25 Januari, 2012

Mereka Perlu Pendamping - Ekspedisi Waeapo II




Senin siang itu, perjalanan ke lokasi Usaha Bersama melalui Pemberdayaan Masyarakat Adat Pulau Buru di Dusun Metar, Desa Lele, Kecamatan Waeapo dilakukan. Tetap melalui jalan yang sama dengan kondisi yang sama dan hampir-hampir tanpa perubahan berarti. Memang tampak jalur menuju lokasi tambang emas di unit 11 daerah transmigrasi mulai ramai dengan masyarakat dengan menggunakan sepeda motor dan juga kendaraan roda empat. Perjalanan yang sudah mulai disambut dengan hujan deras sejak ibukota kecamatan Mako itu berakhir di asrama dan program pemberdayaan kembali dilaksanakan.
Keesokan harinya, kunjungan kelokasi Usaha Bersama Pemberdayaan Masyarakat Pulau Buru dilaksanakan ... dan ternyata, memang ada kelesuan disana, ada ketidakgairahan serta ada kecanggungan manajemen. Kedatangan pagi itupun dimulai dari rumah Pak Agus Hukunala (Kepala Dusun), kami berkumpul dan saling mengumpulkan cerita satu sama lain sambil menganalisa titik simpul permasalahan. Ketiadaan program aktifitas dan ketiadaan person yang mengawal, menyebabkan stagnasi kegiatan. Kelompok bagai anak ayam kehilangan induknya dan bagai tertiup angin ... ya, boleh dibilang mereka bagaikan bendera, kemana angin berhembus kesitulah mereka berkibar dan bila tiada angin, lambaian-lambaian kecil menjadi jawabannya ... atau juga seperti bunga alang-alang, kemana angin berhembus, kesitulah mereka beterbangan. Koordinasi selanjutnya adalah segera melakukan action untuk melakukan pengaturan yang lebih baik dan mengembalian kondisi kelompok pada track-nya. Hanya dengan MELAKUKAN maka seluruh aktifitas akan kembali lancar.

Akhirnya rapat dengan Team 6, ternyata memang terjadi koordinasi yang kacau ditambah komunikasi yang terganggu, tetapi dalam diri seluruh anggota Team 6 semangat itu masih membara, sangat terlihat dari antusiasme mereka datang ditengah guyuran hujan yang sangat lebat serta pasokan listrik PLN yang terganggu. Nyala lilin dan ‘senthir’ menjadi sumber cahaya terang benderang dan itu sangat cukup untuk membuat kobaran semangat Team 6 menyebarkan kehangatan. Tanpa terasa, pertemuan yang dimulai pukul 19.30 WIT itu akhirnya berhasil menyelesaikan beberapa agenda, antara lain : mendatangkan jonder (traktor pertanian) untuk membersihkan seluruh areal dari tunggul dan melakukan persiapan penanaman jagung – kacang tanah – ubi jalar, pengerahan kelompok untuk melakukan pembersihan lokasi serta melakukan persiapan untuk kandang serta penanganan rumput. Tepat pukul 23.30 WIT acara selesai dan rinai hujan rintik menemani kepulangan Team 6.

Keesokan harinya, seperti biasa ... Suzuki pick up biru itu membawa keluar menuju lokasi. Sesampainya disana dan melakukan aktifitas penataan lokasi penanaman rumput dengan cara memecah rumpun yang sudah bertunas dan melakukan pendangiran lahan sampai siang. Acara dilanjutkan dengan makan siang di rumah Pak Dominikus Behuku, rumah beliau memang dijadikan sebagai dapur umum aktifitas, selesai makan siang Pak Edy dan Pak Tony segera merapat dan mengajukan sebuah ide untuk membangun rumah ketel konvensional seperti yang biasanya ada .. wow wow wow, ternyata .. mereka menyimpan boom waktu dan mulai meledak nih sepertinya, keyakinan bahwa kearifan lokal dan keluhuran budaya masyarakay adat mulai terkuak perlahan. Pendampingan dan bimbingan yang mereka terima ternyata menyamankan mereka dan membuat mereka mampu memberikan konstribusi kreatif. Mereka menyatakan, bahwa dengan adanya ketel yang dibangun dilokasi akan membuat lokasi selalu ada yang beraktifitas selain itu terdapat nilai ekonomis yang diperoleh bagi kelompok dan juga individu yang melakukan penyulingan minyak kayu putih.



SMS koordinasi ke Mas Yoyok-pun meluncur disela minimnya signal handphone. Memang jawaban yang sore itu dikirim baru keesokan harinya masuk, tetapi sebuah kegembiraan dari kelompok sangat terasa. Meskipun saat berkunjung ke Desa Weflan, jawaban atas usul itu tidak dapat disampaikan dengan segera, tetapi kunjungan ke Weflan sore itu sangat berkesan. Bagaimana tidak? Untuk mencapainya diperlukan perjuangan dengan melewati beberapa kolam di jalan akibat aliran air yang meluap sampai ke jalan, bisa dibayangkan waktu itu Pak Edy dan Pak Carolus berkunjung malam hari ke asrama dan pulang sekitar pukul 02.00 WIT. Sekitar satu jam setengah perjalanan dengan kondisi jalan yang cukup berat sampailah ke desa Weflan (mirip seperti film Robinhood, ada desa setelah melewati hutan dengan barisan rumah dikanan dan kiri jalan). Sambutan hangat mengabarkan ucapan Selamat Datang. Senyum hangat Bapak Soa dan sebagian besar warga desa Weflan memberi rengkuh persudaraan yang hangat. Perbincangan dan diskusi yang sangat renyah serenyah gidangan malam itu, kacang bawang dan singkong goreng, memberi tempat bagi persaudaraan yang tulus. Rencana kunjungan satu jam, akhirnya molor sampai tiga jam setengah, sekitar pukul 22.00 WIT kepulangan yang diantar dengan lambaian hangat terasa menyenangkan, seperti juga menyenangkan saat Pak Edy dengan setengah memaksa untuk berkunjung kerumah beliau.

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
keberadaan saya didunia ... bagi saya adalah keberkahan yang sangat besar .. anugerah tiada tara .. dunia peternakan menjadi salah satu tempat terindah yang saat ini saya selami ... sedikit yang saya dapat berikan saat ini ... sedikit yang dapat saya abdikan saat ini ...

COWMANIA

COWMANIA