15 Juni, 2010

PENGIRIMAN SAPI DAN CARA PENYUSUNANNYA DI ATAS ARMADA EKSPEDISI

PENGIRIMAN SAPI DAN CARA PENYUSUNANNYA DI ATAS ARMADA EKSPEDISI


Tidak ada aturan yang baku dan literatur ilmiah tentang bagaimana kita menata sapi di atas truk untuk dikirimkan ke tempat tujuan, karena tiap pelaku armada ekspedisi persapian di setiap daerah mempunyai teknis dan cara yang berbeda-beda yang mungkin saja akan saling bertentangan antara satu dan lainnya.
Karakteristik sapi lokal kita yang mungkin satu-satunya sapi di dunia yang dicucuk hidungnya menjadikan kita sebagai penemu teknik dan pola yang unik dalam hal pengiriman sapi dari satu tempat ke tempat lainnya.
Dan inilah seninya beternak sapi lokal,yang mana sebagai khazanah budaya kita yang harus kita lestarikan karena telah menjadi pekerjaan yang telah memberikan manfaat bagi masyarakat kita secara turun temurun
Namun dari semua itu hanya punya maksud dan tujuan yang sama; adalah bagaimana sapi yang kita kirim itu itu selamat dan aman sampai ke tujuan,juga bagaimana agar pengawal ekspedisi itu teringankan mengurus selama dalam perjalanan, dan pastinya yang terakhir adalah bagaimana memaksimalkan ruang di dalam bak truk tersebut untuk diisi sebanyak-banyaknya agar efisien biaya pengirimannya.
Kami yang tiap hari mengirimkan ternak bakalan maupun siap potong ke berbagai dareah ingin sedikit berbagi pengalaman saja. Untuk itu kiranya perlu diperhatikan hal-hal sebagaimana berikut:

1. Pemilihan Armada.
a.Pilihlah armada yang khusus ekspedisi ternak dengan orang yang sudah terbiasa mengangkut dan mengawal sapi. Dalam pemilihan armada tersebut, haruslah kita pilih orang yang sudah biasa mengangkut sapi, termasuk didalamnya keahlian atau tehnik pengendalian kendaraan di jalan raya, dan tehnik perawatan supaya sapi tetap nyaman dan tidak roboh atau menyelesaikan jika ada kendala-kendala lain selama dalam perjalanan
b.Tata ruang yang sengaja didesain untuk keperluan pengangkutan ternak.
Sebaiknya juga dalam memilih armada, perlu kita perhatikan jenis dari mobil tersebut. Biasanya kami menggunakan truck Mitsubishi Ragasa 135 PS. Ada alasan kuat kenapa kami memilih tipe ini antara lain: bak yang lebih lapang karena body truck yang besar namun tetap lincah melalui berbagai medan jalan yang ada di Indonesia ini. Sebenarnya tipe Fuso ataupun Tronton lebih luas dan lebar yang akan memuat lebih banyak lagi jumlah ternaknya, namun karena medan dan kondisi jalan yang ada sekarang ini kurang ideal sehingga menyebabkan lambatnya armada tersebut sampai tujuan dan mengakibatkan banyak hal-hal yang tidak kita inginkan terhadap ternak sapi kita.
c.Tata Laksana Bak Truk
• Sebaiknya papan samping pada bak truk di susunan papan kedua dilepas untuk memberikan ruang udara bagi ternak, selain juga dapat dibuat sebagai kolong untuk press bambu yang menyekat antar ruang, sehingga memudahkan pengawal untuk jadi pijakan agar lebih leluasa begerak mengawasi ternak dari arah dan sisi manapun.
• Alas untuk ternak bisa kita berikan berupa sekam padi, serbuk gergaji, maupun sisa-sisa jerami dan rumput ataupun daun tebu kering. Namun kesemuanya itu adalah agar kita pikirkan yang terbaik untuk alas tersebut dengan bahan yang tidak gampang becek dan hancur sehingga menyebabkan geladak truk menjadi licin dan menyebabkan ternak cedera yang pada akhirnya menyusahkan pengawal untuk merawatnya.
• Seharusnya juga kita lapisi papan samping bak truk tersebut dengan bahan bahan yang lunak seperti halnya pelepah pisang untuk menjaga agar badan sapi tidak lecet dan tergores.

