu beliau menganalisa gingseng dari Korea yang sudah beliau tanam. Sungguh perjalanan yang mengasyikkan dan menginspirasi, karena beliau selalu berpesan untuk dapat “TIDUR DENGAN TERSENYUM”



Keesokan harinya, aktifitas tetap dilanjutkan dengan melakukan pembersihan lahan sampai menjelang sore. Malam hari dilanjutkan pertemuan dengan Pak Agus, Pak Alex dan Pak Tony tentang rencana kelanjutan pelaksanaan pembangunan ketel penyulingan minyak kayu putih. Jumat pagi acara dilanjutkan dengan pencarian kayu dan bambu untuk rangka rumah ketel. Sempat saya bercakap tegas dengan mereka karena ada perselingkuhan kesepakatan, awalnya rumah ketel terdiri atas dua tungku, dimana satu tungku berisi dua ketel, tetapi dari rangka yang dibangun, mereka membuat satu tungku untuk satu ketel, otomatis saya segera melakukan tindakan tegas untuk mengkondisikan kelompok agar selalu berada pada koridor yang konsisten dan memiliki komitmen. “kalau begitu, hentikan semua kegiatan, kita berkumpul lagi dan berembug untuk merubah konsensus”, tegas saya, mendadak sontak mereka terdiam dan akhirnya mereka melakukan perubahan rangka rumah dengan merubah menjadi satu tungku dua ketel. Saya diam dan tidak bergerak meninggalkan lokasi, saya tetap menemani mereka. Saya kemudian sampaikan kepada Pak Tony selaku ketua tim 6 bawa ketegasan adalah hal yang penting untuk menjaga konsistensi dan komitmen kelompok. Saat hujan mulai turun dengan derasnya, acara dilanjutkan di dalam bangunan asrama dan tiba-tiba saja ide untuk membuat kolam ikan kembali terkuak, sebuah kreatifitas yang selama ini terkungkung dalam ketidakmampuan dalam mengungkapkan. Sore itu pula timbul satu kreatifitas yang luar biasa, atap akan dibuat bersama dengan kelompok, tidak jadi membeli. Keputusannya, sebagian kelompok akan melakukan pencarian daun sagu untuk atap dan sebagian lain akan meneruskan pencarian bahan baku untuk rumah ketel, sebuah pengaturan mandiri dan kreatif.



Acara pagi terlalui dengan berkumpul untuk mempersiapkan diri menuju ke lokasi tanaman sagu milik keluarga Besan yang melalui jalan di Unit 5. Saat berbelok dan melewati unit 5, terlihat jelas perbedaan bangunan antara masyarakat transmigrasi dengan penduduk asli. Rumah batu dan model arsitektur modern banyak berdiri diseputaran lokasi milik masyarakat transmigrasi. Sementara rumah milik masyarakat adat masih didominasi kayu dan berlantai tanah atau campuran pasir-semen. Satu lagi kearifan lokal tampak, setiap anggota masyarakat diperbolehkan mengambil daun dan sagu tanpa memandang golongan. Kebebasan ini sangat tampak dimana kami bebas memilih tanaman sagu. Tidak kurang dari lima gelondong daun sagu berhasil diambil dengan bobot rataan 40kg. Selesai dmuat, daun dibawa ke lokasi dan dianyam untuk dijadikan atap rumah ketel. Kesepakatan sore itu, besok pengambilan daun dilakukan lebih cepat, sekitar pukul 07.00 WIT diharapkan sudah berangkat. Sayapun memerlukan untuk pergi ke rumah Ibu Bidan Paulina, saya perlu amoxycilin untuk mengatasi infeksi tubuh karena daya tahan yang menurun, terjadi pembengkakan kelenjar getah bening. Sempat pula percakapan tentang fasilitas obat-obatan di seputaran Waeapo yang jarang tersentuh obat paten, hampir seluruhnya obat generik ditambah bebrapa tenaga kesehatan masih belum memiliki alat-alat kesehatan, meski itu hanya sebuah stetoskop sekalipun

Mereka Perlu Pendamping - Ekspedisi Waeapo II




Senin siang itu, perjalanan ke lokasi Usaha Bersama melalui Pemberdayaan Masyarakat Adat Pulau Buru di Dusun Metar, Desa Lele, Kecamatan Waeapo dilakukan. Tetap melalui jalan yang sama dengan kondisi yang sama dan hampir-hampir tanpa perubahan berarti. Memang tampak jalur menuju lokasi tambang emas di unit 11 daerah transmigrasi mulai ramai dengan masyarakat dengan menggunakan sepeda motor dan juga kendaraan roda empat. Perjalanan yang sudah mulai disambut dengan hujan deras sejak ibukota kecamatan Mako itu berakhir di asrama dan program pemberdayaan kembali dilaksanakan.
Keesokan harinya, kunjungan kelokasi Usaha Bersama Pemberdayaan Masyarakat Pulau Buru dilaksanakan ... dan ternyata, memang ada kelesuan disana, ada ketidakgairahan serta ada kecanggungan manajemen. Kedatangan pagi itupun dimulai dari rumah Pak Agus Hukunala (Kepala Dusun), kami berkumpul dan saling mengumpulkan cerita satu sama lain sambil menganalisa titik simpul permasalahan. Ketiadaan program aktifitas dan ketiadaan person yang mengawal, menyebabkan stagnasi kegiatan. Kelompok bagai anak ayam kehilangan induknya dan bagai tertiup angin ... ya, boleh dibilang mereka bagaikan bendera, kemana angin berhembus kesitulah mereka berkibar dan bila tiada angin, lambaian-lambaian kecil menjadi jawabannya ... atau juga seperti bunga alang-alang, kemana angin berhembus, kesitulah mereka beterbangan. Koordinasi selanjutnya adalah segera melakukan action untuk melakukan pengaturan yang lebih baik dan mengembalian kondisi kelompok pada track-nya. Hanya dengan MELAKUKAN maka seluruh aktifitas akan kembali lancar.

Akhirnya rapat dengan Team 6, ternyata memang terjadi koordinasi yang kacau ditambah komunikasi yang terganggu, tetapi dalam diri seluruh anggota Team 6 semangat itu masih membara, sangat terlihat dari antusiasme mereka datang ditengah guyuran hujan yang sangat lebat serta pasokan listrik PLN yang terganggu. Nyala lilin dan ‘senthir’ menjadi sumber cahaya terang benderang dan itu sangat cukup untuk membuat kobaran semangat Team 6 menyebarkan kehangatan. Tanpa terasa, pertemuan yang dimulai pukul 19.30 WIT itu akhirnya berhasil menyelesaikan beberapa agenda, antara lain : mendatangkan jonder (traktor pertanian) untuk membersihkan seluruh areal dari tunggul dan melakukan persiapan penanaman jagung – kacang tanah – ubi jalar, pengerahan kelompok untuk melakukan pembersihan lokasi serta melakukan persiapan untuk kandang serta penanganan rumput. Tepat pukul 23.30 WIT acara selesai dan rinai hujan rintik menemani kepulangan Team 6.

Keesokan harinya, seperti biasa ... Suzuki pick up biru itu membawa keluar menuju lokasi. Sesampainya disana dan melakukan aktifitas penataan lokasi penanaman rumput dengan cara memecah rumpun yang sudah bertunas dan melakukan pendangiran lahan sampai siang. Acara dilanjutkan dengan makan siang di rumah Pak Dominikus Behuku, rumah beliau memang dijadikan sebagai dapur umum aktifitas, selesai makan siang Pak Edy dan Pak Tony segera merapat dan mengajukan sebuah ide untuk membangun rumah ketel konvensional seperti yang biasanya ada .. wow wow wow, ternyata .. mereka menyimpan boom waktu dan mulai meledak nih sepertinya, keyakinan bahwa kearifan lokal dan keluhuran budaya masyarakay adat mulai terkuak perlahan. Pendampingan dan bimbingan yang mereka terima ternyata menyamankan mereka dan membuat mereka mampu memberikan konstribusi kreatif. Mereka menyatakan, bahwa dengan adanya ketel yang dibangun dilokasi akan membuat lokasi selalu ada yang beraktifitas selain itu terdapat nilai ekonomis yang diperoleh bagi kelompok dan juga individu yang melakukan penyulingan minyak kayu putih.



SMS koordinasi ke Mas Yoyok-pun meluncur disela minimnya signal handphone. Memang jawaban yang sore itu dikirim baru keesokan harinya masuk, tetapi sebuah kegembiraan dari kelompok sangat terasa. Meskipun saat berkunjung ke Desa Weflan, jawaban atas usul itu tidak dapat disampaikan dengan segera, tetapi kunjungan ke Weflan sore itu sangat berkesan. Bagaimana tidak? Untuk mencapainya diperlukan perjuangan dengan melewati beberapa kolam di jalan akibat aliran air yang meluap sampai ke jalan, bisa dibayangkan waktu itu Pak Edy dan Pak Carolus berkunjung malam hari ke asrama dan pulang sekitar pukul 02.00 WIT. Sekitar satu jam setengah perjalanan dengan kondisi jalan yang cukup berat sampailah ke desa Weflan (mirip seperti film Robinhood, ada desa setelah melewati hutan dengan barisan rumah dikanan dan kiri jalan). Sambutan hangat mengabarkan ucapan Selamat Datang. Senyum hangat Bapak Soa dan sebagian besar warga desa Weflan memberi rengkuh persudaraan yang hangat. Perbincangan dan diskusi yang sangat renyah serenyah gidangan malam itu, kacang bawang dan singkong goreng, memberi tempat bagi persaudaraan yang tulus. Rencana kunjungan satu jam, akhirnya molor sampai tiga jam setengah, sekitar pukul 22.00 WIT kepulangan yang diantar dengan lambaian hangat terasa menyenangkan, seperti juga menyenangkan saat Pak Edy dengan setengah memaksa untuk berkunjung kerumah beliau.

Tantangan itu adalah Peluang Terbaik - Ekspedisi Waeapo II



Seperti biasa, perjalanan tengah malam sampai pagi menjelang melalui sebuah penerbangan tanpa henti dari Bandara Soekarno-Hatta sampai Bandara Pattimura diisi dengan ‘bertapa’ alias molor alias dalam mimpi panjang. Pak Santi dengan Innova hitamnya sudah siap dan segera membawa kendaraan di pelataran. Setelah meneguk kopi hitam, penginapan adalah lokasi paling pas untuk membersihkan diri dan menyimpan barang bawaan. Selepas tengah hari, perjalanan keliling salah satu sisi kota Ambon dilakukan setelah makan siang dengan ikan kuah kuning. Komunikasi melalui panggilan telephone atau BBM dan SMS sangat mudah mengalir, mengisi sebagian waktu disiang yang terik.