2. Teknis Penyusunan
Dalam menyusun sapi ada berbagai cara yang kita ambil agar dapat memaksimalkan ruang dalam bak truk yaitu:
a.jenis sapi:
• Jika bakalan dengan berat maksimal 450kg, maka untuk truck tipe 135 PS bisa muat sampai dengan 12 ekor.
• Jika bibit/ pedhet bisa muat sampai dengan 18 ekor.
• Untuk yang siap potong dengan berat rata-rata 600-800 kg bisa memuat 7-8 ekor.
b.penyusunan sekat dan barisan:
• Sekat pertama diisi 1 ekor dan menghadap ke samping kanan body truck.
• Sekat kedua apabila jenis bakalan bisa diisi 4-5 ekor dan pilihlah yang terkecil dengan ukuran berat dan perawakan yang setara. Apabila diisi yang siap potong bisa diisi 3-4 ekor dan menghadap kedepan sesuai arah truk.
• Sekat ketiga diisi 2 ekor berdampingan saling berlawanan arah menghadap kiri dan kanan samping truck.
• Sekat terakhir atau paling belakang diisi 3-4 ekor dan dipilih dari sapi yang paling besar dengan ukuran berat dan perawakan yang setara. Jika yang dimuat itu adalah jenis pedhet bisa diisi 4-5 ekor.

3. Teknis Perawatan Dalam Perjalanan
Selama sapi diangkut dalam perjalanan, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:
• Sapi sebelum berangkat diberi makan secukupnya namun tidak boleh terlalu kenyang. Lebih bagus lagi diminumi air gula agar energi selama perjalanan selalu terjaga sehingga tidak mudah roboh atau cedera.
• Karena sapi kita adalah sapi lokal yang mana dalam keadaan terikat, maka dalam hal pengikatannya diusahakan supaya kuat namun juga mudah dilepas. Cara penalian ke badan truck tidak dengan pola tali pandu namun tali wasul (sekali tarik lepas) karena sapi tidak boleh duduk apalagi rebah karena dia akan terinjak-injak oleh kawannya dan ini dapat menyebkan kematian.
• Dalam penyusunannya juga, naluri pengawal sangat diandalkan karena dalam pengangkutannya mungkin sapi itu belum pernah terkumpul dalam satu koloni sehingga mungkin saja akan terjadi adu fisik dan menyebabkan ketakutan salah satu diantaranya. Pengawal harus mempunyai praduga bahwasanya sapi yang disusun apabila ketakutan tiadak boleh ditata dipinggir bak karena sapi tesebut akan gampang roboh dan akan membuat susah pengawalnya.
• pengontrolan dilakukan minimal 1 jamm sekali atau apabila ada gejala-gejala sapi roboh seperti mobil bergoyang atau terdengar suara-suara benturan.
• Setiap 12 jam sapi harus dibongkar ulang; apabila sapi itu berangkat dari Jawa Timur atau Bali biasanya bongkar muatnya didaerah Tulis, Pemalang Jawa tengah. Disana ada fasilitas bongkar muat, pakan, bahkan ahli kesehatan
• Apabila sapi itu menyeberang ke luar pulau biasanya harus masuk karantina untuk dicek kesehatan dan penyakit oleh petugas karantina dari dinas peternakan daerah setempat.
• Senjata yang dimiliki pengawal:
a. Pisau kecil untuk memotong tali apabila sapi tidak bisa dilepas ikatannya.
b. Cabe rawit untuk dioleskan kemata sapi apabila sudah tidak mau dibangunkan dengan ditarik talinya.
c. Walaupun menggelikan namun ini bukan lelucon; pengawal harus kuat dan lengkap giginya karena sewaktu-waktu dia harus menggigit ekor sapi apabila sudah tidak mau dibangunkan walaupun ditarik talinya.

Demikian sedikit pengalaman kami semoga bermanfaat.

Selamat Beternak
PT Lembusora Perkasa

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto Saya
keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...

COWMANIA

COWMANIA