Selepas makan siang, perjalanan menuju kawasan Maluku Tengah dilakuan melewati sisi bandara. Kondisi wilayah Maluku Tengah yang sedang melakukan persiapan pemilihan Pimpinan Daerah sangat indah disepanjang pantai, seandainya dilakukan eksplorasi wisata pntai, tentunya akan menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang menarik. Perjalanan berlanjut sampai ujung Teluk Alang yang merupakan tanah kelahiran Gubernur Maluku, Bapak Karel Albert Rarahallu. Sore menjelang dan perjalanan sepanjang siang sampai sore itu menyisakan kepuasan yang sangat saat mendalam akan keagungan Yang Maha Memberi. Persiapan satu jam menuju waktu untuk segera ke pelabuhan dan berangkat ke Namlea. Selepas mampir membeli handuk, perjalanan menuju Pelabuhan kecil bernama Waeame sangat lancar dan segera menyewa sebuah sampan bermotor (disana dikenal dengan nama Speed Boat). Kurang dari sepuluh menit, speed boat sudah mencapai pintu sisi kanan KMP Elizabeth II, langsung menuju ke lantai III kamar 20, kamar yang sudah dipesan oleh Pastor Oche sebelumnya. Kondisi kamar yang ber-AC dan rasa kantuk yang masih menggantung segera membawa ke alam mimpi setelah selesai membayar administrasi kapal dan kamar. Alarm sudah disetel tepat pukul 03.00 dengan harapan ada waktu untuk mempersiapkan diri sebelum sandar. Ternyata ada satu hal yang keliru, alarm disetel pada hp dengan waktu menunjukkan Waktu Indonesia Bagian Barat sehingga tidak ada alarm berbunyi, melainkan sebuah panggilan yang ternyata dari Iron (Heronimus Reyaan –driver Paroki Maria Bintang Laut) pada pukul 04.00 WIT, dengan bertatih-tatih gorden kamar tersibak dan terhampar lautan, “masih belum sampai Ron, nanti kalau sudah sandar saya kabari”, demikian isi telephon-ku padanya. Kubuka pintu kamar dan bergegas menuju toilet, weits .... ternyata aku sudah sampai dan kapal sudah sandar, mungkin sudah setengah jam lalu, bergegas ku telephon kembali Iron dan menyampaikan bahwa aku sudah sandar. Bertatih kujinjing tas pakaian, tas obat-obatan ternak dan kardus rumput serta kugendong ransel setelah laptop dan ubo rampenya dimasukkan kedalam ransel. Sambil menunggu Iron, aku duduk di buritan atas sambil melihat turunnya penumpang lain dan sepeda motor. Setelah Iron sampai, perjalanan menuju Kepastoran Namlea adalah destinasi berikutnya. Selepas shubuh, menanti sambil menonton televisi dan tentunya mereguk kopi adalah aktifitas pengisi Minggu pagi sampai Bruder Petrus bangun dan bersiap memimpin kebaktian sore itu. Diskusi kecil tentang kondisi terakhir di Metar, dataran Waelo, kecamatan Waeapo memberi informasi yang mencengangkan, membangkitkan rasa keprihatinan dan menjadi tantangan dengan nilai peluang luar biasa.

Kebanyakan masyarakat Waelo saat ini, khususnya laki-laki sedang demam menambang emas. Banyak aktifitas yang ditinggalkan untuk pergi mendulang emas. Sebuah keprihatinan, karena efek sosial yang negatif sangat mungkin terjadi dan ‘pemanfaatan’ masyarakat oleh pendatang akan sangat mungkin terjadi, mengingat keterbatasan informasi tentang hal baru tersebut. Memang benar adanya, emas bagaikan gula yang menarik semut-semut untuk berdatangan, tak ayal berita tentang emas menjadi sengatan magnit yang sangat dahsyat, ribuan orang berduyun mendatangi gunung emas dan mengadu nasib mendulang emas, dari Pulau Buru sendiri, dari Sulawesi, dari Jawa semuanya bedatangan ke Dusun Wansait, Anhoni dan Sampeno . Emas yang bentuknya seperti vetsin itu menjadi incaran banyak penambang. Dengan karcis masuk sebesar Rp 100.000 per orang per hari, ditambah dengan bekal makan , mereka mentargetkan harus mendapat minimal 1 gram emas per dua hari sehingga dengan perhitungan satu gram yang dihargai Rp 350.000 (sebelumnya sempat Rp 450.000 per gram, lalu turun kerena ada usaha konspirasi ‘menterpaksakan masyarakat’), dikurangi biaya ‘parkir diri’ sebesar Rp 200.000, dikurangi lagi dengan biaya makan dan rokok sekitar Rp 75.000 – 100.000, maka masih ada Rp 50.000 sebagai upah kerja. Rata-rata mereka mendapat 1,5 – 2 gram emas. Hampir setiap sudut pembicaraan warga selalu berkisar tentang emas, emas dan emas. Beberapa titik sumber emaspun terkuak, ada di Dusun Metar, Desa Wabsalit dan Desa Weflan. Pemerintah Daerah berencana mengambil alih lokasi pada awal Februari nanti, dengan alasan keamanan dan pengelolaan yang lebih baik.

KeberkahanNYA ... nyata - Ekspedisi Waeapo II

Untuk kedua kalinya, kunjungan kali ini lebih memiliki satu passion yang luar biasa. Luar biasa pertama, adalah proses keberangkatan yang didahului sebuah pertemuan dahsyat di Restoran Al Jazeerah, sebuah restoran Timur Tengah di Jl. Raden Saleh – Cikini – Jakarta Pusat. Betapa tidak, tanggal 5 Januari 2012 itu sudah disiapkan sebuah perancangan keberangkatan pada pagi esok hari dengan Sriwijaya Air, tetapi sebuah telephone pada sekitar pukul 11.15 WIB di seputaran Bangak, merubah jadual dan membuat semuanya menjadi penuh hikmah – berkah dan ujian akan istiqomah – amanah – prioritas dan keberkahan.

Janji dengan dokter pada pukul 16.00 WIB d Prodia untuk general check up merupakan hal penting yang tentunya tidak serta merta mudah diabaikan, sementara telephone untuk segera ke Jakarta sore itu karena Menteri Negara BUMN, Bapak Dahlan Iskan menyediakan waktu pada pukul 19.00 WIB untuk bertemu juga merupakan satu hal yang tidak kalah pentingnya. Akhirnya schedule untuk berangkat ke Jakarta setelah general check up menjadi pilihan dan ditekadkan untuk dapat terealisasi.
Keberadaan informasi pada ticket Lion Air yang menunjukkan waktu pukul 17.40 WIB (yang berarti akan tiba di Jakarta minimal pukul 18.40 WIB) ditambah perjalanan ke lokasi di tengah waktu pulang kantor membuat peluang untuk dapat hadir di pertemuan menjadi sangat kecil sekali.

Akhirnya memang ketibaan di bandara Adi Soemarmo sebelum pukul 17.10 WIB dapat tertunaikan, dan Allah SWT saat itu memberikan sebuah ujian untuk mengambil langkah strategis dan mengambil keputusan, LION Air delayed !! minimal satu jam.
Akhirnya, akting pun terjadi dengan satu tujuan, dapat ikut Garuda Indonesia Airways yang berangkat pukul 18.30 WIB, biasanya Garuda cenderung sangat tepat waktu. Setengah jam kemudian, dengan menambah dana Rp 24.000 akhirnya diperolehlah ticket GIA dan tepat pukul 18.30 WIB terbang ke Cengkareng, sementara Lion Air yang seharusnya berangkat pukul 18.40 WIB malah belum landing, alhamdulillah.
Setiba diSoetta, kabar ujian datang, Slipi macet sangat karena ada angin yang merubuhkan pohon – baliho sehingga menghalangi lalu lintas. Dengan taxi gelap (setelah menunggu taxi resmi ternyata antre sedemikian banyak) perjalanan ke Al Jazeerah memakan waktu sekitar 2,5 jam ... dan, alhamdulillah –pertemuan belum lama dilangsungkan, karena Bapak Menteri menberikan pengarahan pada pihak PT Percetakan Negara dan hal itu cukup memakan waktu.

Saat disampaikan potensi Pulau Buru dengan kondisi persawahan yang luar biasa dan potensi lain yang dapat dikembangkan, Pak Menteri menanyakan kemungkinan mengembangkan peternakan sapi potong. Angka 100.000 ekor tersampaikan dan langsung disambut dengan permintaan untuk membuat program bisnis bagi 100.000 kor ternak tersebut. Pertemuan yang membahas tentang beberapa hal srategis tersebut diakhir dengan foto bersama dan ‘toss’ bagi pengabdian berarti untuk Nusantara.
Tanggal 6 pagi dilakukan pertemuan dengan beberapa tokoh Kewirausahaan Sosial dan membahas tentang beberapa hal strategis untuk pengembangan kewirausahaan, termasuk pengembangan Pulau Buru.

Selesai acara dan acara-acara lain hari itu, perjalanan malam menjadi program berikutnya ... perjalanan menuju Ambon.

03 Januari, 2012

#tanamsatupohon ... Menanam Masa Depan



"Alam ini bukan warisan orang tua kita, tapi titipan anak cucu yang harus kita jaga. ” (Bang Idin)

Sebuah ungkapan yang sangat sederhana tetapi memberi tanggungjawab, komitmen dan implikasi yang luar biasa. Bapak Chaerudin dengan caranya yang sederhana menyampaikan pesan tentang kelestarian di kawasan Kali Pesanggrahan agar terjaga kelestariannya. Berangkat dari rasa prihatin pada pembangunan yang kurang memperhatikan kelestarian alam, Bang Idin –demikian beliau biasa dipanggil- sejak 20 tahun silam mulai terjun dalam sebuah mega komitmen melestarikan alam. 120 km kali Pesanggrahan ditelusurinya mulai kawasan Gede Pangrango dengan dengan menggunakan batang (gedebong-betawi) pisang.

"Gue sedih Neng sama bangsa ini, pada gak punya hati nurani semua orientasinya ke duit", kalimat yang meluncur tanpa beban dari beliau di pendopo Hutan Kota Pesanggrahan yang asri dan apik. “Bayangkan semua pembangunan tidak ada yang memperhatikan lingkungan, bahkan gue mau masuk ke kampung gue sendiri masa harus ninggalin KTP di depan, apa gak dajjal itu mereka”, ungkapnya dengan nada khas betawi. Rasa keprihatinan beliau semakin menjadi-jadi karena aliran sungai yang dicemari sampah dan limbah.

Hal tersebut akhirnya membawa putra Betawi yang hanya sempat mengenyam bangku sekolah sampai kelas 4 SD itu melakukan sesuatu. Mula-mula dibersihkan sampah-sampah di bantaran Kali Pesanggrahan. Masyarakat sekitar menuduh beliau sebagai penganut ilmu hitam lantaran seringnya membersihkan kali dan sholat malam di bantaran kali. Beliau juga pernah ditengarai sebagai salah satu kelompok ninja yang pada tahun 80-an sering melakukan kejahatan di Ibukota.

Keikhlasan beliau dan komitmen beliau terhadap alam inilah yang membuat beliau selalu mengatakan bahwa, “ini adalah perintah Allah” dan beliau tidak pernah meminta bayaran atas segala yang dilakukan. Nafkah keluarganya diperoleh dari hasil memanfaatkan lingkungan di bantaran Kali Pesanggrahan, disela-sela aktifitas membersihkan bantara kali dengan bercocok tanam, beternak dan memanfaatkan limbah. Hal ini akhirnya mampu meluluhkan sebagian orang disekitar beliau untuk melakukan cara yang sama, sehingga lahirlah Kelompok Tani Sangga Buana.

"Gua cuma mikir, apa yang kite lakukan bisa dinikmati oleh orang lain dan bermanfaat bagi orang lain", lanjut pria berkumis yang kerap berpakaian khas Betawi, mengenakan peci berwarna merah, kaos hitam, celana batik dan ikat pinggang kulit ini.

Ketegasan dan memberi pendidikan pada warga yang masih sering membuang sampah di bantaran kali, acap kali beliau lakukan dengan cara memberi peringatan sampai tiga kali, bila masih membandel, seluruh sampah yang baru dibuang, beliau kumpulkan kembali dan digantungkan dimuka rumah warga yang membandel itu.

Pada lahan seluas 40 hektar itulah, Kelompok Tani Sangga Buana beraktifitas melestarikan lingkungan dan memanfaatkan untuk lahan bercocok tanam yang lestari dan berkelanjutan. Nama Bang Idin dan Sangga Buana lebih dahulu dikenal di manca negara daripada di Indonesia. Beliaupun sering diminta menjadi pembicara diluar negeri, terlihat dari beberapa penghargaan yang diterima beliau, selain kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup RI.

Menjaga kelestarian bantaran kali, mengelola limbah dan melakukan aktifitas bisnis yang bersahabat dengan lingkungan menjadi keseharian Kelompok Tani Sangga Buana dan hal itu membuat Raja Swedia dan Pangeran Arab Saudi terinspirasi dan mengunjungi beliau pada tanggal 31 Januari 2012.



Kegiatan awal #tanamsatupohon telah selesai dilaksanakan dengan berjuta momen dan atmosfer kegiatan yang terus mengisi relung hati setiap insan #srudukers yang melakukan, baik langsung dan tidak langsung.
Diiringi turunnya hujan sebagai wujud keberkahan Sang Maha Kuasa, kegiatan yang berlangsung sejak tanggal 31 Desember 2011 sampai 1 Januari 2012 berhasil mengantarkan 50 tanaman bambu betung –memiliki perakaran yang baik dalam mengikat tanah disepanjang lereng Daerah Aliran Sungai (DAS) kali Pesanggrahan. Hari Sabtu yang temaram menjadi awal dimulainya kegiatan dengan sharing bersama Bang Idin di Pesanggrahan Hutan Kota Karang Tengah sejak ba’da maghrib sampai malam menjelang. Tahun 2012 menjelang dan keremangan Hutan Kota terasa syahdu dan mengantar langkah @abaihaki1 (Agus Baihaki), @iqbal_ubhay (Ikbal), @amirazah (Amir) dan @wirawiry (Wira) menyusuri hutan kota selepas sholat malam untuk menikmati gesekan daun yang ditimpali suara binatang malam yang gembira karena banyak yang memperdulikan rumah mereka.



Selepas Shubuh pertama di tahun 2012, acara #tanamsatupohon terpaksa diubah dari rencana semula, karena hujan yang turun membasahi hutan kota membuat pelaksanan mundur, air hujan sekalian membantu melunakkan tanah tempat pohon ditanam. Sharing dan diskusi antara Bang Idin, @jay_teroris (Mas Jay) dan kelima pentolan #tanamsatupohon @abaihaki1 (Agus Baihaki), @iqbal_ubhay (Ikbal), @amirazah (Amir), @fidafebrina (Fida Febrina) dan @wirawiry (Wira) serta #sruduker yang lain @rifian_tara (Rifi), @fitriedeeanic (Fitri Dian), @cindran (Cindra), @zakkyramdhan (Zakki), @Djamall (Jamal) dan @dafana (yayat) didampingi beberapa laskar Sangga Buana. Akhirnya penanaman dapat berlangsung dengan baik demi menancapkan masa depan alam sampai menjelang makan siang. Setelah makan siang, acara selesai dan #tanamsatupohon perdana selesai sudah.



Kegiatan demi masa depan ini tidak hanya berhenti sampai pada penanaman pohon semata, pemeliharaan pohon yang ditanam menjadi komitmen untuk mengawal pohon sampai siap tumbuh bersama alam.

Tanggal 8 Januari 2012, Wira akan melanjutkan kembali #tanamsatupohon di DAS Ciliwung yang berlokasi di belakang Universitas Gunadarma sampai Tonjong – Kelapa Dua.
Harapan agar kegiatan #tanamsatupohon sebagai bentuk investasi masa depan dan tanggungjawab pada lingkungan dapat berlangsung sebagai kegiatan berkala dan menjadi kegiatan yang dapat dilakukan di lokasi lainnya.
Rasa terimakasih atas peran serta seluruh komponen yang terlibat atas seluruh peran sertanya di #tanamsatupohon, baik langsung maupun tidak langsung – moril maupun materiil .. sebuah sokongan yang sangat berarti untuk masa depan kesegaran alam nan sejuk dan lebih berarti. (editor - @ekabees)

31 Desember, 2011

REVOLUSI




RESOLUSI 2012 adalah sebuah REVOLUSI

Merubah segala sesuatu yang telah kita lakukan
Merubah sikap dan kebiasaan yang menjadi budaya
Merelakan ego kita terlebur sedikit demi sedikit
Membiarkan pikiran kita tergerogoti paradigma
Menjamahkan diri pada dunia yang berbeda
Mencairkan emosi dalam sebuah suasana berbeda
Melontarkan diri dalam kawah pembiasaan yang berbeda

Merevolusi diri dengan satu tujuan : Lebih Baik – Lebih Manstaf – Lebih Maju – Lebih Elegan – Lebih Bermartabat – Lebih Menarik – Lebih dapat Berbagi dan ..... Lebih Baik

26 Desember, 2011

Tanam Satu Pohon



Sebuah Gerakan Konservasi Daerah Aliran Sungai akan dilaksanakan pada 01 Januari 2012 tepat pada pergantian tahun. Gerakan #tanamsatupohon diawali melalui serangkaian perbincangan yang mengalir melalui jejaring sosial twitter, membentuk sebuah komunitas berkarakter kebersamaan dengan hagstag #srudukers

Awalnya melalui sebuah program #srudukfollow yang dimotori Mas Zainal @jayteroris Abidin kemudian banyak hastag yang bergulir, mulai dari #tanamsatupohon, #gerakanmushollabersih, #berkahberbagi, #investasiair dan banyak hastag pembawa semangat kebersamaan

Kali Pesanggarahan yang merupakan salah satu DAS di Jakarta sampai saat ini masih diperjuangkan kelestariannya oleh Bang Idin dengan ketiadaputus untuk terus merawat vegetasinya. Gerakan #tanamsatupohon akan melakukan penanaman beberapa pohon, seperti : jamblang, sawo, jambu mete, durian, sukun, rambutan, mangga, glodogan, mahoni dan beberapa tanaman lainnya. DAS Kali Pesanggrahan adalah DAS awal yang akan di tanami pohon, selanjutnya pada tanggal 8 Januari akan dilanjutkan ke DAS Ciliwung.



Bagi rekan-rekan yang ingin berpartisipasi, dapat datang pada acara yang akan dilaksanakan -insya Allah- mulai tanggal 31 Desember 2011 bertempat di Situ Gintung – Ciputat. Selepas Isya’, dilanjutkan dengan longmarch sejauh 15-20km menuju Taman Kota Karang Tengah - Lebak Bulus. Acara dilanjutkan dengan Taddabur Alam oleh Bang Idin sekaligus renungan pergantian tahun.

Ba'da Shubuh tanggal 1 Januari 2012 keesokah harinya, akan dilakukan provokasi oleh Mas @jayteroris dan selanjutnya dilakukan penanaman pohon di Hutan Kota Karang tengah dan DAS Kali Pesanggrahan, acara direncanakan berakhir tengah hari.




Bagi rekan-rekan yang memiliki kepedulian penuh terhadap #tanamsatupohon dan berkeinginan untuk berpartisipasi sebagai orang tua asuh bagi tanaman yang ditanam mulai tinggi 1 meter sampai 3 bulan kemudian (atau tanaman sudah dianggap establish/mapan) dapat menyisihkan dana sebesar Rp 50.000 per pohon. Dana dapat ditransfer via Bank BCA 4121471269 a/n Fida Febrina .... Mohon kirimkan pemberitahuan transfer kepada Ibu Fida Febrina (081280226868 atau 085697481102) atau Bapak AGUS BAIHAKI (08176466392)
e-mail srudukers : @gmail.com
twitter : @SRUDUKFOLLOW, @abaihaki1, @fidafebrina



Mari berinvestasi kehidupan masa depan dan wujudkan kasih sayang pada keceriaan alam

25 Desember, 2011

NEO SHOLAWAT



Neo Sholawat

Album : Neo Sholawat
Munsyid : Snada
http://liriknasyid.com



Prelude (Choir):
Allahuma shali ala Muhammad
Ya Rabbi shali alaihi wasalim
Allahuma shali ala Muhammad
Ya Rabbi baalighul wasila

Cannon and Contrapunct :
Allahuma shali wassallim ala
Sayidina wa Maulana Muhammad
Adadama bi'iImillahi shalatan
Da'imatan bidawami mulkilahi

Keroncong :
Ya Allah curahkan rahmat dan keselamatan
Bagi Nabi junjungan kami Muhammad
Selamanya di dalam keabadian
Kekekalan kerajaanmu ya Allah

English Version :
Ya Allah please shower your blessing and your salvation
To the Prophet Muhammad who we all adore
May he always be under your sovereignity
May he forever be under your loving care

Interlude (Choir) :
Allahuma shali wasalim wabarik alaik
Allahuma shali wasalim wabarik alaik
Allahuma shali wasalim wabarik alaik
Allahuma shali wasalim wabarik alaik

Over Tune (Mandarin Verson) :
Ya Allah kei wo men tien an heu keu lien
Ken lau se Muhammad yeh se aitha
Hau hen chiu chai tien an the
Allah teu keu lien wou men hau hen chiu

Sunda Version:
Ya Allah lungsur keun rahmat sinareng salamet
Kanggo Nabi junjungan kuring Muhammad
Salawasna aya dina kawilujengan
Salawasna ditang tayungan ku Allah

Jawa Version:
Ya Allah Paringono rahmat lan keslametan
Kagem Nabi junjungan kulo Muhammad
Salaminipun wonten ing keselametan
Salaminipun diwelasi Gusti Allah

Minang Version:
Ya Allah curahkan jo kasalamatan
Taruntuak nabi piturui kami Muhammad
Sapanjang idui di dalam kabakaan
Salamonyo dalam kasiah sayang Allah

Coda Fine F (Choir):
Allahuma shali wassallim ala
Sayidina wa Maulana Muhammad
Adadama bi'ilmillahi shalatan

Fermatta :
Da'imatan.......bidawami..... mulkilahi

22 Desember, 2011

Selamat Hari Ibu



Lantunan lagu ‘Ibu’ dari Virgiawan “Iwan Fals” Listanto itu masih memenuhi otakku -terlebih di waktu” ini … Hampir semua orang di Indonesia melarutkan diri pada lagu ini atau lagu sejenis lainnya.

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang untuk aku .. Anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan walau tapak kaki penuh darah penuh nanah”

Perjuangan Ibu bagaikan sebuah fenomena kehidupan yang luar biasa … Apapun dilakukan untuk kita, anaknya …. dan gratis !!

“Seperti udara, kasih yang engkau berikan … Tak mampu ku membalas .. Ibu … Ibu”

Berapapun yang kita bayar, tiada akan mampu menandingi semua yang pernah dilakukannya pada kita … Kasih saat kita terjatuh, sayang saat kita terlempar, senyum saat kita bersedih, tangis saat kita sakit, semangat saat kita lunglai, tungkai kuat saat kita terjerembab …. dan restunya yang akan membuka restu Illahi

Berikan dia senyum …
Sapalah dengan hangat …
Senyumlah untuknya …
Sampaikan berita gembira …
Sampaikan kebanggan padanya …
Sampaikan semuanya karena kita cinta padanya …

Aku cinta Ibu
Love you, mom
Maafkan salah kami
Do’akan dan restui kami

Colomadu, 22 Desember 2011

Untuk semua Ibu di seluruh dunia

20 Desember, 2011

Tanam Satu Pohon





Sebuah Gerakan Konservasi Daerah Aliran Sungai(DAS) akan dilaksanakan pada 01 Januari 2012 tepat pada pergantian tahun. Gerakan #tanamsatupohon diawali melalui serangkaian perbincangan yang mengalir melalui jejaring sosial twitter.

Awalnya melalui sebuah program #srudukfollow yang dimotori Mas Zainal @jayteroris Abidin kemudian banyak hastag yang bergulir, mulai dari #tanamsatupohon, #gerakanmushollabersih, #berkahberbagi, #investasiair dan banyak hastag pembawa semangat kebersamaan

Kali Pesanggarahan yang merupakan salah satu DAS di Jakarta sampai saat ini masih diperjuangkan kelestariannya oleh Bang Idin dengan ketiadaputus untuk terus merawat vegetasinya. Gerakan #tanamsatupohon akan melakukan penanaman beberapa pohon, seperti : jamblang, sawo, jambu mete, durian, sukun, rambutan, mangga, glodogan, mahoni dan beberapa tanaman lainnya

Bagi teman yang ingin berpartisipasi, dapat datang pada acara yang akan dilaksanakan insya Allah mulai tanggal 31 Desember 2011 bertempat di Situ Gintung - Ciputat selepas maghrib dan dilanjutkan dengan longmarch sejauh 15-20km menuju Taman Kota Karang Tengah - Lebak Bulus. Acara dilanjutkan dengan Taddabur Alam oleh Bang Idin sekaligus renungan pergantian tahun.

Ba’da Shubuh tanggal 1 Januari 2012 keesokah harinya, akan dilakukan provokasi oleh Mas @jayteroris dan selanjutnya dilakukan penanaman pohon di DAS Kali Pesanggrahan

Bagi yang berkeinginan berpartisipasi sebagai orang tua asuh bagi tanaman yang ditanam mulai tinggi 1 meter sampai 3 bulan kemudian (atau tanaman sudah dianggap establish/mapan) dapat menyisihkan dana sebesar Rp 50.000 per pohon. Dana dapat ditransfer via Bank BCA 4121471269 a/n Fida Febrina …. Mohon kirimkan pemberitahuan transfer kepada Ibu FIDA FEBRINA HP. no. 081280226868/085697481102 atau Bapak AGUS BAIHAKI HP no. 08176466392 Email srudukers@gmail.com Twitter : @abaihaki1 @fidafebrina

Mari berinvestasi kehidupan masa depan dan wujudkan kasih sayang pada keceriaan alam

07 Desember, 2011

Lumbung itu bernama, Pulau Buru

Menyusuri jalan aspal mulus sedikit berliku dari Namlea menuju Waeapo, sebuah kecamatan di Pulau Buru – Kepulauan Maluku, mata ini selalu disuguhkan dengan lahan datar disisi kiri dan kanan dengan latar belakang sebuah deretan punggung bukit sejauh mata memandang. Tanaman kayu putih –kalau boleh dibilang, hutan kayu putih, berserak diseluruh perbukitan dan menjadikannya sebagai primadona Pulau Buru, minyak kayu putih. Beberapa rumah ketel nampak disepanjang jalan menuju Kecamatan Waeapo. Semak belukar masih menjadi vegetasi dominan di tanah lapang nan datar, sementara lahan sawah dan palawija serta hortikultura menjadi raja di seputaran pemukiman masyarakat. Ditunjang dengan irigasi teknis yang baik, lahan yang masih sedikit tersentuh bahan-bahan kimia merupakan salah satu aset terbaik dalam menjadilan wilayah Pulau Buru sebagai Lumbung Pangan. Ternak sapi, kerbau dan kambing menjadi hiasan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan menjadi salah satu tulang punggung Program Swasembada Daging Sapi, sebuah Lumbung Pangan. Ternyata, tanaman coklat rakyat juga menjadi salah satu tanaman perkebunan yang diandalkan penduduk, juga ampas sagu, sungguh sebuah Lumbung Pakan Ternak. Potensi hasil samping pertanian – perkebunan yang luar biasa, sungguh sebuah kemuliaan yang terpendam, kesejahteraan tersembunyi dan kebesaran budaya masyarakat Pulau Buru yang agung. Perjalanan sampai dataran Waeapo telah memberi sebuah inspirasi bahwa ada magma tersembunyi yang siap meletuskan keberkahan bagi Indonesia.
Mewujudkan Lumbung Pangan dan Lumbung Pakan Ternak di Pulau Buru, tidak perlu menjual pulau, cukup dengan sistem kerjasama dengan investor dengan model saling menguntungkan, maka sebuah budaya ‘menyimpan’ dapat dikembangkan dan dijadikan sebagai penyangga kehidupan rakyat Indonesia.

Perubahan Paradigma Berfikir melalui Sikap Mental dan Pendidikan
Hal awal yang perlu disampaikan kepada masyarakat Pulau Buru, baik masyarakat adat ataupun masyarakat transmigrasi, adalah sosialisasi tentang potensi Pulau Buru sebagai Lumbung Pangan dan Lumbung Pakan Ternak. Sosialisasi akan merubah sikap dan mental masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang selama ini kurang dimaksimalkan penggunaannya, serta merubah paradigma masyarakat tentang penggunaan lahan yang efektif dan ekonomis. Perubahan sikap mental ini tentunya harus disertai dengan pendidikan secara berkelanjutan untuk lebih memantapkan program Lumbung Pangan dan Lumbung Pakan. Misi dan visi yang sama serta pendampingan dan bimbingan adalah kemantapan pelaksanaan mewujudkan Lumbung Pangan dan Lumbung Pakan Ternak. Pemetaan potensi lahan, mutlak dikerjakan terlebih dahulu.

Teknis Budidaya Tanaman Pangan dan Peternakan
Produktifitas lahan akan tercapai maksimal bila diiringi dengan perlakuan atas tanah dan program budidaya yang terencana, tersusun dan terpolakan dengan baik serta pelaksanaan yang terevaluasi dan terdokumentasi. Kebanyakan teknis aplikasi lahan yang sudah baik ada pada masyarakat transmigrasi yang notabene sudah memiliki kemampuan bertani dari tanah asalnya. Budidaya lahan padi sawah, palawija dan sedikit hortikultura dikembangkan melalui pengairan teknis yang baik. Ketergantungan akan sarana produksi pertanian (seperti : benih, pupuk, pestisida) terkadang menjadi kendala dalam pengembangan produksi tanaman serta akan mempengaruhi harga jual produk.
Pada masyarakat adat, teknis budidaya ini sedemikian parahnya, ketidaktahuan mereka akan teknis budidaya yang baik ditambah dengan persepsi atas kebiasaan yang keliru menyebabkan mereka sangat minim dalam melakukan olah tanah, tanaman pangan praktis hanya sagu dan kasbi (singkong) yang ditanam, itupun tanpa perawatan. Demikian pula dengan tanaman perkebunan, kebanyakan hanya tanaman cokelat yang ditanam dan dibiarkan tumbuh, bila berbuah diambil buahnya, dikupas dikebun dan bijinya dikeringkan lalu dijual. Lingkungan tanaman cokelat tidak dipupuk dan dirawat, buah cokelat yang terserang hama dibiarkan menggantung dipohon dan menjadi surat undangan bagi datangnya penyakit dan hama tanaman cokelat. Tanaman keras tidak beraturan dan dijadikan kayu. Beruntung tingkat penebangan kayu belum mencapai tahapan kritis, sehingga potensi sumber daya tanaman hutan masih dapat dipertahankan. Penerapan ladang berpindah akan dapat dikurangi sehingga potensi seluruh lahan dapat dimaksimalkan dan tingkat produktifitas yang tinggi dapat diraih.
Tanaman Padi
Sebagai tanaman pangan utama di negeri ini, pengembangan tanaman padi di Pulau Buru dapat menjadikan wilayah tersebut sebagai lumbung beras untuk kepulauan Maluku. Sumber air yang tiada berhenti akan mempermudah peningkatan produktifitas tanaman. Sayangnya, budidaya tanaman padi ini masih sedkit yang dikembangkan dengan metode SRI, beberapa lahan masih menebarkan benih setelah tanah diolah, sehingga akan terjadi perebutan unsur hara dan ketidakseragaman pertumbuhan dan hasil yang beragam per malai padi.
Pelatihan dan pendidikan untuk melakukan budidaya tanaman padi dengan metode SRI penting untuk dilaksanakan sehingga gairan petani dalam melakukan budidaya tanaman padi akan semakin meningkat demi produktifitas yang maksimal.
Tanaman Palawija
Penanaman jagung, kacang tanah, kacang kedelai dan tanaman palawija lainnya masih belum banyak dikembangkan. Karena irigasi teknis yang menjamin supply air, kebanyakan konsentrasi lahan lebih diperuntukkan pada tanaman padi sawah. Penggalakan penanaman palawija akan membuat variasi produksi tanaman dan memutus siklus perkembangan hama dan penyakit tanaman.
Tanaman Perkebunan
Kekurangtahuan masyarakat adat dalam mengembangkan tanaman perkebunan menyebabkan tanaman menjadi tidak subur, produktifitas rendah serta hasil yang diterima petani akan selalu menurun dari hari kehari. Pelatihan dan pendidikan serta pendampingan dan bimbingan kepada para petani dalam mengelola lahan cokelat mereka adalah sebuah kebutuhan sehingga potensi pengembangan tanaman cokelat semakin lama semakin baik dengan hasil yang bertambah dan berkualitas.
Tanaman Keras
Pohon meranti, mahoni, Eucaliptus sp. dan beberapa tanaman kayu lainnya dikembangkan di Pulau buru dan memiliki hasil pengembangan yang baik. Juga tanaman kayu putih yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat. Penyulingan minyak kayu putih yang dilakukan oleh masyarakat tentunya perlu ditingkatkan lebih baik melalui : (1) Penataan lokasi penanaman minyak kayu putih semata, tetapi dibuat seperti blok seperti penanaman teh. Model penanaman ini akan mempermudah teknis pemeliharaan, pemberian pupuk, pemanenan dan juga sebagai lokasi wisata alam, (2) Perbaikan model penyulingan sehingga tidak banyak energi kayu bakar yang terbuang, ampas kayu putih yang dikeringkan dibantu dengan kayu bakar atau biogas akan dapat menjadi sumber energi bagi proses pemasakan ketel minyak kayu putih. Disamping itu, model penataan dan teknis penyulingan juga harus diperbaiki, mislanya model konsensasi uap minyak kayu putih. Tanaman sagu yang diolah menjadi tepung sagu juga dapat diambil ampasnya sebagai pakan ternak.

Kelembagaan Petani
Melembagakan masyarakat petani sudah merupakan hal penting untuk dilaksanakan. Kelembagaan itu akan melahirkan sebuah potensi masyarakat untuk mandiri dan melakukan aktifitas secara dinamis. Pembentukan lembaga seperti koperasi akan mempermudah masyarakat petani dalam mengatur supply sarana produksi pertanian/peternakan, meningkatkan kualitas pasca panen, menambah nilai hasil panen dan meningkatkan nilai tawar penjualan hasil panen sehingga akan bermuara pada Kesejahteraan Masyarakat.
Lembaga Keuangan Mikro di Pulau Buru merupakan satu lembaga keuangan yang mampu menjembatani kekurangan modal dalam beraktifitas, mendisiplinkan masyarakat untuk berinvestasi dan menabung, mengembangkan usaha pertanian – peternakan – perkebunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



Integrated Farming System (Pola Pertanian Terpadu)
Pola integrasi antar komponen usaha yang dilaksanakan masyaakat Pulau Buru di bidang pertanian – perkebunan – peternakan sehingga menghasilkan produktifitas, efisiensi dan efektifitas tinggi dan memberi nilai ekonomis serta berorientasi ekologis merupakan satu keterpaduan yang akan memberi nilai kesejahteraan. Salah satu manfaat yang dapat diambil adalah ketersediaan pakan bagi ternak, pupuk organik, ketersediaan energi terbarukan, ramah lingkungan (meminimalkan limbah), bernilai edukasi – wisata dan inspiratif.
Hasil yang dapat diperoleh dari pelaksanaan Pola Pertanian Terpadu adalah :
1.Tanaman padi sawah, akan menghasilkan jerami padi. Bila biasanya jerami padi dibakar, maka untuk dijadikan sebagai pakan ternak, jerami padi perlu difermentasi terlebih dahulu. Juga untuk tanaman palawija lainnya, misalnya : batang dan daun kedelai, tongkol dan klobot jagung, daun kacang tanah.
2.Tanaman hortikultura, hasil sortir tanaman sayuran dapat dijadikan sebagai pakan ternak
3.Tanaman perkebunan, kulit buah cokelat dapat difermentasi dan dijadikan sebagai pakan ternak ruminansia
4.Kotoran ternak sapi, kerbau dan kambing dikumpulkan untuk diubah menjadi biogas sebagai sumber energi terbarukan serta didekomposisi menjadi pupuk organik padat atau difermentasi menjadi pupuk organik cair. Pupuk organik ini nantinya akan dapat digunakan sebagai sarana produksi pertanian – perkebunan serta pengembangan pestisida hayati untuk peningkatan kualitas budidaya tanaman
5.Kelembagaan petani/masyarakat akan meningkatkan kualitas keekonomian dan kesejahteraan masyarakat
6.Eduekoagrotourism. Penataan yang baik bagi lahan dan pengelolaan yang mantap serta teknis budidaya yang terorganisir akan dapat membuat Pulau Buru sebagai kawasan wisata agro sekaligus pendidikan agro yang menginspirasi pengembangan dunia pertanian Indonesia


Pengembangan Peternakan Sapi Bali
Lahan dibagi setiap luasan 2.500 m2 dan dipagar. Setiap 1 ha dijadikan sebagai satu cluster pemeliharaan.
Setiap cluster dibagi empat petak @100 ekor induk dan 4 ekor pejantan, masing-masing petak dibagi menjadi empat lokal @25 ekor induk dan 1 ekor pejantan, total = 400 ekor induk dan 16 ekor pejantan, seluruh ternak diidentifikasi lengkap
Pada bagian tengah cluster, dipersiapkan tempat pakan dan tempat minum
Seluruh ternak sapi dijaga kesehatan dan dibiarkan untuk melakukan aktifitas perkawinan alam
Pada masing-masing petak disiapkan shelter sebagai lokasi istirahat ternak
Setiap ternak yang beranak, diidentifikasi anakannya dan dibiarkan bersama induknya sampai umur 6 bulan
Setelah 6 bulan, anak sapi dipisahkan antara anakan jantan dan anakan betina dan dipelihara pada lokasi yang berbeda. Anakan betina dipelihara pada lokasi berkelompok, sementara anakan jantan dipelihara secara berkelompok sampai umur 12 bulan, diatas 12 bulan dipelihara secara individu
Anakan betina yang dibesarkan, nantinya diidentifikasi dan dijadikan sebagai calon indukan baru
Sementara anakan jantan dikandangkan sampai siap potong, kualifikasi jantan terbaik dapat dijadikan sebagai sumber pejantan baru





Palang luar tempat pakan :

Palang I = tinggi 40 cm dari tempat pakan untuk menjaga ternak tidak masuk ketempat
pakan
Palang II = tinggi 50 cm dari palang I untuk menjaga ternak tidak keluar kandang
Tinggi tempat pakan dari lantai 60 cm dengan lebar 1 meter, terbuat dari bilah papan yang diserut halus dan dibuat seperti bak dengan konstruksi yang kuat untuk menahan bobot rumput dan air minum dalam ember yang akan diberikan kepada tenak
Pada sisi samping dan belakang juga disiapkan palang penghalang dengan tiga baris palang yang berjarak masing-masing : 40 cm
Perlu dipersiapkan juga pintu masuk dan keluar ternak untuk mempermudah akses ternak



Bangunan lain yang penting untuk dipersiapkan adalah :
1.Gudang pakan dan pemotongan rumput
2.Lokasi komposting dan biogas
3.Lokasi kantor dan penimbangan ternak

04 Desember, 2011

Kebersamaan menuju Kesejahteraan - Expedisi Waeapo



Diskusi, aplikasi lapangan, sekolah lapang menjadi santapan harian yang selalu dilakukan demi menghasilkan sebuah tatanan masyarakat adat yang luar biasa. Masyarakat adat Pulau Buru saat ini berada dalam cengkeraman persepsi yang kadang keliru dalam menterjemahkan dan mengaplikasikan dalam kehidupan, bagaimana tidak? Untuk hantaran “membeli” wanita untuk dijadikan istri, tidak kurang Rp 100 jutaan dihabiskan untuk membeli kuali, kain berlembar-lebar dan pesta perkawinan, uang diperoleh dari keluarga dan juga sanak saudara se-marga mereka dan hal itu terus berputar-putar mengamini kehidupan yang seharuanya lebih elegan, karena Rp 100-an juta itu tentunya lebih baik bila digunakan untuk membiayai kehidupan kedua mempelai atau modal usaha, karena anggaran untuk pendidikan malah ditiadakan. Saat ini, beberapa tokoh adat sudah berani menolak di’pinjami’ uang untuk perkawinan, beberapa intelektual muda sudah menganggap pendidikan adalah hal yang terpenting.
Ketiada setaraan pendidikan serta “penindasan” kecerdasan oleh penguasa adat jaman dahulu menyebabkan tingkat berfikir masyarakat adat menjadi lemah, kebanyakan mereka memiliki level kehidupan yang ‘nrimo’ (keinginan meningkatkan level kehidupan masih rendah). Sikap soliter (beraktifitas secara individual) dalam masyarakat adat sehingga nilai-nilai solidaritas dalam melakukan aktifitas menjadi sangat menurun (misalnya, penjualan hasil penyulingan minyak kayu putih dan hasil bumi lainnya serta aktifitas sosial lainnya). Peningkatan kualitas sikap mental masyarakat memang sangat perlu ditingkatkan. Keterlenaan mereka dengan kekayaan alam Pulau Buru yang melimpah membuat kemajuan intelektual dan sikap mental mereka menjadi terhambat, ditambah dengan terjadinya sistem budaya adat dengan persepsi keliru sehingga menjadi kendala pengembangan kehidupan masyarakat. Sampai saat ini kebanyakan program yang diberikan kepada masyarakat adat adalah Pembangunan Infrastruktur fisik sementara sikap mental masyarakat masih terabaikan. Padahal sebenarnya Masyarakat Adat memiliki asset yang besar, tetapi kebanyakan masyarakat tidak menyadarinya sehingga mereka selalu merasa hidup dalam kekurangan (mengharapkan bantuan), misalnya mereka merasa tidak memiliki apa-apa, padahal tanah yang mereka miliki cukup luas, beberapa puluh atau ratus tanaman cokelat, tanaman-tanaman kayu berkelas serta keahlian mereka dalam melakukan penyulingan minyak kayu putih kualitas baik. Hal lain yang membuat kualitas kehidupan mereka selalu terjajah adalah model tataniaga hasil bumi melalui jeratan tengkulak serta ilmu dalam pengelolaan usaha dan keuangan yang tidak mereka kuasai menjadikan penindasan ekonomi selalu merangkul sendi kehidupan mereka. Masyarakat transmigrasi dilingkungan masyarakat adat, disadari menjadi inspirasi positif dalam kehidupan masyarakat asli yang hanya dapat terkagum-kagum (masih bermimpi untuk dapat meniru)
Perubahan sikap mental, pendidikan, kualitas teknis dalam melaksanakan budidaya pertanian – perkebunan – peternakan, pemberdayaan perempuan, peningkatan keterampilan (permesinan, perkayuan, sipil) dan peningkatan kualitas keekonomian (panganan keuangan merupakan hal terpenting dalam untuk dapat dilaksanakan, mereka memerlukan hal ini dan kita harus peduli, karena kita adalah satu .. manusia Indonesia

Ketel, Sapi, Kerbau dan Kesejahteraan - Expedisi Waeapo




Kami mengunjungi sebuah rumah ketel minyak kayu putih yang sederhana dan memberi sebuah gambaran yang cukup menyesakkan .. betapa tidak, setiap petani yang terdiri dari penduduk asli, melakukan penyulingan minyak kayu putih dengan membawa keluarga (istri, anak-anak) serta seluruh perbekalan yang memenuhi lokasi ketel. Bila dilihat dari proporsi antara ketel – gudang daun kayu putih – kamar/lokasi tidur – dapur, maka terlihat betapa tidak efisiennya pengelolaan minyak kayu putih yang dilakukan mereka. Ruang tungku – ketel – bak konsensasi memakan sekitar 20% total ruangan. Model pergudangan sementara daun kayu putih merupakan beberapa kotal dengan tinggi sisi dinding sekitar 50cm terdiri atas 6 – 8 bak berukutan 2x2meter dan tentunya akan memuat daun kayu putih yang terbatas. Total pergudangan mencapai sekitar 50% luasan. Selebihnya adalah ruang sosial yang sebenarnya dapat diperingkas. Beberapa hal yang boleh jadi dapat dilakukan untuk meningkatkan produktifitas adalah :
1. Perbaikan kondisi ketel dan tungku, tungku yang digunakan dapat menggunakan bahan bakar berupa ampas hasil penyulingan yang sudah dikeringkan sehingga menghemat kayu bakar, ditambah dengan luasan tungku yang sebenarnya dapat menampung lebih dari satu ketel. Kondisi ketel dapat dirubah melalui penggunaan ketel stainsteel berbentuk buah labu yang dapat menggunakan system uap langsung atau steam dengan kapasitas tampung yang lebih besar (saat ini daya tampung ketel sekitar 200-220kg sekali masak). Selain itu penataan daun kayu putih juga dapat diperbaiki sehingga proses penguapan berlangsung maksimal dan berhasil baik. Hal penting lagi adalah dengan menutup ketel dan jaringan instalasi dari kemungkinan terjadi penguapan.
2. Kondensasi uap kayu putih yang dapat disetting dengan memperbaiki model pipa/selang kondensasi yang pendek dan berpotensi memberi kadar air lebih pada minyak dengan menggunakan selang kuningan yang dibentuk seperti spiral dan masuk kedalam bak kondensasi dalam beberapa putaran.
3. Kelembagaan Penyuling Minyak Kayu Putih. System ekonomi perminyakan kayu putih yang sangat mungkin untuk dilaksanakan dan segera direalisasikan. Tata kelola penduduk asli dalam melakukan penyulingan membuat tingkat perekonomian mereka menjadi sangat terganggu dan tidak memberi hasil maksimal. Kelembagaan akan membuat para petani minyak kayu putih mampu melakukan sebuah system produksi yang baik, manajemen keuangan yang membuat mereka memiliki simpanan dan pengembangan usaha. Kebiasaan mereka dalam berhutang bahan pokok menjadikan beban dalam pendapatan serta penurunan nilai tawar. Sebagai perhitungan, untuk memberangkatkan diri dan keluarga ke rumah ketel, menyewa ketel, mereka melakukan kasbon bahan pokok rata-rata sebesar Rp 200.000 dengan hasil minyak sekitar 5 liter @Rp 115.000 = Rp 575.000, saldo Rp 375.000 hasil ini tentunya akan memberi nilai ekonomi yang jauh dari kelayakan sebuah keluarga, apalagi mereka tidak dapat melakukan penyulingan setiap hari, harus bergantian dengan penyuling yang lain. Berbeda dengan penyuling minyak kayu putih yang berasal dari Pulau Jawa, mereka melakukan aktifitas penyulingan dengan berangkat ke rumah ketel tanpa didampingi istri sehingga perbekalan yang diperlukan juga sedikit (sekitar Rp 300.000 selama 10 hari) dengan hasil minyak sekitar 15 liter, maka nilai keekonomian yang mereka peroleh juga sangat kentara. Kelembagaan petani ini juga dapat digunakan untuk komoditas lain, misalnya kakao, kasbi (singkong), kacang mete, jeruk dan tanaman pangan – hortikultura – perkebunan lainnya. Kebersamaan petani adalah momok bagi pengusaha “hitam” yang kebanyakan hanya memeras keringat mereka. Pembinaan dan pendampingan kepada petani adalah tugas bersama untuk menjadikan mereka sebagai sebuah komunitas petani kayu putih yang tangguh

Selepas menyelesaikan tugas, malam harinya beberapa orang petani mengundang kami berpesta durian … wow, nyummmmyyy sangat.



Keesokan harinya, kami kembali mengunjungi Pak Wakil Belen yang merupakan peternak sapi Bali di kampong Dalam Desa Basalale. Dari pengamatan visual dan pemeriksaan ternak, dapat disimpulkan terjadi infeksi cacing perut dan cacing hati pada hampir kebanyakan ternak. Infeksi cacing hati sudah menyebabkan terjadinya kebutaan pada ternak sapi Bali … benar-benar ironis, pengembangan peternakan di Indonesia Timur di pulau yang dahulunya pernah menjadi pulau buangan ini sangat memprihatinkan, padahal potensi Pulau Buru untuk menjadi daerah pusat pembibitan ternak sapi potong sangat memungkinkan dan memiliki nilai yang manstaf dalam mengembangan peternakan berbasis pertanian terpadu mengingat potensi pakan yang luar biasa (sawah padi, hortikultura, sagu, kemungkinan mengembangkan hijauan makanan ternak). Pengembangan kerbau juga dapat menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan di Pulau Buru, juga kambing dan ayam kampung.

Ada Surga di Pulau Buru - Espedisi Waeapo



Tanggal 23 Desember 2011, Pukul 10.30 WIT kami bergerak menuju Desa Basalale Kecamatan Waeapo (bersebelahan batas dengan Desa Waelo). Sekitar dua jam kami bergerak di jalan yang sangat mulus dan lengang, sangat lancar dengan beberapa pemandangan pantai dan hutan kayu putih, termasuk hutan kayu putih yang terbakar serta tanaman jambu mete yang mulai dikembangkan, juga tanaman jeruk dan kakao. Kami juga melalui Desa Savana Jaya tempat pembuangan tahanan politik masa lalu, temasuk pembuangan Bapak Pramudya Ananta Toer.

Hamparan sawah luas membentang menyapa sepanjang jalan sampai Waeapo … luar biasa sebuah potensi yang sangat menyenangkan untuk dijadikan sebagai lumbung pangan, bukan hanya sebatas sawah padi, tetapi … jagung, tanaman hortikultura, palawija dapat diusahakan dan dikembangkan dengan baik, dengan sangat baik. Difasilitasi pemerintah dengan jaringan irigasi teknis yang sangat tertata dan selalu terairi dengan lancar, maka peluang untuk menjadi salah satu sumber pangan di wilayah Indonesia Timur benar-benar terbuka luas dan dapat dikembangkan.

Selain sawah dan lahan yang terhampar luas, ternak sapi, kuda dan kerbau derta beberapa ekor kambing dan sesekali rusa mewarnai perjalanan dan tentunya merupakan sebuah potensi agraris yang manstaf. Ingatan saya segera meledak dan menciptakan gumpalan-gumpalan impian yang dapat menjadi harapan dan dapat menjadi kenyataan dalam menciptakan sebuah kegiatan Pertanian Terpadu (an Integrated Farming System). Tanaman pangan – hortikultura dan perkebunan dapat menjadi sumber pangan bagi manusia dan juga sumber pakan bagi ternak ruminansia dan monogastrik. Ternak akan menghasilkan kotoran ternak yang dapat dirumah menjadi sumber energi terbarukan (biogas) dan kompos (pupuk organik) yang nantinya akan digunakan untuk tanaman sehingga lahan selelu terjaga kesuburannya, terpenuhi unsur-unsur nutrisinya dan mampu memberikan nilai produktifitas yang tinggi bagi tanaman. Sebuah siklus agribisnis yang luar biasa dan membanggakan.

Kami tidak langsung menuju base camp, tetapi kami menuju dusun Metar – Desa Websalit – Kecamatan Waeapo, tempat lokasi demplot yang akan dilaksanakan. Luar biasa, lahan yang begitu luas, subur dan memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah agroindustri yang mensejahterakan.

Base camp yang dimaksud adalah sebuah asrama Katholik yang dikelola oleh Paroki Maria Bintang Laut Buru, dahulunya adalah sebuah Sekolah Dasar Katholik yang karena kerusuhan tahun 1999 lalu sehingga tidak ada lagi murid yang bersekolah. Akhirnya dijadikan asrama untuk anak-anak putrid, oh ya .. disini ada adat dimana kebanyakan anak wanita disana sudah dijodohkan dan melakukan perkawinan dini. Mereka berada diasrama sampai lulus SMP, selanjutnya mereka melanjutkan sekolah SMA di Namlea atau Ambon yang diasramakan oleh Paroki. Ada lima orang anak perempuan penghuni asrama dan satu keluarga yang berkediaman di asrama, sementara pastor – bruder – frater bergantian berkunjung keasrama dan memberi pelayanan bagi umat katholik diseputaran Kecamatan Waeapo

Sore harinya kami melakukan pembicaraan dengan tim 6 yang terdiri dari tokoh-tokoh penduduk asli dan nantinya akan melakukan aktifitas integrasi pertanian – peternakan – penyulingan minyak kayu putih. Pembicaraan yang menyenangkan ditemani pisang goreng dan kopi hitam membuat semangat membangun daerah ini bergelora. Selepas pertemuan yang diakhiri makan malam mengasyikkan, ditutup dengan pesta durian jatuhan yang nikmat … nyummmy.

Selepas menulis laporan expedisi ini, tempat tidur berkelambu menunggu untuk menghantar ke alam mimpi untuk mempersiapkan hari esok, survey lokasi dan pemetaan lahan

Bersama Petani
Pagi menyapa dengan senyum lebar, cukuplah untuk mengeringkan pakaian yang beberapa hari ini menghuni kamar dalam keadaan kotor. Melangkah menuju lokasi di Dusun Metar. Sebelumnya, kami melintasi lokasi transmigrasi dan ternyata banyak komunitas penduduk yang berasal dari Jawa, sehingga pembicaraan dengan menggunakan bahasa Jawa menjadi sangat mungkin dan sering menyapa telinga. Lokasi transmigrasi di Pulau Buru, sebagaimana layaknya lokasi transmigrasi lain yang juga dihuni oleh transmigran asal Pulau Jawa tertata rapi dan cenderung memiliki kondisi produktifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilakukan oleh penduduk asli.
Menyelesaikan rencana kemarin, hari ini kegiatan teknis dilaksanakan oleh anggota kelompok yang merupakan penduduk asli dari beberapa suku di Pulau Buru.

Nilai-nilai Suku Buru

Sasi, merupakan tanda larangan bagi siapapun, kecuali kalangan terbatas, untuk melakukan sesuatu yang dikhususkan, misalnya sasi dengan symbol pohon kayu putih, dapat diartikan bahwa diwilayah tersebut tidak boleh dilakukan aktifitas yang berkenaan dengan pemanenen daun kayu putih atau diu wilayah tersebut dilarang melakukan aktifitas. Bila dilanggar, menurut informasi, hukumannya fatal dan beberapa kali sudah ada kejadian bagi para pelanggar sasi.
Parang dan Tombak, merupakan dua senjata yang selalu dibawa oleh penduduk asli. Parang/Ketuen (buru Selatan)/Todo (Buru Utara) untuk perkerjaan ladang berbeda dengan parang untuk melindungi diri/bertempur. Selain parang da tombak, identitas lain yang melekat pada masyarakat asli Pulau Buru adalah ikat kepala dengan motif dan warna beragam sesuai dengan marga.



Hari ini, kami mengisi hari dengan pertemuan untuk memantapkan aktifitas penataan lokasi dan persiapan material serta rancang bangun untuk kandang dan perlengkapannya. Tanpa terasa diskusi berlangsung sampai menjelang masuk waktu dzhuhur … saatnya sholat Jumat.

Selepas sholat Jumat dan makan siang, kami menuju lokasi dan melakukan aktifitas penanaman rumput hijauan makanan ternak sebagai sumber pakan ternak sapi Bali yang akan diusahakan. Berkah-NYA selalu melingkupi kami, selepas menanam, hujan turun dan menyirami lahan seakan membantu kami menyirami rumput yang bertumbuh. Hujan turun sangat deras dan membuat mandi hujan sore itu menjadi hal yang menyenangkan …he..he..he.. akhirnya sampai asrama, ambil sabun, mandi dan setelahnya … teh hangat menyapa sore … Alhamdulillah

Sepanjang jalan, dikiri dan kanan jalan utama, hamparan lahan yang pemanfaatannya masih belum optimal terhampar merayu, seakan mengajak otak ini melahirkan mimpi-mimpi ‘gokil’. Saya bayangkan, ada kompos yang kemudian teraplikasi di lahan dan mampu menumbuhkan komoditas bermanfaat yang selama ini banyak kita impor dari luar negeri. Mencetak sawah baru adalah satu program yang sangat tidak mustahil, sangat mungkin dan harus dilaksanakan. Bagaimana tidak?, irigasi teknis yang luar biasa, alirannyapun selalu tersedia, sungguh sumber daya yang manstaf. Selama ini, penduduk transmigrasi yang sudah mengelola tanah dengan baik, tanaman produktif, berupa sawah, kacang tanah, cabai, ketimun terhampar subur.

Hari Sabtu ini seharian kami beranjangsana dengan Pastor Yoseph Rettob, msc., salah satu hal yang menjadi kepentingan sang Pastor adalah “pendidikan”. Banyak perkawinan dini terjadi di wilayah ini, apabila sang anak sudah berumur sekitar 12 tahun, mulailah terjadi hantaran harta yang membuat sang orang tua merelakan anaknya dipersunting orang lain. Sikap mental inilah yang perlu untuk di tingkatkan dan diperbaiki sehingga merubah paradigma berfikir, meningkatkan level kehidupan dan tidak cepat puas dengan apa yang sudah diperoleh. Pendidikan merupakan kunci utama dalam menyelesaikan permasalahan ini, karena dengan pendidikan maka mindai akan terbuka dan nilai kreatifitas akan segera tercipta demi kemajuan komunitas.

Sikap dasar manusia inilah yang merupakan hal pertama untuk dapat dijadikan sebagai pintu gerbang pengembangan kesejahteraan masyarakat asli Pulau Buru yang tetap menjunjung nilai-nilai adat, keimanan dan kebersamaan.


Menuju Namlea - Expedisi Waeapo



Roda burung besi LION Air menjejak manstaf di Runway Bandara Pattimura – Ambon – Provinsi Maluku. Keberangkatan pukul 01.30 WIB dari Bandara Soetta menyapa bumi manise tepat pukul 07.00 WIT. What an amazing moment, sudah lama kerinduan untuk dapat menghirup bumi Indonesia Timur akhirnya mulai terkuak dan terealisasi perlahan, alhamdulillah. Terakhir kali berkunjung ke Indonesia Timur adalah saat Kemah Kerja Mahasiswa Peternakan Indonesia (KKMPI) Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (Ismapeti) tahun 1994, wuihhhh … setelah 17 tahun berselang coy

Baru saja handphone menyala di dalam terminal, berderinglah “tempat terakhir”-nya PADI yang menanda panggilan masuk, “Sonya J. Sahureka, Ms” … “hallo Sonya, saya baru saja landing”, sebuah jawaban atas satu kata “halo” dari ujung handphone lainnya, “oke aku segera kesana”, Sonya menjawab. Saat saya sedang mengambil troly untuk bagasi di luar, sebuah panggilan menyentak gendang telinga saya, “Eka !”, “halo Sonya, apa kabar”, jabat tangan dan salam komando-pun terjadi, “tunggu sekejap, saya urus bagasi ini”, lanjut saya sambil kembali masuk dan menunggu bagasi yang disetiap maskapai penerbangan selalu memakan waktu minimal 30 menit sejak landing … waktu yang menurut saya cukup lama menguras masa (mungkin hal ini yang membuat banyak penumpang lebih memilih menggotong bagasi bertubi-tubi kedalam kabin sehingga kabin serasa penuh sesak – kita tunggu saja kejadian beberapa pesawat yang runtuh bagasi kabinnya karena terlalu sesaknya bagasi diatas) ..he..he..

Setelah berjuang keluar dari antrian yang berantakan proses verifikasi bagasinya, akhirnya .. berhasil juga saya keluar dan sudah menunggu Sonya beserta taksi yang akan membawa saya ke Kota Ambon. Taksi itu yang siangnya juga menjemput Uda Masril Koto dan malamnya mengawal kami ke Kapal Motor Penumpang (KMP) Temi yang akan membawa kami ke Namlea.

Kali pertama, kami menuju kota Ambon melalui kapal Ferry di Laha, dengan membayar Rp 20.000 sekali jalan, selama 15 menit kami menyeberang sampai ke Pelabuhan Galala. Tidak sampai setengah jam, kami berhenti di Guest House Mulia di Jl. Rijali no. 19. mengambil kamar standar dengan tarif Rp 143.000 (termasuk pajak), saya letakkan bagasi dan kemudian sejenak menunggu kedatangan taksi. Selanjutnya sudah dapat ditebak, sarapan …. kami memilih kopi sebagai pengantar pagi hari yang cerah di Kota Ambon ini dengan mengunjungi Rumah Kopi Sibu-sibu yang sangat unik, kecil dan penuh dengan pigura tokoh-tokoh dari Maluku yang berprofesi sebagai penyanyi ataupun tokoh olah raga, termasuk pesepak bola dari negeri Belanda yang salah satu atau salah dua orang tuanya berasal dari Ambon. Kopi Rarobang, sebuah racikan kopi yang ditambah dengan serpihan kenari dan Kasbitone, seperti getuk (singkong direbus, dilumat dengan kelapa dan gula jawa) yang dibakar menjadi teman pagi itu.

Perjalanan dilanjutkan sampai ke Pintu Kota, sebuah pantai di desa Nusa Wine yang banyak disiarkan di televisi dengan model yang seperti pintu gerbang, sangat eksotik. Kami berjalan sampai ujung teratasnya dan menikmati seputaran pantai yang biru dan kehijauan sampai disekitar karang, luar biasa … subhanallah.

Wisata pantai sampai sesiang itu tidak berhenti di Pintu Kota, kami masih melanjutkan perjalanan pantai di Pantai Lamalattu, Kota Ambon yang sangat indah, sebagian pantainya merupakan karang dan sebagian lagi pasir putih. Pada satu hari diseputaran akhir bulan Maret dan akhir bulan April, ada cacing Laur yang biasa mendekat ke pantai dan banyak diperebutkan oleh masyarakat untuk dijadikan santapan. Siang yang membuat ngantuk karena sepoi-sepoinya angin.

Tidak mau terjebak dengan rasa kantuk, kamipun bergegas menuju kota Ambon untuk makan siang, sebelum sampai di lokasi makan siang, kami berkunjung ke rumah Kak Nona, teman lama saat Diklat Jurnalistrik tahun 1993 di Baturraden. Setelah beranjangsana bersama Kak Nona dan keluarga, kami beranjak menuju rumah makan sederhana yang menyajikan makanan khas Ambon, ada ikan asap, ikan bakar, ikan kuah kuning, sayuran dan sambal. Puas bermakan siang, kami bergerak menuju bandara menjemput Uda Masril.

Setelah menjemput, kami menuju Natsepa, sebuah kompleks wisata pinggir pantai yang menawarkan nuansa laut yang indah dan juga rujaknya yang nyummmmyy. Bentuknya agak aneh, karena bumbu rujak dipadu dengan ulekan kacang tanah goreng, gula jawa dan cabai serta semua bahan (ketimun, ubi, jambu, belimbing) dilumat sebelum disajikan.

Setelah dari Natsepa, kami menuju penginapan dan bersiap-siap untuk melangkah menuju Galala, KMP Temi yang akan membawa kami ke Namlea sudah menunggu. Beruntung kami dapat memperoleh tempat di kelas bisnis, kelas VVIP dan kamar sudah habis. Kami berbaur dengan seluruh penumpang dalam ruangan yang terdiri dari seratusan tempat tidur bertingkat, beralas matras. Perjalanan di mulai pukul 20.00 WIT dan tanpa terasa kantuk menyerang ditengah hirup pikuknya penumpang yang membawa perjalanan selama delapan jam menuju Namlea. Cukup tiga kali terbangun untuk memastikan kondisi aman terkendali untuk kemudian kembali larut dalam pulasnya mimpi yang merapakkan KMP Temi di Dermaga Pelabuhan Namlea tepat pukul 04.00 WIT. Dijemput Bruder Petrus dan Bung Iron kami menyusuri jalanan kota Namlea dan berhenti di kepastoran Namlea untuk sejenak beristirahat di Paroki Maria Bintang Laut Buru. Ke pulau Buru ini ada dua Paroki, Paroki Buru Utara dan Paroki Buru Selatan. Di Paroki Buru Utara dipimpin oleh Pastor Yoseph Rettob, MSC didampingi satu Bruder, Bruder Petrus Pangemanan, MSC dan dua Frater, Frater Marcel dan Frater Etus Rumsory (berasal dari Pulau Tanimbar –pulau paling Selatan di kepulauan Maluku, terkenal dengan hasil utama mutiara) serta satu Driver, Bung Iron.

27 Oktober, 2011

Nasehat Bijak Einstein tentang Hidup Sukses




Tak perlu bersiap-siap mengernyitkan kening, kita hanya akan membahas ringan tentang filosofi hidup singkat Einstein. Tidak ada Fisika, nuklir, atau hal-hal jenius. Hanya small things tapi sering terlupakan, padahal berpengaruh besar terhadap kehidupan kita.

Apa saja nasehat bijak Einstein? yuk kita lihat.

1. Buntuti Terus Rasa Ingin Tahu Anda

“Saya bukan memiliki bakat khusus. Hanya selalu menikmati rasa ingin tahu saja.”

Membaca kutipan Einstein di atas membuat saya bertanya-tanya Seperti apa rasa ingin tahu itu? Saya selalu bertanya-tanya mengapa ada orang sukses, sementara banyak lainnya gagal; karena itu saya menghabiskan banyak waktu membaca banyak bahan. Mencari tahu koneksi berbagai hal terhadap kata ‘sukses’.
Mengejar jawaban rasa ingin tahu Anda adalah kunci rahasia kesukesan.

2. Tekun itu Tak Ternilai.

“Saya bukannya pintar, boleh dikatakan hanya bertahan lebih lama menghadapi masalah.”

Bayangkan seekor kura-kura di tengah rimba gunung, sementara dia ingin menuju pantai. Atau, apakah Anda setekun tunas mangga terus-menerus bertumbuh, berkembang sehingga akhirnya berbuah?
Ada ungkapan bagus popular di kalangan pegawai pos, ‘selembar prangko menjadi bernilai hanya karena ketika dia menempel pada surat hingga mengantarnya sampai ke tujuan’.
Jadilah seperti prangko, selesaikan apa yang sudah Anda mulai.

3. Fokus pada saat ini.

“Seorang pria yang bisa menyetir dengan aman sementara mencium gadis cantik, sebenarnya tidak memberi penghargaan yang layak untuk ciumannya itu.”

Einstein kok ngomongin tentang ciuman ya? Ah, itu kan hanya istilah saja, Tapi saya ingin cerita tentang kejadian ketika saya menjaga kebun duren di kebun. Begitu banyak kera seperti menunggu saya lengah dan menyikat durian ranum di atas pohon. Ayah saya bilang, saya tak akan bisa menembak dua kera sekaligus. Pengertian saya atas kata-kata beliau adalah, ‘saya bisa melakukan banyak hal, tapi bukan semua hal sekaligus’. Belajar untuk ‘berada di sini, saat ini’; berikan perhatian kepada apa yang sedang Anda kerjakan.
Energi terfokus adalah sumber kekuatan. Itulah perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan.

4. Imaginasi adalah kekuatan.

“Imaginasi adalah segalanya. Imaginasi adalah penarik masa depan. Imaginasi lebih penting daripada pengetahuan”

Ungkapan Einstein ini sangat terkenal. Apakah Anda berimajinasi setiap hari? Imaginasi lebih penting dari pengetahuan! Imaginasi memainkan satu babak awal dalam pentas hidup masa depan Anda. Lagi, kata Einstein, “Tanda kejeneniusan sesungguhnya bukanlah pengetahuan melainkan imaginasi.”
Sekali lagi, apakah Anda sudah melatih otot-otot imaginasi Anda setiap hari? Jangan biarkan otot-otot itu menjadi kurus dan sakit-sakitan. Hidup tanpa imajinasi seperti mengikuti aliran sungai, pasrah mengikuti apapun kemauan dan ke mana arahnya. Tak memiliki kuasa atas apapun terhadap pilihan pun keinginan. Menyedihkan.

5. Buat Kesalahan.

“Seseorang yang tidak pernah membuat kesalahan sebenarnya tak pernah mencoba sesuatu yang baru.”

Einstein tak pernah takut dengan kesalahan. Tak perlu alergi dengan kesalahan. Catat baik-baik, KESALAHAN bukan KEGAGALAN. Dua hal tadi berbeda. Kesalahan-kesalahan dapat membantu Anda menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih cerdas–jika Anda menggunakannya dengan tepat tentunya.
Carilah sesuatu berbau baru–something new–dari kesalahan Anda. Seperti sudah dibilang sebelumnya, jika ingin sukses, belajar lebih banyak dari kesalahan Anda.

6. Hidup pada saat ini.

“Saya tak pernah memikirkan masa depan–itu akan datang sesaat lagi.”

Satu-satunya jalan agar hidup Anda baik dimasa depan adalah hidup dengan baik pada saat sekarang. Ah, lagi-lagi nasehat bijak untuk menyikapi waktu dengan tepat oleh pakar fisika quantum Einstein.
Sangat tak mungkin mengubah kemarin karena sudah terjadi. Anda bisa lakukan sekarang adalah mengubah cara pandang Anda SAAT INI tentang kemarin agar menjadi lebih baik. Anda juga tidak bisa mengubah besok menjadi lebih baik, kecuali jika Anda melakukan yang terbaik pada saat ini.
Masalahnya hanya tentang waktu, dan waktu tidak pernah ke mana-mana kok

7. Hargai diri Anda.

“Berusahalah dengan keras bukan untuk menjadi sukses, tapi untuk menjadi lebih berharga.”

Tak perlu lah banting tulang untuk menjadi lebih sukes. Luangkan waktu Anda untuk menaikkan nilai diri Anda. Jika Anda memang bernilai, sukses akan datang menghampiri Anda. Apakah Einstein bekerja lebih keras untuk sukses? Saya pikir dia hanya terus menerus berinvestasi untuk meningkatkan nilai dirinya. Sukses datang sendiri kepadanya.
Kenali bakat dan berkah karunia-Nya kepada Anda. Belajarlah mengasah mereka menjadi lebih tajam, gunakan untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknyak kepada orang lain.
Bekerjalah untuk menjadi bernilai, sukses akan mengejar Anda. Apakah berlian harganya sama dengan kerikil? Anda punya jawabannya Keduanya mengalami tekanan berbeda sehingga membedakan nilainya.

8. Jangan mengharapkan Hasil Berbeda.

“Kegilaan: adalah melakukan sesuatu dengan cara sama berulang-ulang dan mengaharapkan hasil berbeda.”

Nasehat bijak Enstein di atas adalah favorit saya Anda jangan mengharapkan hasil menjadi lebih baik jika Anda masih bertahan dengan cara yang Anda pakai sekarang. Dengan ungkapan lain, Anda mimpi mengharapkan otot bisep Anda menjadi lebih ‘seksi’ jika masih mengangkat barbel ringan terus menerus.
Jika ingin hidup Anda berubah, Anda harus berubah. Mengubah cara pikir, cara pandang dan cara melakukan sesuatu. Ketika Anda mengubah pikiran Anda, mengubah Sudut pandang Anda, mengubah tindakan Anda, hidup Anda akan berubah dengan sendirinya.
Guys, bayangkan hal berikut: Ada seorang gadis manis tepat di depanmu. Bandingkan kedua aksi berikut. Pertama, kamu senyum tulus, reaksi si gadis adalah membalas senyummu. Kedua, kamu melotot padanya, bisa ditebak apa reaksi di gadis?

9. Pengetahuan terasah melalui Pengalaman

“Informasi bukanlah pengetahuan. Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.”

Setuju pak Einstein, saya tak berani membantah nasehat bapak di atas. Anda lebih berpengalaman daripada saya
Pengetahuan itu berasal dari pengalaman. Anda bisa mendiskusikan sebuah proyek; tapi diskusi itu hanya akan memberi Anda informasi. Anda harus melakukan proyek tersebut untuk ‘tahu’ apakah proyek tersebut berjalan dengan benar atau tidak. Anda harus melakukannya untuk mengatasi munculnya masalah-masalah ditengah proyek berjalan. Itu membuat Anda memiliki pengalaman baru dan bermanfaat.
Apa pesan Einstein? Carilah pengalaman! Jangan habiskan waktumu nonton sinetron cinta sementara dirimu setengah mati menginginkan pacar, misalnya Keluar dari duniamu sekarang dan pengalaman tak ternilai menunggumu di luar sana.

10. Pahami Aturan Main, Lalu Bermainlah Lebih Baik.

“Anda harus memahami aturan permainan. Kemudian Anda harus bermain lebih baik daripada pemain lain.”


Bagi Einstein, dia cukup memahami aturan-aturan dasar Fisika lalu berpikir dan bekerja lebih baik dibanding fisikawan lainnya. Sederhananya, anda cukup melakukan dua hal saja.
Pertama, yang harus anda lakukan adalah memahami ‘peraturan’ bagaimana cara Anda melakukannya. Kedua, Lakukan pekerjaan tersebut lebih baik dibanding orang lain. Jika Anda mampu melakukan dua hal ini dengan baik, sukses pasti masuk ke kantong Anda


Well, itu tadi 10 kutipan nasehat bijak Albert Einstein dan terjemahan bebas oleh saya Semoga bisa bermanfaat untuk menjadi inspirasi dan membuat hidup lebih bijak.








sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9622547 dari http://www.pasarunik.com/2011/10/10-nasehat-bijak-einstein-tentang-hidup.html

Mengenai Saya

Foto Saya
keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...

COWMANIA

COWMANIA